PERCAKAPAN ANTARA AKU DAN KAMBING

Kambing sering kali disebut sebagai binatang pemalas. Setahuku memang belum ada kambing yang mau bangun pagi terus mandi lalu berangkat sekolah atau pergi bekerja. Belum juga kudengar ada kambing yang bangun tidur kemudian beres-beres kamarnya, dilanjutkan dengan menyapu halaman rumah, misalnya. Bahkan di dunia yang semakin aneh inipun aku juga belum pernah tahu ada kambing yang belajar sampai malam hari, mengerjakan PR atau sekedar membaca buku pelajaran. Pernahkah kamu mendengar ada kambing yang mau berolahraga? Maka jadilah kambing sebuah contoh dari bentuk kemalasan.

Itu setahuku, itu yang kurasa semua orang juga tahu. Menilai tanpa berusaha lebih memahami tentu sangat tidak adil. Menghakimi dan langsung melabeli bahkan pada seekor kampingpun bisa menyakitkan hati, hati kambing tentunya. Sebagai manusia yang diagung-agungkan beradab tentu kita punya aturan, ada kode etik yang harus kita patuhi. Apalagi kita tahu betul bahwa tidak ada satupun makhluk yang diciptakan sia-sia. Maka biarlah kambing bicara dan membela dirinya.

Sebelumnya perkenankanlah aku memperkenalkan diri agar kamu tahu siapa yang bicara karena bagi sebagian orang “siapa” masih begitu penting. Aku mungkin bukan siapa-siapa bagi sebagian orang tapi kalau kamu mau tahu, aku adalah seseorang yang masih punya keyakinan bahwa aku tidak dilahirkan untuk menjadi “bukan siapa-siapa.” Dalam hal ini aku tidak menyebutkan nama karena orang tuaku tidak meminta pendapatku ketika memberiku nama, nama yang tertera di akte atau raportku adalah sebuah bentuk pemberian yang dipaksakan untukku. Akan kusebut diriku Aku dan disini aku ingin bicara tentang seekor binatang yang sama sepertiku, menerima nama yang dipaksakan untuknya yaitu Kambing. Tidak ada hubungan persaudaraan, pertemanan khusus ataupun permusuhan antara aku dan Kambing jadi tidak perlu khawatir dan curiga jika nantinya aku berpihak atau sebaliknya menjadi oposisi bagi si Kambing. Aku hanya ingin berbagi cerita.

Kambing yang akan kutanyai ini umurnya tidak lebih dariku, sengaja kupilih begitu agar lebih mudah bagi kami berbicara, berbagi cerita atau curhat istilahnya. Dan sebagai mana kambing-kambing lainnya, Kambing tidak bisa menikmati pendidikan sepertiku yang patut bersyukur karena mampu mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah. Saudaranya banyak karena bukan hanya bapak tapi ibunya adalah penganut poligami alias hidup dengan lebih dari satu pasangan, di luar pernikahan. Kalau meminjam istilah manusia kumpul kebo tapi disini sebut saja kumpul kambing. Pernikahan tidak penting di dunia perkambingan karena bapak tidak perlu bekerja dan menyekolahkan anaknya, ibu tidak perlu memasak dan menyuapi anaknya. Cukup kawin dan hasilkan banyak anak saja, semakin banyak semakin bagus.

Tidak ada tanggung jawab yang dibebankan pada si Kambing. Bapaknya tidak akan marah jika dia tidak berangkat sekolah, ibunya tidak akan mengomel meski dia membiarkan adiknya bermain sendirian. Tugasnya adalah makan apa yang diberikan padanya, melahirkan anak yang sekaligus adik baginya. Dia tidak punya televisi apalagi blackberry. Jika dia ketinggalan informasi tentu bisa dimengerti, jika dia gagap tehnologi siapa yang mau dicaci? Majikannya tidak memberi dan untuk meminta tentu dia tidak berani. Dia hanyalah objek, dilahirkan dan dibesarkan untuk tujuan sang majikan, memenuhi kebutuhan hidup majikan dan keluarganya.

Maka di sebuah kesempatan yang tiba-tiba datang aku ingin bertanya padanya, tentang hidup dan kemalasan yang begitu melekat di klannya secara turun temurun. Meski awalnya malu tapi Kambing menyetujui permintaanku, kubilang aku hanya ingin tahu dan membagi pada teman-temanku agar bisa tahu bagaimana perasaannya dan lebih bijak dalam memperlakukan keluarganya. Sebenarnya aku ingin duduk-duduk santai berdua agar pembicaraan kami bisa lebih santai, di sebuah kafe sambil minum jus atau minuman ringan yang aku yakin belum pernah dirasakannya. Terlalu banyak aturan dan yang menonjol selalu jadi sorotan, dibilang mencari perhatian. Maka biarlah aku duduk di hadapannya, di bawah sebuah pohon yang cukup lebat daunnya dan membiarkannya berdiri sambil sesekali menikmati dedaunan. Di suatu pagi, di sebuah desa.

Aku                   : Hi Kambing, gimana kabarmu?

Kambing           : Baik. Kamu?

Aku                   : Aku baik. Maaf ya kalau aku ngrepoti kamu tapi beneran aku pingin tahu, seperti yang kucerikan sama kamu kemarin.

Kambing           : Ah nggak papa, nggak repot wong aku ya nggak ngapa-ngapain. Tapi maaf juga            bisanya cuma seperti ini.

Aku                   : Bapak Ibu gimana kabarnya?

Kambing           : Baik. Lagi di rumah sama adik-adik.

Aku                   : Ehm, benernya gimana sih perasaanmu disebut sebagai binatang pemalas?

Kambing           : Gimana ya? Yang nyebut kan manusia, kalau kami sesama warga kambing nggak pernah nyebut diri kami pemalas. Dari jaman kakek moyang kami ya seperti ini kehidupan kami. Jadi kalau ditanya perasaanku gimana susah juga jawabnya, wong semua kambing mang seperti ini. Istilahnya peran kami memang seperti ini, makan biar gemuk trus bikin anak yang banyak.

Aku                   : Jadi memang belum pernah ada cerita, sejarah, tentang kambing yang berontak? Misalnya berusaha merubah keadaan atau kehidupan para kambing.

Kambing           : Sebagai kambing memang pengetahuan kami kurang, sangat kurang. Kalau manusia bisa belajar sejarah di sekolah atau dari televisi lewat tayangan-tayangan dokumenter tapi kami mana bisa? Sedang yang diberi setiap hari cuma makanan, tidak ada koran jadi bagaimana kami bisa tahu apa yang terjadi?

Aku                   : Betul, susah juga kalau begitu ya. Kalau denger-denger gitu pernah nggak?

Kambing           : Dulu pas kakek masih ada beliau pernah cerita ada seekor kambing yang protes pada majikannya. Dia nggak mau dikasih daun, pingin nasi kayak yang dimakan majikannya.

Aku                   : Terus apa yang terjadi?

Kambing           : Kakek bilang majikannya marah karena kambing nglunjak, nggak tahu terimakasih. Majikannya juga bilang kalau kambing ya makanannya daun bukan nasi, kalau mau makan nasi ya kerja. Bukan hanya itu si kambing langsung diseret ke rumah jagal, dipotong.

Aku                   : Wah kasian si kambing.

Kambing           : Cuma kamu yang bilang kasian. Kakek bilang itu sudah pantas diterima kambing itu karena dia sudah menyalahi aturan, menyalahi adat. Dari jaman diciptakan kambing memang makannya daun.

Aku                   : Tapi kan nggak harus dihukum dengan dipotong, disembelih?

Kambing           : Nggak juga. Itu bukan hukuman, garis hidup kambing kalau nggak dipotong ya mati karena penyakit atau mungkin kalau jaman dulu mati dimakan binatang buas.

Aku                   : (geleng-geleng kepala)

Kambing           : Itulah, kadang apa yang kita anggap tepat belum tentu tepat untuk orang lain begitu juga sebaliknya apa yang kita anggap salah belum tentu salah bagi yang lainnya.

Aku                   : Jadi kamu setuju dengan yang seperti ini, pemikiran seperti ini? Bahwa kambing memang hanya pantas makan daun dan tugasnya hanya makan dan beranak? Bahwa disembelih adalah takdir? Dan pemalas adalah nama lain dari kambing?

Kambing           : Jika kamu bicara padaku sebagai manusia tentu akan sulit mengerti tapi coba kamu bicara padaku sebagai kambing, akan lebih mudah melihat dan memahami situasi ini. Kita memang sama-sama makhluk ciptaanNya tapi tentunya kamu tahu derajat kaummu lebih tinggi dibanding kami para binatang, kambing khususnya.

Aku                   : Tapi aku tidak melihat seperti itu. Banyak kaumku yang bertingkah seperti binatang bahkan lebih keji dari binatang, tentunya bukan kambing karena kambing tidak termasuk binatang keji. Apa yang seperti itu masih bisa disebut lebih tinggi derajatnya?

Kambing           : Itu masalahmu, masalah kaummu. Bagi kami warga kambing, kami hanya menjalani peran kami sebaik-baiknya. Apa susahnya makan? Apa susahnya beranak? Hidup bagi kami begitu sederhana, tidak ada sakit hati, tidak ada iri dengki karena peran kami sama. Mana pernah kamu dengar ada kambing yang tawuran? Mana ada kambing yang rebutan pacar? Mana ada kambing yang mati bunuh diri? Nggak ada kan. Kami memang tidak pintar, tidak perlu pintar tapi kami cukup mengerti peran kami, tugas kami.

Aku                   : Betul, aku belum pernah dengar ada kambing yang depresi. Mereka begitu menerima keadaan mereka, bahkan tahan dengan bau tubuh mereka sendiri.

Kambing           : Kami disebut kambing karena apa? Bulu kami, kaki kami yang ada empat atau bau kami yang khas? Kurasa lebih pada bau kami. Jika kami bersih dan wangi masihkan kami pantas disebut kambing? Kamu disebut manusia karena apa? Berjalan dengan kaki, tubuh yang sempurna atau karena punya otak yang besar yang memungkinkan kalian para manusia untuk berpikir?

Aku                   :  (garuk-garuk kepala)

Kambing           : Bahkan setelah mandipun kamu masih merasa gatal. Tidak ada kambing yang terkena penyakit kulit padahal kami tidak pernah mandi.

Aku                   : Aku malu…aku malu karena kurasa aku belum pantas menyebut diriku manusia. Kenapa kamu tidak mendirikan sekolah saja?

Kambing           : Sekolah hanya untuk manusia agar bisa mengasah otaknya dan membuatnya berfungsi sebagai mana tuhan menciptakannya, agar bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Aku                   : Kalau begitu kamu mengajar saja, mengajar di sekolah-sekolah manusia. Bagaimana?

Kambing           : (tertawa) Kamu lucu, sejak kapan ada kambing yang mengajar manusia?

Aku                   : Sejak kamu. Aku bisa mengenalkanmu pada pemilik sekolah-sekolah. Akan kuceritakan pada mereka kalau kamu bukan kambing biasa, kamu istimewa.

Kambing           : Jangan lakukan itu, tidak akan ada yang percaya. Bisa-bisa kamu malah dianggap gila.

Aku                   : Aku percaya, aku yakin kamu bisa membagi ilmumu dan membuat manusia-manusia gadungan sadar. Kamu sudah menyadarkanku. Kamu bisa.

Kambing           : Tidak perlu. Kamu bisa cerita pada teman-temanmu, tidak perlu aku yang bicara sendiri. Lagipula aku tidak bisa, aku tidak mau melalaikan tugasku.

Aku                   : Tapi mereka tidak akan percaya jika aku yang bicara, mereka pasti ingin bukti dan kamu bisa membuktikan pada mereka.

Kambing           : Bukti seperti apa? Bukti buatan manusia? Lihatlah sekelilingmu, apa yang seperti itu masih belum bisa disebut sebagai bukti? Apa harus semuanya disodorkan di depan matamu baru kamu bisa percaya? Sungguh naïf, sedang yang terpampang bukan hanya bisa dilihat tapi juga sangat terasa. Kurasa aku beruntung menjadi seekor kambing, setidaknya mataku masih bisa melihat dengan jelas dibanding mereka yang bermata sempurna tapi enggan melihat.

Aku                   : Aku iri padamu Mbing. Kamu tidak sakit hati ketika semua orang mengolok keluargamu. Kamu tetap tegar meski kaummu dihabisi satu persatu. Kamu dengan segala keterbatasanmu ternyata lebih bisa berpikir dengan jernih daripada mereka yang berkoar, mengaku berpendidikan.

Kambing           : Karena aku kambing dan kamu manusia. Tidak ada yang perlu diirikan, jalani peranmu dan tunjukkan bahwa kamu pantas disebut manusia.

Aku                   : (menangis terharu) Apa kami sudah cukup baik memperlakukanmu?

Kambing           : Seperti yang kubilang jangan sesali kematian kami karena disembelih adalah takdir sekaligus kehormatan bagi kami, setidaknya lebih terhormat dari mati bunuh diri karena tidak kuat menahan sakit hati ataupun malu. Kami lebih menghargai hidup kami.

Aku                   : Kamu benar-benar tidak ingin merasakan nasi? Aku bisa memberimu.

Kambing           : Apa kamu juga ingin merasakan daun mentah seperti kami untuk bisa merasakan kehidupan kami? Kurasa tidak. Tidak harus seperti itu untuk bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, cukup buka mata juga hatimu. Jangan enggan melihat, jangan segan belajar. Yang tak terlihat belum tentu tak ada dan yang terlihat belum tentu yang sebenarnya.

Aku                   : Terimakasih Mbing, kamu sudah membuka hatiku.

Kambing           : Sama-sama, aku juga berterimakasih karena kamu mau meluangkan waktu untuk pembicaraan ini. Dengan ini kuharap tidak ada lagi yang salah paham dan lebih menghargai satu sama lainnya.

Aku                   : Bolehkah aku memelukmu?

Kambing           : Kamu tidak takut bau?

Aku                   : Aku bahkan lebih bau dari kaummu, perkenankan aku saudaraku.

Kambing           : Baiklah.

Aku dan Kambing pun berpelukan.

Ini memang bukan pembicaraan kami yang pertama dan aku semakin yakin akan menyiapkan lebih banyak pertemuan lagi dengannya. Jika belajar bisa lebih mudah dan murah seperti ini tentunya akan banyak anak manusia yang pintar serta berwawasan luas. Anak manusia yang kritis dalam berpikir dan tetap berpegangan pada nurani ketika bertindak karena kata mungkin tidak salah tapi memaksakan kehendak tentunya juga tidak benar. Berlomba-lomba untuk didengar tapi tidak mau mendengar tentu juga tidak adil.

Kambing harus kembali ke rumah yang kita sebut kandang. Kembali pada keluarga besarnya, yang meski kadang bingung kita menyebutnya tapi tak membuat mereka kesulitan mengenali kaumnya. Kambing ini memang istimewa, setelah apa yang kami bicarakan bersama, tapi aku yakin masih banyak kambing-kambing lain yang juga tidak biasa. Kambing yang tidak peduli bagaimana manusia menyebutnya tapi begitu menghargai hidupnya. Kambing yang derajatnya disebut lebih rendah dari kita tapi mampu menunjukkan bahwa apa yang dilabelkan tidak lebih hanya bukti buatan manusia. Pantas tidak kita menyandang gelar sebagai manusia kurasa hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Advertisements

3 thoughts on “PERCAKAPAN ANTARA AKU DAN KAMBING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s