Sebuah Surat, KITA ADALAH PARA PENANTANG DUNIA

Dear,

Lama tak jumpa, dalam sapaan pena pada secarik kertas. Jari-jari ini serasa kaku, malu pada pena seolah kekasih yang lama tak bersua. Dan ini adalah cintaku yang pertama, cinta yang kupuja tapi juga sempat kutinggalkan. Cintaku pada kertas dan pena, pada barisan kata yang keluar, pada sebuah cerita yang mengalir, pada sebuah surat. Bilang aku kuno, sampai saat ini aku tidak melihat ataupun merasakan buruknya. Kata-kata ini begitu polos, dia hanya mengalir, tak terpikir, menuntun jari yang terus saja ingin menari.

Bagaimana kabarku? Aku baik-baik saja. Baik secara fisik, baik secara mental, dalam timbanganku tentunya. Tak ingin memikirkan apa yang sudah dipikirkanNya, nasihat dari seorang sahabat, ingin memikirkan apa yang sebaiknya, seharusnya, lebih butuh pemikiran. Tentang bumi yang semakin tua dan manusia-manusia yang mulai kehilangan pegangannya. Tujuan yang kabur, cita-cita yang harus terkubur. Tentang perjuangan yang selalu mendua, demi kemaslahatan bersama sekaligus menghancurkan sesama, entah bersama siapa maksudnya.

Seperti apa kabarmu? Baik-baik saja kuharap. Sebaik matahari yang bersinar terang di pagi ini. Kuingat kata-katamu begitu membara, laksana api yang membakar jiwa-jiwa yang letih dengan janji, jiwa-jiwa yang sedih karena dihianati. Masihkah kamu berjuang? Kata-katamu tak pernah hilang. Mereka melayang, kadang berteriak, mengingatkanku pada mimpi-mimpi yang bergantungan. Teruslah kamu berjuang, yang kamu punya bukan hanya sebuah kelebihan tapi titipan. Sampaikan, sebarkan dan lihat betapa yang tak kamu sadaripun mampu merubah dunia.

Ini suratku, bukan yang pertama. Ini cintaku, bukan satu-satunya. Begitu banyak kata yang terkadang terpaksa membisu, terbungkam. Begitu banyak cinta, tak tersentuh, kadang rapuh tapi masih mampu menunjukkan kualitasnya, sebuah kesabaran. Ada cerita tentang malam yang datang bersama kelam, menyelimuti mata yang enggan disapa. Ada kisah tentang putri, tak berada tapi begitu bersahaya. Tak memiliki semuanya, tak membuatnya kehilangan sebuah kesempurnaan akan hidup yang akan terus belajar dicintainya.

Bagaimana dengan mereka? Mereka yang mengacungkan jari, mereka yang pandai mencaci, mereka yang takut melihat bayangan sendiri. Masa bodoh dengan mereka. Tak pernah ada dan tidak akan pernah berarti apa-apa kecuali cambuk untuk terus berjuang, mengejar apa yang bahkan mereka tidak mampu lihat. Dalam perjuangan selalu ada lawan tapi anggap saja tantangan karena mereka hanya belum mengerti, kadang mereka malu mengakui.

Kukenalkan sekali lagi kamu pada cintaku. Ini cintaku, secarik kertas dengan goresan pena, masuk dalam sebuah amplop bernama surat. Ini cintaku yang nanti ingin kuwariskan pada anak cucuku, jika ada kesempatan tentunya karena manusia tidak pernah tahu kapan Sang Khalik akan memanggilnya, karena cintanya. Dan jika ini mungkin akan menjadi jejakku di hatimu, di duniamu, yang mungkin akan segera terhapus seperti tinta yang memudar, ini adalah kenangan. Tapi apapun itu tak akan kubiarkan yang belum dan mungkin tidak terjadi menghalangiku untuk terus menulis ini padamu. Padamu yang mau membaca, padamu yang bersedia mendengar, padamu yang ingin belajar, padamu yang punya semangat untuk terus berjuang. Jika hidup hanya sekali dan waktu memang tidak pernah kembali, kupilih surat ini untuk mewakili kata yang kadang terlalu sulit terucap. Karena kita adalah para penantang dunia!

Aku anak ceria

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s