TAMBAH SIP AE WONG-WONG IKI!

Beberapa waktu yang lalu aku mendaftar ke sebuah komunitas blogger, tempat dimana orang-orang yang punya rasa suka yang sama pada tulisan berkumpul. Meskipun sebagian kalau ditanya pasti menjawab iseng tapi dari tulisan-tulisan yang diposting terlihat sekali mereka tidak sekedar iseng. Bukan anggota yang aktif, dalam hal saling menyapa dan saling berkunjung. Aku menulis, posting kemudian tutup, paling-paling membalas beberapa komentar atau pesan di inbox. Dibaca tidak dibaca, silahkan. Aku sendiri bukan seseorang yang akan memaksa membaca tulisan orang lain jika tidak merasa tertarik.

Kemarin iseng-iseng aku membaca beberapa tulisan yang jadi headline. Judulnya yang cukup narsis membuatku penasaran juga. Postingan yang kemudian membawaku ke postingan-postingan bertema sama oleh beberapa orang yang ternyata sedang terlibat perdebatan. Perdebatan yang berawal dari postingan yang intinya menyatakan ketidaksukaannya pada beberapa rekan yang dianggap dan menganggap dirinya senior. Orang-orang yang dinilai suka mengkritik yang kemudian dianggap memberi patokan-patokan mana yang baik dan mana yang nggak baik.

Sebagai anggota yang lumayan baru plus pasif bersosialisasi aku sendiri tidak, belum, pernah mengalami hal-hal yang disebutkan penulis tadi. Mungkin karena aku berada di jalur fiksi dimana imajinasi lebih menonjol. Tidak menarik untuk suatu perdebatan, kalaupun ada perbedaan pendapat mungkin tentang maksud yang diterjemahkan berbeda atau pada selera saja. Tidak ada yang menyerang baik pada tulisan apalagi pada individu penulisnya. Mengenai bagaimana diterjemahkan, dipersilahkan pada siapapun yang membaca, apapun yang berhasil dicerna. Bebas.

Kembali pada perdebatan yang bukan hanya hangat tapi panas tadi, pada akhirnya memunculkan kubu-kubu yang pro dan kontra. Wajar, satu kepala saja sering bingung untuk menentukan sesuatu apalagi banyak kepala. Latar belakang yang berbeda baik pendidikan, lingkungan dan karakter pribadi masing-masing juga bahasa tulis yang masih sering disalahartikan. Tidak adanya feedback langsung dalam artian kita hanya membaca dari yang tertulis yang kadang salah ditulis, dieja, yang kemudian mengarah ke kesalahpahaman. Berbeda dengan berbicara langsung dimana mimik, intonasi dari reaksi pembicara bisa dilihat dan dianalisa langsung. Bukan tidak bisa tentunya tapi membutuhkan usaha lebih, lebih sabar dan lebih teliti paling tidak.

Panas karena postingan yang kemudian diberi ratting provokatif oleh beberapa yang membaca (meski sebenarnya tidak ada jenis ratting itu), dianggap hanya mencari masalah, maling teriak maling dan sebagainya. Postingan yang awalnya mendapat banyak dukungan itupun berangsur kehilangan pendukungnya. Awalnya dianggap lugas, tegas, mewakili perasaan beberapa anggota baru yang katakan tidak suka dengan aturan tak tertulis tentang senioritas. Selama tidak menyalahi tata tertib yang ditentukan oleh pihak admin, semua bebas menulis apa yang memang ingin ditulisnya. Masalah bagus atau tidak, suka atau tidak, masa bodoh.

Sangat setuju karena menulis adalah hak semua orang, selama yang ditulis bukan sebuah fitnah atau menjelek-jelekkan dan merugikan orang lain. Kalaupun tentang perbedaan sikap, pandangan, pendapat akan suatu hal selama memang didukung oleh bukti-bukti, tidak masalah tentunya. Pihak yang merasa “dicemarkan” bisa membalas dengan media yang sama dengan tentunya menyertakan bukti-bukti pembelaan dirinya. Dalam dunia fiksi sama juga, balas dengan karya. Menjadi “public enemy” setelah kemudian penulis postingan tersebut menyerang pribadi penulisnya. Dan emosi yang turut serta mengaburkan tujuan dari menulis postingan tadi, mengata-ngatai sampai lupa pada substansinya.

Menulis untuk didengarkan. Meskipun berangkat dari yang namanya iseng pastilah sedikit banyak ada tujuannya. Penulis postingan tadi bilang dulu tidak ada yang mau mampir di lapaknya, tidak ada yang sudi menyapa tapi kemudian banyak yang kirim-kirim pesan, pingin jadi temannya setelah tulisannya dibaca banyak orang dan jadi headline. Ada gula ada semut, berlaku dimana-mana. Itik buruk rupa tak berkawan ketika berubah jadi angsa semua mengaku teman. Siapa yang belum pernah merasakannya? Sebuah kekecewaan dari bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang meski kemudian juga dicaci banyak orang.

Dari beberapa postingan yang kubaca tahulah aku kalau perdebatan ini sudah masuk satu minggu. Pihak-pihak yang terlibat saling “membela diri” melalui postingan. Para pendukung siap-siap menyimak sekaligus ikut menyerang. Para “tetua” muncul sesekali dengan petuahnya mengingatkan kalau ini sedang bulan puasa. Beberapa juga komentar untuk saling menjaga hati, menjaga bahasa dan membuka hati dan kepala seluas-luasnya bahwa perbedaan harus disikapi dengan bijak. Lalu yang lainnya bagaimana? Sebut saja penonton, mereka menyiapkan camilan sambil sesekali tersenyum juga tertawa dan berkata, “tambah sip ae wong-wong iki!”

***

Advertisements

3 thoughts on “TAMBAH SIP AE WONG-WONG IKI!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s