DIPAKSA KAWIN: BUKU HARIAN SETAN hal 3

Pernah merasakan yang namanya perjodohan? Hal yang mengingatkan kembali kita pada jaman Siti Nurbaya. Suatu bentuk ”pemaksaan” kehendak dari orang tua terhadap anaknya yang juga merupakan contoh nyata ”pelanggaran” hak manusia untuk memilih pasangan hidupnya. Di jaman yang semua serba cepat ini, dimana banyak suara-suara tentang hak asasi manusia didengung-dengungkan ternyata masih ada bahkan banyak yang belum bisa memperoleh haknya. Aku ”pernah” merasakannya.

Jika Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih, seorang saudagar kaya di kampungnya, yang usianya jauh di atasnya bahkan sudah beristri, berbeda dengan ceritaku. Aku dipaksa menikah dengan laki-laki yang meski tak berbeda jauh usianya, kutahu rupanya walau tidak bisa bilang kenal, satu hal lagi perjodohan yang kualami bukan hanya pada satu laki-laki tapi dua. Aku yang selama sepuluh tahun terakhir tinggal di kota terbesar kedua di Indonesia, dengan pendidikan yang sudah lebih dari cukup dan keluarga yang berpikiran terbuka ternyata tidak menjamin kekebalanku pada satu hal yang bahkan tidak terbayang sebelumnya, dipaksa kawin.

Laki-laki pertama tak kukenal sebelumnya, tidak jelek, mungkin dia juga baik-baik saja orangnya, hanya satu masalahnya aku tidak suka. Mungkin ada yang bisa cinta pada pandangan pertama, disini aku tidak. Keluarga sudah bersuka cita menyambut hari besar untuk anak perempuannya. Tetangga juga ikut gembira, membantu menyiapkan segala kebutuhan pesta. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Tidak bisa mengeluarkan suara, pendapat, sehingga jalan satu-satunya adalah lari. Lari tidak menyelesaikan masalah, aku biasa bilang seperti itu, tapi kali ini hanya ini yang melintas dan secepatnya harus dilakukan. Lari dalam arti sebenarnya karena aku dikejar bukan hanya laki-laki itu tapi juga keluarga.

Sebuah pelarian yang melelahkan, melewati rumah-rumah tetangga, menerobos halaman rumah orang, kebun dan yang terakhir berlari mengejar bis kota. Dia masih di belakangku berlari dan mengejar aku yang sudah sangat capek. Bis yang melintas kencang di jalan raya tidak menghentikan lajunya. Di satu sisi menguntungkan karena jika aku berhasil naik, laki-laki itu tak akan bisa mengikutiku tapi disisi lain aku kesulitan mencapainya. Sang kondektur hanya mengulurkan tangan, seolah tahu kalau laki-laki di belakangku bukan orang baik dan dia ingin menolongku. Kuraih tangannya begitu jarak kami cukup dekat dan secepat kilat dia langsung menarikku ke dalam bis, selamat. Laki-laki itu tak bisa lagi mengejarku.

Untuk beberapa waktu aku memang bisa berlega, lepas dari sebuah ”kewajiban” yang dipaksakan, mengikuti perintah orang tua. Meski pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa ibuku sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Semua orang begitu cemas. Aku bukannya tidak ikut khawatir tapi aku juga kecewa dan ini baru cerita pertama. Cerita kedua tidak jauh berbeda, seorang laki-laki yang juga tak kukenal sebelumnya. Jangankan cinta, suka saja aku belum bisa. Semua orang kembali gembira bahkan semua persiapan sudah lengkap adanya.

Aku tidak bisa lagi menolak ataupun lari. Memasrahkan diri ketika baju dan make-up dipaksakan padaku. Pesta juga sudah dimulai, semua keluarga telah berdandan rapi. Tidak ada yang bisa kumintai pertolongan, tidak kakakku yang selalu membelaku, tidak juga ayah yang tidak pernah berkata tidak untukku. Tuhan, entahlah, tidak melintas di otakku. Yang kutahu semua akan terjadi dan jika tidak terjadi aku yakin memang bukan untukku. Tidak ada yang bisa dipaksakan meski semua memaksakan. Kulihat ayah sedang tiduran di ranjang sambil menunggu sebagian keluarga yang masih merapikan dandanan. Wajah-wajah ceria lalu-lalang di depanku. Berbeda dengan yang pertama, kali ini aku bisa tersenyum. Tamu sudah berdatangan dan sebentar lagi semuanya akan terjadi. Kudekati ayahku, aku harus bisa. Tidak banyak, tidak muluk hanya ingin mengatakan apa yang ingin dan harus kukatakan. Mungkin tidak akan berarti apa-apa, tidak merubah apapaun tapi tentunya bukan alasan untuk membungkam nuraniku yang memang berontak.

Kudekati ayahku dan membisikkan sesuatu dengan pelan. Wajah ayahku berubah, kecewa dan marah. Tak pernah kulihat sebelumnya karena sekali lagi dia adalah laki-laki yang tidak pernah mengatakan tidak padaku. Mempelai laki-laki sudah di depan mata, kami sudah saling berhadapan. Aku bahkan bisa tersenyum, tersenyum bersama orang-orang yang bahagia, entah karena apa. Aku masih tersenyum ketika kulihat dia tidak bisa berkata. Dia meragu dan mulai mundur. Aku semakin melebarkan senyuman ketika dia, laki-laki itu, benar-benar mundur dan pergi. Lega. Sudah kukatakan apa yang ingin kukatakan. Entah apa yang ayahku katakan padanya, sekali lagi perjodohan ini, kawin paksa ini batal terjadi. Tidak kulihat orang-orang yang kecewa, mungkin aku tidak mau melihatnya. Hanya satu rasa, aku begitu bahagia.

Katakan apa yang ingin dan harus kamu katakan karena itu hakmu. Suarakan hati nurani, jangan membungkamnya. Apakah diterima atau disangkal? Bukan itu tujuan akhirnya. Bahwa kita mampu memperjuangkan hak kita meski hanya lewat suara, itu yang utama dan lihat bagaimana satu suara bisa sangat berarti. Ingin tahu apa yang kukatakan pada ayahku? Aku hanya bilang padanya, ”aku tidak mau.”

Advertisements

2 thoughts on “DIPAKSA KAWIN: BUKU HARIAN SETAN hal 3

  1. Dear Rina, aku salut dengan keberanianmu melawan tradisi perjodohan, kudukung Rina sepenuhnya dan juga wanita2 lain di luar sana! Inilah saatnya masyarakat kita sadar bahwa dalam Al Quran pun tidak ada yang namanya perjodohan yang hanya adat buatan manusia! tapi di satu sisi aku sedang patah hati Rina, pria yang sudah menjadi pacarku hampir 1 tahun ini ternyata menyerah pada tradisi perjodohan orang tuanya, dia dari Pariaman, Sumatera Barat. Ternyata cinta yang telah kami bina ini tidak cukup kuat untuk dia pertahankan. Aku bingung tidak tahu harus bagaimana, dia telah menjauh dariku karena dalam 2 bulan akan segera dinikahkan. Seandainya saja kami berjodoh dan dia betul2 yakin dengan cintanya untuk mempertahankan hubungan kami…seandainya saja dia bisa melawan perjodohannya dan tegar seperti Rina….

    Like

    • jika bukan kita yang menyuarakan nurani kita, siapa lagi? jika bukan kita sendiri yang memperjuangkan hak kita, siapa lagi? trimakasih, semoga sarita mendapat yang terbaik dalam hidup. salam kenal.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s