HUJAN DI SABTU PAGI

Apa yang lebih indah dari hujan di Sabtu pagi? Rencana yang semalam coba dimatangkan gugur bersama rintik hujan yang meski tak deras tapi begitu padat. Sabtu yang terbayang cerah, ceria karena wajah-wajah yang sebelumnya penat dengan kumpulan kertas dan tabel-tabel serta penuh kilatan cahaya dari monitor komputer, seolah mendapat kesempatan untuk memperbaiki auranya. Jalan-jalan saja karena lari mungkin akan sedikit berat untuk tubuh yang terbiasa duduk atau berdiri. Ini gambaran, yang dibuat semalam untuk menghabiskan waktu bersama, yang terjadi saat ini, beranjak dari kamar saja minta ampun susahnya. Selalu ada saja alasan.

Tak beranjak tentunya tak bergegas pula menuju kamar mandi. Terlalu banyak air di luar dan bisa dibayangkan air di bak mandi pasti ikut dingin. Kalau bukan karena perut yang memaksa, rasanya masih malas menyapa dunia. Tak mendung sebenarnya, seperti anak kecil yang sedang ingin bermanja, hujan hanya rintik-rintik saja, tak bersuara. Sebuah panggilan di handphone membuat mata melebar dan mulut mengangga. Ya, ehm, oh, itu saja yang dikeluarkannya. Setengah nyawa meski seiring detik berjalan bersama sang teman yang semakin semangat bercerita semakin larut juga dalam ritme kehidupan yang membangunkannya.

Tak ada jalan-jalan, tak ada sarapan. Terlanjur malas diteruskan saja, terlanjur salah apakah harus dihancurkan juga? Bukan pilihan yang bijak tentunya. Menyalakan laptop lalu mengudara, jalan-jalan di dunia maya. Tidak berkeringat tapi lumayan capek juga, membalas sapaan yang muncul, menanggapi komentar yang masuk, menghadapi pikiran yang langsung mengeluarkan gambar lampu di atas kepala. Dilanjutkan tentunya karena yang seperti ini tidak selalu muncul, kadang harus dipaksa. Gila tidak gila yang penting ditulis dulu. Ide mungkin tak selalu sempurna tapi berkah seperti ini juga tidak ada duanya, perut lapar pun telah hilang entah kemana.

Gerimis masih menangis, ya sudah ambil hikmahnya. Tidak ada olah raga ya melatih otak saja. Tidak sedih, tidak sendu justru tertawa seolah setan yang baru berhasil menaklukan musuhnya. Gerimis pagi ini tak membawa hawa cinta tapi juga bukan kepedihan. Jika memang mau sedih ya sedih saja, ingin tertawa ya keluarkan saja. Menertawai diri sendiri karena pikiran yang keluar tidak masuk di akalnya, sebelumnya. Semakin semangat, semakin bertabrakan idenya, seolah adu cepat agar bisa keluar dan dinikmati hasilnya.

Hujan di Sabtu pagi, ternyata indah juga. Tak menghalangi jiwa yang tetap mampu menemukan langit cerahnya. Langit cerah yang diciptakan oleh imajinasinya. Jangan bandingkan dengan punya tuhan, naïf sekali yang seperti itu. Ini hanya cerita tentang raga yang tak bisa beranjak tapi mampu keluar menemui dunianya. Bahwa tidak ada yang bisa menghalangi selama pikiran mampu mencapainya. Bahwa tembok tetap akan menjadi tembok yang mungkin tak perlu dirobohkan tapi bisa ditembus oleh kekuatan yang kadang tidak kita sadari besarnya.Teruslah turun hujan, jika memang langit masih ingin menangis. Basahi bumi karena akhir-akhir ini dia semakin panas. Kedatanganmu bukan penghalang karena tak ada sesuatu yang diciptakan dalam kesiaan.

Advertisements

4 thoughts on “HUJAN DI SABTU PAGI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s