Rock For Kamtis, Asu Tenanan!

gambar pinjam dari Google

gambar pinjam dari Google

            Ketika membaca jadwal pemutaran film di website-nya FFD dan melihat salah satu judul film yang terpampang di sana aku langsung berkata dalam hati kalau aku harus nonton film ini. Film yang kumaksud adalah Rock For Kamtis.

            Setahun yang lalu aku tidak tahu apa itu Kamtis. Menebak-nebak saja, sedikit gambaran di kepalaku kalau nama itu pasti berhubungan dengan musik, grup musik. Tidak salah, setidaknya tidak melenceng jauh karena ketika kutanyakan pada temanku apa itu Kamtis dia menjawab kalau Kamtis adalah sebutan untuk para penggemar Endank Soekamti.

            Sejak tinggal di Jogjakarta setahun yang lalu sudah beberapa kali aku melihat langsung penampilan Endank Soekamti di atas panggung, mulai dari yang gratisan sampai yang pakai tiket alias berbayar. Euforia Kamtis Family selalu mengingatkanku pada jaman awal-awal kuliah. Nonton konser musik seperti ini hampir tak pernah kulewatkan. Tak peduli panas, tak peduli hujan badan otomatis bergoyang dan tak peduli seberapa jelek suara mulut pun langsung ikut bernyanyi.

            Kembali ke film Rock For Kamtis, film ini merekam kegiatan para personil beserta kru Endank Soekamti selama pembuatan album kelima mereka, Angka 8. Dari awal penonton langsung dibuat tertawa dengan polah para personel juga kru Endank Soekamti. Film yang ternyata secara berseri diunggah di Youtube selama proses pembuatan album ini adalah persembahan Endank Soekamti untuk para penggemar mereka, Kamtis.

            Berbeda dengan bayanganku di mana dalam sebuah proses pembuatan album pastinya akan ada konflik, bisa dalam satu individu maupun antar individu, di sini tidak. Tinggal terpisah dari keluarga untuk jangka waktu tertentu (proses rekaman album dilakukan di Semarang), kurang tidur dan capek karena mengejar jadwal juga beberapa masalah teknis bisa menjadi sumber konflik yang sekali waktu bisa saja “meledak.” Di film ini aku tidak melihat itu. Entah memang tidak ada konflik atau memang tidak ingin diperlihatkan karena selama kurang lebih satu jam durasi film ini satu-satunya konflik (batin) yang terlihat adalah ketika Mas Ari, drummer, menceritakan anaknya yang kecewa karena dia tidak bisa memenuhi janjinya untuk pulang. Selebihnya film ini lebih banyak memperlihatkan kekonyolan para personil juga kru selama proses pembuatan album kelima ini.

            Terlepas dari hal itu film ini menghibur dan jika seperti yang dikatakan pembuatnya, Mas Agni Tirta, bahwa film ini adalah “film komedi” aku rasa dia berhasil. Film ini membuat penonton tak henti tertawa (juga misuh) melihat kekonyolan-kekonyolan yang terekam sepanjang durasi. Rock For Kamtis, asu tenanan!

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s