AKU INGIN TERSENYUM (BUKAN TERTAWA): PENDAHULUAN

Otak yang dianggurkan (tidak dipakai berpikir) pada akhirnya hanya akan menemukan kesesatan (dalam berpikir). Berawal dari vakumnya “kerja” otak dalam beberapa hari belakang ini membuat “pikiran sesat”ku langsung muncul. Seperti biasa, yang seperti ini tidak pernah kurencanakan. Kalau digambarkan seperti dalam film-film kartun, sang tokoh sedang tiduran dan tiba-tiba saja di atas kepalanya muncul gambar lampu, aha! Tersenyum-senyum sendiri membayangkan yang belum terjadi, sebuah kejahatan yang sangat tidak bertanggungjawab. Sebuah kejahatan yang sudah dibayangkan, diketahui, dipastikan akan sangat merugikan yang pada akhirnya tetap dilakukan.

Tak berpikir bagaimana sakit, kesal, kecewanya dipermainkan. Sebuah pemikiran yang sangat kekanak-kanakan dan jauh dari yang namanya tanggung jawab. Bahwa apa yang diberikan adalah berkah, modal, pinjaman yang tidak benar-benar dimiliki dan akan kembali serta bakal dimintai pertanggungjawaban. Mengikuti “pikiran sesat” sesaat demi sesuatu yang sangat tidak jelas, bahkan tujuannya pun tidak pernah jelas. Memalukan memang ketika umur, pendidikan, pengalaman tidak bisa menunjukkan kualitas yang bahkan terlalu kecil, terlalu sepele tapi juga sangat dasar yaitu kedewasaan (dalam berpikir).

Ujian dari apa yang sebelumnya sudah coba dimantapkan. Bukan hanya sudah meminta tapi juga sudah berjanji (pada diri sendiri) untuk jadi lebih baik. Tidak pernah mudah karena setan bukan hanya mengalir dalam darah tapi sudah sering mengambil alih muka dan menunjukkan wajah. Bukan untuk diwaraskan mungkin, bukan untuk diluruskan, bukan untuk siapa-siapa, untuk diri sendiri saja tak juga mudah. Bercermin dan semakin bingung melihat bayangan, seperti inikah wajah yang selama ini menempel dan dilihat orang.

Aku ingin tersenyum (bukan tertawa) sudah sering kupikirkan sejak pertama kali mendengarnya. Aku ingin membuat orang tersenyum (bukan tertawa) meski sampai saat ini yang ada justru membuat orang kesal, mencaci, marah. Bukan aku yang tertawa tapi setan meski mungkin semakin susah membedakan. Bukan aku yang bahagia (yang seperti ini tidak pernah membawa kebahagiaan) dan aku tahu betul itu dan aku menyesal dan aku minta maaf untuk itu. Aku ingin berpikir (terus berpikir) dan berjuang mengalahkan “kesesatan pikiran”ku sendiri. Tak ingin (lagi) membiarkan otak ini dalam kesiaan.

Penyesalan selalu di belakang, tidak ingin terus menyesal. Ketidakwarasan ini tak bisa kupaksakan untuk diterima semua orang dan memang hakku, kurasa juga jalanku. Bukan lagi tentang pengertian, pembenaran apalagi pengakuan tapi cukup diterima bahwa ada yang seperti ini, hidup dalam kegilaan dan sedang berjuang agar tidak merugikan (dan kalian sudah memberikannya padaku dan aku minta maaf untuk penghianatan atas penerimaan yang kuanggap penghargaan ini). Seperti kalian yang hidup dalam dunia kalian sendiri yang kurasa juga ingin diterima juga dihargai, aku juga punya dunia sendiri yang sedang berusaha kutaklukan. Untuk kembali ke titik awal maaf adalah apa yang ingin kusampaikan (kuharap akan menjadi yang terakhir) karena aku ingin tersenyum (bukan tertawa) dan aku juga ingin membuat kalian tersenyum (bukan tertawa apalagi kecewa). Jika memang gila aku ingin menjadi orang gila yang bertanggungjawab.

Tambahan: terimakasih untuk keluarga, sahabat, teman dan siapapun yang telah menjadi bagian dari sekian lembar hidup orang gila ini atas semua maaf, pengertian, ilmu, pelajaran, kasih sayang dan cintanya, waktu bahkan caci makinya yang aku tahu itu semua adalah bentuk perhatian dan kepedulian kalian. Tak akan bosan aku mengucapkan, AKU SAYANG KON KABEH! Aku juga mewakili mereka (juga diriku sendiri) yang terlibat dalam kejahatan ini, aku yang bertanggungjawab, untuk meminta maaf. Mereka yang dengan tulus meminta maaf dan mohon dimaafkan adalah Iim muhsinah, Puji “Cipoet” Lestari, Feri Nura, juga mereka yang secara sengaja dan tidak sengaja terlibat, We’re so sorry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s