Mendaki Merapi

pendaki Merapi (photo by me)

Hampir setiap hari dalam tiga bulan terakhir ini aku memandangi wajah Merapi dari kejauhan. Setiap akan membuka kamar atau tiap kali aku keluar, ke jalan, Merapi yang kokoh terlihat jelas. Erupsi yang terjadi hampir dua tahun yang lalu tidak mengurangi kecantikan gunung ini. Tidak pernah terbesit di pikiran keinginan untuk mendakinya. Sebatas melihat lebih dekat, iya. Keluyuran, mbambung, sudah biasa tapi untuk mendaki sebuah gunung adalah hal yang jauh dari kepalaku, berbeda.

Hawa gunung yang pastinya sangat dingin sangat tidak cocok denganku yang terbiasa merasakan panasnya matahari Surabaya. Badanku yang hampir tidak pernah olah raga rutin juga tidak sesuai untuk sebuah pendakian yang membutuhkan stamina yang fit, sebuah ketahanan. Alasan yang kemudian bertambah satu tentang kenapa mendaki gunung tidak pernah menjadi pilihanku adalah ternyata aku masih takut mati. Berita di koran atau televisi tentang para pendaki yang hilang, yang sebagian berhasil ditemukan meski sebagian juga ditemukan tanpa nyawa, ternyata begitu masuk di otakku.

Jika kemarin akhirnya aku memutuskan ikut mendaki Merapi itu adalah sebuah kespontanan untuk mengiyakan. Bukan tanpa rencana juga karena sehari sebelumnya aku sempat berkumpul dengan beberapa kawan. Semua diajak, semua dikabari meski akhirnya kami berempat yang jadi berangkat. Molor jadi jadwal yang disepakati sudah sangat lumrah bagi kami, biasa. Aku, mungkin juga kawanku, hanyalah pemuda bangsa yang ternyata tidak bisa lepas dari tanggung jawab, setidaknya, ikut melestarikan budaya bangsa yaitu ngaret. Akhirnya, pada pukul setengah enam sore kami berangkat dari Jogja.

Dari kami berempat hanya seorang kawan yang sudah pernah mendaki Merapi, itupun tiga tahun yang lalu sebelum erupsi. Lupa-lupa ingat kami meluncur menuju Selo, mencari base camp untuk pendakian. Malu bertanya sesat di jalan adalah peribahasa yang sudah sangat dikenal di masyarakat kita. Tidak mau sesat di jalan kamipun bertanya ketika kami mulai kehilangan arah. Kami melaju terlalu jauh, jalan yang kami ambil ternyata menuju Gunung Merbabu, meski ada keyakinan jalan itu juga akan tembus ke Merapi kami akhirnya  memutuskan untuk kembali.

Bertemu Pak Ismail di Pos Pemantauan Merapi, Babadan

Kembali bertanya dengan beberapa orang yang kami temui, kami sampai di lereng Merapi. Sayangnya bukan tempat itu yang kami maksud. Kami malah nyasar di pos pemantauan Merapi Babadan dan bertemu petugas disana, Pak Ismail, yang kemudian memberi kami ancer-ancer menuju Selo. Sebelum pergi Pak Ismail berpesan agar kami tidak menerjang badai. Di bawah cuaca cukup bagus, langit terlihat cerah dengan taburan ribuan bintang tapi di atas, di Merapi, angin sedang kencang. Saran yang sama juga diberikan beberapa kawan kepadaku ketika mereka tahu aku akan mendaki Merapi.

base camp yang kami cari-cari

Sekitar pukul sebelas akhirnya kami sampai juga di base camp Selo. Sungguh melelahkan. Carrier besar yang kami bawa juga perjalanan yang panjang cukup membebani punggung kami. Lima jam sudah kami berputar-putar. Di base camp sudah banyak para pendaki yang berkumpul, istirahat. Lumayan ramai, pikirku. Angin berhembus sangat kencang, beberapa kali membuka pintu base camp dan menghembuskan hawa dingin ke tubuh kami yang sedang duduk-duduk juga tiduran. Tubuhku merinding. Aku harus istirahat. Rencana kami akan mendaki dini hari sehingga kami harus memanfaatkan waktu untuk istirahat.

Di dalam base camp kawan-kawanku berbincang-bincang dengan pendaki lain. Aku memutuskan untuk tidur saja. Meski tidak yakin bisa tidur setidaknya tubuhku bisa istirahat sebentar. Pukul setengah dua kami bersiap-siap. Salah seorang kawanku memasak air untuk menyeduh kopi juga memasak mie instan. Kami tidak akan sempat masak di atas, mungkin juga tidak akan sempat membuka tenda karena keterlambatan kami. Selesai menyantap mie instan ramai-ramai kami berangkat bersama para pendaki yang lain.

Kami baru sampai di tulisan New Selo, di atasnya sedikit, ketika kudengar suara orang muntah. Setelah istirahat sejenak, karena aku dan dua orang pendaki sudah kecapekan, kami mulai mendaki lagi. Seorang kawan yang di belakang menyusul dan mengatakan seorang teman kami turun, tidak melanjutkan pendakian. Tubuh kami memang terlalu lelah. Aku sendiri sudah beberapa kali minta istirahat dan berpikir untuk turun. Dua orang teman pendaki, yang ternyata sama-sama baru pertama mendaki gunung sepertiku, Nglanggeran tidak dihitung, mengatakan ingin berhenti saja.

Kawan-kawannya menunggu sambil memberinya semangat. Seorang kawannya lagi, yang katanya sudah sering mendaki yang ternyata juga muntah, mengatakan akan menemaninya turun kalau mau. Aku sendiri hanya bisa pasrah. Nafasku sudah ngos-ngosan. Kaki juga sudah pegal. Kawanku menyemangati, pasti bisa. Seorang yang lain bilang tidak perlu memaksa, santai saja mendakinya, toh gunungnya tidak akan pergi. Kulihat dua orang pendaki dari rombongan yang lain memutuskan naik, aku ikut. Ini terjadi berkali-kali, berhenti dan pikiran-pikiran untuk turun, tak melanjutkan pendakian menderaku, kurasa juga dua pendaki lain.

bersama pendaki yang lain

Kata-kata penyemangat yang sama terus kudengar. Lebih-lebih kata-kata di kepalaku yang terus terngiang, “Pendakian ora mutu, yo mutu ning rendah.” Hawa dingin menembus jas hujan yang kupakai meski tidak semakin dingin karena kami bergerak. Seorang pendaki memintaku melepaskan saja jas hujanku agar aku tidak kepanasan. Kawanku menyarankan agar aku melepas kaos kakiku karena melihat aku kesulitan berjalan dengan menggunakan kaos kaki pada sandal tanpa tali di belakang. Kuikuti saran mereka, toh tidak begitu dingin. Semakin naik angin yang berhembus semakin kencang. Di atas pasti sedang badai, kata seorang pendaki. Ngeri rasanya berada di ketinggian dengan angin sekencang itu.

Di tengah perjalanan seorang reporter, entah dari stasiun mana, menyegat kami. Semacam wawancara kecilpun terjadi di antara hembusan kencang angin. Si reporter menanyakan asal kami juga apakah kami akan terus lanjut meski cuaca sedang buruk, badai. Yang diwawancarai menyebutkan asalnya. Dia juga bilang akan terus naik selama cuaca masih mendukung. Jika memang nanti di atas terlalu bahaya, tentu tidak akan memaksa sampai di puncak. Perjalanan kami lanjutkan kembali. Angin kencang masih mengiringi kami. Beberapa kali aku berhenti karena terhuyung.

pendaki ora mutu

Base pertama berhasil kami lalui. Masih cukup aman, kamipun melanjutkan ke base berikutnya. Bukan tidak pegal, rasanya kaki ini sudah terlalu kaku untuk melangkah. Nanggung meski satu yang masih belum bisa kuatasi, perut mulasku. Sungguh bukan hal yang menyenangkan bahkan menyebalkan, dalam pendakian seperti ini jika aku harus kembali karena perut yang sudah tidak tahan untuk membuang hajat. Kutahan dan berharap rasa itu segera pergi. Sama seperti rasa kantukku yang tidak kalah konyolnya. Sedang mendaki gunung dan aku terus menguap, ngantuk. Benar-benar ora mutu!

Seorang pendaki, yang kemudian aku ketahui dari Solo, beberapa kali berhenti. Dari base camp sampai pendakian kuperhatikan dia begitu tenang dan penuh persiapan. Baginya pendakian ini untuk menikmati pemandangan, tidak perlu terlalu nafsu harus mencapai puncak atau sampai secepatnya, dinikmati saja. Ah, aku senang sekali. Setidaknya aku punya alasan untuk berhenti dan beristirahat. Sampai di base kedua angin masih sangat kencang. Terlalu berbahaya untuk naik karena batas vegetasi sudah mulai habis. Tidak akan ada pohon yang bisa kami jadikan pegangan untuk bertahan dari angin kencang. Kiri kanan hanyalah jurang.

goa

Tidak perlu memaksa, jangan melawan badai. Hidup dan mati mungkin sudah ditentukan tapi mati karena terlalu memaksakan sesuatu juga hal yang terlalu bodoh untuk dilakukan. Kami pun berhenti dan memutuskan membuat tenda. Hari sudah pagi meski di antara kabut tebal kami tidak bisa melihat matahari. Di depan sebuah gua, tenda kami berdiri. Setelah sarapan kamipun istirahat. Orang mati dimana saja, kapan saja tapi aku tidak akan mati hari ini.

memandang Gunung Merbabu (photo by yula)

Advertisements

13 thoughts on “Mendaki Merapi

  1. Hahahaha, saat aku cerita ke maspacar kalian bakal pada naik merapi dia bilang “nekat, cuaca kayak gini kok ke merapi” dan ya, kalian tidak sampe puncak, aku bahagia lalalalala hahahahahahhahaha….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s