Sumini dari Lereng Merapi Bagian 2

            “Apa harus sekarang, kangmas?”

            Arya menatap istrinya. Tak lama pandangannya diarahkan ke perut istrinya yang membesar.

            “Apa tak bisa menunggu sampai anakmu ini keluar?”

            Ratih hampir saja menangis ketika mengucapkannya. Sejak suaminya mengatakan akan pergi hampir tiap hari Ratih tidak bisa menahan airmatanya.

            “Kamu tahu ini bukan mauku, diajeng. Semua laki-laki dibutuhkan saat ini, laki-laki sepertiku…”

            “Tapi aku sedang hamil kangmas dan sebentar lagi akan melahirkan. Kamu ndak mau lihat anakmu?”

            Tak tertahankan lagi akhirnya jebol sudah pertahanan Ratih. Perempuan muda itu pun menangis terisak-isak. Ibu mertuanya yang sebelumnya hanya berdiri di dalam rumah akhirnya keluar untuk menenangkan menantunya itu. Perempuan setengah baya itu tahu betul apa yang dirasakan menantunya. Dia sendiri sudah berusaha membujuk anak laki-lakinya itu untuk menunda kepergiannya tapi tidak berhasil.

            “Sudah nak ayu, sabar. Ayo masuk,” katanya.

            Ibu Arya menuntun menantunya masuk ke dalam rumah sedang Arya mengikuti dari belakang.  Di dalam bapak Arya sudah duduk menunggu. Laki-laki itu tidak bisa berbuat banyak. Ratih didudukkan di salah satu kursi. Airmatanya masih terus mengalir. Ibu mertuanya kemudian ikut duduk di sebelahnya. Arya memandang istrinya. Hatinya sakit tertusuk-tusuk. Menyaksikan anak pertamanya yang kurang dari hitungan satu bulan lagi keluar ke dunia adalah hal yang paling dinantinya. Sayang, hal itu tidak akan bisa dia lakukan.

            “Maafkan aku diajeng,” kata Arya sambil bersimpuh di depan istrinya.

            Jika tadi Ratih yang tak bisa menahan airmatanya kali ini ibunya pun turut menitikkan airmata. Melepas anak laki-laki satu-satunya ke medan perang bukanlah hal yang mudah bagi seorang ibu. Apalagi anaknya itu bisa dibilang masih pengantin baru, belum genap setahun menikah.

            “Kangmas…” rintih Ratih pelan, minta dikasihani.

            Dengan berat hati Arya meninggalkan rumahnya. Arya harus segera bergabung dengan pemuda-pemuda desanya. Ratih mengikuti suaminya dengan tangis yang kembali meledak. Ibu mertuanya mengikuti sambil menuntunnya. Isak tangis para orang tua, istri juga anak-anak mengiringi para laki-laki yang akan segera dikirim ke medan perang. Tidak akan ada yang tahu nasib mereka nanti. Mereka tahu saat ini bisa jadi saat terakhir melihat suami, bapak atau anak-anak mereka.

            Ratih tak kuasa lagi menyangga tubuhnya. Seolah semua tulang yang menyangga tubuhnya patah. Bapak mertuanya langsung menyongsong perempuan muda itu kembali masuk ke rumah.

            “Kangmas….”

            Di tempat lain, seorang perempuan muda tampak bercanda dengan beberapa teman perempuannya. Sesekali dia mencipratkan air sambil menggosok baju-baju yang sedang dia cuci. Gelak tawa membahana manakala cipratannya itu mengenai wajah salah satu teman perempuannya.

            “Nakal kowe Sum.”

            “Ora nangis yu, ngunu ae kok wis arep nangis. Ndak ilang ngko ayune,” kata perempuan yang dipanggil Sum itu.

            Perempuan-perempuan yang lain tertawa. Malah mereka ikut-ikutan mencipratkan air ke perempuan tadi. Bukannya kesal perempuan tadi langsung tergelak dan terjadilah perang air.

            “Ayo lawan aku semua, ojo dipikir aku ora wani,” kata perempuan itu pura-pura marah.

            Tanpa mereka sadari dari kejauhan sepasang mata sedang mengawasi mereka.

***

Advertisements

4 thoughts on “Sumini dari Lereng Merapi Bagian 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s