Setahun Lalu

Tadi malam ketika sedang rebahan sambil melamun sebuah sms masuk, dari seorang kawan. Sms yang isinya tentang sms yang kukirimkan padanya kurang lebih setahun yang lalu.

 There’s always somebody for someone, in time.

Seperti itu bunyi smsku waktu itu. Entah topik apa yang kami bicarakan waktu itu, detilnya aku sudah lupa. Yang pasti, sesore kemarin pikiranku melayang pada masa setahun yang lalu. Kurasa pikiran kami sedang nyambung atau kalau meminjam istilah si kawan, pikiran kami sedang dalam frekuensi yang sama.

Aku tersenyum, kurasa tertawa. Menertawakan hidup, kelakuanku yang ora mutu. Setahun yang lalu aku tidak tahu apa yang kumau, apa yang kucari juga apa yang kulakukan. Keluyuran, mbambung sana-sini seperti orang yang kebanyakan duit. (Seperti) tak memikirkan keluarga, pekerjaan juga masa depan, sudah sering aku dengar.

Setahun yang lalu hahaha….(pinginnya malu tapi wes kebal) tulisan-tulisanku tidak lebih coretan-coretan galau ora mutu, yo mutu ning rendah, sangat rendah! Coretan yang kemudian mengantarkanku bertemu orang-orang baru yang nggak kalah ora mutu-nya. Orang-orang dengan kegalauan yang tidak jauh berbeda, sama level hanya beda jenisnya saja, membuat hidupku semakin “meriah.” Saling menertawakan, mengolok tentang ketidakmutuan masing-masing yang ternyata sulit dihilangkan, mungkin memang bukan untuk dihilangkan.

Sekarang, setelah setahun berlalu, tidak banyak yang berubah. Aku, kurasa juga kawan-kawanku, masih bertahan di garis ora mutu meski ada yang ditambah dengan polesan, ada juga yang pede dengan ketidakmutuannya yang vulgar. Masih, aku suka keluyuran, mbambung. Pertanyaannya: Apa sekarang aku lebih bahagia dari setahun yang lalu?

Pertanyaan yang susah-susah mudah untuk dijawab. Susah kalau kejujuran masih dikesampingkan, denial. Menjadi mudah jika mau jujur, pada diri sendiri sajalah dulu setidaknya. Setahun membawa banyak pelajaran, pengalaman padaku tentang sakit juga senang, tentang hidup yang, kembali menilik kata-kata seorang kawan, tidak semua bisa seperti yang kamu ingini.

Pernah merasa tahu apa yang diinginkan, merasa rasa begitu benar meski kemudian sadar tidak semua yang diinginkan, meski aku ingin sekali, bisa kita miliki atau setidaknya sesuai keinginan kita. Pernah berpikir itulah satu-satunya kebahagiaan, yang ingin diraih. Tidak peduli dengan yang lain karena meletakkan hati di posisi tertinggi, terlupa akan akal, irrasional.

Maka setelah setahun, setelah beberapa keinginan yang ternyata tidak kalah penting tercapai apakah kemudian kebahagian itu otomatis diraih?

Ketika aku berada di gunung, pada suatu ketinggian, ada rasa bangga juga senang yang dulu terpikir akan membuat manusia semakin besar, berharga. Rasa yang ternyata kini justru terasa kecil, tidak ada apa-apanya. Orang-orang hebat tidak pernah sendiri. Mereka dikelilingi orang-orang yang mungkin tidak terlihat tapi tidak kalah hebatnya, dalam dukungan, mungkin juga doa.

Ah, lagi-lagi terhempas dalam sebuah pemikiran. Bahkan untuk menjawab apa aku bahagia, cukup bahagia, lebih bahagia menghabiskan banyak energi. Tapi seperti juga yang kukatakan pada kawanku, pada balasan smsku semalam,

Seperti juga skripsi, kebahagian harus diperjuangkan.

Advertisements

12 thoughts on “Setahun Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s