BAHKAN WONG EDAN PUN PEDULI

Kisah ini sudah terjadi beberapa tahun lalu tapi sampai sekarang aku masih ingat betul seperti apa kejadiannya. Ketika itu aku baru saja pindah kos-kosan. Sebenarnya tidak terlalu jauh dari kos yang sebelumnya, masih di sekitar kampus, hanya berbeda kawasan saja. Layaknya daerah kampus, kawasanku ini sangat ramai. Tempat fotokopian yang berada hampir di sepanjang jalan, rental komputer dan warung-warung hampir selalu dipadati para mahasiswa.

Tempat kosku yang baru ini memang lebih bersih dan nyaman dibanding dengan yang sebelumnya, dimana aku harus melewati sebuah pasar yang lumayan parah kotornya, belum lagi kalau hujan, beceknya dimana-mana. Tidak ada masalah dengan teman kos baru karena kita pindahnya memang ramai-ramai. Tidak ada rasa khawatir atau kesulitan untuk beradaptasi dengan tempat baru, semuanya berjalan baik-baik saja.

Awal kuliah hanpir setiap hari aku harus masuk pagi. Di kota sebesar dan sepadat Surabaya ini, pagi adalah waktu yang sangat sibuk. Para mahasiswa berbondong-bondong ke kampus, anak-anak sekolah harus secepatnya sampai di sekolah begitu juga para pekerja kantoran membuat lalu lintas di hari-hari kerja menjadi sangat padat sekaligus menakutkan. Menyeberang jalan adalah masalah besar di kota ketika tidak ada jembatan penyebrangan dan para pengguna jalan melaju seperti dikejar setan.

Terbiasa hidup di desa yang masih belum padat lalu lintasnya, bahkan rambu lalu lintas saja jarang ada, tidak ada lampu merah, tidak ada polisi yang mengatur lalu lintas, tidak ada macet, butuh waktu dan keberanian untuk menyebrangi jalanan di Surabaya. Pagi itu aku sudah siap untuk berangkat kuliah. Matahari pagi sudah begitu terik di kota ini bahkan ketika jam baru akan menunjukkan pukul tujuh pagi. Kendaraan lalu lalang silih berganti. Beberapa mahasiswa juga tampak menunggu untuk bisa menyebrang. Satu dua nekat berlari, aku masih menunggu.

Tidak terburu-buru, belum berani. Menunggu waktu yang tepat, meski seringnya mundur lagi. Tidak ada yang mau mengalah, semua berlomba ingin cepat sampai. Tiba-tiba saja tanpa aku tahu darimana asalnya, seseorang meraih tanganku dan langsung menarikku ke jalan, menyebrang. Tidak sempat berkata-kata, aku hanya ternganga, sepertinya dia kasihan melihatku. Kulihat orang itu, seorang tukang parkir rupanya. Tidak marah, aku justru tersenyum dan mengucapkan terimakasih padanya. Masih ada orang baik disini, orang yang peduli di kota besar yang katanya sudah individu ini. Laki-laki itu tidak berkata apa-apa, dia langsung kembali begitu menyebrangkanku. Sebuah adegan romantis yang biasa ada di film-film juga sinetron-sinetron Indonesia. Beberapa orang tampak melihatku, entah apa di pikiran mereka.

Kulanjutkan langkahku menuju kampus. Perkuliahan berjalan seperti biasa, mendengarkan dosen bicara, berbicara dengan teman di sebelahnya, saling melempar kertas (chatting jaman lawas), keluar kelas, nongkrong sambil menunggu kelas berikutnya. Pada saat sedang nongkrong inilah aku teringat kejadian tadi pagi. Iseng-iseng aku bercerita tentang seorang laki-laki yang membantuku menyebrang jalan. Bukan cerita yang menarik memang, semuanya menanggapi dengan biasa sampai salah seorang teman menyeletuk.

“Lho dia itu kan miring.”

Si teman lalu bercerita bagaimana dia sering bertemu laki-laki itu setiap kali dia fotokopi bahan-bahan kuliah. Dia juga bercerita kalau laki-laki berseragam parkir itu memang tukang parkir yang selalu bertingkah aneh-aneh dan tidak ada yang berani mengganggunya. Siapa juga yang mau cari masalah dengan orang tidak waras? Dan bisa ditebak, semua teman yang mendengar langsung melolong, mengolok-olok. Adegan yang sebelumnya masuk kategori romantis itu pun langsung hancur berkeping-keping dan berubah menjadi sebuah komedi. Sejak saat itu banyak sekali peristiwa yang dialami teman-temanku dengan si tukang parkir itu setiap kali mereka mau main ke tempat kosku. Bahkan mereka juga punya julukan sendiri untuk laki-laki yang telah menolongku itu. Mereka menyebutnya “Pedot.”

Aku masih sering bertemu dia karena aku masih tinggal di tempat yang sama meski lebih banyak geleng-geleng kepala jika ingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu. Ada yang menolong kok ya orang gila, wong edan, tapi tentunya tidak adil jika aku berpikir seperti itu. Edan atau tidak dia sudah menunjukkan kepeduliannya dengan menolongku ketika tidak ada seorang pun (yang mungkin tidak edan atau mengaku waras) yang peduli melihat seseorang yang sedang kesulitan. Atau jaman memang sudah begitu edannya sehingga hanya orang edan yang mau menolong sesama (bukan sesama edan tentunya meskipun jika sesama edan pun dia telah menunjukkan rasa kewarasannya yaitu dengan peduli)?

Ini hanya sebuah cerita tapi setidaknya dari sini kita bisa melihat dan kembali mempertanyakan diri kita sendiri, pantaskah menyebut diri waras? Yakinkah kalau kita waras dan bukan sebaliknya yaitu edan, ketika kita membunuh nurani kita sendiri untuk sedikit saja peduli dengan kesulitan orang lain? Siapa yang lebih edan, orang edan yang mau menolong orang yang tidak dia kenal, hanya karena kasihan mungkin (bahkan wong edan pun punya rasa kasihan)  atau orang waras yang bahkan tidak sedikitpun tergerak hatinya untuk mau peduli?

Advertisements

2 thoughts on “BAHKAN WONG EDAN PUN PEDULI

  1. Geli rasanya kalo liat fakta seperti ini. Yang katanya ngga waras mengulurkan tangan sementara yang ngakunya waras cuma bertopang dagu. Aku ya pernah disebrangin orang gila di daerah rumahku di Surabaya. Persis dengan ceritamu, yang ngaku waras cuma nonton.

    Aku jadi mikir, kayanya cuman satu perbedaan antara orang waras dan orang gila: yang gila banyak pikiran (artinya otaknya masih jalan meskipun pikirannya lompat-lompat dan seringkali absurd), sementara orang waras itu yang pikirannya kosong. Di manapun berada, ndomblong ae… Ada yang ketabrak pun sumbangannya cuman teriakan shock-nya.

    Btw, aku jadi ingat dulu naik angkot, di dekat tugu pahlawan ada mayat tergeletak di pinggir jalan. Korban tabrak lari, bundhas kabeh awak’e. Orang-orang yang katanya waras itu cuman berdiri nonton dari trotoar sambil nutupin mulut nahan muntahnya masing-masing. Menyedihkan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s