Selera Jadul: Sebuah Romantisme-Tragisme

Mungkin bosan dengan segala sesuatu yang akhir-akhir ini dipertontonkan di berbagai media, sebut televisi, majalah dan teman-temannya yang menurutku kurang “nilainya” atau memang seleraku yang dasarnya jadul, beberapa hari terakhir ini aku gandrung pada segala sesuatu yang bukan hanya berkesan tapi memang lawas. Untuk bacaan dari dulu aku memang suka tulisan-tulisan lama. Biarpun bacanya harus pelan-pelan dan kadang diulang agar ngerti tapi tak mengurangi kecintaan ini.  Feeling-nya, ya ini yang aku nggak bisa dapat dari karya-karya baru. Rasanya begitu “instan” beda sekali dengan karya-karya lama. Baca dan selesai. Nggak ada acara menerawang alias melamun, membayangkan suatu tempat, suatu masa, suatu suasana yang mungkin nggak melulu indah tapi pas di hati, syahdu kalo kata Bang Haji.

Begitu juga ketika aku mendengar lagu-lagu lawas, feeling itu langsung masuk. Era 80an, 90an atau awal 2000 okelah, masih banyak juga yang suka kurasa tapi di bawah itu? Semalam nggak sengaja liat tautan seorang teman di facebook, sebuah video lagu lawas, lawas banget wong ibuku aja baru lahir tahun itu. Sebuah lagu berjudul Di Wajahmu Kulihat Bulan dari Sam Saimun (pasti pada baru dengar kali ini, sama). Iseng-iseng kuputar dan wow, ini yang aku cari. Segera meluncur ke youtube dan ya…ya…ya, apa yang nggak bisa dicari di dunia yang serba Internet ini hehehe. Satu judul lagu bertautan ke lagu-lagu jadul lainnya. Jadilah tadi malam Jum’at malam yang syahdu, musik pengantar tidur yang lebih mirip pengantar orang bunuh diri.

 

gambar diambil dari google

Pagi ini masih dengan rasa yang sama, cuaca yang cerah nggak cerah alias cerah malu-malu lebih pas dengan, sekali lagi, rasa syahdu. Romantisme cenderung tragisme, maaf kalo istilahnya ngawur, sangat cocok dengan rasa kantuk pagi ini akibat insomamania (insomnia karena gila Mas Maman) akut yang belum juga sembuh. Lagi-lagi meluncur ke youtube dan yup langsung parkir di film jadul. Ratapan Anak Tiri, film bertahun 1974, tahun dimana aku bahkan belum dipikirkan untuk dibuat bapak dan ibuku (andai tahu gedenya bakal kayak gini kayaknya mereka juga bakalan ogah bikin hahaha). Dan lagi-lagi beberapa pilihan tautan film lawas lainnya muncul. Ari Hanggara, sebuah film yang diambil dari kisah nyata seorang anak laki-laki korban KDRT. Miris. Ada Sundel Bolong-nya Suzanna, film yang “gue banget” dan masih banyak lainnya.

Ingat film Suzanna jadi ingat teman kuliahku dulu. Waktu itu aku dan kedua temanku lagi fotokopi, karena ramai kami pun harus antri. Beruntung, di tempat fotokopi itu ada televisi, lumayanlah daripada bengong. Aku pun asyik nonton dan membiarkan dua temanku ngobrol sendiri sampai salah satu temanku berkata. (Nama sengaja disamarkan, entar mereka numpang tenar lagi hahaha).

 

Suzanna, artis favoritku (diambil dari google)

”Eh, itu lho film favoritnya Rina.”

Teman yang dipanggil itu pun tersenyum. Dia memang anak yang sopan meski sekarang lebih sering terlihat pecicilan (maaf).

“Kamu tuh Y, teman sendiri dijelek-jelekin,” kata si J.

“Loh sapa yang njelek-njelekin, emang dia suka kok film beginian,” bela si Y.

Bukannya percaya si J malah ketawa, dipikirnya temanku si Y sedang mencandainya. Belum tahu dia. Si J baru percaya setelah aku sendiri yang mengakui dan ngakaklah dia, menertawai selera jadul plus anehku. Emangnya salah? Selera kan bukan tentang baik dan buruk tapi bagaimana seseorang menjadi dirinya sendiri, buat aku sih, nggak tahu dan nggak peduli menurut orang lain gimana.

Pada akhirnya romantisme-tragisme ini bisa kunikmati. Selera jadul ini membuatku bisa merasakan masa yang nggak bisa aku temui, alami kecuali ada yang bisa menciptakan mesin waktu. Mengenang cerita-cerita ibuku, ah aku ingat sekali yang ini. Aku ingat bagaimana dia menangis sesengukan sambil terus mengenggam buku di tangannya.  Aku dengar dan ingat cerita orang tentang bagaimana dia dulu dan temannya menghapus air mata dengan jarit gendonganku ketika melihat film-film jadul itu. Seleranya yang tak jadul pada waktu itu ternyata menurun padaku. Ah, bahkan rasa rindu ini bisa begitu indah. Selera jadul? Bodo amat, aku suka!

***

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Selera Jadul: Sebuah Romantisme-Tragisme

  1. Ndak apa-apa toh berselera lama, saya sendiri menyukai lagu-lagu opera. Kadang jika yang menyukai sendiri menyampaikan, saya bisa melihat persepsi yang baru :).

    Tapi kalau kesukaan tidak sedang populer, akan susah mencarinya. Lagu-lagu lama sudah menghilang dari toko musik – yah mesti dengan perjuangan deh.

    Like

  2. Aku dulu (kami) punya buku Sarinah karya Soekarno. Tebal, sudah dijual kiloan. sekarang nyesel karena gak mungkin lagi bisa punya yang kaya gitu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s