KBS-KU MALANG

Kebun Binatang Surabaya atau biasa disebut dengan KBS adalah salah satu tempat favoritku. Bukan hanya di Surabaya tapi juga di dunia karena aku belum banyak mengunjungi tempat-tempat yang ada di bumi tuhan ini. Aneh, itu yang sering teman-temanku bilang tentang kecintaanku ini. Gila, itu yang mereka kemudian katakan jika aku mulai merayu mereka untuk menemaniku menjenguk saudara-saudara setuhan kita yang tinggal disana. Apapun, katakan saja, aku terima karena cinta ini memang tak bisa kudefinisikan. Yang kutahu aku suka.

KBS bagai hutan kecil di tengah-tengah kota yang semakin bertabur mall ini. Pohon-pohon besar dan tinggi memberi kesejukan meski tidak dengan kenyamanan. Dia adalah payung bukan untuk menghalau hujan yang membasahi tapi untuk melindungi dari sengatan matahari. Tentang kenyamanan aku setuju dengan teman-temanku, KBS memang bukan tempat yang nyaman yang juga patut dijadikan pilihan untuk berlibur karena meski memberi kesejukan, kenyamanan adalah hal terakhir yang bisa diberikan.

Tempat yang cukup luas, tak semakin cantik tiap kali aku datang. Tak juga untuk syarat utama tempat wisata, bersih. Bukan hanya kesadaran pengunjung yang kurang karena masih membuang sampah di sembarang tempat meski sudah ada bahkan banyak disediakan tempat sampah tapi juga karena kebersihan kandang yang masih jauh dari arti bersih itu sendiri. Apa berlebihan, mengingat ini adalah kebun binatang, tempat para binatang yang memang suka buang kotoran sembarangan? Kurasa tidak. Aku mungkin tidak paham standar seperti apa yang diberlakukan tapi sebagai pengunjung tentu yang seperti ini tidak menyenangkan. Bau kotoran terlalu menyengat.

Kalau kita yang hanya lewat saja, sebentar, nggak tahan, bagaimana dengan yang setiap hari harus tinggal disana. Mereka mungkin (bukan) hanya binatang tapi aku yakin nggak ada satu makhluk pun yang suka dengan bau kotorannya sendiri. Jangan katakan binantang yang suka ada di kotoran sebagai contoh, pengecualian, karena mereka juga tidak berkubang di kotoran mereka sendiri tapi kotoran binatang lain. Jangan juga bilang mereka yang seperti itu karena suka, tanya saja kalau tak percaya. Dan jika kemudian, akhir-akhir ini, semakin banyak penghuninya yang mati ini bukan musibah apalagi takdir karena kita bisa memprediksi.

Terakhir kali aku berkunjung ke KBS hampir dua tahun yang lalu. Bukan karena tak ingin lagi tapi karena merayu teman-teman semakin sulit jika tidak mau dikatakan mustahil. Bukan (lagi) tempat wisata yang patut dikunjungi, dicaci iya karena tidak menawarkan penghilang stress (sesuatu yang dicari pengunjung tempat wisata) tapi sebaliknya menambah stress. Sebuah kebun yang terbengkalai dengan binatang yang andai bisa dimengerti suaranya akan membuat miris orang-orang yang mendengar. Temanku bilang kalau kaya nanti dia ingin membeli tempat ini dan tentunya untuk merawatnya lebih baik. Teman yang lain bilang andai dia punya uang banyak akan dikeluarkan seluruh binatang itu, dikembalikan ke habitatnya. Dua-duanya aku setuju.

Pulangkan saja jika tak bisa merawat. Kembalikan saja daripada disia-siakan karena mereka juga makhluk yang bernyawa, mereka punya perasaan. Mereka merasakan sakit seperti juga kita. Mereka bisa juga menangis, sama. Kenangan ini semakin buruk, tentang apa yang dulu dilihat tak lagi terlihat. Tak ingin membenci meski mencintai juga semakin sulit. Di luar mungkin tak juga aman tapi setidaknya mereka punya hak penuh atas hidup mereka sendiri. Mereka juga pejuang dan biarkan alam yang menyeleksi.

Tulisan ini semoga bukan yang terakhir, tentang sebuah tempat yang kucintai dan masih ingin kukenang seperti itu. Melihat akan semakin sulit karena bukan lagi senyum yang ditawarkan tapi penderitaan.  Kesempatan selalu ada, masih ada, yang terjadi adalah kadang kita tak mau memanfaatkan kesempatan itu. Yang mati sudah pergi, tak bisa kembali, tak rela tapi mau bilang apa, manusia saja tak dipedulikan apalagi mereka yang (bukan) hanya binatang. Hukum mungkin tak berlaku disini, mandul, tapi hati nurani tak bisa dibohongi. Yang seperti ini harusnya lebih mahal.

Untuk saudara-saudara setuhanku yang sudah pergi, aku yakin tuhan memberi tempat yang jauh lebih indah dari apa yang disebut rumah bagi kalian disini. Kalian hanya korban dari makhluk yang menyebut diri sebagai ciptaanNya yang paling sempurna. Untuk saudara-saudara setuhanku yang masih disana, lari saja jika kalian bisa. Maaf tapi kalian harus berjuang sendiri, berharap terlalu menyakitkan saat ini dan kurasa tuhan juga malu pada mereka yang mengaku menjadi hambaNya itu.

Advertisements

5 thoughts on “KBS-KU MALANG

  1. Bagaimana ya…, mungkin tidak hanya KBS, banyak tempat makin telantar, karena mereka mengandalkan dunia wisata. Kalau wisatawan lokal saja tidak begitu tertarik, bagaimana wisman ya…, semakin berkurang minat yang berkunjung biasanya suatu lokasi semakin ‘semrawut’, dan pada akhirnya memberi masukan bagi berkurangnya minat kunjungan…

    Seperti lingkaran setan saja.

    Like

  2. hee apik, pgn nya kmu kasih bh detil keadaan ‘malang’ nya misal di dukung bbrp fakta saat ini dan dbandingin ma keadaan pas kmu ksana terakir.jd pnya imajinasi, gmn ya klo mereka disana bisa ngomong bhs indonesia ….

    Like

    • kamu kok jorok sih bawa-bawa bh segala, ini bukan blog buat jualan pakaian dalam. ya kamu gak mau diajak kesana gimana aku bisa bandingin, yang jelas trakhir kesana sudah parah baunya. klo bisa ngomong bahasa indonesia mereka (bedes) pasti ngomong, “mbak estu selamatkan aku. aku mau pulang ke lidah aja.” he…he

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s