Sumini Dari Lereng Merapi

ilustrasi adalah lukisan Basuki Abdullah

ilustrasi adalah lukisan Basuki Abdullah

            “Ndak kang, aku masih belum pingin kawin. Aku masih pingin bantu simbok, bantu bapak.”

            “Lho justru itu cah ayu, kalo kamu kawin sama aku kamu ndak usah bingung lagi mikiri mbokmu juga bapakmu. Aku yang akan membiayai hidup mereka.”

            Tarjo masih terus berusaha menyakinkan perempuan di sampingnya itu. Sedang perempuan itu, Sumini, tetap kukuh pada pendiriannya.

            “Aku masih belum pingin kawin, kang,” jawab Sumini lagi.

            Tarjo menarik nafasnya. Terasa oleh Sumini tarikan kuat nafas laki-laki itu. Sumini paham laki-laki itu pasti kesal sekali. Sudah seminggu lebih dia berusaha mendekatinya, memintanya menjadi istrinya, istri kedua tepatnya.

            “Apa ini karena Ratmi?” tanya Tarjo.

            “Ndak kang, ini ndak ada hubungannya dengan Yu Ratmi.”

            “Sik sabar Sum, ojo kesusu. Dipikir dulu. Den Tarjo ini bukan laki-laki sembarangan lho, kamu tau bener itu. Dia itu laki-laki yang bertanggungjawab, biarpun jadi istri kedua Den Tarjo ndak akan menelantarkan kamu, bukan begitu Den?”

            Tarjo tak menjawab. Sebaliknya digeleng-gelengkan kepalanya. Anak kepala dukuh itu sepertinya sudah kehabisan akal untuk membujuk Sumini. Sumini masih diam di tempat duduknya.

            “Kamu mau aku menceraikan Ratmi?” tanya Tarjo.

            “Ndak kang, jangan…”

            Sumini memandang simboknya yang berdiri tak jauh darinya.  Perempuan tua itu pun langsung tanggap.

            “Begini Den, Sumini ini kan masih anak-anak, masih kencur. Wong tidur saja dia masih suka minta kelon simboknya, mungkin nanti kalo Sumini…”

            “Sudah mbok, ndak usah nyari-nyari alasan. Kamu Sum, ini permintaanku yang terakhir kali. Tiga hari lagi aku ke sini. Ayo No, kita pulang!”

            Setelah bicara Tarjo langsung berdiri lalu bergegas pergi. Parno, jonggos yang juga kaki tangannya memandang Sumini dan simboknya bergantian.

            “Pikirkan baik-baik Sum, pikirkan hidupmu, pikirkan mbok juga bapakmu. Jangan sampai kamu membuat keputusan yang nanti merepotkanmu sendiri,” kata Parno sebelum kemudian menyusul majikannya.

            Begitu Tarjo dan Parno hilang dari pandangan, Sumini mendekati simboknya. Perempuan itu memeluk erat simboknya. Tidak ada suara yang keluar dari keduanya. Dua perempuan itu hanya saling berpelukan. Sedang di jalan, Tarjo yang lamarannya ditolak masih menyimpan rasa kesal. Laki-laki itu bukan hanya kecewa tapi juga merasa terhina.

            “Kurang ajar!”

            “Sabar Den, menghadapi perempuan seperti Sumini itu harus sabar. Perempuan kalo merasa dirinya ayu ya begitu, banyak maunya. Tapi nanti pasti bisa, asal kita tau caranya…”

            “Cara seperti apa lagi? Kurang apa yang kutawarkan ke dia, heh? Semua omonganmu sudah kuikuti tapi mana hasilnya? Sumini masih menolakku!”

            Parno tak menjawab. Menghadapi anak muda yang sedang jatuh cinta bukan perkara mudah. Parno paham betul sifat majikannya itu. Bapaknya yang adalah seorang kepala dukuh sangat disegani. Tarjo besar dalam gelimang harta, terbiasa dimanja. Gairah mudanya yang mudah bergejolak tak bisa tahan melihat perempuan ayu seperti Sumini, kembang yang sedang mekar.

            “Masih ada Den, jangan kuatir. Den ke warung Parti saja dulu, menenangkan pikiran. Biar saya yang ngurus masalah Sumini. Kata Parti ada anak baru di warungnya, anaknya gini Den,” kata Parno sambil mengacungkan jempolnya.

            “Mana ada di dukuh ini yang lebih cantik dari Sumini? Ndak ada!”

            “Sumini memang cantik Den, kembang tapi dia masih liar, harus dielus-elus dulu.”

            Tarjo menarik nafasnya kasar. Memikirkan Sumini membuatnya semakin kesal.

            “Ayo!” katanya kemudian.

            “Kemana Den?”

            “Katamu ke warung si Parti.”

            “Oh iya Den, mari.”

            Di rumahnya Sumini tampak cemas. Perempuan itu sadar dia tak bisa terus menerus menolak Tarjo. Laki-laki itu pasti akan menggunakan berbagai cara untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Omongan warga dukuh tentang kelakuan Tarjo bukan hanya sekadar cerita. Meski sudah beristri, Tarjo tak segan mencari perempuan lain demi memuaskan nafsunya.

            “Gusti, apa yang harus kulakukan?” bisiknya lirih.

 Bersambung

***

Note: sedang mencoba mewujudkan mimpi lama menulis cerita berlatar jaman dulu, jaman sepur sik digawe saka lempung. Nama tokoh, tempat adalah rekaan jika ada kesamaan nggak usah GR, santi Su…

Advertisements

6 thoughts on “Sumini Dari Lereng Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s