#postcardfiction: Cinta Itu

cinta itu

            “Cinta itu tidak menyakiti.”

            “Cinta itu tidak egois.””

            Amanda menarik nafas panjang. Entah, rasanya itu nafas terpanjang yang pernah dia tarik selama hampir seperempat abad umurnya.

            “Cinta itu menyayangi.”

            “Cinta itu membebaskan.”

            Ditatap laki-laki di hadapannya. Tak ada yang berubah, tidak kecuali dua bibir dan matanya. Bibir yang biasa penuh senyum itu sekarang dingin. Kedua bola mata yang biasa menatap hangat itu kini sendu. Mungkin bukan berubah sendu, Amanda meralat pikirannya sendiri. Mata itu tak lagi mencerminkan wajahnya, tidak ketika mereka sedang bicara.

            “Lihat aku,” pinta Amanda.

            Dika bergeming.

            “Aku mencintaimu,” kata Amanda lagi.

            “Aku tidak membencimu.”

            Amanda sudah tak tahan lagi. Ditutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sudah dia coba, sudah dikatakan pada dirinya sendiri tadi malam kalau dia tidak akan menangis, tidak lagi. Dia tak berhasil.

            “Seharusnya hari ini kita di pantai. Bermain pasir, menunggu ombak yang akan menghempas tubuh kita juga berenang sepuasnya. Lalu sorenya kita naik ke bukit dan menunggu matahari terbenam, menunggu senja yang kita suka. Malamnya kita tiduran di atas pasir, tanpa alas dan menghitung bintang-bintang di langit…”

            Dika membuang pandangannya. Jika perempuan begitu suka menangis, sebagai laki-laki dia paling benci hal itu.

            “Aku tidak ingin tidur, tidak akan tidur. Kalau lagi sama kamu tidak tahu kenapa aku selalu ngantuk tapi aku janji aku tidak akan tidur. Aku mau menghitung bintang sampai capek dan tak ingin melewatkan matahari terbit. Aku mau melihat semuanya, aku tidak ingin melewatkan satu pun…”

            “Maaf.”

            “Kalau tidak kita cukup duduk di pinggir jalan saja, menghitung kendaraan yang lalu lalang sambil menunggu kereta lewat…”

            Amanda tak melanjutkan kata-katanya. Air matanya semakin deras bercucuran.

            “Menyakiti orang yang kusayang tidak termasuk dalam tujuan hidupku tapi kadang hidup tak sejalan dengan itu…”

            Kalimat Dika yang hanya bisa didengarnya sendiri.

            “Seharusnya hari ini kita merayakan dua tahun kebersamaan kita…”

***

Advertisements

18 thoughts on “#postcardfiction: Cinta Itu

  1. Jika perempuan begitu suka menangis, sebagai laki-laki dia paling benci hal itu. <—ahahaha…. padahal itu senjata pamungkasnya perempuan, konon begitu, katanya… ^_^

    Like

  2. “Menyakiti orang yang kusayang tidak termasuk dalam tujuan hidupku tapi kadang hidup tak sejalan dengan itu…” —> kalimat yg gue suka.
    Ya, walaupun manusia sudah berusaha untuk menjalani kehidupannya dengan baik, tapi semua itu tidak akan berjalan jika Tuhan tidak atau belum mengizinkan. Manusia memang memiliki hati, tapi tidak sepenuhnya manusia yg menguasai hati. Jadi ketika cinta memang sudah pudar dan hilang, untuk apa berpura-pura bertahan demi tidak ingin menyakiti hati seorang itu. Hehee..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s