Inagurasi Gatitot

Air Terjun Grojogan Watu Jonggol (dok.pribadi)

            Rencananya sih sok mengadakan inagurasi. Pinginnya sih mau canyoning lagi, memuaskan teman yang ngiler karena nggak bisa ikut sebelumnya. Seperti kata orang bijak, entah siapa, “Manusia berencana Tuhan yang menentukan.” Rencana yang sudah disusun, dibayang-bayangkan betapa teman-teman yang tidak ikut akan menangis darah, merobek-robek baju saking keselnya pas lihat foto-foto nggaya di air terjun Grojogan Watu Jonggol, Nglinggo, Kulon Progo ternyata harus diikhlaskan terkubur.

            Sabtu, sekitar pukul empat sore semua “kru” sudah siap untuk meluncur dari Jogja menuju lokasi. Bermodal “peta” paling mutakhir di abad ini, tujuh sepeda motor memecah jalanan Jogja. Tas-tas carrier di punggung membawa perbekalan dan perlengkapan untuk kemping semalam juga untuk canyoning.  Sempat nyasar sedikit karena “peta” yang terlalu canggih ternyata tidak diimbangi dengan pembaca peta yang handal, ditambah informasi yang kurang sesuai membuat “sang guide” harus berhenti untuk bertanya pada penduduk sekitar. Tak lama, tak sampai Magrib rombongan sudah sampai di lokasi.

"peta" paling mutakhir (dok.pribadi)

            Ait terjun yang cukup tinggi, sekitar 60 meter. Lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk tapi sepi. Hanya perlu melewati jalan setapak menurun yang sebagian sudah disemen, dibikin jalan, dari papan nama lokasi. Kendaraan bisa dititipkan di penduduk sekitar. Pepohonan yang cukup rimbun, adem. Tak ada orang lain kecuali kami berduabelas di lokasi. Sangat cocok untuk kemping, menyepi.

            Dua tenda didirikan, harusnya tiga tapi tempat tidak memungkinkan. Dingin sudah menyapa. Kabut juga kian tebal. Beberapa kali gerimis datang tapi kemudian reda. Kopi, nasi juga mie instan sudah matang, siap untuk disantap. Menggelar mantel untuk merebahkan punggung yang pegal sambil memandang kunang-kunang juga bintang yang enggan, tertutup mendung, kami lakukan. Sebagian memilih duduk-duduk di gubuk kayu sambil menyanyi diiringi petikan gitar.

            Hawa semakin dingin, aku dan sebagian teman mengundurkan diri, masuk ke tenda. Tak lama, lelap. Di luar penyanyi-penyanyi sumbang masih semangat, sampai dini hari. Menjelang pagi harusnya kami bersiap-siap, apadaya hujan turun. Akhirnya acara tidur dilanjutkan. Sampai hampir pukul sembilan hujan tidak juga reda. Tenda mulai bocor. Air menetes masuk ke dalam. Tak mungkin lagi meneruskan tidur. Tak ingin juga menyiakan waktu dengan tidur-tiduran.

            Beberapa teman sudah bangun. Ada yang berjalan-jalan sambil mencari tempat untuk mengambil foto. “Sang guide” langsung beraksi, melompat dan menari (macak bedes)  untuk survey air terjun. Yang lain mengumpulkan nyawa, sebagian lagi masak. Makan pagi beres sudah. Seperti semalam enam piring untuk duabelas orang. Sepiring berdua. Sayang berita dari “sang guide” tidak menyenangkan. Tidak memungkinkan untuk menuruni air terjun karena tidak ada pohon atau batu yang bisa dijadikan pengikat tali.

            Mencari lokasi lain adalah rencana berikutnya. Sambil menunggu dua teman yang sedang menyusul, kami packing. Begitu si teman datang, tiba di lokasi, kami sedang berjalan naik. Memberi waktu pada dua anak, katanya manusia, yang sudah mengalami “kesialan” di perjalanan untuk mengambil foto, kami menunggu di atas. Hujan menyapa, semakin deras. Di pasar Plono kami berhenti untuk bertanya air terjun lain yang ada di sekitar situ. Kali ini delapan sepeda motor kembali melaju, menembus gerimis.

survey jembatan (dok.pribadi)

            Tidak berhasil menemukan lokasi kami berhenti di sebuah jembatan besar. Sempat berpikir untuk mencoba rappeling disitu. Jam sudah menunjuk pukul satu lebih. Lokasi yang berada di jalan besar, tanpa ijin dan bisa mengundang keramaian membuat kami terpaksa membatalkan lagi rencana itu. Tidak menemukan ide lagi, kami pun meluncur pulang. Bagi kami berduabelas kegagalan ini tidak begitu menyakitkan, setidaknya kami sudah cukup bersenang-senang. Tapi bagi dua teman yang baru menyusul mungkin lain ceritanya (hening). Inagurasi gagal tidak total (gatitot) meski kami, pastinya, merencanakan kembali untuk mengulang acara pekan berikutnya (harus). Apapun kejadiannya jangan terlupa untuk bersenang-senang, kawan!

kemesraan ini (dok.pribadi)

akibat mangan watu (dok.pribadi)

tipe 36D (dok.pribadi)

Advertisements

10 thoughts on “Inagurasi Gatitot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s