Setangkai Sedap Malam Di Atas Batu

            Tanah di depanku masih basah, sedikit becek. Hujan yang turun semalaman bahkan menyebabkan tanggul di pinggiran desa jebol. Bukan embun yang ada di pucuk-pucuk daun tapi sisa air hujan. Dingin karena matahari belum juga muncul di pagi yang sudah mendekati pukul delapan ini. Dingin sampai ke dalam hati, pelukan langit suram. Jemari membiru. Tak bisa kulihat wajahku. Pasti tak jauh beda dengan tangan dan kakiku yang kaku, pias tak berwarna.

            Masih aku tertegun. Memandang sekelilingku yang tak juga berubah beberapa hari ini, selalu sepi. Bicara sendiri seperti ini bukan inginku tapi tak kutemukan teman untuk berbagi disini. Bukan tak ingin pergi, ingin sekali. Dalam keputusasaan kadang aku berteriak sekuat-kuatnya, tersedu tapi tak pernah ada yang peduli. Aku tahu aku tak sendiri disini. Entah sibuk atau tak mau mencampuri, mereka diam. Aku merasakan kehadiran mereka, kadang aku mendengar meski belum pernah kulihat.

            Belum kulihat matahari. Hampir pukul sembilan dan dingin ini tak juga hilang. Kenapa waktu lambat sekali berjalan? Lagi-lagi kulihat sekelilingku, masih sepi. Di cuaca seperti ini orang-orang pasti malas keluar. Sawah-sawah kebanjiran, merusak padi yang hampir tiba panen itu. Kudengar kemarin dari percakapan dua orang tetanggaku yang lewat bahwa banjir kali ini adalah yang terparah. Benar juga, selama tinggal di desa ini belum pernah kulihat air yang begitu melimpah. Ah, pasti karena bukit yang mengelilingi desaku yang semakin tak berpohon itu.

             Sebentar lagi, ya sebentar lagi dia akan datang. Ah, dia memang yang terbaik. Tak akan tergantikan. Hanya dia yang bisa membuatku tersenyum selama hampir tujuh hari disini. Kutatap sekali lagi batu di depanku. Sebuah nama yang indah terukir disana. Nama yang indah yang selalu dibisikkan ke telingaku, terngiang sampai gelap malam memelukku, bersama pelukannya. Nama yang selalu disebutkan pada Tuhannya, didesiskan di sepertiga malam ketika tak seorang pun terjaga. Cepat datang dan biarkan kupeluk tubuhmu yang semakin ringkih itu.

            Sebentar lagi dan biarkan kulampiaskan rinduku padamu. Ah, cepat sekali aku merasa rindu padahal kemarin kau juga datang. Rasanya seperti terpisah dari kekasih yang tahunan tak bertemu, aku menantimu. Setangkai bunga sedap malam, ya setangkai saja, cukup untuk mengharumkan tanah yang masih merah ini. Lihat, yang kemarin kau bawa pun belum sepenuhnya layu. Bunga sedap malam, bunga yang kita cintai seperti bau tanah yang basah. Lihat, aku tersenyum. Mengingatmu saja membuatku tersenyum, bahagia. Aku ingat bagaimana kau sengaja membasahi tanah di pekarangan rumah kita agar bisa kau cium aromanya. Satu lagi yang indah dari hujan, bukan hanya syahdunya tapi bagaimana dia membuat bumi basah dan menimbulkan aroma surga. Kata-katamu itu selalu kuingat.

            Dia datang. Dia masih cantik meski tubuhnya terlihat semakin kurus. Tangan kirinya menarik ujung roknya, memperlihatkan betis yang meski tak lagi montok berdaging tapi bersih. Di tangan kanannya, indahnya, setangkai bunga sedap malam, seperti biasa, digenggamnya erat.

            “Selamat datang, Bunda.”

            Dia tersenyum. Tak lama, dia lalu bersimpuh. Aku pun mengikutinya, bersimpuh di depan sebuah batu. Saat ini kami berhadap-hadapan.

            “Bagaimana kabarmu Bunda?” bisikku.

            Dia diam, senyumnya semakin tipis. Aku tak ingin mengganggunya. Kulihat dia mulai memejamkan mata. Bibirnya bergerak. Kamu cantik Bunda, masih sangat cantik, kataku dalam hati karena tak ingin mengganggunya. Hening. Bumi seolah berhenti berputar. Langit tertunduk, menghormat pada seorang bunda yang sedang memuja Tuhannya. Perlahan matanya mulai terbuka. Disandarkannya sedap malam di tangannya itu ke batu. Dia tersenyum. Aku tahu apa yang dirasakannya.

            “Kamu cantik seperti setangkai bunga sedap malam,” bisiknya.

            Tik…tik…tik…

            Air mulai menetes. Tidak, jangan sekarang. Aku cinta hujan tapi tidak saat ini. Tuhan kumohon, hentikan hujan ini. Aku masih ingin memandang wajahnya. Aku masih ingin memeluknya. Aku ingin bersimpuh di kakinya, memohon ampun atas dosa yang aku yakin telah dimaafkannya. Jangan pergi Bunda, aku masih rindu. Jangan tinggalkan aku Bunda, disini dingin sekali, disini sepi. Aku mulai tersedu. Hujan semakin deras, sederas air matanya menjatuhi kedua pipi. Bunda, maafkan aku. Bahkan ketika sudah pergi pun aku masih membuatmu menangis. Bunda, aku ingin kembali tapi bumi telah menghimpitku. Bunda, aku ingin pulang dan bersamamu mencium aroma sedap malam juga tanah yang basah oleh hujan. Bunda, maafkan aku! Bunda, jangan tinggalkan aku!

            Dia pergi, setengah berlari. Di antara tanah kuburan yang becek kakinya melompat-lompat, menghindari genangan air. Dia meninggalkanku yang hanya bisa terpekur kaku di depan sebuah batu nisan dengan sebuah nama, nama yang disebutnya ribuan kali tiap hari. Nama yang katanya sama indahnya dengan bunga sedap malam juga hujan. Sebuah nama yang telah menjadi salah satu penghuni di tanah pekuburan desa ini. Sebuah nama, namaku.

***

Advertisements

4 thoughts on “Setangkai Sedap Malam Di Atas Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s