KUTUKAN SI KUNTI seri terakhir

Ringkasan sebelumnya:

Jalang yang mencoba memulai hidup baru dengan berjualan jamu sedikit terusik dengan tingkah Mat’ekae Lekiso pemuda yang telah menolongnya juga Ulul pamannya. Meskipun telah selamat dari percobaan bunuh diri tapi jiwa Tung masih labil, dia jadi malas masuk kerja dan menghabiskan waktu dengan melamun di gubuknya. Tikno yang mendapat cuti khusus dari Pak Camat akan memulai perjalanan menuju desanya ditemani oleh Parian.

Pagi ini suasana Kleleken Senter sangat ramai. Meski memang terbiasa ramai dengan suara MM yang sedang menerima telepon dari para pelanggan tapi kali ini keramaiannya berbeda. Terlihat beberapa karyawan yang bergerombol membentuk kelompok-kelompok tertentu. Sekumpulan MM senior yang sering menjadi sumber berita tampak sedang dikerumuni oleh MM lainnya. Para pengawas yang memang sering membuat kelompok sendiri tampak juga sedang berkumpul di ruang pengawas.

“Deloken kae lek gak percoyo pengawas podo rapat nang ruangan,” kata Moi sambil menunjuk ke sebuah ruangan.

“Iyo kan brarti temenan Moi. Delok ae ngko yok opo,” tambah Cendol.

“Wes ketemu ta Mbak arek’e?” tanya seorang MM baru.

“Durung tapi wes ngerti areke sopo,” jawab Moi.

“Sopo Mbak?” tanya yang lainnya hampir bersamaan.

“Ada deh,” jawab Moi yang langsung membuat para MM yang mendengar kecewa.

“Temen arek iku ta Moi?” tanya Cendol seolah sudah tahu yang orang yang dimaksud.

“Iyo mbok Ndol, ancen arek iku lak aneh.”

MM lain yang tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Moi dan Cendol semakin penasaran. Mereka harus menahan rasa penasaran mereka karena Moi dan Cendol sepakat tidak memberitahu mereka, mungkin juga karena sebenarnya mereka belum yakin dengan orang yang mereka maksud. Berita di Kleleken Senter masih simpang siur, banyak gosip yang beredar dan semuanya belum jelas. Beberapa MM yang mengaku dekat dengan pengawas mencoba mencari tahu tapi mereka harus kecewa karena pengawas yang biasanya bocor sepakat untuk tutup mulut.

Tung yang baru masuk hari ini kaget melihat pabriknya yang tiba-tiba heboh. Kedekatannya dengan Cendol membuat Tung tidak perlu susah-susah mencari tahu apa yang terjadi karena Cendol langsung bercerita begitu dia tahu Tung sudah masuk dan kelihatan bingung.

“Trus gimana Mbak?” tanya Tung begitu mengetahui permasalahan yang sedang terjadi di Kleleken Senter.

“Sing jelas pasti areke bakal ditokne. Mungkin yo bakal dilaporno nang polisi,” jawab Cendol.

“Gak perlu ditokno mbok Ndol wong areke wes mlayu,” sahut Moi.

“Kok ngerti Moi?” tanya Cendol.

“Iyo aku mari ko WC trus krungu pengawas bisik-bisik. Nggak ngerti lek aku nang njero WC nguping ha…ha..ha,” Moi tertawa terbahak-bahak sehingga mengundang perhatian beberapa MM yang masih penasaran.

“Brarti dilaporno polisi?” tanya Cendol lagi.

“Pasti Mbok Ndol wong sak mono akehe. Iso bangkrut Kleleken Senter.”

Ternyata kehebohan di Kleleken Senter disebabkan hilangnya beberapa pesawat telepon yang biasa digunakan MM untuk menerima telepon dari para pelanggan. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai dua puluh lima unit. Penjaga yang ditugaskan dua puluh empat jam ternyata berhasil dikelabui. Tidak heran karena dari desas-desus yang terdengar pelakunya adalah orang dalam alias karyawan Kleleken Senter sendiri.

“Iso-iso gak oleh THR iki,” tambah Moi.

“Ojo ta Mbak aku kadung janji karo adik-adikku kate tak tukokno klambi anyar nggo lebaran,” seorang MM tampak sedih.

“Lha yok opo wong regane larang. Sopo sing kate ngijoli?”

“Emang wes didol ta Moi?” tanya Cendol.

“Lha areke ae wes minggat, gak jelas nang ndi. Masio ngko bakale ketangkep gak mungkin lek iso mbalek.”

“Iyo juga sih. Wah padahal aku kate tuku HP anyar iki.”

Tung hanya diam saja mendengarkan obrolan teman-temannya.  Dia tak tahu harus merasa apa. Meski saat ini semua teman-temannya cemas karena khawatir tidak mendapat THR, Tung justru tidak memikirkannya sama sekali. Pikiran Tung justru melayang ke hal yang lain.

“Tung?” seorang laki-laki tiba-tiba muncul di hadapannya.

Tung yang sedang melamun langsung tergagap. Dipandangi laki-laki di depannya itu, sepertinya wajahnya tidak asing.

“Masih ingat aku?” tanya laki-laki itu tadi.

Mana mungkin Tung lupa wajah itu. Sejak pertemuannya di jembatan Kali Buthek pagi itu, bayangannya hampir selalu muncul.“Kamu yang kemarin menolongku?”

“Iya” jawabnya. “Kamu kerja disini?” tanyanya lagi.

“Iya,” jawab Tung singkat. Tanpa dia sadari pipi Tung merona. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena bertemu lagi dengan laki-laki yang sudah menolongnya.

“Kok aku nggak pernah liat kamu ya?” Satya, laki-laki itu tidak percaya jika gadis yang ditolongnya itu ternyata bekerja di pabrik yang sama dengan dirinya.

“Aku anak baru. Mas kerja disini juga?”

“Iya.”

“Ehm…ehm,” Cendol yang sedari tadi di samping Tung berdehem.

“Eh Cendol. Kamu kenal Tung juga ya?” tanya Satya yang merasa tidak enak karena mengacuhkan Cendol.

“Mbak Cendol yang masukin saya kesini Mas,” jawab Tung.

“Kenal dimana kamu Sat sama Tung?” tanya Cendol penuh selidik.

“Nggak, kebetulan saja.”

“Iya Mbak nggak sengaja kok kenalnya,” kata Tung sambil tersenyum pada Satya.

Sejak peristiwa pencurian yang terjadi di Kleleken Senter Runa tiba-tiba ikut menghilang. Berita yang beredar pun semakin bermacam-macam. Ada yang bilang Runa menghilang karena terlibat kasus pencurian itu. Runa dan seorang MM lainnya telah lama merencanakan pencurian itu. Karena takut ditangkap maka dia melarikan diri bersama temannya itu. Tapi ada yang membantah gosip itu. Seorang MM mengaku melihat Runa masih bekerja sehari setelah pencurian itu terjadi.  Teman dekatnya bilang Runa sengaja mengundurkan diri karena dapat panggilan syuting film dari rumah  produksi di ibu kota.  Tapi sampai saat ini tak satupun yang benar-benar tahu dimana Runa sebenarnya.  Dan kasus pencurian di Kleleken Senter pun masih menjadi misteri.

***

“Ga iso lek koyok ngene trus. Iso-iso aku mateni uwong maneh,” batin Pari. Sudah beberapa hari Pari berpikir keras mengenai langkah yang akan dia ambil. Dia sudah tidak tahan dengan kegilaan Mat’ekae Lekiso dan kecemburuan Ulul yang semakin tidak masuk akal. Jika ingat Emak sedih sebenarnya kalau harus meninggalkan wanita itu sendirian dengan dua laki-laki yang semakin sulit disebut waras oleh Pari. Tapi toh selama ini, sebelum kedatangannya, Emak juga baik-baik saja dengan mereka begitu pikirnya. Dia harus bertindak atau dia akan mati kesal. Maka diputuskannya untuk bicara pada Emak pagi ini.

“Mak aku pingin ngomong,” kata Pari membuka pembicaraan ketika mereka sedang menyiapkan jamu.

“Kate omong opo cah ayu sajake kok penting? Ngomong ae.”

“Anu Mak. Aku lak wes suwe melu sampeyan,” Pari berhenti sejenak mencoba merangkai kata-kata.

“Trus?” tanya Mak ikut tidak sabar.

“Slama iki sampeyan wes ngrawat aku sampe aku sehat. Sampeyan yo gelem repot ngopeni aku. Akeh pokoke Mak opo sing wes sampeyan lakoni nggo aku. Aku gak ngerti Mak yok opo carane iso mbales sampeyan.”

“Walah yo ra sah dipikir ngono iku cah ayu. Aku yo seneng awakmu nang kene. Aku dadi duwe konco. Opo maneh saiki awake dewe gawe jamu ngene aku dadi duwe kegiatan lan iso ngasilne duwit,” kata-kata Mak membuat Pari jadi semakin merasa bersalah.

“Suwun Mak,” Pari tak tahu harus berkata apa lagi. Kata-kata yang sudah dia susun semalam menghilang begitu saja.

“Mak gawe opo?” tiba-tiba Mat muncul dan langsung duduk di samping Pari dan Emak yang sedang sibuk membuat ramuan.

“Picek ta matamu? Gak iso ndelok?” jawab Mak ketus.

Mendengar jawaban Emaknya yang ketus malah membuat Mat cengengesan. Dasar gila, batin Pari.

“Mak aku melu ya ngko lek dodolan jamu?” tanya Mat sambil mengedipkan mata ke Pari.

“Ra sah kowe nang omah ae.”

“Halah Mak. Aku lo pingin ngerti carane. Gak ganggu gak cuma melu mlaku tok ae lo,” kata Mat sambil merengek.

“Lek awakmu melu sing tuku malah wedi kabeh. Gak payu jamune.”

Dalam hati Pari senang sekali mendengar jawaban Emak. Dia tidak mau Mat mengikutinya ketika berjualan. Melihatnya saja membuat Pari kesal apalagi kalau sampai dia ikut berjualan bisa-bisa hilang kesabarannya.

“Yo Mak yo?” Mat masih terus saja merajuk.

“Yo wes tapi awas lek ngrusuhi!” Mak akhirnya mengalah juga.

Jawaban Emak kali ini membuat lemas Pari. Dia yang sedari tadi diam saja mulai tidak tenang. Dia tidak boleh tinggal diam. Sejenak diliriknya Mat yang masih duduk di sampingnya. Pemuda itu girang bukan kepalang. Matanya dikedipkan berkali-kali ke arah Pari yang langsung membuat darah Pari naik. Pari menarik nafas panjang mencoba menahan emosinya.

“Mak aku kate ngomong,” kata Pari memberanikan diri.

“Opo maneh cah ayu?” jawab Mak sambil tetap sibuk dengan jamunya.

“Aku pingin muleh” kata Pari singkat. Sengaja dia tak ingin berkata banyak karena dia ingin tahu reaksi Mak. Dan reaksi Mak benar-benar di luar dugaan. Emak yang tadi menjawab sambil lalu langsung meletakkan ramuan yang sedang diraciknya dan menatap tajam ke arah Pari.

“Ga oleh muleh! Ga oleh muleh Mak!” Mat yang ikut mendengar langsung bereaksi.

Emak menatap anak laki-lakinya itu yang tiba-tiba saja meraung-raung seperti orang kesetanan. Sejurus kemudian dia menatap ke arah Pari. Tatapannya yang tajam membuat Pari gentar. Tidak pernah dilihatnya Emak seperti ini sebelumnya. Dalam hati Pari bertanya apa yang salah. Dia ingin pulang meski tak tahu kemana, yang dia tahu dia hanya ingin secepatnya pergi dari rumah ini. Mat masih belum menghentikan raungannya bahkan sekarang dia lari ke belakang rumah sambil memukuli kepalanya.

“Mat!” Emak mencoba menghentikan anaknya tapi Mat yang kalap tak bisa dicegah.

Pari semakin ketakutan. Saat ini dia seperti tidak sedang berhadapan dengan Emak yang dia kenal. Emak berubah menjadi wanita yang sangat menakutkan. Emak masih berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam seolah ingin menelannya.

“Ono opo Yu?” tiba-tiba saja Ulul sudah muncul sambil tergopoh-gopoh.

Emak masih terdiam tapi saat ini tangannya menunjuk pada Pari. Pari yang masih duduk terpaku di tempatnya semakin bingung dengan apa yang terjadi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Belum sempat Pari berbicara sepatah kata pun atau bereaksi tiba-tiba saja Emak sudah memerintahkan Ulul untuk mengikatnya. Ulul yang sepertinya sudah siap dengan sigap menangkap kedua tangan Pari. Spontan Pari berontak tapi ternyata Ulul lebih kuat. Diseretnya tubuh Pari yang tidak berdaya ke ruang tengah. Kedua tangan Pari diikatkan pada kaki dipan. Bukan hanya tangan tapi kedua kakinya juga diikat. Mulut Pari disumpal dengan kain agar tidak bisa berteriak.

Emak yang tadi hanya diam menyaksikan apa yang dilakukan Ulul sekarang justru tertawa terbahak-bahak. Mat yang tadi berlari sambil meraung sekarang sudah kembali ke rumah dan ikut tertawa melihat Pari yang tak berdaya. Sedang Ulul kelihatan puas sekali. Saat ini Pari tidak melihat tiga orang manusia tapi tiga orang monster yang siap memakannya. Dicoba menggerakkan tangan dan kakinya tapi sia-sia saja, ikatan Ulul sangat kencang. Air mata Pari menetes tak tertahan. Bagaimana mungkin Emak yang begitu baik padanya tiba-tiba berubah seperti nenek sihir jahat.

***

“Sudah siap Yan?” tanya Tikno.

Parian yang sedang minum terdiam kemudian mengangguk. Diletakkan gelas air yang sudah kosong ke atas meja.

“Kita berangkat sekarang,” lanjut Tikno.

Mereka pun bergegas mengangkat tas yang sudah mereka siapkan sejak tadi malam. Tapi belum sempat mereka beranjak tiba-tiba saja gelas yang ada di atas meja jatuh ke lantai dan pecah. Parian dan Tikno melonjak karena kaget. Aneh karena seingat Parian dia sudah meletakkan gelas itu di tengah meja, kenapa bisa jatuh.

“Maaf Tik,” kata Parian sambil membereskan pecahan gelas tadi.

“Tidak apa-apa. Sudah biarkan saja nanti tanganmu terkena serpihannya.”

“Nggak papa,” kata Parian merasa bersalah. “Aduh” Parian meringis ternyata pecahan gelas yang tajam melukai jarinya. Darah langsung mengalir dari lukanya.

“Tuh kan. Kamu nggak apa-apa? Sudah biarkan saja,” Tikno bergegas masuk ke ruangannya untuk mengambil obat dan perban. Setelah membalut luka Parian merekapun berencana melanjutkan perjalanan.

“Semoga tidak terjadi apa-apa,” bisik Parian lirih.

Merekapun bergegas menuju ke stasiun kota Bajul untuk melakukan perjalanan ke desa Tikno. Dalam perjalanan kelihatan sekali Parian tidak tenang. Pikiran buruk tiba-tiba saja muncul. Dia merasa apa yang baru terjadi tadi adalah pertanda yang tidak baik. Tikno yang tahu kegundahan temannya mencoba menenangkannya. Dalam hati dia ikut berdoa. Sebenarnya Tikno juga khawatir karena tadi malam dia mimpi buruk. Dia melihat adik Parian berlari sambil menangis. Semoga gadis itu baik-baik saja, batinnya.

***

Polisi yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus pencurian di Kleleken Senter tampak sibuk sekali. Kalau mengingat kejadiannya yang sudah beberapa hari lalu sebenarnya sangat terlambat karena bisa dipastikan jejak atau sidik si pencuri sudah hilang atau terhapus oleh lalu lalang para karyawan. Menurut gosip yang beredar polisi terlambat karena memang sebelumnya dari pihak manajemen pabrik tidak berencana melaporkan kasus ini. Mereka mencoba cara kekeluargaan tapi karena pelakunya melarikan diri mau tidak mau mereka harus melaporkannya ke pihak berwajib.

Masih dari desas-desus diperkirakan pelakunya lebih dari dua orang. Paling tidak dibutuhkan empat orang yang sudah terkoordinasi untuk melakukan aksi pencurian itu. Mengingat pabrik Kleleken Senter yang selalu ramai dua puluh empat jam dan penjaga yang selalu siaga di pos jaga tidak akan mudah bagi pelaku melancarkan aksinya. Orang dalam yang dicurigai menjadi otak pencurian juga masih terus diselidiki. Saat ini suasana di Kleleken Senter penuh dengan kecurigaan sehingga membuat MM tidak nyaman bekerja.

Belum selesai kehebohan di Kleleken Senter atas kasus pencurian pesawat telepon besar-besaran beberapa waktu lalu, pabrik kembali dikejutkan dengan ditemukannya sesosok mayat perempuan yang tergantung di kamar mandi pojok. Perempuan yang ditengarai adalah salah seorang karyawan Kleleken Senter itu tewas dengan kondisi yang menggenaskan. Tubuhnya tergantung pada atap kamar mandi dengan seutas tali tambang. Rambutnya yang panjang terurai menutup sebagian wajahnya. Yang lebih mengerikan wajahnya sudah tidak bisa dikenali lagi.

Polisi yang sebelumnya datang untuk menyelidiki kasus pecurian menambah personil untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Polisi menemukan luka-luka sayatan di sekujur tubuh perempuan itu, terutama bagian wajahnya. Sebelumnya sempat diduga perempuan itu adalah pelaku bunuh diri tapi melihat luka-luka yang dialami penyelidikan mengarah ke arah pembunuhan. Sepertinya pelaku sengaja menyayat wajah korban agar tidak bisa dikenali. Dan saat ini dibantu oleh pengawas di Kleleken Senter polisi sedang mendata karyawan untuk mengetahui identitas korban dan mencari pelaku.

Banyak karyawan Kleleken Senter terutama para MM yang memutuskan keluar. Mereka ketakutan setelah peristiwa ditemukannya mayat perempuan di kamar mandi. Karyawan perempuan banyak yang tidak berani ke kamar mandi terutama di pagi atau sore hari. Kalaupun terpaksa harus ke kamar mandi mereka akan mencari teman. Cendol yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan memutuskan keluar dari pabrik karena ingin fokus menyiapkan pesta pernikahannya dengan Boio. Moi yang mengetahui banyak temannya yang keluar memutuskan berhenti bekerja sebagai MM di Kleleken Senter dan memilih pulang ke kampung halamannya untuk membantu ayahnya bekerja di sawah.

Suasana Kleleken Senter yang begitu menegangkan sekaligus menyeramkan dirasakan berbeda oleh  Tung. Tung yang mengetahui bahwa Satya, laki-laki yang menyelamatkan nyawanya juga bekerja di pabrik yang sama semakin akrab saja. Tak jarang Satya mengantarkan Tung pulang jika kebetulan jadwal mereka sama. Hati Tung yang sempat terluka karena kehilangan Jalang berangsur-angsur pulih. Sepertinya Tung menemukan gairah hidup baru. Perlahan dia bisa melupakan Jalang dan berencana merajut masa depan bersama Satya.

***

Pari yang terikat di dipan ruang tengah tampak berusaha melepaskan ikatannya. Digerakkan-gerakkan tangannya mencoba melonggarkan tali tambang yang mengikat erak kedua tangannya. Beruntung sekali karena Emak, Mat dan Ulul tengah lelap dalam tidur mereka. Setelah berusaha hampir setengah jam akhirnya Pari berhasil melepaskan ikatan tangannya. Dengan sigap dikeluarkan kain yang menyumpal mulutnya. Tidak lupa dilepaskan juga ikatan pada kedua kakinya. Pelan-pelan Pari mendekati pintu rumah. Pari harus berhati-hati karena dia tidak ingin membangunkan Emak dan lainnya.

Pari kebingungan ketika dia tidak berhasil menemukan kunci pintu. Kondisi rumah yang gelap hanya dengan penerangan sebuah lampu minyak di meja tengah membuatnya kesulitan. Sejenak dia mencoba mengingat-ingat. Mat yang sore tadi ditugaskan Emak mengunci rumah pasti yang membawa kuncinya. Bergegas Pari menuju ke kamar tidur Mat. Dilihatnya pemuda itu sedang mendengkur dengan posisi tengkurap. Mat yang mempunyai kebiasaan mengenyot jempolnya jika sedang tidur tampak begitu lelap. Mata Pari bersinar begitu melihat kunci rumah terikat dengan sebuah tali melingkar di pergelangan Mat.

Pari memutar otak mencari cara mengambil kunci tanpa membangunkan Mat. Di meja yang terletak tepat di samping ranjang Mat tergeletak sebuah gunting. Perlahan Pari mengambilnya dan mulai mendekati Mat. Jantungnya berdegup kencang karena cemas.  Dengan sekali gunting Pari kunci rumah sudah berpindah ke tangannya. Tapi belum sempat dia keluar dari kamar rupanya Mat terbangun. Mat yang mengetahui Pari berhasil lolos dari ikatan mencoba berteriak. Pari yang takut Mat akan membangunkan yang lainnya spontan menghujamkan gunting yang dipegangnya ke arah perut Mat. Pemuda itupun tersungkur bersimbah darah.

Pari yang ketakutan setelah menyadari apa yang dilakukannya secepat kilat keluar dari kamar dan mencoba membuka pintu. Suara Mat yang merintih dari dalam kamar terdengar juga oleh Emak. Dengan tergopoh Emak bangun dan betapa terkejutnya wanita itu mendapati anak laki-laki satu –satunya itu roboh bersimbah darah. Emak menjerit histeris.

“Mat kowe kenek opo le?” Emak yang masih histeris menguncang-guncang tubuh Mat yang sudah lemas tak berdaya.”Omongo le, sopo sing garai awakmu koyo ngene.”

“Ono opo Yu?” Ulul yang terbangun karena mendengar jeritan kakaknya ikut panik.

“Mat Lul, Mat,” Mak masih terus menangis.

“Asu! Sopo sing wani mateni ponakanku?” Ulul begitu geram. Bergegas dia keluar kamar dan dia semakin terkejut mengetahui Pari sudah tidak ada di tempatnya.

“Dasar Lonte!” Ulul yang marah mengambil golok dari dapur.

Ulul tahu pasti Pari yang telah melukai Mat dan kabur dari rumah. Dengan menahan amarah Ulul menembus kegelapan malam sambil mengacungkan goloknya. Sedang Pari yang ketakutan tak henti-hentinya berlari. Peristiwa yang lalu kembali membayanginya. Peristiwa yang hampir sama ketika dia melarikan diri setelah secara tidak sengaja membunuh Tomin. Kakinya yang terluka oleh ranting kayu atau batu-batu kerikil yang tajam sepanjam jalan tak diacuhkannya. Saat ini yang dia tahu adalah sejauh mungkin pergi dari desa ini.

***

“Setelah ini kita naik angkot Yan tapi ya gitu deh angkotnya nggak kayak di kota,” kata Tikno setelah mereka turun dari kereta.

“Tenang aja Tik.”

Pagi ini Tikno dan Parian yang baru saja turun dari kereta akan melanjutkan perjalanan mereka ke kampung halaman Tikno. Desa Tikno yang cukup terpencil memang sedikit menguras tenaga mereka berdua tapi pemandangan alam yang sangat indah membuat perjalanan mereka tidak membosankan. Setelah hampir dua puluh menit menunggu angkot yang dinanti datang juga. Disini angkot memang tidak sebanyak di kota. Angkot hanya lewat satu jam sekali itupun menungu semua penumpangnya penuh.

“Ayo naik Yan,” ajak Tikno.

“Iya.”

“Setengah jam lagi kita akan sampai Yan tapi maaf setelah itu kita harus jalan kaki atau naik ojek karena angkot tidak bisa masuk ke desaku.”

Parian hanya mengangguk. Angkot yang penuh sesak dengan penumpang membuat kemeja Parian langsung penuh dengan peluh. Tikno yang menatap temannya itu tak tega. Sebenarnya memang tidak pantas disebut angkot karena yang mereka naiki adalah jenis kendaraan pick up yang biasa digunakan untuk mengangkut barang. Karena depan sudah penuh mau tidak mau Tikno dan Parian harus duduk beralas tikar di bak belakang bersama penumpang lainnya.

Sepanjang perjalanan Parian mengagumi pemandangan desa Tikno yang masih sangat asri. Pohon-pohon besar dan rindang berjajar rapi sepanjang jalan membuat udara terasa sejuk. Hamparan sawah yang begitu luas tampak mulai menguning menandakan sebentar lagi musim panen akan tiba. Sejenak Parian melupakan peristiwa jatuhnya gelas di mes Tikno kemarin. Peristiwa yang membuat Parian tidak tenang.

Ciittttttttttt.

“Jaran!Jaran!” terdengar suara penumpang yang latah karena kaget.

“Yok opo to Pak sopir iki, ati-ati to pak,” penumpang yang kaget karena sopir mengerem mendadak ramai-ramai protes.

“Ada apa pak sopir?” tanya Tikno dari belakang.

“Ini mas ada perempuan nylonong aja,” kata Pak sopir sambil mengatur nafasnya.

“Tapi nggak kena kan Pak?” tanya Tikno lagi.

“Nggak Mas. Sebentar saya liat dulu,” sopir pun turun untuk melihat. Penumpang yang penasaran ikut turun termasuk Tikno dan Parian.

Seorang gadis tampak ketakutan terduduk di pinggir jalan. Nafasnya terengah-engah. Kakinya penuh lecet dan mengeluarkan darah. Wajahnya kelihatan sangat pucat. Sopir angkot mendekatinya dan menanyakan keadaan gadis itu.

“Ki pak sopir kek ono ngombe, sakno,” seorang penumpang menawarkan air putih dalam botol yang dibawanya.

Naluri dokter Parian dan Tikno pun muncul segera mereka ikut mendekati gadis itu.

“Kamu tidak apa-apa Mbak?” tanya Parian.

Yang ditanya hanya diam tidak menjawab. Sepertinya dia masih kelelahan dan shock setelah hampir tertabrak angkot. Parian duduk di depannya untuk melihat keadaan gadis itu lebih dekat. Dan betapa terkejutnya dia begitu melihat wajah gadis itu.

“Pa..Pari?” Parian tiba-tiba tergagap.

Si gadis yang merasa namanya dipanggil perlahan menoleh. Hampir sama dengan Parian gadis itu tidak kalah terkejutnya. Tiba-tiba gadis itu menangis. Karena terlalu lelah gadis itupun pingsan, tak sadarkan diri. Untung Tikno yang berdiri di sampingnya sigap diraihnya tubuh gadis itu sebelum terjatuh ke tanah. Parian yang masih kaget semakin cemas. Digoyang-goyangnya tubuh gadis itu. Beramai-ramai mereka mengangkat tubuh gadis itu ke angkot.

Gadis yang ternyata adalah Pari itu akhirnya dibawa ke rumah Tikno. Orang tua Tikno menyambut gembira kedatangan anak laki-laki yang mereka banggakan itu. Meski mereka sedikit terkejut karena Tikno juga membawa gadis yang tengah pingsan, setelah mendapat penjelasan mereka pun mengerti. Pantas saja Tikno seperti mengenal gadis itu, gadis itu adalah adik Parian yang dilihatnya di sebuah bingkai foto di rumah Parian beberapa waktu yang lalu.   Dia memang cantik secantik yang dilihatnya selama  ini dalam mimpinya.

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s