Jogja Istimewa

poto dokumen pribadi

             “Jogja!”

            Tari hampir saja lompat dari kursi saking kagetnya. Bukannya merasa bersalah Nora malah tertawa melihat teman kantornya itu.

            “Gila kamu ya,” kata Tari pura-pura marah.

            Nora masih tertawa, “Ikut kan?”

            Tari diam. Matanya menatap kertas yang dilemparkan Nora ke mejanya tadi. Perlahan ditarik kertas itu. Sebuah brosur paket wisata lengkap dengan foto-foto yang terlihat begitu menarik membuat Tari sejenak lupa kalau Nora masih di depannya.

***

            Senja mulai menghilang. Jingga yang tadi terlihat memonopoli berangsur menghitam, gelap. Seorang laki-laki membiarkan celananya kotor oleh pasir pantai bercampur air laut yang sesekali menyapu tempatnya duduk. Kedua kakinya yang telanjang mengkerut, dingin.

            “Maafkan aku.”

            Suara yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan memecah sunyi. Di belakang laki-laki itu berdiri seorang perempuan. Rambut panjangnya terbang, dipermainkan angin pantai yang semakin kencang.

            “Bahkan ketika kita mencintai seseorang seringkali kita juga sedang menyakiti orang lain. Tidak kita inginkan, tidak bermaksud untuk itu…”

            Perempuan itu tak melanjutkan kata-katanya, hanya desahan panjang yang hilang tertelan suara ombak di depannya. Laki-laki di depannya masih mematung. Pandangannya lurus menatap gulungan ombak yang tak begitu jelas tapi terasa dari gelegarnya. Perempuan itu baru saja akan menyentuh pundak laki-laki itu tapi terhenti ketika didengarnya suara keluar dari mulutnya.

            “Tidak ada yang salah dengan mencintai. Kamu bebas mencintai siapapun yang kamu mau, tidak perlu minta maaf.”

            Kali ini perempuan itu yang ganti terdiam. Tadinya, ya tadinya sudah disiapkan kata-katanya meski dia sadar semanis apapun membungkusnya sebuah penolakan akan selalu menyakitkan. Penolakan? Penolakankah yang dia berikan? Entahlah, batin perempuan itu mulai berkecamuk. Yang dia tahu dia tak bisa bersamanya, bersama laki-laki yang kini duduk di depannya.

            “Aku harus pergi,” kata perempuan itu memecah hening.

            Ombak masih bergemuruh, lebih keras. Langit semakin hitam, entah kenapa terlihat lebih hitam dari yang seharusnya terlihat pada waktu yang sama.

            “Kita akan tetap menjadi teman, kalau kamu mau.”

            Bintang berkedip. Seolah ingin menghibur manusia di bawahnya dia ajak teman-temannya. Malam yang indah seharusnya bisa dinikmati meski yang terjadi justru sebaliknya. Bintang-bintang itu mengingatkan pada malam di sebuah bukit, di antara hembusan angin yang begitu kencang, dingin. Malam yang dulu dinikmati tanpa kata, tanpa suara, hanya dengan tatapan dan tangan yang erat bergandengan. Malam yang mungkin hanya akan tinggal kenangan.

***

            Brak!

            Nora menggebrak meja Tari keras-keras lalu terbahak mendapati temannya itu kaget setengah mati. Kali ini Tari benar-benar melompat bahkan hampir terjatuh dari kursinya.

            “Sinting! Kalo aku jantungan gimana?”

            “Salah sendiri, sapa suruh nyuekin orang cakep,” balas Nora.

            Tari membetulkan duduknya. Nora memang paling iseng di antara teman-temannya yang lain. Dia suka sekali menggoda Tari yang memang hobi melamun.

            “Berangkat?” tanyanya pada Tari yang masih manyun, kesal.

            “Nggak tau.”

            Jogjakarta, orang bilang istimewa, tempatnya, orangnya. Jogja sempat istimewa di hati Tari yang pernah menghabiskan hampir lima tahun hidupnya disana. Istimewa manakala dihabiskan malamnya memandangi bintang di atas bukit itu. Istimewa kala senja datang di pantai itu juga ketika matahari mulai muncul esok harinya. Semakin istimewa karena seseorang selalu bersamanya menikmati keistimewaan itu.

            “Jogja masih istimewa, Jogja masih punya kamu. Jogja mungkin akan selalu menjadi bagian dariku, setidaknya ada kenangan yang tak mungkin kuhapus karena aku pun sempat mencintaimu. Tapi aku punya kotaku, aku punya seseorang yang menungguku disana.”

            Kata-kata yang ingin diucapkan Tari di pantai itu meski akhirnya hanya mampu tertahan di ujung bibirnya kini melalang di ingatannya kembali.

            “Dasar tukang mikir jorok!” teriak Nora yang langsung menyadarkan Tari.

            “Sapa yang mikir jorok?”

            “Aku! Tuh sudah dijemput Ryan, kasian nunggu kamu dari tadi.”

            Tersadar, Tari melirik jam tangannya. Hampir setengah enam sore. Diletakkan brosur yang sedari tadi dipegangnya dan cepat-cepat memberesi mejanya.

            “Jogja boleh istimewa, kamu mungkin istimewa tapi aku punya yang tak kalah istimewa disini, di kotaku,” batin Tari sambil berlari keluar dari ruangannya.

Hatimu, 5 September 2011.

***

Advertisements

16 thoughts on “Jogja Istimewa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s