NOY: SEBUAH CERITA

Namanya Noy, umurnya masih belum genap dua puluh tahun. Ada yang bilang dia cantik tapi sebagian juga bilang dia biasa-biasa saja. Entah siapa yang benar, yang pasti memang masalah pandangan, selera, manusia memang tidak pernah sama. Yang bilang cantik bisa saja memang benar adanya secara semua perempuan memang dilahirkan dengan kecantikannya masing-masing tapi mungkin juga karena mereka punya rasa. Yang bilang biasa mungkin juga tidak salah, bukan hanya karena tidak naksir tapi secara objektif melihat tidak ada yang istimewa meski juga ada kemungkinan karena tidak suka atau iri.

Noy lahir di jaman modern dimana semua serba ada juga canggih. Jaman dimana yang nggak ada bisa diada-adakan bahkan dipaksakan untuk ada. Kecanggihan yang bukan hanya membuat geleng-geleng kepala saking hebatnya tapi juga mengurut dada karena tidak masuk akalnya. Noy tidak kaya, tidak juga miskin. Sekali lagi semua kembali dengan apa membandingkannya. Yang pasti dia bisa sekolah bahkan masuk ke bangku kuliah. Dalam ketidakterlalu-cantikannya dan ketidakterlalu-kayanya Noy punya satu kelebihan yaitu mudah bergaul. Temannya banyak, kenalannya dimana-mana.

Noy adalah potret anak muda masa kini, pintar menjaga penampilan, pandai bersosialisasi. Tak susah jika mau kemana-mana, meski bapaknya tidak memberinya kendaraan pribadi teman-temannya akan dengan suka rela bergantian menjadi sopirnya. Hidup sedang indah-indahnya untuk gadis seumuran dia. Senang-senang saja karean masa muda hanya sekali dilewati dan tidak akan kembali. Tapi bukan hidup namanya jika tanpa onak menguji. Begitu juga dengan apa yang dialami Noy akhir-akhir ini.

“Ya ampiun apalagi sih anak ini, heran deh kok nggak ada capek-capeknya ganggu orang,” keluh Noy.

Noy yang saat itu lagi nongkrong di salah satu café tampak kesal membaca pesan dari handphone BeriBerinya. Temannya yang sedang asyik membuka situs jejaring sosial di laptop M4knya langsung bereaksi.

“Kenapa Cuin? Sewot banget,” tanyanya.

“Ini nih, cowok yang dulu aku ceritain ke kamu itu kirim-kirim sms terus. Mana isinya nggak penting banget lagi.”

“Namanya juga naksir, biasa kali kayak gitu. Cuekin aja ntar juga capek sendiri.”

“Aku kali yang capek. Sudah lama tauk dia kayak gini, norak.”

“Ha…ha…sabar cinn, sampai segitunya,” canda temannya.

Noy sedang sebel dengan seorang cowok yang sedang berusaha mendekati dia. Bukannya tidak tahu resiko jadi anak keren yang disukai sekaligus diidolai banyak orang tapi yang satu ini benar-benar membuat Noy kesal setengah mati. Setiap hari sms yang menurut Noy nggak penting dan mempunyai kecenderungan 99% norak, belum lagi telepon yang tidak mengenal waktu dan hitungan. Untung handphone BeriBerinya nggak diaktifin BBnya kalau aktif pasti dia akan capek menerima email-email nggak penting dari notifikasi-notifikasi di situs jejaring sosial miliknya.

Lintang  nang langit piye cara ngunduhe??Aku ra ngerti opo karepe???

Sebaris sms baru Noy terima lagi, masih dari pengirim yang sama, padahal dia belum selesai membicarakannya. Asiu tertawa membaca sms yang Noy tunjukkan padanya.

“Ya ampun Noy, hari gini pake pantun. Emang gila tuh anak. Kamu sudah ketemu dia?”

“Buat apa? Males banget.”

“Paling nggak kamu kan bisa kasih tau dia biar nggak ganggu-ganggu lagi.”

“Ribuan kali, emang dasar anaknya aja yang bebal.”

“Mungkin dia mikir kamu belum punya pacar, makanya dia berani godain kamu.”

“Nggak bilang ya dia seharusnya tau dong, kan sudah jelas di statusku.”

“Kali aja dia nggak baca.”

“Dia bilang pingin jadi temenku tapi kalo caranya kayak gini ya siapa yang mau, malu juga iya.”

“Atau mungkin karena dia nggak pernah liat kamu sama cowokmu jadinya dia mikir kamu masih available. Kamu sih pacaran jarak jauh, knapa nggak nyari yang deket-deket aja?”

“Kok jadi nyalain aku sih? Kamu tuh temennya siapa sih?”

“Iya..iya, sori cin. Kalo gitu aku deh yang bayar es tehnya,” rayu Asiu.

Cowok itu bernama Eidun. Noy kenal dia lumayan lama, bahkan dulu lumayan dekat tapi karena kelakuannya yang semakin menjadi-jadi Noy memutuskan menjauhinya. Noy berpikir berteman dengan Eidun bukan hanya akan merusak reputasi kerennya tapi juga sudah sangat mengganggu kehidupannya. Eidun yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, hanya berbeda beberapa gang saja, bagai seorang pemuja gila yang selalu mengikuti kemana pun Noy berada, secara fisik ataupun mental. Sudah berkali-kali Noy terpaksa ganti nomer hadphone tapi tetap saja Eidun bisa menemukannya.

“Enoy…puisi ini untukmu sayang. Wajahmu bagaikan bulan di atas hutan belantara, menerangi aku yang tersesat dalam gelapnya. Senyummu menusuk tulang-tulangku, membuat diabetesku semakin parah karena manisnya. Candamu mempesona, laksana bintang tujuh dalam baskom. Bulat matamu mengingatkanku pada bola tenis yang dipukul kesana-kemari membuat jantungku tak hanya bergetar tapi kewalahan mengikuti iramanya. Enoy…cintaku, jika ada yang abang inginkan di dunia, tentu kamu jawabannya.”

Noy menutup telinganya rapat-rapat. Bantalnya dibekapkan ke seluruh wajahnya, mencoba meredam suara yang masuk dari jendela kamarnya yang sudah tertutup. Tidak beberapa lama suara ayah Noy terdengar, tidak lama. Beberapa suara yang dia hapal betul pemiliknya juga terdengar sahut menyahut di antara puisi yang terus dibacakan Eidun untuknya. Diambilnya earphone dan dijejalkan ke kedua telinga. Diputar keras-keras volume pemutar musik dari handphonenya. Sampai kapan harus seperti ini, batinnya.

“Enoy…apa salah abang? Kenapa kamu meninggalkan abang Noy. Abang cinta Noy, abang sayang sama Enoy.”

Suara Eidun masih terdengar meski semakin jauh dan kemudian menghilang. Pernah Noy berpikir untuk pindah rumah tapi tentu itu bukan keputusan yang mudah. Beli rumah bukan hanya sulit tapi juga tidak murah. Rumah yang dia tempati inipun adalah rumah warisan dari neneknya. Enoy juga pernah memaksa untuk kos saja tapi ayahnya melarang karena dia adalah anak satu-satunya. Meski kemudian dia sadar itu juga tidak ada gunanya. Pernah dia mencoba menginap di rumah temannya yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya dan betapa terkejutnya dia karena Eidun berhasil menemukannya.

Noy menginap di rumah Aelay waktu itu karena besok ada quiz dan Noy ingin belajar. Noy dan Aelay belajar sampai pukul delapan, selebihnya sampai pukul sebelas mereka lebih banyak mengomentari status teman-temanya dan chatting lewat internet. Sampai handphone Noy berbunyi dan sebuah sms masuk.

Sayang aku di depan rumah, kluar dong.

Awalnya Noy tersenyum membaca sms yang dikirimkan Eidun untuknya. Dia berpikir Eidun saat ini ada di depan rumahnya seperti yang dia biasa lakukan. Dia dan Aelay terus saja asyik dengan teman-teman mayanya sampai beberapa saat kemudian sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar Aelay.

“Itu temanmu lay?” tanya mamanya.

“Nggak kok mah, lagian malam-malam gini siapa yang namu?”

“Nggak namu tapi deklamasi. Mungkin temannya Noy soalnya mama denger dia manggil-manggil namanya.”

Noy yang mendengar langsung syok. Bergegas dia ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Dari balik kaca dia melihat Eidun berdiri di samping motornya sambil melakukan gerakan-gerakan seperti orang sedang berpidato atau membaca puisi, mungkin. Noy malu bukan kepalang, malam itu juga dia meminta ayahnya untuk menjemput di rumah Aelay. Awalnya Aelay dan mamanya melarang karena sudah malam tapi Noy memaksa, dia tidak mau gara-gara dia keluarga Aelay harus menanggung deritanya. Bagaimana tidak menderita jam seperti ini tentu semua orang sudah pada capek dan ingin tidur tenang? Noy juga melihat beberapa tetangga Aelay keluar rumah dan meminta Eidun pergi bahkan papa Aelay yang sudah tidur pun terbangun dan ikut melihat apa yang terjadi.

Apalah arti aku hidup jika kau bunuh cintaku?

Untuk apa aku terus hidup, jika kau yang jadi nyawa memilih pergi dariku?

Aku rela mati berkali kali asal bisa hidup bersamamu

Nyawa akan kuberikan padamu asal kau berikan sedikit cintamu untukmu

Bukan dunia yang kuminta, hanya cinta

Karena cintamu adalah duniaku dan dunia tak ada artinya tanpa cintamu

Berkali-kali Noy meminta maaf pada kedua orang tua Aelay sebelum akhirnya berpamitan karena ayahnya sudah datang menjemput. Ayah Noy pun meminta maaf pada orang tua Aelay juga tetangga sekitar yang semakin banyak berkerumun. Begitu Noy dan ayahnya pergi Eidun langsung bergegas melajukan motornya. Orang-orang yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Orang muda sekarang, ada-ada saja kelakuannya. Mengada-ada dan cenderung gila.

“Sebenarnya kamu maunya apa sih?”

Noy sudah tidak tahan dan dia harus bicara. Dia tidak mau terus-terusan seperti ini. Dia masih muda dan banyak yang ingin dia lakukan, tanpa ada gangguan dari penggemar gila seperti Eidun. Siang itu Noy mendatangi Eidun yang ternyata sudah ada di kampus. Ediun terdiam, tidak tahu apa yang mau dikatakan.

“Kamu bilang cuma pingin jadi temenku kan? Kalo pingin jadi temen ya bukan kayak begini caranya. Kamu nggak bisa terus menerus ngikuti aku,” Noy tampak begitu emosi.

Eidun yang biasanya begitu banyak bicara kali ini diam seribu bahasa.

“Aku tuh dah sering ya bilang sama kamu, aku punya kehidupan pribadi, aku juga sudah punya pacar jadi tolong hargai aku. Gara-gara kamu pacarku marah-marah, dia pikir aku mau ninggalin dia. Nggak mungkin banget aku ninggalin dia cuma buat cowok kayak kamu. Nggak penting tauk!”

Kampus yang tadinya ramai dengan para mahasiswa yang lalu lalang, saat ini berubah senyap. Semua mata tertuju pada dua orang yang saling berhadapan, Noy dan Eidun. Sesekali mereka berbisik, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Eidun masih kaku di tempatnya.

“Kalo kamu pikir dengan melakukan semua ini aku bakal nerima kamu, kamu salah. Aku nggak sudi. Kamu tahu sendiri pacarku seperti apa, bukan hanya cakep, dia juga kaya, pinter, baik. Kamu nggak ada apa-apanya dibanding dia.”

Mungkin bagi sebagian orang kata-kata yang dikeluarkan oleh Noy akan terdengar sangat pedas, emosi Noy yang sudah memuncak sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Sekian lama dia mencoba bersabar dan bertahan akhirnya ambrol juga bentengnya.

“Aku tuh sayang banget sama dia. Aku nggak mau dia ninggalin aku gara-gara hal nggak penting kayak gini.”

Noy sudah tidak mampu membendung tangisnya.

“Tapi aku…” kali ini Eidun mencoba bicara yang ternyata malah menyulut kemarahan Noy.

“Apa? Dasar kamu laki-laki nggak berguna. Bajingan…nggak tahu diri!”

Noy semakin emosi dan membuat orang-orang yang melihatnya semakin khawatir. Tidak ada yang berani beranjak dari tempatnya, tidak juga Eidun. Semua orang begitu tegang.

“Dasar laki-laki gila! Sinting!”

Noy terus saja mengeluarkan sumpah serapahnya sambil menunjuk jarinya ke arah Eidun.  Eidun bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak tahu apa yang membuat Noy begitu marah padanya. Yang dia rasakan saat ini gadis yang juga tetangganya itu tidak lagi seperti yang dia kenal sebelumnya.

“Kamu edan! Jangan berani-berani lagi menggangguku!”

Seorang laki-laki separuh baya tampak menyeruak di antara kerumunan orang.

“Ayo kita pulang,” ajaknya.

“Nggak mau.”

“Ayo,” laki-laki itu terus membujuknya.”Jangan ganggu orang disini.”

Laki-laki itu meraih tangannya dan berusaha mengajaknya pergi.

“Aku nggak mau pergi. Dia laki-laki bajingan. Dia harus diberi pelajaran biar tahu rasa!”

“Sudah…sudah, ayah ngerti. Ayo kita pulang.”

Suasana kembali menegang ketika Noy semakin berontak bahkan mendorong ayahnya sampai hampir terjatuh. Suara hiruk pikuk orang yang melihat semakin ramai.

“Sabar…sabar,” kata Eidun coba menenangkan.

“Kamu gila. Kalian semua gila. Kalian nggak ngerti apa itu cinta. Yang kalian tahu cuma ngabisin duit orang tua kalian. Kalian pikir kalian siapa, hah? Kalian nggak ada apa-apanya. Kalian orang-orang bodoh yang nggak ngerti apa-apa. Otak kalian kosong. Kalian semua gila!”

Tubuh Noy terguncang, dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia tertawa. Suara tawanya membahana sampai ke lorong-lorong kampus. Semua diam.

“Kalian nggak ada gunanya di negara ini. Kalian nggak punya rasa cinta, kalian nggak punya harga diri. Ha…ha..ha..kalian semua pantas mati. Dunia nggak butuh orang-orang kayak kalian. Negara nggak butuh orang-orang payah seperti kalian!”

Noy terus berteriak. Ayahnya yang datang tidak bisa berbuat apa-apa. Eidun masih berdiri di tempatnya, begitu juga yang lain. Tiba-tiba saja tubuhnya melemas dan dia pun ambruk. Beruntung Eidun yang ada di depannya langsung tanggap dan menangkap tubuhnya yang limbung. Orang-orang kembali heboh. Ayah Noy menepuk-nepuk pipi anaknya, mencoba menyadarkannya. Eidun mengendongnya dan membaringkannya ke sebuah bangku. Satpam kampus membubarkan orang-orang yang masih mengerumuni karena penasaran ingin tahu.

Sejak saat itu Noy tidak pernah lagi kelihatan. Dia tidak pernah lagi muncul di kampus. Semua orang juga mulai melupakan kejadian itu, hanya Eidun yang kadang tidak habis pikir bagaimana gadis secerdas Noy bisa berubah seperti itu. Cinta kadang-kadang gila, hidup bisa sangat kejam untuk gadis yang selalu tinggi cita-citanya itu. Otak Noy yang penuh imajinasi telah menyesatkannya ke dalam dunia yang bahkan lebih nyata dari apa yang bisa dilihat orang-orang seperti Eidun. Dunia yang menurut Noy lebih indah dari kenyataan-kenyataan pahit yang harus dialaminya. Kenyataan bahwa dia hanya anak seseorang yang biasa-biasa saja, yang tak mampu membiayainya kuliah. Kenyataan bahwa laki-laki yang dicintainya dan dikira menyintainya ternyata tidak lebih dari pemain cinta yang mempermainkan cinta tulus seorang gadis biasa sepertinya. Tidak ada pangeran untuk Cinderela yang ada adalah seorang laki-laki yang meninggalkannya demi seseorang yang lebih sepadan statusnya.

Eidun hanyalah seorang teman yang ternyata belum bisa menjadi teman berbagi untuk Noy. Noy memilih menghindar, menjauh dari teman-temannya dengan perasaan kecil bahwa dia tidak pantas bergaul dengan mereka. Dia semakin terpuruk ketika cinta yang dipikirnya bisa menjadi penyemangat hidupnya yang sedang anjlok justru membantingnya lebih keras ke jurang kepedihan. Maka ketika Noy melihat Eidun dia seperti melihat laki-laki itu. Dan ketika dia melihat para mahasiswa yang lebih sering nongkrong dan pamer harta, batinnya tercabik. Dalam sebuah ruang Noy terkurung tapi imajinasinya tidak pernah berhenti berdengung. Dia ingin terus menyuarakan hatinya. Tidak ada yang bisa mengurungnya, tidak tembok rumah sakit jiwa yang sekarang mengelilinginya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s