Tidur Bersama

Sudah pernah tidur bersama? Aku sudah, sering malah. Bertiga bahkan berlima di kamar sempit kos teman, krutelan berlima di dalam tenda berkapasitas dua orang atau kelonan bersama empat boneka besar milik adikku ditambah adikku sendiri sudah biasa kulakukan, sudah biasa. Tidur bersama yang kumaksud kali ini beda. Tidur bersama kali ini lebih elit karena dilakukan di gedung pertunjukkan yang kemarin siang difungsikan sebagai bioskop.

Mengawali bulan Desember Jogja – Netpac Asian Film Festival atau biasa disingkat JAFF menjadi salah satu acara yang ditunggu, setidaknya oleh orang sepertiku yang suka sekali mencari acara gratisan. Dari tanggal 1 sampai 5 nanti, JAFF hadir untuk yang ketujuh kalinya. Aku tidak akan membicarakan tentang JAFF itu sendiri tapi akan berbagi sedikit cerita tentang salah satu film yang diputar.

Adalah Philippines New Waves, film karya Khavn De La Cruz yang kemarin berhasil membuat sebagian besar penonton yang hadir di Gedung Societet TBY tertidur. Apa tidak bagus, tidak istimewa? Kurasa kalau tidak bagus, tidak istimewa, film ini tak mungkin diputar di festival film seperti JAFF ini. Setidaknya film ini pasti punya sesuatu yang ingin disampaikan, punya nilai.

Film yang berdurasi sekitar 75 menit ini tak sampai 30 menit diputar telah membuat beberapa penonton pulas. Di awal tayangannya aku sendiri tak melihat “kecurigaan.” Aku berpikiran positif kalau film ini pasti menarik. Entah apa disebutnya, film ini (meski aku juga nggak kenal atau tahu orang-orang di dalamnya setidaknya bisa kutebak) menampilkan orang-orang “penting” di dunia perfilman Filipina. Semacam wawancara yang direkam begitulah, tentang pendapat mereka mengenai perfilman di Filipina.

Lalu apa yang membuat penonton tidur? Bukankah temanya cukup menarik, setidaknya ada informasi, pelajaran mengenai perfilman di Filipina?

Potongan-potongan wawancara dalam bahasa campuran yang ditranskripkan ke dalam bahasa inggris yang berjalan cukup cepat membuat kesulitan menangkap “ide.” Gambar yang ditampilkan lebih banyak tak utuh. Narasumber hanya diperlihatkan sebagian wajah, misal mulutnya, hidungnya, dari samping bahkan dari bawah. Ada juga beberapa yang utuh tapi gelap, tak terlihat jelas.

Berarti film ini jelek?

Aku bilang tidak menarik.

Bukan orang film kok berani ngomongin film, sok menilai lagi?

Aku percaya film ini dibuat bukan hanya dimaksudkan untuk orang-orang yang mengerti film saja. Toh film ini diputar di acara yang dibuka untuk umum, gratis lagi. Jadi anggap saja aku ini penonton yang bawel.

Aku jadi ingat kata-kata dosenku dulu (ngene-ngene yo tau mangan bangku kuliah, masio ta luluse dipertanyakan), beliau pernah “menilai” sebuah karya sastra, sebuah puisi tepatnya. Waktu itu beliau mengkritik sebuah puisi yang menurut beliau tidak ada nilainya, tidak ada manfaatnya alias nggak jelas apa maksud dan tujuannya. Seni atau sebuah karya sastra itu harus bisa dinikmati bukan hanya oleh dirinya (yang membuat) tapi yang membaca (atau melihat).

Aku sendiri melihat (sok jadi pengamat) ada, entah kecenderungan di masyarakat kita atau gaya-gayaan, bahwa yang namanya karya seni itu akan semakin bagus jika sulit dimengerti. Penggunaan bahasa yang “sok tinggi,” “sok puitis,” berindah-indah tapi sebenarnya dangkal dalam arti, kalau tidak mau dibilang tidak ada artinya sama sekali. Selain ada juga kecenderungan kalau karya seni dibuat oleh si Anu itu pasti bagus, tak mudah dimengerti oleh orang yang tidak mengerti seni. Jadi kalau ada yang tidak mengerti itu karena yang membaca (atau melihat) tidak mengerti bukan karena yang membuat ngawur misalnya.

Berarti film ini jelek?

Tidak menarik kalau menurutku. Nilai (yang ingin disampaikan) baguspun kalau dikemas seperti itu yang terjadi malah mubazir, sayang. Berbeda dengan kata-kata dosenku atau kecenderungan yang kulihat di mana semakin banyak yang “mengobral kata indah tapi miskin makna,” film ini cukup lugas, mudah dimengerti tapi tak menarik. Misinya, pesannya bagus tapi pengemasannya membosankan. Sayangkan film yang harusnya bisa memberi kita wawasan tentang perfilman Filipina akhirnya malah jadi “lagu nina bobok.”

Aish, wes koyok wong yes ae lek nyocot (siap-siap dicocoti ganti mari ngene). Bahno wong blog-blogku dewe kok. Nyocot kan luwih enak timbang nglakoni, dan aku lumayan pinter lek kon nyocot *emotikon nepuk-nepuk dodo*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s