Pacarku Diam

Pacarku diam, ketika malam minggu aku apel ke rumahnya

Bibirnya yang biasa penuh sipu terlihat maju, mecucu

Aku tahu betul ada sesuatu tapi kubiarkan saja dia dengan diamnya

Justru, kunikmati pemandangan malam indah itu

Hahaha…

Ya, aku suka sekali melihat bibirnya seperti itu

Selalu, itu yang menarik kakiku, memaksaku melarikan sepeda motor bututku, menerobos kiloan meter hanya untuk melihat wajahnya

Pacarku diam, ketika malam minggu aku datang ke rumahnya

Masih diam meski kemudian kutanyakan, “Kenapa?”

Bibirnya tak lagi maju, meski masih terlihat lucu

Sumpah, rasanya ingin tertawa, ngguyu

Tentu saja kutahan keras mulutku agar tak mengeluarkan suara

Bisa-bisa semalaman aku didiamkannya, dianggap patung seperti kebiasaannya tiap sedang marah

Pacarku diam, ketika malam minggu aku menemuinya

Dia ngambek, tentu seperti itu, aku tahu

Yang tak kutahu apa yang membuatnya seperti itu

Kuingat kata-kata di sms-smsku sebelumnya

Ehmm, yang mana?

Ah, akhirnya aku hanya bisa garuk-garuk kepala

Ayo sayang, katakan padaku, jangan biarkan malam berlalu tanpa suaramu meski masih kunikmati bibir manyunmu

Pacarku diam, mendiamkanku hampir satu jam lamanya

Matanya lurus memandang lalu-lalang kendaraan yang ramai di malam minggu

Kuraih tangannya dengan sedikit senyum juga ragu, takut ditepisnya

Tidak, dia diam saja, dia membiarkan tanganku mengenggam tangannya

Ah, tak seperti biasa, membuatku semakin bingung dengan tingkahnya

“Apa salahku?” akhirnya kuberanikan kembali bertanya, meski pertanyaan seperti itu selalu dibencinya

Tak merasa bersalah meski telah berbuat salah, seperti itu katanya tiap kuajukan pertanyaan itu

Pacarku diam, hanya matanya mulai berkilatan

Aduh, sayang, untuk apa airmata itu?

Yang seperti ini selalu meruntuhkan kelakianku

“Aku salah,” kukatakan meski aku tak tahu apa salahku

Ampuh! Airmatanya turun seperti hujan yang lalu kuhapus dengan jariku

“Maafkan aku,” kataku lagi meski, sekali lagi, aku tak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat

Pacarku diam, menangis dan kubiarkan saja menit berlalu dengan isaknya

“Jangan pernah menduakanku,” katanya lirih

Aha! Ini rupanya, dia cemburu

Kemudian, masih dalam isaknya, dia bicara, dia bercerita

Kudengarkan keluhnya, protesnya yang rupanya muncul gara-gara seseorang di masa lalu, masa laluku

“Dia hanya seseorang yang sempat singgah, sayangku, tak perlu cemburu,” kataku

“Tapi itu dulu,” kataku lagi

“Sekarang aku milikmu,” kataku mengakhiri cerita

Pacarku diam, ketika malam minggu aku apel ke rumahnya

Dia ngambek, dia cemburu

Seorang gadis yang dulu pernah kucinta mengusik pikirannya

Ah, pacarku, menggemaskan sekali tingkahmu

Masih pacarku diam ketika kudaratkan sebuah kecupan di pipinya mengakhiri malam minggu itu

Hahaha…

“Aku sayang kamu,” kataku yang kemudian dibalasnya hanya dengan pipi merona, malu

 ***

Advertisements

2 thoughts on “Pacarku Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s