JUMINI NJANCUKI

Panggil dia Mimi, seorang perempuan yang umurnnya baru saja menginjak seperempat abad alias dua puluh lima tahun. Gadis, orang mungkin akan bilang, meski menurutku lebih cocok disebut perempuan saja karena gadisnya tidak ada yang bisa memastikan tapi perempuannya bisa dijelaskan. Mimi adalah potret perempuan yang sedang memperjuangkan keberadaannya, mencari pengakuan demi sebuah harga diri yang definisinya sendiri sering menyesatkannya. Perempuan dari desa yang sudah tujuh tahun meninggalkan desanya demi mengejar mimpi untuk tidak menjadi orang biasa. Jumini Ndesitawati, inilah peninggalan “desa” yang masih bisa dilihat darinya yang tidak mampu dirubahnya karena sudah tertulis di dokumen negara dan masih akan terus tertulis di KTPnya.

Jumini tentu tidak begitu mengherankan jika minta dipanggil Mimi, setidaknya masih ada di bagian namanya, meski teman-temannya dulu biasa memanggilnya dengan sebutan Jum atau Jumi. Panggilan yang menurutnya merendahkan harga dirinya sebagai perempuan yang sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah. Ditolaknya juga panggilan Mini untuk dirinya karena mengingatkannya pada sakit yang sempat dia derita akibat diet mati-matian yang pernah dilakukannya. Dia bukan perempuan mini meski dia selalu berusaha untuk itu. Tubuhnya yang memang berperawakan bongsor, mudah sekali melar dan itu yang sering membuatnya uring-uringan. Panggilan yang lebih sering terdengar sebagai ejekan di telinganya. Jadi panggil dia Mimi jika kamu ingin menjadi temannya.

Mencari teman bukan hal yang sulit baginya dan kehilangan teman bukan sesuatu yang berat untuknya. Lihat dia berdandan dan kamu akan kagum padanya. Perhatikan caranya dia bicara mungkin kamu akan segera terpesona. Seorang perempuan yang tahu betul menggunakan keperempuannya. Tapi pasang kupingmu baik-baik dan dengar kata yang keluar dari bibirnya yang selalu terlihat segar itu, mungkin kamu akan terngangga. Lihat yang muncul di atas kepalanya ketika dia bercerita tentang cita-citanya, impiannya, sebuah bara yang langsung muncul. Cita-citanya sederhana, hanya ingin jadi orang kaya. Impiannya biasa saja, untuk dikagumi dan dipuja. Cita-cita dan impian yang setiap malam mengganggu tidurnya. Jangan usik cita-citanya jika kamu ingin dekat dengannya. Jangan hina mimpinya jika kamu ingin bersamanya.

Dulu dia memang Jum atau Jumi, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya satu dari sekian perempuan desa yang menerima nasib dan asal hidup saja. Orang boleh menghinanya, dia tak bisa melarang dan hanya bisa menangis mengadu pada emak bapaknnya. Sekarang panggil dia Mimi karena dia bukan orang biasa. Nasib dia tulis sendiri di buku hariannya. Hidup dia perjuangkan sendiri untuk jadi seperti inginnya. Orang tidak bisa sembarangan lagi menghinanya, dia seorang sarjana. Orang harus berpikir puluhan kali untuk membuatnya menangis, dia bisa sangat terluka dan kamu bahkan tidak akan mau berpikir apa yang bisa dia lakukan untuk membalasnya.

Laki-laki mengaguminya, entahlah tapi seperti itu yang terlihat dan kurasa wajar saja, melihat dia siapa yang tidak tergoda. Mulut manis siapa yang tidak bisa, dikasih ya mau saja, rogoh kantong sedikit adalah harga yang pantas untuk sebuah kesenangan yang telah berhasil mewujudkan imajinasi yang selama ini hanya bisa diangan-angan saja. Perempuan mencibirnya, tidak terlihat seringnya terdengar saja dari gunjingan-gunjingan di kantor tempatnya bekerja. Sebuah bentuk “kontrol sosial” yang hanya berani dikeluarkan pada teman yang punya pikiran sama, tidak membuat lebih baik sebaliknya melemahkan sendiri kualitasnya. Merasa lebih baik, silahkan saja. Memang lebih baik, ya sudah, mau apa? Jika peduli, kenapa tidak jadi temannya?

Mini yang penggoda, sudah biasa. Mini yang gampangan, ah masa bodoh katanya. Mini yang jalang, asal bisa cepat kaya yang seperti ini nanti pasti yang minta-minta. Jumini Ndesitawati tak bisa dirubahnya meski seringnya ingin dikubur bersama masa lalu yang masih membuatnya trauma. Mimi saja sudah cukup, untuk sebuah masa depan baru yang sedang dibangunnya. Tapi Jumini Njancuki baru kali ini aku mendengarnya, entah siapa yang menyebar karena kabar seringnya tak bermuka. Nama baru yang muncul ketika dia pulang ke desa, membuat emak bapaknya menangis ketika mengadu padanya.

Jumini Njancuki, satu dari sekian juta perempuan di dunia yang sedang memperjuangkan keberadaannya. Bukan potret perempuan baru karena yang seperti ini semakin banyak kudengar dan kulihat. Tentang perempuan yang sering mengutuk kelaminnya, perempuan yang tak jarang memaki keperempuannya juga perempuan lain. Perempuan dengan cita-cita yang berusaha diraihnya, impian yang ingin diwujudkannya dengan caranya, dengan segala keperempuanan yang melekat padanya. Apa aku bilang baik, aku bukan juri. Apa aku bilang buruk, aku tidak akan pernah punya hak karena aku sendiri adalah perempuan yang juga sedang memperjuangkan cita-citaku, dengan caraku sendiri juga tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s