Menyaksikan Penampilan Frau Di Perayaan Pembukaan Biennale Jogja XI

            Ketika saya membaca tweet kalau bakal ada Frau di acara perayaan pembukaan Biennale Jogja saya langsung kegirangan. Saya harus nonton, kata saya waktu itu. Seorang teman memastikan kalau dia akan menemani saya nonton Frau. Semakin giranglah saya. Dia tahu betul saya suka Frau. Dia jugalah yang pertama kali menunjukkan video Frau pada saya dan membuat saya jatuh cinta. Ya, Frau-lah alasan saya ingin datang ke acara pembukaan Biennale yang diadakan di Jogja National Museum. Saya yang baru beberapa hari tinggal di Jogjakarta tidak tahu, bahkan tidak pernah mendengar apa itu Biennale.

            Pada hari H, 26 November 2011, saya dan teman saya sempat kebingungan. Teman saya yang asli Jogja tidak begitu yakin dengan lokasi Jogja National Museum. Meskipun kemudian kami berhasil sampai tanpa nyasar kami sempat bertanya-tanya dimana lokasi Frau akan tampil. Malam itu belum pukul tujuh, Frau dijadwalkan akan tampil pukul tujuh, tapi museum sudah dipadati banyak pengunjung. Salah tentunya kalau saya berpikir mereka datang kesini hanya karena ingin menonton Frau seperti saya.

            Sambil mencari lokasi dimana Frau akan tampil saya dan teman saya memutuskan berkeliling. Di dalam museum suasana tidak kalah ramai. Pengunjung memadati ruangan-ruangan yang dijadikan tempat pameran karya seni. Saya pribadi tidak paham tentang seni. Tidak juga pantas disebut penikmat karena seringnya saya juga tidak bisa menikmati karya seni yang ditampilkan di event-event semacam Biennale ini. Kalau pun saya berhenti, agak lama, memandangi satu persatu karya yang dipajang itu hanya upaya saya untuk mencoba sedikit saya mengerti kira-kira apa yang dimaksud oleh penciptanya. Jika kemudian saya berdecak kagum, merasa apa yang saya lihat bagus bukan juga karena saya mengerti nilainya.

            Di ruangan yang memutar film saya berhenti lumayan lama. Yang seperti ini saya suka, bahkan bisa dibilang saya bisa menikmati. Tampilan film yang lengkap, audio dan visual, membantu saya lebih mudah masuk dalam sebuah pemikiran, pikiran atau ide si pembuat film. Teman saya kembali mengajak berkeliling. Satu persatu ruangan kami masuki. Pukul tujuh lebih kami memutuskan keluar, kami tidak ingin melewatkan penampilan Frau. Ketika teman saya mencari toilet, kami memutar. Pada saat itulah kami tahu kalau Frau akan tampil di bagian belakang museum, di bawah pohon beringin besar.

            Beberapa kursi yang ditata menghadap “panggung” sudah terisi penuh. Kebanyakan penonton duduk di pelataran pendopo tengah, trotoar atau berdiri. Saya dan teman saya memilih berdiri di belakang. Meski tidak dekat tapi kami bisa melihat jelas. Tak lama Frau pun tampil. Kembali saya girang. Suaranya benar-benar “adem,” menyejukkan. Selama penampilan dari Frau ini ada beberapa insiden yang terjadi di dekat tempat kami berdiri. Lokasi yang gelap dan penonton yang lumayan padat membuat saluran air yang meski sempit tapi cukup dalam tidak kelihatan. Terhitung ada lima orang yang menjadi korban karena terperosok ketika berjalan. Beruntung saluran itu sedang kering meski begitu tentu tetap sakit terlebih lagi malu. Korban yang terparah adalah seorang mbak yang berbadan cukup bongsor. Dia bahkan sampai harus dipapah oleh dua orang temannya ketika meninggalkan lokasi.

Penampilan Frau Di Perayaan Pembukaan Biennale Jogja XI (foto dok.pribadi)

            Penampilan Frau memukau saya malam itu. Begitu selesai saya dan teman saya memutuskan pulang. Penampilan selanjutnya dari Yayasan Disco Lombok Horor tidak menarik minat kami. Kami belum bisa menikmati jenis musik “ajep-ajep” seperti ini. Malam itu saya masih belum paham apa sebenarnya Biennale. Tweettweet di timeline saya berseliweran tentang event ini dan meski saya baru saja melihat langsung salah satu rangkaian acaranya juga pamerannya pemahamannya saya belum bertambah banyak. Jika kemudian saya sedikit mengerti itu karena saya membuka websitenya dan mencoba mencari tahu lewat Internet.

            Ada kejadian yang mungkin tidak lucu tapi sedikit menggelikan berkaitan dengan Biennale ini. Salah seorang teman saya begitu mengetahui kalau ada lomba blog yang diadakan di Biennale tampak antusias. Dia mengajak saya melihat pemutaran film yang ada di Taman Budaya Yogyakarta. Dia, dan juga saya, mengira kalau pemutaran film ini merupakan salah satu acara yang diadakan oleh Biennale Jogja. Jadwal sudah dipastikan, tiket pun sudah di tangan. Lancar. Ide mengalir tentang apa yang akan ditulis untuk diikutkan lomba. Sayang karena kurang cermat jadinya salah. Teman saya baru menyadari setelah ada pemberitahuan dari panitia. Pemutaran film yang kami tonton waktu itu bukanlah rangkaian acara dari Biennale. Tulisan sudah terlanjur diposting dan tentu harus diralat karena tidak ingin ada pihak yang merasa tersinggung atau bahkan dirugikan dengan informasi yang kurang tepat.

            Biennale masih akan berlangsung sampai 8 Januari 2012. Masih ada waktu bagi saya untuk mencari tahu dan menambah wawasan saya tentang event ini. Beberapa hari yang lalu saya bersama beberapa orang teman saya sempat mengunjungi lokasi lain dari penyelenggaraan Biennale yang berada di Taman Budaya Yogyakarta. Masih ada rangkaian acara yang bisa diikuti, dilihat dan tentu saja untuk dinikmati di Biennale Jogja yang ternyata sudah kesebelas kali diadakan ini.

  ***

Advertisements

2 thoughts on “Menyaksikan Penampilan Frau Di Perayaan Pembukaan Biennale Jogja XI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s