Kamu Gadisku

Angga baru saja akan me-log out TweetDecknya. Baru akan, sekian detik saja sebelum suara khas yang menunjukkan ada tweet baru terdengar. Sebuat tweet, tak panjang dari seseorang yang entah dimana sekarang meski kemudian Angga tahu apa yang seseorang itu sedang  lakukan. Angga melepas tangannya dari mouse, membiarkan layar komputernya kembali berkedip-kedip.

Dia sedang bersamanya, batinnya berkata.

Penunjuk waktu yang tampak di pojok bawah monitornya menunjukkan pukul 11.35 PM. Sudah cukup larut untuk seseorang beraktivitas. Disana, gadisnya. Ah, Angga memukul kepalanya seolah ingin mengembalikan otaknya pada pikiran yang wajar, logis. Dia bukan gadisnya. Entahlah, mungkin bukan lagi, kembali dia bergelut dengan hatinya.

 Apa kamu sedang memandangi bintang? Indahkah?

 

Mata yang tadinya lelah kembali menyala. Masih ditatapnya monitor di depannya. Masih tweet-tweet bermunculan, tak satupun dari gadis itu.  Cangkir kopi tak lagi menyisakan isi bahkan ampas pun telah habis diteguknya. Hanya asap rokok menari, pelan, berjuang antara hidup dan mati.

            Malam yang dingin, sayang. Malam yang sekali lagi harus kulalui dengan bayangan yang tak juga mau sirna, bayanganmu. Disini sayang, andai kamu tahu, sakitnya tak berperi. Bagaimana mungkin bisa kupejamkan mataku? Tidak bisa sayang, tidak malam ini.

 

            Tadinya, ya tadinya ingin segera disandarkan kepalanya ke atas bantal. Ingin sekali dilemparkan tubuhnya ke atas ranjang yang mesti tak empuk tapi sudi menerima tubuh penuh keringat serta bau asap rokok. Hanya sebatas keinginan yang segera dikuburnya. Angga tahu dia tidak akan bisa tidur malam ini. Ah, kenapa mengeluh, batinnya lagi. Bukankah seperti ini juga yang biasa terjadi malam-malam sebelumnya?

            Apa dia melindungimu dari dinginnya malam? Hangatkah pelukannya? Apakah dia sedang menciummu, mencium bibir mungilmu? Apakah….

 

            “Asyu!”

            Tak lagi bisa membendung pikiran-pikirannya yang semakin merajalela, Angga berteriak. Dikepalkan jemari tangan kanannya. Darah mengalir deras, terpompa ke satu titik tubuhnya. Panas. Matanya memerah, perih. Bayangan gadis itu kembali muncul, tidak di kepala tapi di depannya. Gadis dengan senyum dan tawa yang lebih sering mengoyak daripada membuat tenang hatinya. Gadis itu, gadis yang saat ini sedang bersama kekasihnya menikmati malam, entah di belahan bumi yang mana.

            Kamu gadisku meski mungkin aku tidak akan pernah memilikimu.

Surabaya, 15 September 2011.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s