“JUAL DIRI”

Pernahkah kalian merasakan dirimu yang “terhormat” menggelar dagangan di pinggir jalan?  Mungkin membayangkan saja belum pernah, tidak berani, tidak mau atau mungkin malu. Tak sepagi burung yang mencari cacing untuk sarapan tapi tak juga menyiakan waktu yang tidak perlu dikakukan. Datang dan berangkat. Sampai dan langsung siap-siap. Tak terpikirkan sebelumnya, tak mau berangan-angan kalau jadi ya sudah tinggal jalan saja. Meski sempat kaget juga heran, tak menyangka ternyata sebuah semangat bisa begitu menggetarkan, akhirnya terbawa juga atas nama persahabatan dan sebuah pengalaman yang tak ternilai dengan uang.

Pernahkah membayangkan dirimu yang selama ini terlindungi ego-ego tentang keakuan, bahwa kamu terlalu mulia untuk disiakan, bahwa harga dirimu akan langsung sirna dan seolah dihinakan seperti sedang dipertaruhkan? Tak berani bilang mudah, meski kaki tetap berjalan dan mulut tak sedikitpun mengeluarkan kritikan, hanya ingin merasakan sebuah pengalaman yang aku yakin juga tak mudah bagi semua orang yang pertama kali melakukan. Bukan untuk sebuah tuntutan, itu kenapa kadang ego memaksa tak ingin dilecehkan tapi tak mencoba tentu saja akan membuat ego semakin membesarkan kepala seolah-olah dia raja padahal dia tahu dia bukan apa-apa.

Pernah merasakan semua pandangan seolah-olah hanya tertuju padamu? Semua tindak tandukmu, penampilanmu, cara bicaramu menimbulkan banyak tanya tentang apa yang kamu lakukan, siapa kamu, kenapa kamu mau melakukannya atau bahkan rasa belas kasihan. Jangan bilang terpandang, terlalu berat menghargai diri karena terpandangmu bukan harga mati. Terpandang adalah sebuah topeng yang diberikan setan agar ego seperti kita kehilangan kesempatan untuk mengenali diri, menyiakan sebuah kesempatan meski mungkin kesempatan itu tidak ingin atau tidak akan kita lakukan selama hidup di dunia ini.

Pernahkah kalian merasakan sebuah pengalaman yang mungkin bagi orang lain memalukan tapi ternyata sangat mengasyikkan? Tidak kutemukan standart malu yang jelas karena dia tidak bisa ditimbang. Setiap kita mempunyai kadar yang berbeda dan cara pandang yang tak sama tentang sesuatu yang kita sebut “memalukan.” Mungkin orang tuaku akan malu, mungkin kakakku akan terluka, mungkin teman-temanku ikut merana, mungkin, karena masih ada satu kemungkinan lagi bahwa bisa saja orang tuaku bangga, bisa saja kakakku gembira atau teman-temanku justru bersorak dan hanya bisa membayangkan “andai aku juga bisa seperti dia.”

Pernahkah membayangkan kalian “menjual diri,” meletakkan harga diri yang biasanya begitu tinggi di pinggiran jalan hanya beralas koran? Seolah harga diri yang dipupuk dari dini hilang dalam satu hari. Tidak salah tentunya menghargai diri, menjaga harga diri tapi apa kalian yakin bahwa yang selama ini kalian lakukan adalah menjaganya bukan sebaliknya membunuhnya? Sering kubilang kita adalah individu yang istimewa meski kebanyakan kita tidak merasa tapi jika tidak kau “jual diri”mu lalu bagaimana bisa orang mengetahuinya? Bahkan dalam sebuah wawancara kerja kita diminta menjual diri sebaik-baiknya. Maka “menjual diri”ku adalah sebuah jalan menunjukkan sejauh mana kemampuanku memanfaatkan “keistimewaanku,” menantang diriku yang selama ini terlalu kaku.

Aku pernah merasakan itu semua. tak pernah kubayangkan sebelumnya, memikirkannya saja aku tak bisa tapi aku melakukannya. Tak kubilang mudah meski kali ini aku tidak ingin terlalu banyak berpikir, cukup lakukan saja. Aku pernah dan aku tak ingin ragu untuk melakukannya lagi. Jika hidup hanya sekali aku tahu aku bakal rugi jika membuang sebuah pengalaman demi sebuah pelajaran yang berharga ini. Tak kujumpai di hidupku sebelumnya tapi ingin kutemui di hidupku selanjutnya jika waktuku masih lama aku tak ingin mati sia-sia. Jangan kasihani orang-orang sepertiku tapi kasihanilah diri yang tak pernah memberi kesempatan untuk sebuah jiwa yang ingin berekpresi. “Kujual diriku” dan kutantang diriku karena ingin kulihat sejauh mana aku mampu demi menantang tuhanku untuk sebuah jawaban tentang seberapa besar dia menyayangiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s