CATATAN DARI SEBUAH PERJALANAN

Karena dia tak ingin aku sendiri maka dikirimkannya ratusan orang memenuhi kereta yang sudah renta ini. Satu tak cukup banyak untuk hati yang kadang sepi meski puluhan bayangan berlari, berteriak di dindingnya yang rapuh dan kuat di saat yang sama ini. Mereka duduk, jongkok, berdiri, satu kaki, dua kaki, dengan kepala yang tak juga kosong. Tegakku tak istimewa, angin adalah kemewahan yang mahal di besi tua yang terus bergerak menembus sawah. Kencang.

Musik yang meraung dari dua telinga membawa jiwa yang terkurung keluar, keluar dan melihat dunia yang tak pernah terbatas ini. Tak ada sekat yang cukup tebal untuk menghalangi bibir yang berdendang, kaki yang terus ingin menghentak, tangan yang bertepuk dalam dunia imaji. Dan mereka diam, tidur, membaca, makan, bicara, mungkin memaki kereta yang selalu sama ini. Dan aku masih berdiri, melayang, terbang bersama kata yang terlalu berharga untuk di penjara. Bukan tak ada kertas, pena juga ada. Bukan tak membawa si kotak pintar tapi membukanya tentu sangat mustahil karena dua kaki bergantian menopang. Dua kaki silih berganti berjaga jika asongan menerjang, jika penumpang lalu-lalang.

Ini adalah jalan yang biasa kulewati, tentang jalur yang sama entah berapa ratus tahun lamanya. Tak ingin membiarkan yang disana menunggu meski takut tak benar-benar sirna. Setidaknya selalu ada yang bilang semua akan baik-baik saja, selalu ada yang berbisik, “kamu pasti mampu melaluinya.” Perjalanan ini masih panjang, sepanjang angan meraih mimpi karena hidup tidak benar-benar hidup ketika mimpi pun sudah tak berani.

Jam Sembilan kurang sepuluh menit, jam yang sama seperti kemarin, selalu datang diminta ataupun tidak. Lambaian bocah di pinggir jalan dengan senyum kagum memandang si hitam yang katanya manis ini. Entah siapa yang bilang, yang kutahu dia tak benar-benar dirawat dan lebih sering dimaki karena terlambat. Yang dilihat selalu lebih indah? entahlah. Yang dirasakan selalu lebih menyakitkan? tak tahu juga. Yang terlihat menakutkan, yang dirasakan lebih sering diabaikan.

Peluh menetes, bukan, mengalir, menghapus jejak air yang tak juga terasa sejuk pagi ini. Semua masih berjalan dengan pikiran mereka, dalam angan mereka. Yang seperti ini tidak pernah membuat jera, kesal satu dua kali saja. Dan pandangan kosong pun menembus jendela yang tak hanya retak tapi pecah, bukan hanya berdebu tapi juga telah berdaki.

Jadi sabar saja disana karena kereta ini masih melaju. Dan tunggu disana karena aku sedang membunuh waktu. Aku pulang seperti yang lalu lalu dan jangan berpikir untuk meninggalkanku atau pergi tanpa ada kata yang terucap dari bibirmu. Tak ingin seperti dia yang tak mau, mungkin tak lagi bisa menunggu karena kereta yang sama menggurungku. Tak ada kata yang terucap, tak ada lambaian dan dia hanya meninggalkanku yang tak pernah sempat mengucap maaf. Aku pulang dan lihat mataharimu yang akan terus bersinar ini.

Catatan miris yang biasa dilihat di sebuah kereta ekonomi: mengaku laki-laki tapi jadi banci pun tak pantas. Tak mau tahu bukan karena tidak bisa melihat karena matanya begitu jeli memandang layar handphone kemudian pura-pura tidur. Ini perempuan tua yang mungkin seusia bahkan lebih tua dari siapa yang kamu panggil bunda, membiarkannya berdiri sama juga dengan membiarkan hatimu mati sedang kamu tahu kamu tak punya cukup alasan bahkan untuk hidup hari ini. Yang seperti ini lekas disingkirkan saja dari bumi, membuat bunda malu telah melahirkan manusia yang cacat hati ini.

Advertisements

2 thoughts on “CATATAN DARI SEBUAH PERJALANAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s