DIARY SEORANG KUPU-KUPU MALAM

Kuhempaskan tubuhku ke atas kasur. Kasur? Jika yang seperti ini masih bisa disebut kasur. Capek sekali. Kucoba memejamkan mataku tapi entah kenapa mata ini sepertinya sedang tidak bersahabat. Hari ini memang sial sekali. Hampir semalam suntuk aku memasang umpan tapi tak seorangpun yang tertarik memakannya.  Kuambil tasku dan mengeluarkan isinya. Lipstik, sisir, bedak, sebungkus rokok, dompet yang entah tinggal berapa ribu isinya, tak ketinggalan pengaman sisa pembagian dari seorang pekerja dari lembaga sosial yang sering sekali datang ke tempatku bekerja, langsung berhamburan. Kuambil tempat bedakku, sejenak kuamati bayangan yang muncul di cerminnya. Lesu. Kubanting benda yang selalu menemaniku pergi itu tanpa menutupnya.

Anganku mulai melayang ke masa lalu. Masa yang tak mungkin kulupa, masa yang merubah hidupku seratus delapan puluh derajat. Aku yang dulu seorang gadis yang hampir mempunyai segalanya, cantik, kaya, digilai banyak laki-laki tapi sekarang? Aku tak pernah menyangka hidup yang begitu sempurna akan hancur tak tersisa.  Kuambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Saat seperti ini rokok adalah benda yang paling kuinginkan. Kepulan asap mulai memenuhi kamarku, membuatnya tambah pengap.

“Uhuk..uhuk,” aku mulai terbatuk. “Jangkrik!”

Melihatku saat ini pasti membuatmu mual. Make up tebal yang mulai luntur karena murahan, rambut panjang dengan cat merah menyala yang sudah acak-acakan, perut yang tidak bisa dibilang langsing dalam balutan kaos dan celana super ketat. Belum lagi wajah yang meski masih menyisakan gurat-gurat kecantikan tapi mulai lapuk dimakan usia. Semua ini karena laki-laki sialan itu.

Sekali lagi, “Jangkrik!”

Mengingatnya membuatku pingin muntah, muak. Kalau saja, ya kalau saja saat itu aku tidak tergoda rayuannya pasti aku tidak akan seperti ini. Saat ini aku pasti sudah punya dua atau tiga anak, suami yang sabar dan penyayang, rumah yang dipenuhi bunga dan tentunya sudah menikah. Tapi lihat keadaanku sekarang. Aku tidak lebih dari seorang perempuan kisut dalam sebuah kamar yang mungkin lebih tepat disebut gubuk, yang hari-harinya hanya ditemani kepulan rokok dan malamnya dihabiskan di pinggir jalan, menunggu laki-laki yang butuh kehangatan.

Laki-laki itu. Laki-laki sialan itu. Tidak, aku tidak akan menyebutkan namanya. Najis. Dua puluh tahun lalu dia datang dengan sejuta rayuan. Jalan-jalan, makan di warung sambil cekikikan karena harus kuakui dia memang pintar membuatku tertawa atau bahkan hanya duduk sambil ngobrol, hampir tiap hari itulah yang kami lakukan. Dia tidak tampan tapi perhatiannya, kata-kata manisnya, telah menyeretku untuk menikmati sesuatu yang belum waktunya kurasakan.

Dia meninggalkanku ketika aku bilang aku telat dua bulan. Jangkrik. Karena malu orang tuaku yang memang terpandang memaksaku menggugurkan kandungan, kesalahan terbesar kedua dalam hidupku. Dan ternyata aku memang tidak pintar mengambil pelajaran. Hal yang sama berulang beberapa kali. Aku jatuh dari laki-laki satu ke lainnya. Bagiku semua itu hanya pelampiasan, hanya permainan, ya hidupku adalah sebuah permainan. Keluarga mengusirku. Aku yang sudah rapuh semakin terpuruk dan akhirnya membuatku jatuh ke lembah nista ini. Aku sudah tidak peduli. Aku dendam.

Dan disinilah aku. Hidup semakin sulit untuk perempuan malam seusiaku. Saingan yang semakin banyak, muda, cantik dan singset. Malam seperti ini, ketika aku harus pulang tanpa sepeserpun sudah biasa kualami. Nasib. Kulihat dinding kamarku yang hanya terbuat dari kardus. Secarik kertas lusuh tampak menempel di dinding yang penuh dengan gambar-gambar artis yang kuambil dari kalender. Coretan itu masih tampak jelas.

Dalam gelap ketika sebagian manusia mulai terlelap dibuai mimpi. Seorang perempuan yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi justru sedang memulai harinya. Perempuan yang capek menjadi perempuan. Perempuan yang mengutuk kelaminnya. Baginya hidup tak lain adalah siksaan. Baginya hidup hanyalah penantian semu menuju dunia yang lebih kekal, lebih bebas.

Tak seorangpun yang peduli pada si perempuan. Tak seorangpun menginginkannya. Tidak ibu yang telah melahirkannya. Tidak ayah yang dulu menanti kelahirannya. Bahkan dia sendiri telah muak, jijik dengan dirinya.

Perempuan ini adalah perempuan malam yang kau temui di bawah remang rembulan. Perempuan ini adalah perempuan yang mencari sesuap nasi dari peluh-peluh yang menjijikkan. Perempuan ini, perempuan malam. Perempuan inilah yang kalian sebut kupu-kupu malam. Perempuan inilah aku.

Advertisements

2 thoughts on “DIARY SEORANG KUPU-KUPU MALAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s