“Malam Kudus” Di Nglanggeran

          5

            Entah sudah berapa kali aku ke Nglanggeran dan sampai saat ini belum merasakan bosan. Kemarin malam, seperti yang sudah direncakan sebelumnya dengan beberapa teman, aku kembali menyambangi gunung berapi yang konon dulunya (jutaan tahun lalu) aktif ini.

            Janjian di jalan Wonosari, seorang teman datang menunggang trail bapaknya. Tampak gagah seolah Satria Baja Hitam dengan Belalang Tempurnya, bedanya yang ini kakinya tak benar-benar memijak tanah alias gak geyok. Terakhir ke Nglanggeran pas ulang tahun teman di bulan Juli kemarin dan rupanya pengelola gunung wisata ini semakin berbenah. Toilet dibangun dengan kamar mandi yang lebih banyak, berkeramik sehingga lebih bersih. Bukan itu saja, jalan menuju puncak juga diperbaiki dengan anak tangga yang disemen juga diberi batu. Di beberapa pos pandang dibangun gasebo. Entah apakah akan dilanjutkan sampai ke puncak atau hanya berhenti di beberapa pos saja.

            Tak sampai satu jam aku dan teman-temanku sampai di pos kemping kami. Dikelilingi batu besar dengan tanah yang lumayan luas, tempat ini strategis untuk mendirikan tenda. Memasak air untuk membuat kopi sambil mendengarkan lagu dari pemutar musik di telepon genggam adalah teman wajib ngobrol. Temanku bahkan bukan hanya berdendang, dia menari dan menyebutnya “Dancing Under The Moonlight.” Sayang, malam itu langit mendung. Bulan terlihat remang saja ditemani satu bintang.

            Agak malam langit berubah cerah. Satu persatu bintang mulai muncul dan menghias langit Nglanggeran. Entah pukul berapa hujan datang. Dalam hati kami berharap esok pagi akan cerah agar bisa melihat matahari terbit. Sampai pukul setengah lima pagi langit masih mendung dan matahari terbit tak tampak jelas.

            “Yakin pak?”

            “Iso-iso.”

            “Selo tenan kowe pak, selo…”

            Percakapan dua temanku ini terjadi ketika salah satu temanku tak mau turun lewat jalur biasa. Dia mengajak kami turun lewat bebatuan besar itu. Kalo istilah kerennya rock climbing tapi kalau buat kami lebih tepatnya “mluruti watu.” Hujan semalam membuat batu-batu besar itu licin dan tak mudah bagi kami menuruninya tanpa alat bantu atau pengaman apapun. Oh iya, kemarin itu setelah beberapa kali ke Nglanggeran aku baru melihat ada kera, banyak sekali juga kupu-kupu pada saat perjalanan turun kami.

            Ya kami memang selo. Dan yang seperti ini adalah satu satu dari kegiatan kami di organisasi Pemuda Karang Yo Selo. Turun yang seharusnya lebih cepat kali ini lebih lama dan membuat jantung deg-degan. Beberapa kali terpeleset bukan hanya membuat pantat atau badan kami sakit, badan tergores tapi juga baju kami terutama celana kotor jaya. Tapi semua itu terbayar karena kami bisa menikmati lebih dari sekadar pemandangan indah yang disuguhkan Nglanggeran.

            Seorang teman berkomentar, “Lara awak ora popo sing penting ati seneng” ketika aku menceritakan perjalananku kemarin. Pendapat yang mungkin bagi sebagian orang terdengar main-main, kurang kerjaan alias selo. Tapi seperti juga sebuah lirik yang aku dengar dari radio, “Bola-bali wes tak kandani yo mas yo…(lek aku ancen selo)…”

Advertisements

6 thoughts on ““Malam Kudus” Di Nglanggeran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s