KUTUKAN SI KUNTI seri 10

“Masuk Den,” Pak Juki mempersilahkan Parian dan Tikno.

“Trimakasih Pak,” jawab Tikno.

Pagi ini Tikno dan Parian mendatangi rumah Pak Juki, salah satu warga Bajul yang anaknya sedang sakit. Rumah Pak Juki tidak berbeda dengan rumah-rumah yang ada di kota Bajul. Sebuah petak yang tidak begitu luas dengan dinding semi permanen. Pak Juki hanya tinggal dengan anak gadisnya. Istri Pak Juki meninggal dunia sebulan lalu ketika musibah yang disebut-sebut warga sebagai kutukan menyerang warga Bajul.

Sumi nama anaknya. Umurnya sekitar dua puluh tahun. Saat ini dia hanya bisa tergeletak tak berdaya di atas kasurnya yang tampak kumal. Panas badannya tidak pernah turun. Dia selalu menolak jika bapaknya menawari makan, dia hanya ingin minum. Sepertinya dia sangat kepanasan sehingga kehausan. Kondisi ini menyebabakan tubuh Sumi menjadi kurus. Kulit Sumi yang putih tampak semakin pucat, seperti tanpa darah.

“Boleh saya periksa sekarang?” tanya Parian pada Pak Juki.

“Silahkan Den.”

Parian duduk di pinggir ranjang sedang Tikno membantu mengeluarkan peralatan medis yang mereka bawa. Sumi ketakutan dan mulai meronta ketika Parian mencoba memegang lengannya. Matanya menatap tajam pada dokter muda itu. Parian tersenyum mencoba menenangkannya sambil mengatakan kalau dia ingin membantu. Sejenak Sumi berhenti meronta. Dipandangi bapaknya yang berdiri di samping Tikno. Pak Juki mengangguk, mengisyaratkan semua akan baik-baik saja. Sumi terdiam, dia mulai tenang. Parian pun melanjutkan memeriksa gadis itu.

“Sudah tidak apa-apa. Kamu akan segera sembuh,” kata Parian pada Sumi. Sumi diam.

“Bagaimana Den? Apa dia akan baik-baik saja?” Pak Juki sepertinya sudah tidak sabar.

“Bapak tenang dulu,” kata Tikno.

Mereka bertiga keluar dari kamar Sumi untuk kemudian duduk kembali di ruang tengah. Pak Juki masih belum bisa tenang.

“Rasa saya, kami bisa membantu anak bapak juga warga Bajul lainnya. Bapak tidak perlu khawatir nanti bapak tinggal beri obatnya sesuai dengan yang akan saya berikan,” kata Parian.

“Bagaimana Yan? Kamu sudah tahu sakitnya?” tanya Tikno.

“Nanti kita bicarakan di puskesmas saja. Tolong berikan obat yang sudah kutulis ini pada pak Juki.”

“Baik.”

Setelah berpamitan Parian dan Tikno memutuskan langsung kembali ke puskesmas. Dan seperti yang sudah dikatakan oleh Parian di puskesmas dia dan Tikno membahas penyakit yang menyerang anak Pak Juki juga warga Bajul lainnya. Seperti yang telah dikatakan Tikno sebelumnya bahwa warga Bajul diserang penyakit dengan cirri-ciri yang sama yaitu demam tinggi sehingga menyebabkan penderitanya mengigau dan merasa kepanasan. Sejak belum berangkat ke kota Bajul Parian sudah mencurigai penyakit yang diderita warga tapi karena belum memeriksa langsung dia tidak berani gegabah.

Penyakit ini memang tergolong baru dan cepat sekali penyebarannya. Sebagai seorang dokter yang bertugas di kota kabupaten, rumah sakit Njotangan sering sekali menerima rujukan pasien dari kota kecil atau desa-desa lainnya. Dan akhir-akhir ini rumah sakit sering menerima pasien penyakit Flu Anjing. Penyakit yang diakibatkan oleh virus BH39C ini memyebabkan penderitanya mengalami demam tinggi dan dalam waktu kurang dari dua minggu jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian. Demam yang tinggi menyebabkan organ dalam terbakar sehingga tidak mengherankan jika penderitanya mengeluh kepanasan karena rasanya memang seperti orang yang dibakar hidup-hidup.

Para pakar juga sudah meneliti virus BH39C ini dibawa oleh anjing-anjing liar yang tidak terjaga kebersihannya. Perkembangan terakhir menunjukkan virus yang sebelumnya hanya bisa menular antar anjing ternyata telah mengganas dan menyerang manusia. Penyebarannya yang sangat mudah yaitu melalui udara menyebabkan penyakit ini menjadi momok yang sangat menakutkan. Beruntung sekali saat ini karena para pakar kesehatan telah berhasil menemukan obatnya. Dan Parian yang memang sudah curiga telah mempersiapkan diri dengan membawa obat tersebut sebanyak-banyaknya.

Malam itu mereka langsung menggelar pertemuan dengan para perangkat desa dan kecamatan. Obat dibagi-bagikan gratis kepada masing-masing perangkat desa untuk kemudian diberikan ke warga mereka. Selain itu Parian juga memberi penyuluhan agar warga lebih menjaga kebersihan terutama anjing yang memang banyak menjadi binatang peliharaan warga Bajul. Dia menghimbau warga agar tidak tidur dengan anjing, menciumi anjing atau berbicara pada anjing. Kalaupun terpaksa harus berhubungan dengan anjing disarankan untuk memakai brongkos atau penutup mulut dan hidung.

Warga Bajul telah mendapatkan harapan baru. Tidak butuh waktu lama karena obat yang dibawa oleh Parian terbukti sangat manjur. Warga mulai beraktivitas lagi. Anak-anak tidak lagi takut untuk keluar rumah bahkan sudah mulai sekolah lagi. Kota Bajul seperti terlahir kembali. Tidak ada lagi kutukan bagi mereka. Warga sadar kalau apa yang menimpa mereka bukan kutukan tetapi penyakit yang memang sedang mewabah di seluruh penjuru negeri.

Sebagai ungkapan rasa terimakasih atas keberhasilan Parian dan Tikno menyelamatkan warga Bajul dari wabah penyakit Flu Anjing, Pak Camat memberi cuti khusus untuk Tikno agar bisa berlibur. Sedang untuk Parian Pak Camat sudah menyiapkan sebuah bingkisan sebagai kenang-kenangan. Tikno yang sejak ditugaskan di kota Bajul tidak pernah mendapat kesempatan liburpun menyambut gembira berita itu. Dia berencana pulang ke desa untuk menemui kedua orang tuanya. Parian yang masih mempunyai sisa waktu dari cuti yang telah diberikan oleh kepala rumah sakit Njotangan akan ikut Tikno karena selama ini dia memang tidak pernah main ke rumah temannya itu.

***

“Jamu!Jamu!” seorang gadis tampak berteriak menawarkan jamu. Panas matahari yang mulai menyenggat diacuhkannya. Sesekali diusap peluh yang mulai membasahi dahinya. Dengan bakul yang diikat di belakang punggungnya gadis itu berjalan menyisiri rumah-rumah penduduk.

“Jamu!” seseorang tampak melambaikan tangan ke arah si gadis penjual jamu dari halaman rumahnya.

“Iya sebentar,” jawab si gadis sambil bergegas masuk ke halaman rumah orang yang memanggilnya tadi. Bibirnya menyunggingkan senyum. Sepertinya dia begitu bahagia hari ini.

“Jamu anti mlarat Par,” kata si pembeli yang ternyata seorang ibu berumur sekitar tiga puluhan dengan tubuh yang lumayan tambun.

“Ono-ono ae to Yu, opo ono jamu ngono iku,” jawab Pari. Ternyata mereka sudah saling kenal. Pembeli tadi adalah langganan Pari. Dia adalah pembeli pertama yang merasakan segarnya ramuan yang dibuat Emak Mat sejak pertama mereka memutuskan berjualan jamu.   Pari tampak sigap meladeni pembelinya. Dia sudah hapal betul pesanan Yu Mini. Namanya terdengar aneh saat ini karena dilihat dari tubuhnya yang tidak menunjukkan keminian sama sekali.

“Iki Yu jamune,” kata pari sambil menyodorkan segelas jamu yang telah disiapkannya.

“Piye to Par, aku ki wes ngombe jamumu meh seminggu lo tapi kok ora kuru-kuru,” kata Yu Mini.

“Sabar Yu. Jamu iki dudu garai kuru tapi singset kan luwih tepak to iku. Lek sampeyan kuru yo malah ora sip to,” rupanya Pari sudah mulai pintar merayu.

“Iso ae awakmu, cek payu yo?”

“Lha mosok dodolan ora pingin payu to Yu. Tapi tak jamin lek sampeyan sregep ngombe jamu iki awaken sampeyan pasti sip, ngene,” kata Pari sambil menunjukkan jempolnya.

“Iso koyo awakmu ora?”

“Iso to Yu lha aku koyok ngene kan karena ben dino ngombe jamune Mak.”

“Sakjane hubunganmu karo Mak’e Mat iku opo to Par? Biyen-biyen kok ra tau eruh awakmu?” tanya Yu Mini.

“Dulur adoh Yu, ancen biyen gak tau dolen baru saiki ae. Wes yo Yu aku tak mubeng dhisik ngko selak awan tambah panas,” kata Pari minta pamit.

“Yo wes. Iki,” kata Yu Mini sambil memberikan beberapa keping uang.

“Suwun Yu yo.”

“Sesuk ojo lali, mampir maneh.”

“Iyo. Wes aku pamit.”

Pari pun melanjutkan berjualan. Saat ini rutinitas seperti inilah yang dilakukan Pari. Keliling desa untuk menjajakan jamu. Mesti melelahkan tapi dia kelihatan sangat menikmati pekerjaannya. Dia senang karena bisa membantu mencari tambahan untuk keluarga Emak yang telah menolongnya. Lebih-lebih dia juga senang karena badannya terasa semakin enteng. Dia merasa sangat kuat. Bahkan dia lupa seperti apa rasanya sakit. Saat ini tubuhnya seperti sedang berkembang. Tidak ada lagi Pari yang kurus kering, pucat dan mudah capek. Dia sudah berubah menjadi gadis semampai yang sehat dan ceria. Tidak heran jika jamunya selalu habis karena banyak yang ingin seperti dirinya, seperti salah satu pelanggannya tadi yaitu Yu Mini yang menggilai mempunyai badan ramping dan singset.

“Jamu!Jamu!” Pari mulai menawarkan jamunya lagi.

“Jamu!” terdengar seseorang memanggil.

Pari menoleh mencoba mencari suara yang memanggilnya. Tapi dia kecewa karena dia tidak melihat siapa-siapa. Mungkin orang iseng pikirnya. Pari pun melanjutkan perjalanannya. Baru beberapa langkah saja tiba-tiba terdengar suara lagi.

“Jamu!”

Pari menghentikan langkahnya. Dipandangi sekelilingnya. Sepi. Dia tidak melihat ada orang. Ditarik nafas agak panjang, dia mulai kesal. Kenapa ada juga orang yang kurang kerjaan mengisenginya. Sejak tinggal di rumah Emak Pari bersyukur karena dia tidak lagi mendapat perlakuan-perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang-orang. Bahkan mereka terlihat begitu menyukainya. Setelah memastikan benar-benar tidak ada orang Paripun mulai berjalan lagi. Tapi sekali lagi baru beberapa langkah saja suara panggilan itu terdengar lagi. Kali ini Pari benar-benar jengkel. Hampir saja dia memaki kalau tidak ingat bahwa dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak memaki lagi. Sekarang dia adalah Pari bukan Jalang.

Mengetahui Pari begitu kesal orang yang sejak tadi menggodanya pun muncul. Ternyata sejak tadi dia bersembunyi di semak-semak yang memang banyak terdapat di sepanjang jalan desa ini. Laki-laki itu muncul sambil menahan tawa. Baginya menggelikan sekali melihat dia telah berhasil menggoda Pari, membuat Pari marah. Dia masih cenggengesan sampai dia sadar kalau Pari hanya melotot saking kesalnya.

“Anu…jamu Mbak,” kata laki-laki itu masih tertawa.

“Kon iku opo’o sih Mat? Mulih kono ojo ganggu wong kerjo!” kata Pari marah.

“Ngono ae nesu. Guyon,” Mat masih tidak merasa bersalah.

Pari diam dia masih geram dengan tingkah laku Mat yang menurutnya sangat tidak dewasa. Tapi dia tidak mau terpancing karena bagaimanapun juga dia merasa berhutang budi pada Mat dan keluarganya. Mungkin kalau dia masih Jalang sudah habis Mat dicaci atau dihajarnya tapi sekarang dia adalah orang lain. Dia harus bisa menahan diri. Mat yang sadar Pari benar-benar marah mulai salah tingkah.

“Sepurane Mbak,” katanya meminta maaf. Pari hanya diam. Bergegas dia melanjutkan kembali menjual jamunya. Diacuhkannya Mat yang masih terpaku karena rasa bersalahnya. Dia hanya ingin menggoda Pari tidak bermaksud membuatnya kesal. Dan dia baru menyadari kalau dia telah melakukan kesalahan.

“Mbak Pari sepurane sing akeh yo,” katanya lagi.

Pari terus saja berjalan sambil menawarkan jamunya. Udara semakin panas ditambah hatinya yang ikut panas karena kesal dengan ulah Mat. Pari telah mendapatkan hidup baru dengan tinggal di rumah Emak dan dia bersyukur sekali tapi satu yang membuatnya sedikit kecewa yaitu tingkah laku Mat yang sering membuatnya kesal. Belum lagi ditambah dengan tingkah Ulul yang kadang juga aneh. Sering tiba-tiba Ulul seperti memusuhinya seolah-olah dia telah berbuat salah padahal Pari ingat betul dia tidak melakukan kesalahan apapun. Pernah sehari penuh Ulul tidak menyapanya setelah sebelumnya dia melihat Pari sedang bercakap-cakap dengan pemuda tetangga rumahnya. Sepertinya dia tidak terima jika Pari berbicara dengan laki-laki lain.

Kadang Pari juga bertanya apa salahnya meski pada akhirnya dia juga malas memikirkannya. Baginya saat ini adalah hidup baru dan dia ingin melupakan segala sesuatu yang membuatnya kesal. Dia tidak ingin seseorang atau perasaannya sendiri merusak kenikmatan yang baru dia rasakan, kenikmatan atas hidup baru yang dia jalani saat ini. Meski kadang itu juga tidak mudah.

“Mbak, sek nesu to?” Mat masih saja membuntuti Pari.

“Lek kon sik ngetutno ae ngko tak kandakno Mak. Cek diseneni awakmu. Wes ta lah mulio kono,” akhirnya Pari pun berbicara.

“Tapi sampeyan gak nesu to?” tanya Mat.

Pari menghentikan langkahnya. Pantas saja Emak sering marah-marah, Mat memang sangat menyebalkan. Dan saat ini kesabaran Pari lah yang sedang diuji. Dia menghela nafas panjang.

“Ora. Wes ndang muleh.”

“Sumpah?” Mat masih belum percaya.

Pari diam, matanya melotot.

“Sumpah ga nesu maneh?” Mat masih mendesaknya.

“Ora.”

“Asik!” teriak Mat kegirangan. Dia meloncat-loncat seperti anak kecil yang baru dibelikan balon. Pari hanya memandanginya. Melihat Mat akan membuat suasana hatinya buruk maka diputuskan secepatnya pergi melanjutkan menjual jamunya yang masih belum habis. Mat tidak sadar kalau Pari sudah jauh meninggalkannya. Begitu sadar dia tampak garuk-garuk kepala.

“Jamu!” teriaknya kemudian sambil tertawa.

***

“Kon ndelok Tung gak Moi?” tanya Cendol.

“Gak Ndol opo’o?”

“Tak delok jadwale mlebu jam limo tapi kok tak delok nang pos’e gak ono. Nang ndi arek iku?” tanya Cendol cemas.

“Gak mlebu paling. Aku mau yo mlebu jam limo kok dan gak ketok blas ket mau.”

“Arek iku akhir-akhir iki aneh, aku wedi lek ono opo-opo.”

“Opo’o ndol?” Runa yang tiba-tiba muncul ikut bertanya.

“Iki lo Tung, arek iku lak kerep meneng ae saiki. Iki yo wayahe mlebu jam limo tapi gak ono.”

“Aku yo ora ketok ket mau brarti ancen gak mlebu arek’e,” kata Runa.

“Lapo yo arek iku?”

“Ssttttttttttttt”

Salah seorang pengawas yang ada di dekat Cendol mengisyaratkan agar mereka tidak berisik. Cendol, Moi dan Runa yang sedang bercakap-cakap pun menghentikan pembicaraan mereka.

“Meneng ono ulo ngko dicokot he..he.he.”

Runa dan Cendol hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“Ngko ae muleh kerjo diparani nang omahe,” kata Runa berbisik.

“Aku gak iso soale wes dienteni Boio. Awakmu ae yo Kun, tulung deloken.”

“Okeh.”

“Sstttttttttttttttttttt.”

“Wes meneng-meneng ulone tambah akeh.”

Hari ini Tung tidak masuk kerja. Setelah usaha bunuh diri yang gagal dia lakukan pagi ini dia memutuskan tinggal di gubuknya. Meski tidak lagi seemosi sebelumnya tapi perasaan Tung belum membaik. Dia masih sedih. Tung tergolek di gubuknya yang terasa dingin. Dia sedang malas ke pabrik. Di saat seperti ini bekerja akan memperparah keadaannya. Dia tahu betul pelanggan yang masuk ke Kleleken Senter seperti apa dan dia sedang tidak ingin berbasa-basi.

Di tengah lamunannya tiba-tiba bayangan laki-laki itu muncul. Laki-laki yang menolongnya tadi. Pagi memang masih petang tapi setidaknya Tung bisa sedikit menangkap wajah laki-laki tadi. usianya mungkin sekitar seperempat abad, tinggi dan lumayan tampan. Entah apa warna kulitnya. Tung kembali membayangkan betapa nyamannya di pelukan laki-laki tadi. Dia merasa terlindungi. Perasaan hangat kembali menjalarinya. Sudah lama rasanya Tung tidak merasakan perasaan nyaman seperti tadi. Dia terlalu disibukkan oleh hidup yang merenggut kebahagiaannya.

Siapa laki-laki itu? Andai dia punya seseorang yang bisa melindunginya betapa bahagianya, pikiran Tung masih melayang. Tiba-tiba dia ingat laki-laki yang dulu pernah mengisi hidupnya, Bang Sat. Hatinya kembali nelangsa. Dia telah ditinggalkan oleh orang-orang yang dia sayangi. Entah apa masih bisa bertemu. Bayangan laki-laki itu tiba-tiba muncul lagi, kata-katanya tergiang-giang di telinga Tung. Masih ada harapan, apa benar pikirnya.

Di sebuah kamar nampak seorang laki-laki muda sedang terbaring. Kamarnya begitu rapi, tenang dan nyaman kontras sekali dengan pemiliknya yang sepertinya sedang gundah.  Kadang matanya terpejam semenit kemudian dia menghela nafas panjang sepertinya sedang ada yang mengganggu pikirannya.  Tak jarang dia membolak-balik tubuhnya seolah mencari posisi yang tepat tapi sepertinya semua posisi sudah dia coba dan tak satupun bisa membuatnya nyaman.

Dia bangun, duduk di bibir kasurnya yang dibiarkan terbentang di lantai kamar tanpa dipan. Tapi itu tidak bertahan lama, dia kembali membanting tubuhnya di kasur yang sepertinya sangat empuk. Umurnya kurang lebih dua puluh lima tahun. Rambutnya yang lurus, agak gondrong dan sedikit acak-acakan. Kulitnya bersih dengan wajah yang lumayan tampan. Sekilas saja sudah bisa dilihat dia berasal dari keluarga yang cukup berada.

Lamunannya masih saja menggelana. Dia ingat kejadian pagi ini. Dia ingat seorang gadis dengan wajah sendunya. Gadis yang mencoba mengakhiri hidupnya. Pertemuannya dengan Tung rupanya begitu membekas. Dia tidak habis pikir bagaimana seorang gadis secantik bisa berpikir untuk bunuh diri. Ditepuk jidatnya ketika dia merasa pikirannya semakin kacau. Kenapa dia ingat gadis itu terus. Dia memang cantik tapi dia tidak mengenalnya lagipula dia tinggal di pinggir Kali Buthek tempat yang akan menimbulkan kesan buruk bagi siapa saja yang mendengarnya.

“Sat! makan nak,” sebuah teriakan wanita mengagetkan laki-laki itu.

“Nanti saja bu,” jawabnya malas.

“Kamu kan belum makan dari tadi nak,” wanita itu masih menyahut dari luar kamar.

“Masih malas.”

Wanita itu hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban dari anak laki-lakinya.

Satya Prawira nama laki-laki itu. Laki-laki yang telah menolong Tung. Laki-laki yang saat ini tidak bisa tidur tenang karena memikirkan perjumpaannya dengan Tung.  Malam ini Satya telah memutuskan besok dia akan menemui Tung. Dia ingin tahu apakah gadis yang baru dia tolong itu baik-baik saja. Dia ingin sekali melihatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s