ANOTHER CRY FOR YOU

Bukan aku yang jatuh cinta tapi kenapa aku yang harus merasakan sakitnya patah hati? Bukan aku yang tak bersatu cintanya tapi kenapa aku yang merana? Bilang aku gila, aku tidak akan bisa menyangkalnya. Sakit yang kurasakan saat ini, entah kenapa lebih sakit dari sakit yang harusnya kurasakan dulu ketika aku yang patah hati. Andai bisa aku pasti menangis, aku ingin sekali menangis. Kenapa tuhan tidak menjadikanku manusia yang cengeng? Sehingga aku tidak harus menahan beban ini berlama-lama di tubuhku.

Mimpi, sekali lagi apakah ini tentang mimpi? Aku tidak tahu. Entah siapa yang percaya kalau mimpi dan hidupku tak ada bedanya. Kupikir aku kesulitan tidur karena kepalaku masih penuh dengan pikiran-pikiran yang belum mampu kutumpahkan. Kukira mataku tak bisa terpejam karena masih banyak kata yang tak bisa kukeluarkan sehingga memenuhi dadaku. Sudah kutulis yang kurasakan. Kucurahkan pada malam ketika tak seorangpun menyadari masih ada manusia yang bernyawa, yang masih memperjuangkan kantuknya. Bukan.

Tidak sekali dua kali aku seperti ini, sepertinya sudah menjadi kebiasaan, menjadi bagian dari seorang manusia bernama aku. Baru aku sadar kenapa aku tidak bisa tidur, aku takut dengan mimpi yang akan mendatangi lelapku. Kurasakan apa yang tidak mereka tunjukkan lewat mimpiku. Kutahu apa yang tidak mereka katakan dari mimpi-mimpiku. Jangan kira mudah bagiku untuk percaya, tidak. Aku bukan orang suci yang mendapat wahyu lewat mimpi. Tapi terjadi dan kadang itu membuatku takut setengah mati.

Saat itu kulihat dia berlalu, aku tak mau percaya itu. Kurasakan meski tak ingin kuakui. Bukan salahnya, aku yang lari. Kutolak cinta pertamaku, entah kenapa aku takut sekali. Kuacuhkan hatiku dan meski betapa sakitnya hatiku aku masih bisa berlalu dengan egoku. Kenapa tuhan menciptakanku dengan kepala sekeras batu? Mungkin jika aku tak tahu malu, lebih enteng kujalani hidupku. Kuabaikan yang datang karena hatiku cuma satu dan takutku melebihi semua itu.

Bodohnya diriku yang menyakiti diri sendiri bahkan sebelum belati sempat menyentuhku. Kuusir  mereka yang mencoba mengetuk pintuku, aku hanya tak ingin malu. Tidak ada yang sempurna, aku tahu. Kurasa aku juga bukan manusia yang begitu bodohnya mendamba kesempurnaan yang tidak akan pernah ada, entah apa pikiran mereka. Masih pada mimpi yang menghantuiku yang kadang mengambil alih sadarku. Kutulis apa yang belum kulihat, kurasakan apa yang belum terjadi. Aku takut sekali.

Kulihat dia berjalan, dengan sesak di dadanya mencari yang hilang. Kulihat dia menangis, andai aku tahu apa yang dia tangisi. Di hatinya kadang “setahuku” dia belum bisa datang. Di inginnya “setahuku” dia ingin sekali datang dan tak akan melepaskan apa yang menjadi miliknya. Dia masih melanglang, entah apa karena inginnya. Kadang ingin kulihat wajahnya, kutatap matanya agar aku tahu siapa pemiliknya tapi tuhan tak ijinkan aku.

Aku tak pandai bicara, aku tersedak dalam kata yang sepertinya berebutan ingin keluar tapi apa tidak bisa dirasa. Tak kuucapkan, tak dimengerti. Kuucapkan dengan caraku dan aku salah dimengerti. Apa selalu ini salahku? Sedang yang kuingin hanya satu seseorang yang bisa diajak “bicara” walau mungkin tidak dalam bahasaku. Tak selalu bisa kulisankan inginku, pikiranku, karena aku hanya sebuah buku yang tidak bisa menerjemahkan dirinya sendiri. Kutulis apa yang kurasa, dan mereka bilang aku ambigu, bertele-tele. Lalu akupun pilih membisu.

Kembali pada sakit yang kurasa. Entah kapan aku tahu yang sebenarnya karena kadang aku merasa tidak akan sempat mengetahuinya. Dan aku takut sekali. Sudah kutahu yang kurasa meski aku tak bisa mengatakannya. Kisah-kisah tragis selalu berawal dari kesalahpahaman, bukan tidak bisa bersama tapi kadang ego terlalu perkasa. Bukan tidak merasa tapi kadang terlalu malu dan takut mengakuinya. Dan kulihat dia masih berjalan, menangis, entah apa yang ditangisinya. Belum kulihat diriku, meski ingin sekali. Tak bisa kulihat akhir diriku sendiri, andai seseorang bisa mengatakan padaku saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s