Biennale Jogja XI Membosankan?

foto Anak-anak Gangga (dok.pribadi)

            Sudah  beberapa kali aku datang ke Taman Budaya Yogyakarta untuk melihat Resource Room dari event Biennale Jogja XI. Untuk informasi saja di Resource Room ini pengunjung bisa melihat arsip perubahan sosial di Indonesia dan India, Indian Corner: dokumentasi masyarakat India saat ini, Pameran Informasi Program Parallel Events dan Festival Equator. Disini juga akan diputar film setiap harinya serta diskusi tematik dimana tidak dikenakan biaya alias gratis. Akan tetapi dari beberapa kali kunjungan kesini tak banyak kesan yang kudapat. Apakah tidak menarik? Membosankankah?

            Pertama kali ke Resource Room aku datang bersama kedua temanku. Jujur itu bukan kunjungan yang kami sengaja. Aku dan kedua temanku sedang melihat pemutaran film di Societet, gedung sebelahnya. Film sudah selesai dan kami masih ingin berjalan-jalan maka kami putuskan untuk masuk melihat-lihat. Shadow Lines, Indonesia Meets India, tulisan yang cukup besar terdapat di dinding bagian dalam depan. Tulisan yang sepertinya merupakan tema untuk penyelenggaraan Biennale Jogja tahun ini.

            Tidak banyak pengunjung malam itu. Beberapa pemuda pemudi, tak lebih dari sepuluh orang. Oh iya kami sempat sedikit bingung dengan banyaknya sepatu dan sandal di depan pintu masuk. Apakah setiap pengunjung yang masuk harus melepas alas kakinya, kami saling bertanya. Setelah sedikit melongok ke dalam kami lihat panitia yang duduk di kursi depan mengenakan alas kakinya. Akhirnya kami masuk dengan alas kaki tetap kami kenakan.

            Di dalam, bagian paling depan, mataku langsung tertuju pada poto-poto ukuran besar yang dipasang di dinding. Foto-foto perempuan India yang berambut gimbal. Setelah aku baca keterangan di samping foto rupanya foto-foto itu adalah foto perempuan India yang disebut Anak-anak Gangga. Baru pertama kali ini aku mendengarnya. Selama ini yang kutahu tentang India memang tidak banyak. Bukan dari bacaan, kecuali pelajaran ketika masih di bangku sekolah dulu, melainkan dari televisi, sedikit tambahan dari koran atau majalah tapi itu pun sedikit sekali.

            Selesai memandangi foto-foto di dinding itu aku melanjutkan masuk lebih dalam. Ruang di pojok kiri tidak menarik minatku. Aku hanya melirik sekilas kemudian berlalu. Di sebelahnya, tempat dimana Gerobak Bioskop berada aku berhenti. Ada film yang diputar. Beberapa film pendek dari komunitas anggota Gerobak Bioskop diputar. Untuk beberapa saat aku berusaha menikmati film yang disuguhkan. Sayang agak sulit untuk bisa menikmati sajian film itu. Entah karena pencahayaan atau apa tapi refleksi ke dinding tidak begitu jelas, kabur. Aku hanya bisa mendengar suara tanpa gambar yang bisa mendukung. Padahal ini kan film, visual tentu sangat berpengaruh untuk bisa mengerti isi, ide yang dibawa sebuah film.

foto dok.pribadi

            Temanku memanggil, menarikku untuk mendekatinya, melihat sebuah foto besar di sisi kanan. Ada film diputar di sebelahnya. Beberapa anak SD, kalau tidak salah ingat, sedang bersepeda sambil mengenakan topeng yang baru mereka buat. Di topeng itu terdapat tulisan yang merupakan isi hati mereka, surat kepada tuhan. Kami tertawa memandangi foto besar itu. Foto-foto itu mengingatkan kami pada sahabat-sahabat kecil kami di Studio Biru. Senyum-senyum itu sungguh polos, memberi harapan seolah tak peduli dengan apa yang terjadi pada dunia.

            Puas melihat foto kami masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu terdapat televisi yang sedang memutar film India. Di depannya terdapat sebuah meja dengan majalah-majalah terbitan India di atasnya. Beberapa anak muda tampak mengambil foto diri dengan latar poster di dinding. Aku dan teman-temanku saling memandang, tersenyum, melihat mereka. Sama saja, dimana pun narsis sepertinya sudah menjadi kewajiban. Jam sudah menunjuk pukul sembilan malam, para panitia sudah bersiap. Rupanya tempat akan segera ditutup. Kami pun berjalan keluar bersama pengunjung yang lain.

            Tak ada kesan mendalam, biasa saja. Mungkin kami memang tidak mengerti seni. Bagiku sendiri apa yang baru kulihat tidak istimewa. Tidak ada sesuatu yang menggoreskan kesan mendalam. Tak banyak tambahan informasi yang kuperoleh tentang India juga hubungannya dengan Indonesia. Kering, kesannya memang seperti itu. Seperti itukah yang dirasakan pengunjung yang lain? Kulihat raut muka mereka biasa saja, hampir sama seperti aku dan kedua temanku. Kalaupun ada senyum juga sedikit semangat itu hanya muncul ketika mereka mengambil foto narsis mereka.

            Pun ketika beberapa kali aku menyempatkan kembali melihat-lihat Resource Room ketika sedang ada acara di TBY kesan yang kuperoleh masih sama. Tak juga banyak pengunjung meski aku datang di waktu yang berbeda-beda. Tak bertambah kesan yang kudapat justru semakin berkurang. Apakah ini artinya Biennale Jogja XI membosankan, tidak menarik? Aku tidak berani mengambil kesimpulan seperti itu karena yang kulihat, sebagai orang awam, hanya satu dari sekian sajian juga rangkaian acara yang dimiliki Biennale Jogja XI. Di daftar acara yang kulihat di website resminya banyak sekali yang disuguhkan yang tidak dan belum kulihat sendiri seperti apa. Dengan begitu tentunya tulisan ini tidak mewakili acara Biennale Jogja XI secara keseluruhan. Hanya sebagian yang memang sempat kulihat dan kurasakan sendiri. Biennale Jogja XI membosankan? Mari kita lihat dan buktikan apakah memang seperti itu dengan mengikuti rangkaian acara yang lain, baru kemudian mengambil kesimpulan.

***

Advertisements

10 thoughts on “Biennale Jogja XI Membosankan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s