BIKE TO KENJI

Seperti anak kecil yang baru dibelikan sepeda, tadi malam aku begitu senang. Bukan karena aku dibelikan sepeda tapi karena salah seorang sahabat mengajakku bersepeda. Rasa senang, sedikit tidak sabar yang juga disisipi rasa cemas, sedikit takut, campur aduk. Rencananya kami akan berangkat berempat, dua orang yang memang sudah “berpengalaman” bersepeda dan dua orang lagi yang masih pemula, aku masuk yang terakhir. Kunci sudah di tangan, baju juga sudah disiapkan karena besok akan berangkat pagi-pagi, tinggal menyiapkan mental saja.

Teman pemula yang lain sudah dikabari bahwa besok dia tidak akan sendiri, setidaknya ada aku sebagai pemula yang lain. Berita yang cukup melegakan baginya, dia bilang dia sudah berdoa berkali-kali saking cemas dan takutnya membayangkan perjalanan bersepeda besok. Kurasa aku tahu apa yang dia rasakan. Aku sendiri juga merasa beruntung, beruntung karena mendapat sepeda pinjaman, pemiliknya lagi pulang kampung, dan beruntung karena ada orang yang juga merasakan perasaan yang sama, cemas.

Pagi-pagi bahkan sebelum alarm berbunyi kami sudah bangun. Sahabatku mendapat sms kalau teman yang satunya tidak jadi ikut karena mengalami cedera pada tangannya sehabis main futsal. Bukan sebuah alasan untuk tidak melanjutkan rencana maka kami pun segera bersiap. Sehabis shubuh kami berangkat berdua, teman yang lain menunggu di depan kampus sesuai perjanjian. Sepeda yang lumayan tinggi, tidak berat dengan keranjang di bagian depan aku siap menyusuri jalanan Surabaya.

Ini bukan pengalaman bersepeda yang pertama bagiku menyusuri jalanan Surabaya yang begitu padat tapi ini adalah yang pertama setelah hampir dua tahun yang lalu ketika salah seorang sahabatku lainnya mengajakku. Bagi sebagian atau bahkan mungkin banyak orang tidak ada yang istimewa dari apa yang kami lakukan. Memang bukan tentang sebuah keistimewaan tapi ini adalah momen dimana sekali lagi aku ditantang untuk menaklukan ketakutanku sendiri. Ketakutan akan jalanan dan lalu lintas di jalan raya yang masih sangat kuat dan menyiutkan nyaliku.

Terbiasa duduk, diam, manis, di boncengan, sesekali menarik jaket atau memukul helm si pengemudi ketika mulai melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, kali ini aku harus mengemudikan kendaraanku sendiri, sebuah sepeda. Bukan tidak bisa bersepeda, bukan tidak bisa mengendarai motor tapi lalu lintaslah yang tak kusukai. Para pengendara yang sepertinya saling berlomba sampai ke tujuan masing-masing benar-benar membuat keder. Hari masih pagi, udara masih bisa dihirup dengan leluasa tanpa takut polusi, jalanan masih sepi maka kami bertiga pun mulai mengayuh.

Dimulai dari kampus B Unair yang ada di jalan Dharmawangsa kami melaju ke Pantai Kenjeran. Sahabat yang sekaligus bertindak sebagai trainer di acara bersepeda ini memimpin di depan, sebagai penunjuk jalan. Aku dan temanku berjejer di belakangnya. Pelan saja, tak terburu-buru, sabtu pagi. Tatapan yang sama seperti yang dulu kuterima ketika pertama kali bersepeda di kota ini dari orang-orang di pinggir jalan mengiringi perjalanan kami. Menebar senyum karena perasaan gembira, kecemasan yang semalam sempat menghantui tak muncul karena jalanan masih sepi.

Kaki yang mulai pegal terus saja mengayuh. Setelah tiga puluh menit akhirnya sampai juga kami di tempat tujuan, Pantai Ria Kenjeran. Sebuah pantai yang sangat terkenal di Surabaya meski sayang bukan karena indahnya tapi karena sering dijadikan tempat para muda-muda bahkan orang tua memadu kasih. Yang lebih disayangkan objek wisata yang juga menyediakan tempat pacuan kuda, sirkuit untuk balap motor dan juga wihara ini begitu tersohor sebagai tempat, meminjam tulisan yang ada di bangku-bangku peristirahatan disana, berbuat asu-sila. Pagi itu yang menurut kami masih terlalu pagi ternyata tidak begitu bagi para muda-mudi yang entah datang sejak kapan disana. Mungkin dari semalam atau sebelum shubuh, menempati tempat pilihan masing-masing untuk “bercinta.”

Berhenti di sebuah wihara yang masih dalam proses pembangunan kami mengambil beberapa foto. Apapun acaranya, dimanapun tak lengkap rasanya tanpa sesi pemotretan. Bukan hanya sebagai kenangan tapi juga untuk pamer, menggelikan memang. Kami pun meluncur kembali mengitari taman yang terbengkalai ini. Sayang sekali, dimana sebuah tempat yang cukup luas tak bisa benar-benar dimanfaatkan. Bertemu dengan pengendara sepeda lain yang ternyata tak tahu jalan, mengangkat sepeda melewati sebuah portal yang sebenarnya bisa dilewati tanpa harus turun apalagi memanggul sepeda.

Di sebuah patung Buddha kami berhenti lagi, mengambil beberapa foto sambil sedikit mengistirahatkan kaki. Tak lama, hanya sekitar lima belas menit. Selain karena sang sahabat ada acara yang mengharuskan cepat pulang juga karena jalanan yang akan segera ramai kamipun memutuskan melanjutkan perjalanan, pulang. Benar saja, pukul tujuh adalah waktu dimana para pengguna jalan mulai ramai. Langit sudah semakin terang dan laju kendaraan yang lalu lalang sudah seperti apa yang kutakutkan. Masih dengan kecepatan yang sama kami mengayuh sepeda kami.

Beberapa bapak yang berkumpul di warung menyemangati bahkan seorang polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas tampak tersenyum melihat kami. Jika apa yang kita rasakan sama aku setuju pak, alangkah menyenangkannya jika semakin banyak yang bersepeda di kota juga negara ini. Masyarakat yang semakin sehat, polusi yang bisa dikurangi, mimpi yang indah. Panas belum begitu terasa tapi udara tak lagi bisa dihirup seperti tadi. Banyaknya kendaraan yang lewat mengharuskan kami lebih berhati-hati, bukan hanya agar tidak menghirup polusi tapi juga agar selamat sampai rumah.

Waktu tempuh yang sama, tiga puluh menit, kami sudah sampai di tempat awal, kampus B Unair. Berpisah dengan teman yang langsung pulang di pasar Karangmenjangan yang begitu ramai, aku dan sahabatku melanjutkan perjalanan menuju penjual Bubur Ayam. Capek, jangan tanya, kakiku rasanya pegal sekali. Keringatku bercucuran tak seperti sahabatku yang memang sudah terbiasa bersepeda, dia juga bilang tak terlalu capek. Seperti apa rasanya? Campur aduk. Capek tapi menyenangkan, terutama untukku yang sekali lagi berhasil mengalahkan ketakutanku.

Jika ada yang bilang kadang bayangan lebih menakutkan, ya benar sekali. Aku yang selalu malas bahkan hanya untuk membayangkan berada di balik kemudi di jalanan kota ini ternyata bisa juga, baik-baik saja, ketika berada di antara para pengendara yang kutakuti itu. Mungkin belum pantas sepenuhnya senang karena ini hari sabtu, pagi lagi, dimana jalanan masih lumayan sepi tapi setidaknya aku boleh dong berbangga kalau aku berani dan berhasil menantang diriku sendiri, sekali lagi.

Mungkin jika suatu hari, nanti, semakin banyak yang memilih sepeda sebagi alat transportasi rasa takutku ini bisa benar-benar hilang. Bukan itu saja aku yakin Surabaya tidak akan sepanas ini dan menghirup udara segar tak perlu jauh-jauh pulang ke kampung karena aku bisa melakukannya disini, di kota yang telah berhasil mengambil hatiku ini. Alangkah menyenangkan juga jika di kota ini ada jalur khusus untuk para pengendara sepeda jadi kami tak perlu takut-takut dilanggar oleh pengguna jalan yang lain. Mimpi yang indah, sangat indah.

*Terimakasih untuk sahabat, trainer, mentorku, Gandul, yang meski sering “kasar” tapi sabar dan mau mengerti. Terimakasih juga untuk Suci, teman pemula yang telah membagi ketakutan dan kecemasan yang sama, ternyata kita bisa. Terakhir yang tidak kalah penting buat Dek Epet alias Suneo, terimakasih atas pinjaman sepedanya, dia kembali tanpa berkurang satu apapun.

Advertisements

8 thoughts on “BIKE TO KENJI

  1. wahahaha…ayo bersepeda lagi rin….biar smua orang niru2 km sepedaan…mengurangi polusi jek (baca ala keong racun)

    Terimakasih jg rina uda meramaikan pantai ria kenjeran dg penuh senyuman walau akhirnya gempor wkwkwk….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s