Menulis Fiksi Amankah?

“Fiction is the truth inside the lie.”

–          Stephen King.

            Dulu aku berpikir menulis sebuah karya fiksi adalah jalan paling aman untuk menyalurkan isi pikiran sekaligus juga isi hati. Ide, unek-unek, harapan, mimpi dan perasaan (halah) bisa dengan lebih mudah tertuang dalam tulisan yang “meminjam” tempat di kolom fiksi. Aman karena aku lebih gampang mengelak dari tuduhan, pertanyaan juga serangan terhadap isi tulisan tersebut dengan bilang kalau itu (hanya) sebuah karya fiksi, tidak nyata. Sebuah “samaran” yang kemudian saya sadari sangat bodoh sekaligus sia-sia. Mengambinghitamkan tulisan sendiri dengan meminjam istilah fiksi adalah tindakan tidak cerdas dari seorang yang tidak mau dibilang bodoh.

            Karya fiksi tidak aman untuk mereka yang (hanya) mencoba mencari perlindungan dari apa yang sebenarnya ada di pikirannya, yang dia tuangkan dalam puluhan bahkan ratusan kata itu. Karya fiksi semacam itu yang lebih tepat disebut karya curhat, curahan hati penulis tentang sesuatu yang biasanya ditujukan untuk seseorang yang tidak berani dihadapinya secara langsung. Apakah buruk? Bagiku karya semacam itu menempati posisi terendah sebuah karya tulis. Menjadi buruk karena menulis dengan cara seperti ini sering abai pada aturan penulisan. Karya curhat juga minim manfaat, jika tidak mau dibilang tidak ada. Asal sudah mengeluarkan unek-unek, “ngomel,” tanpa berani menghadapi langsung sumber masalah yang menyebabkan omelan itu keluar, lega sudah. Tidak ada pelajaran yang bisa diambil baik dari segi penulisan maupun nilai moral yang hendak disampaikan dari tulisan tersebut, apalagi solusi. Dangkal dan sayangnya, aku masih seperti itu.

            Ketidakamanan karya seperti itu terletak bukan hanya bahwa pada akhirnya akan diketahui bahwa tulisan tersebut bukan fiksi tapi kenyataan yang dipoles (setidaknya diketahui oleh orang yang dimaksud di tulisan) tapi juga bahwa pertanyaan juga “serangan” tidak dapat dihindari oleh si penulis hanya dengan menjawab, ”Ini adalah karya fiksi, jadi ya suka-suka.” Ketika seseorang menulis dia sedang menyalurkan idenya dan suka tidak suka dia harus mengikuti “aturan” terutama ketika kemudian tulisan tersebut dikeluarkan ke khalayak bahkan dibukukan. Seperti kata seorang teman, seorang penulis harus bertanggungjawab atas apa yang ditulisnya.

            Fiksi, atau non fiksi, mempunyai kaidah, aturan, sebagai sebuah karya penulisan (jika ingin disebut sebagai karya, jika tidak ya memang tidak lebih dari sampah jadi tidak perlu dibahas). Ini yang sering aku abaikan sebagai orang yang mengaku menyukai karya fiksi dan sayangnya juga sudah berani menulis karya fiksi dan mempublikasikannya. Penulis, apapun yang ditulis, tidak boleh “seenaknya” dengan mengabaikan para pembacanya. Lalu apakah tidak boleh mempublikasikan tulisan yang belum memenuhi kaidah penulisan yang berlaku bahkan kemudian membukukannya?

            Selalu ada proses untuk mencapai sesuatu, menghasilkan sesuatu dan proses tersebut tidak akan maksimal tanpa belajar. Aku, lagi-lagi mencari jalan aman, dulu sering menjawab iseng setiap kali ditanya kenapa menulis, kenapa membuat buku. Sebuah jawaban aman (menurutku), sekenanya, yang kemudian hari aku sadari sangat tidak bertanggungjawab. Menulis dan mempublikasikan sebuah tulisan bahkan kemudian membukukannya dan masih berani bilang iseng adalah jawaban dan tindakan yang tidak cerdas. Tidak memikirkan apa yang terjadi pada pembaca yang mungkin menganggap apa yang dibacanya benar, sudah mengikuti aturan penulisan dan sebagainya, tidak terpikir sebelumnya. Sangat egois.

              Aku percaya teman-teman yang telah memberi saran, masukan adalah teman-teman yang peduli tanpa ada maksud menjatuhkan semangat menulisku atau menghalangiku membuat buku lagi. Malas, tidak mau belajar juga beberapa kata lain adalah cermin kejujuran yang mengatakan padaku apa yang meski tak ingin kudengar apalagi kuakui tapi sedang kuidap. Mereka menyadarkanku bahwa orang yang menulis tidak lepas dari kewajiban untuk belajar, tak peduli yang ditulisnya fiksi atau bukan. Semua yang berani mempublikasikan dan menyebut hasil tulisannya sebuah karya tulis harus benar-benar tahu dan bisa bertanggungjawab atas apa yang ditulisnya.

            Jadi mencari jalan aman dengan memakai istilah fiksi (juga mengakui karyanya sebagai hasil keisengan) tanpa mau belajar dan mematuhi kaidah yang ada adalah, sekali lagi, sebuah tindakan tidak cerdas dan sia-sia. Tidak hanya tidak akan membawa manfaat pada pembaca tapi juga pada diri sendiri. Tanpa mengikuti aturan (penulisan yang baik dan benar) lebih baik sebuah karya dijadikan koleksi pribadi saja. Mungkin terdengar sadis tapi itu adalah lecutan agar tidak pernah menyepelekan sesuatu. Bahwa segala sesuatu ada ilmunya dan bisa dipelajari asal mau dan jangan berani mempublikasikan tulisan jika hanya iseng harus dicamkan baik-baik oleh mereka yang ingin menjadi seorang penulis. Satu lagi, jika (hanya) ingin aman jangan menulis di ruang publik, di buku harian saja dan jangan lupa pakai kunci (abg jadul).

***

Tulisan ini diposting juga di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s