KUTUKAN SI KUNTI seri 9

Aku sudah tidak tahan. Menahan beban ini sendirian aku tak kuasa. Bilang aku manja, bilang aku kalah karena sesungguhnya aku juga tak pernah merasa menang. Kupikir dua sudah cukup untuk menghadapi dunia tapi satu aku benar-benar tak berdaya. Maafkan aku Tuhan jika kau benar ada. Karena aku tak lagi sanggup menerima hidup yang tak lagi bernyawa. Biarkan aku pergi dan jangan mengutuk. Kalau aku hidup esok hari kan kuterima itu sebagai mimpi yang baru. Jangan bilang aku sesat, aku hanya sedang memilih. Saat ini, inilah pilihanku.

Tung melipat selembar kertas yang baru ditulisnya. Bukan sebuah surat karena tak beralamat. Diselipkan kertas itu di balik dinding gubuk. Dipandangnya sejenak seluruh isi gubuk. Tak banyak yang dia punya, hampir kosong sekosong jiwanya. Air matanya mengalir tak tertahan. Dia benar-benar tertekan. Tak lama kemudian dia berjalan, keluar dari gubuk. Hari masih begitu gelap. Matahari belum tampak sedikitpun. Dia berjalan menyisiri sungai Kali Buthek. Dipandanginya lagi sekelilingnya. Bumi masih lelap dalam dingin pagi yang merayap.

Tung naik ke atas jembatan. Tak terlihat apa-apa. Seekor anjing  menggonggong, menyapanya. Getir terlihat senyumnya. Bahkan saat inipun dia iri dengan anjing yang dilihatnya. Tangannya mengayun mencoba menghalau si anjing agar menjauh darinya. Anjing itu diam hanya matanya menatap ke arah Tung seolah bertanya apa yang akan dilakukannya. Mata Tung terpejam untuk beberapa saat. Dan tiba-tiba.

“Hentikan! Jangan kau lakukan!” sebuah suara terdengar sangat keras.

Tung yang sudah berada di bibir jembatan dan siap meloncat mengurungkan niatnya.

“Apa yang kamu lakukan? Jangan bodoh,” seorang laki-laki sudah muncul di belakang Tung dan langsung meraih tangannya.

“Lepaskan!” teriak Tung.

“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu.”

“Biarkan aku mati. Pergi!jangan ganggu aku!” Tung masih saja berteriak sambil meronta minta dilepaskan. Laki-laki itu tidak mengendurkan sedikitpun genggamannya, justru semakin kencang.

“Jangan bodoh, bunuh diri tidak menyelesaikan masalah,” katanya.

“Bukan urusanmu!Lepaskan kataku!”

“Tenang, semua masalah pasti ada penyelesaiannya tapi bukan dengan cara seperti ini.”

Tung masih saja terus meronta dan laki-laki itu menariknya menjauh dari jembatan. Tung yang sebenarnya lemah karena sudah beberapa hari tidak nafsu makan seperti mendapat kekuatan yang membuat laki-laki yang mau menolongnya tadi kewalahan. Tapi dia tidak mau menyerah, dia tak akan membiarkan Tung mengakhiri hidupnya. Tarik menarik terus terjadi sampai akhirnya Tung merasa lelah juga, tenaganya habis dan diapun terkulai. Laki-laki itu mendekapnya, dilingkarkan tangannya ke tubuh Tung. Tung yang mulai tenang pun pasrah, bahkan saat ini kepalanya disandarkan pada bahu si laki-laki.

Tung tidak kenal siapa laki-laki itu begitu pun sebaliknya. Tiba-tiba muncul perasaan nyaman yang menjalari tubuh Tung. Dia terisak. Laki-laki itu memberanikan diri mengelus rambut Tung yang terurai. Dia merasa kasihan dengan Tung. Dalam hatinya mengatakan gadis ini butuh pertolongan. Sejenak mereka berdua larut dalam keheningan masing-masing. Tung masih menangis, air matanya membasahi dada laki-laki yang menolongnya itu.

Mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing dan tidak menyadari kalau sedari tadi berpelukan sampai  suara anjing mengagetkan mereka.

Gukk!Gukk!

Tung yang menyadari dirinya dalam pelukan laki-laki tak dikenal perlahan menarik dirinya. Pipinya memerah karena malu, untung pagi masih menyisakan gelap sehingga pipinya yang merona tak terlihat. Seperti halnya Tung, laki-laki itupun malu tapi dia mencoba tenang. Sejenak dia berusaha menguasai dirinya.

“Lho kok wes bar filme. Gak asik!”

Tung dan laki-laki itu kaget mendengar tiba-tiba muncul suara. Serentak mereka memandang ke arah munculnya suara itu. Tung dan laki-laki itu semakin kaget karena ternyata saat ini mereka menjadi tontonan orang-orang yang entah sejak kapan berkerumun.

“Golek kamar kono lo Mas, akeh kok murah pisan,” kata salah seorang laki-laki yang mengerumuni mereka sambil senyum-senyum.

“Enak’e rek adem-adem ngene gendakan. Cuit..cuit.”

Tung dan laki-laki itu menjadi salah tingkah. Rupanya orang-orang salah paham dengan apa yang terjadi di antara mereka. Tung hanya tertunduk dan laki-laki itu yang tidak tahu harus berbuat apa hanya garuk-garuk kepala.

“Kono lho Mas nang ngisor jembatan akeh gubuk sing iso disewo.”

“Nggak, Bapak salah paham,” akhirnya laki-laki itu buka suara.

“Gak popo Mas wes podo gede ne, gak usah isin.”

“Iyo Mas lha lapo isin, nang kene wes biasa ngono iku,” laki-laki lainnya ikut menimpali.

Rupanya selama Tung dan laki-laki tadi berpelukan warga sekitar jembatan yang sudah bangun dan mulai beraktivitas di pagi hari banyak berdatangan. Mereka yang tidak tahu kronologi kejadiannya mengira Tung dan laki-laki yang menolongnya tadi sedang pacaran. Tung tetap terdiam dia tidak tahu harus berbuat apa, meski dia sungguh malu saat ini. Dia malu pada orang-orang dan dia juga malu pada laki-laki yang menolongnya.

“Wes bubar bubar lapo sek nang kene!” salah seorang dari mereka mengomando rekan-rekannya.

“Wah gak asik, ngono thok.”

“Wes ndang ngaleh, gak usah kakean bacot.”

Orang-orangpun beranjak meninggalkan Tung dan laki-laki itu. Laki-laki itu merasa berterimakasih pada orang tadi karena telah menyelamatkannya dari rasa malu karena salah paham.

“Trimakasih Pak,” katanya.

“Ndak papa. Biasa ae Mas. Oh iya lek sampeyan butuh kamar aku iso ngolekno. Aku duwe kenalan..”

“Tidak bapak salah paham, saya menolong Mbak ini…” potong laki-laki tadi.

“Iya saya tahu. Saya kan cuma bilang kalo Masnya butuh kamar saya bisa sediakan,” bapak tadi masih memaksa.

“Tapi saya…dan Mbak ini…” laki-laki yang menolong Tung tadi masih bingung.

“Ya sudah nggak sekarang nggak papa. Kapan-kapan juga boleh. Itu lho Mas yang deket pasar. Cari Pak Gurmo pasti sudah tau semuanya,” kata bapak tadi sambil senyum-senyum. Diapun berlalu sambil melirik ke arah Tung yang masih terdiam di tempatnya. Ternyata bapak tadi juga salah paham. Laki-laki tadi garuk-garuk kepala lagi, dia tidak tahu harus bicara apa lagi.

“Trimakasih Mas,” kata Tung.

“Eh iya. Mbak nggak papa?” tanyanya.

“Iya. Maaf juga gara-gara saya…”

“Ndak…ndak papa Mbak, mereka salah paham. Oh iya Mbak tinggal dimana?”

“Di bawah,” jawaban Tung yang langsung membuat laki-laki itu kaget. Tung yang menyadari jawabannya membuat laki-laki itu bingung langsung meralat.

“Di bawah jembatan ini, di salah satu gubuk itu,” kata Tung sambil menunjuk ke jajaran gubuk yang ada di bawah jembatan.

Laki-laki itu terdiam. Pantas saja orang-orang salah paham, dia tahu betul daerah jembatan Kali Buthek memang terkenal sebagai wilayah prostitusi. Bahkan saat ini dia mulai berpikir kalau Tung, gadis yang baru ditolongnya tadi adalah salah seorang pelacur. Dipandangi wajah Tung yang masih tertunduk. Sejenak dicoba dihilangkan pikiran buruknya. Gadis seperti Tung, cantik dan terlihat lugu apakah mungkin seorang pelacur.

“Saya mau pulang dulu,” kata Tung menyadarkan laki-laki tadi.

“Eh iya tapi Mbak sudah ndak papa kan?”

“Iya saya sudah ndak papa.”

“Apapun masalah Mbak, saya yakin pasti ada penyelesaiannya. Jangan pernah putus asa Mbak.”

“Iya trimakasih,” kata Tung sambil pamit.

Tung pun berlalu meninggalkan laki-laki tadi. Laki-laki itu terdiam sambil memandang Tung yang menjauh. Malang betul gadis itu, batinnya. Tiba-tiba dia teringat, dia belum tahu namanya.

“Mbak namamu siapa?” tanyanya sambil berteriak.

Tung menoleh, “Tung!”

Laki-laki itu mengangguk. Dia tersenyum sambil berucap lirih,”Tung.”

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Parian dan Tikno sampai juga di kota Bajul. Keadaan kota Bajul masih belum berubah, sama seperti ketika Tikno tinggalkan ke Njotangan. Bahkan saat ini keadaannya semakin sepi seperti kota mati. Karena memang masih kelelahan Parian dan Tikno tidak banyak bicara. Tikno langsung mengajak Parian menuju puskesmas dimana dia bertugas. Di puskesmas Tikno menempati sebuah mes yang hanya berupa rumah kecil yang terletak tepat di bagian belakang puskesmas.

“Masuk Yan tapi maaf ya begini ini keadaannya, beda sama rumahmu,” kata Tikno mempersilahkan Parian.

“Nggak apa-apa Tik, ini juga lumayan yang penting bersih dan bisa ditempati.”

“Sebenarnya pemandangan disini lumayan bagus Yan tapi karena warga sedang kena musibah keadaannya jadi sedikit mencekam.”

“Jadi kapan kita bisa mulai?” tanya Parian.

“Secepatnya, kamu istirahat saja dulu nanti aku lapor dulu ke Pak Lurah dan Pak Camat. Setelah itu baru kita bicarakan langkah-langkah selanjutnya.”

“Ya sudah aku mau mandi dulu biar seger. Mandinya di sungai ato?”

“Tenang Yan disini sudah ada sumur kamu nggak perlu mandi di sungai. Tapi kalau kamu mau mandi di sungai juga nggak papa,” kata Tikno sambil tersenyum.

“Ada yang ngintip nggak?” tanya Parian bercanda.

“Aman. Orang-orang nggak ada yang keluar rumah sejak ada musibah. Kamu mau telanjang keliling kampung juga nggak masalah ha…ha..ha”

“Bisa saja kamu Tik. Aku mandi di sumur aja, rugi sudah ganteng-ganteng nggak ada yang ngintip.”

Kedua pemuda itupun tergelak. Sejenak mereka melepas penat setelah hampir lima jam diguncang di kereta KMSM. Belum lagi peristiwa yang mereka alami di stasiun Njotangan ketika mereka sedang menunggu kedatangan kereta. Setelah ini mereka akan segera bersiap-siap untuk diskusi dengan para petinggi di kota Bajul untuk secepatnya menemukan pemecahan atas musibah yang terjadi di kota Bajul.

“Jadi bagaimana nak Tikno dan nak Parian langkah yang akan kita ambil?” tanya Pak Camat.

Tikno memandang ke arah Parian. Malam ini mereka berkumpul di rumah Pak Camat untuk berdiskusi. Pertemuan ini dihadiri bukan hanya oleh Pak Camat dan Pak Lurah tapi juga oleh beberapa perangkat lainnya. Hal ini sedikit membahagiakan karena sejak musibah yang menimpa kota Bajul bukan hanya warga saja tapi banyak perangkat yang enggan beraktivitas. Ternyata selama ditinggal ke Njotangan Pak Camat secara aktif mendatangi perangkatnya dan juga warga. Dan malam ini usahanya berhasil.

“Begini Pak Camat. Besok saya dan Tikno akan mulai memeriksa warga. Sesuai informasi yang saya terima dari Tikno kami akan mengambil contoh terlebih dahulu. Gejala yang dirasakan warga sama jadi untuk sementara kita pilih salah seorang warga yang bersedia untuk diperiksa.”

“Apakah Pak Camat atau bapak-bapak yang lain sudah mendapatkan orangnya?” tanya Tikno.

“Syukurlah nak Tikno dan nak Parian kami sudah berhasil membujuk salah seorang warga untuk diperiksa. Meski saya akui tidak mudah,” kata Pak Camat.

“Iya nak betul kata Pak Camat. Ini bapaknya juga hadir disini, Pak Juki,” Pak Lurah memanggil salah seorang yang hadir disitu.

“Saya Pak,” seorang laki-laki setengah baya yang nampak begitu kusut mengacungkan tangannya.

“Nah nak Tikno dan Parian, Bapak Juki ini adalah salah seorang warga Bajul yang anaknya terkena  musibah juga. Sudah hampir lima hari badannya panas sangat tinggi dan sering mengigau. Betul begitu Pak Juki?” tanya Pak Lurah.

“Betul Pak,” jawab Pak Juki singkat.

“Baiklah kalau begitu besok kami akan mempersiapkan semuanya. Semoga kita bisa mendapatkan pemecahan atas musibah ini. Bapak-bapak tidak perlu khawatir kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu warga Bajul,” kata Parian yang langsung diamini oleh semua orang yang hadir di pertemuan itu.

***

“Mat!lapo cenggenggesan ngono?” suara Mak yang tiba-tiba muncul mengagetkan Mat yang sedang senyum-senyum sendiri.

“Mat! Walah tambah parah cah iki. Mudun! Malah penekan koyok budeng,” Mak masih saja berteriak karena Mat tidak menjawabnya.

“Lapo sih Mak?” akhirnya Mat bereaksi juga.

“Lah malah takon. Awakmu iku lapo penekan karo cenggenggesan ra jelas ngono iku? Koyok wong edan!”

“Ngeses Mak,” jawab Mat.

“Ngeses kok kate mangkring nang uwit barang, lek ceblok yok opo?”

“Duh sampeyan iki Mak senengane ganggu wong ae. Aku wes tinggen gak bakal ceblok,” jawab Mat sambil cemberut.

“Yo wes to Yu lek areke ser ngono ra sah dipekso. Wong yo wes gede,” Ulul yang mendengar suara teriakan kakaknya ikut menimpali.

“Yo bener iku jare Lek,” Mat kegirangan karena ada yang membelanya.

“Gede kok polahe sik koyok ngono. Tak dungokno dicokot ulo, ben kapok!” kata Mak.

Mat yang tadinya gembira karena merasa ada yang membela berubah menjadi cemas. Mat paling takut dengan yang namanya ular dan dia tahu di halaman rumahnya yang memang sangat rimbun kemungkinan ada ular sangat besar. Dia mulai menggeser posisinya. Duduk di atas pohon mangga di siang yang memang cukup panas layak disebut surge. Semilir angin yang menggoyang pepohonan menyapu wajah Mat yang kegerahan sehabis membantu pamannya bekerja. Tapi saat ini kesenangannya dirusak oleh kata-kata Emaknya.

“Sampeyan ki mesti kok Mak, ga lelo lek anake seneng,” kata Mat sambil tersungut-sungut.

“Wo dikandani wong tuwek malah ngeyel, titenono ngko lek ceblok ojo nyaluk tulung aku.”

Emak masih mengomel. Dari atas pohon Mat menirukan omelan Maknya dengan gerakan bibir.

“Opo kon? Kate kurang ajar karo Makmu, iyo?” Mak yang melihat Mat menirukan omelannya kembali meradang.

“Ora-ora Mak wong aku nyanyi kok. Du..du…di..du,” Mat pura-pura menyanyi.

“Wes to Yu ojo nesu-nesu terus. Jarno ae,” kata Ulul mencoba menenangkan kakaknya.

“Mak jadi nggak?” tanya Pari pada Emak.

Pari tampak sudah sehat. Badannya bahkan terlihat lebih gemuk. Wajahnya tidak lagi pucat. Bibirnya kelihatan merah merona menandakan kehidupan. Berbeda sekali dengan ketika pertama dia ditemukan Mat dan Ulul. Emak dan keluarga merawat Pari dengan sungguh-sungguh. Emak yang juga jago membuat ramuan obat mampu menggembalikan Pari seperti sediakala bahkan jauh seperti sebelum Tung mengenal Jalang.

“Weh awakmu kok wes ayu nduk?” Mak begitu gembira melihat perubahan pada Pari.

“Berkat sampeyan Mak. Suwun yo Mak.”

“Ora usah sungkan cah ayu, anggep ae aku Makmu dewe. Oh iyo wes siap iki brarti?”

“Sampun Mak, tinggal nunggu Mak ae,” jawab Pari berseri-seri.

Mak memang benar-benar baik. Dia merawat Pari seperti anaknya sendiri. Mak yang memang tidak mempunyai anak perempuan seperti mendapat berkah dengan adanya Pari di rumahnya. Selama ini dia hanya hidup dengan laki-laki yang sering membuatnya jengkel terutama anaknya, Mat’ekae Lekiso. Melihat Pari membuat Mak semangat menjalani hidupnya yang sebenarnya pas-pasan. Dia yang biasanya hanya berkutat dengan urusan rumah sekarang bisa mendapat teman mengobrol.

Setiap hari Mak rajin membuatkan ramuan jamu yang dia racik sendiri. Dia sangat sedih melihat tubuh Pari yang bukan hanya penuh luka tapi juga kurus kering. Ketekunan Mak membuahkan hasil ramuannya begitu manjur dan bisa mengembalikan aura Pari yang enath berapa lama menghilang. Berkat Pari Mak bahkan berniat membuat ramuan jamu untuk dijual. Pari selalu memuji ramuan Mak karena dia sadar betul berkat ramuan yang dibuat Mak dia bisa merasakan perubahan besar pada dirinya. Dan siang ini mereka berencana mencari daun-daun obat ke hutan.

“Kate nang ndi Mak?” Mat yang sadar Maknya mau pergi langsung bertanya.

“Dudu urusanmu!” jawab Mak ketus.

“Piye Yu wes siap kabeh?” ternyata Ulul juga ikut.

“Woi kate nang ndi? Aku melu!” teriak Mat dari atas pohon.

“Wes jarno ae arek iku mangkring nang uwit koyok budeng. Ra sah dijak, ngrepoti ae.”

Mat yang tidak mendapat jawaban dari Maknya semakin kebingungan. Dia tidak mau ditinggal sendirian, terutama karena Pari juga ikut. Orang-orang sudah siap pergi dan meninggalkan Mat yang masih bertengger di pohon mangga.

“Aku melu Mak!”

Mak tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke rumah untuk menyiapkan alat-alat yang akan dia bawa. Dari bawah Pari menatap Mat dengan menahan senyum. Sedang Ulul hanya geleng-geleng kepala kemudian ikut masuk ke dalam rumah. Mat yang tahu Pari sedang menatapnya jadi salah tingkah. Dia tidak lagi berteriak-teriak, dia malu. Digaruknya kepala yang sebenarnya tidak gatal. Pandangannya lurus ke bawah, memandang tanah. Mat tidak berani menatap mata Pari.

Sejak Pari tinggal di rumahnya tingkah laku Mat memang semakin aneh. Dia sering tersenyum sendiri bahkan juga berdendang. Rupanya Mat telah jatuh cinta pada Pari. Pari yang kelihatan semakin cantik setelah sembuh dari luka yang dideritanya membuat Mat semakin terpesona. Mat belum sadar apa yang dia rasakan yang dia tahu dia semakin bersemangat seperti juga seluruh keluarganya sejak kedatanga Pari.

Mat terhentak dari lamunannya begitu menyadari sudah tidak ada orang di bawahnya. Tenyata Pari juga sudah masuk ke rumah. Dicobanya untuk tenang agar bisa mendengar percakapan dari dalam rumah tapi semua tampak tenang. Mat semakin cemas, dia takut ditinggal oleh orang-orang. Dengan tergesa-gesa dia mencoba turun dari pohon tapi karena kurang hati-hati Mat terpeleset.

“Aduh!” teriaknya.

Mat jatuh tersungkur ke tanah. Terdengar suara berdebum ketika tubuhnya mendarat di tanah. Kakinya terluka. Rupanya ketika jatuh tadi kakinya sempat tersangkut di salah satu ranting yang menyebabkan luka robek lumayan panjang. Mat meringgis kesakitan. Darah mulai keluar dari lukanya. Punggungnyapun terasa sakit karena menghantam tanah yang keras.

“Mak tulung,” rintihnya.

Dipeganginya kaki kanannya yang terlihat bengkak dengan darah yang terus mengalir.

“Mak aku ceblok. Tulungono!” kali ini dia berteriak.

Teriakan Mat yang cukup keras terdengar juga dari rumah.

“Sukur dikandani wong tuwek ngeyel yo ngene iki oleh-olehe,” Mak tampak berkacak pinggang di depan Mat.

“Gak ditulungi malah diseneni to Mak. Loro iki,” suara Mat memelas.

“Bahno gak ngurus! Aku mau wes kondo opo? Lha saiki kedadean rasakno dewe.”

“Byuh..byuh Mat ono-ono ae to awakmu iki,” Ulul yang datang karena mendengar teriakan Mat langsung menolong keponakannya itu.

“Alon-alon lek, loro iki,” Mat masih mengaduh.

“Jarno Lul ra sah mbok tulungi,” Mak masih sewot.

Mat masih meringgis kesakitan. Pari yang juga ikut melihat membantu mencoba membantu Ulul mengangkat Mat tapi langsung dicegah Emak.

“Ra sah Cah ayu, ben dirasakne. Awan-awan penekan koyok budeng. Yo ngene iki dadine.”

“Sudah to Mak, kasian Mat,” Pari coba menenangkan Emak.

“Ayo Mat kuat ora?” tanya Ulul.

“Tapi alon-alon lek.”

“Iyo.”

Akhirnya Ulul berhasil membopong Mat masuk ke rumah. Didudukannya Mat di ruang tengah. Emak yang masih saja mengomel akhirnya ikut menolong juga. Dibasuh luka Mat dan segera dibubuhi dengan ramuan yang dia buat. Mat masih kesakitan tapi dia tak berani mengeluh. Dia takut Emak akan marah lagi. Pari hanya melihat sambil sesekali membantu Emak. Setelah mengobati Mat, Emak, Pari dan Ulul bergegas melanjutkan rencana mereka.

“Lho kate nang ndi? Mosok aku loro-loro ngene ditinggal?” tanya Mat.

“Lha terus kate melu ngono ta? Wong sikile koyok ngono sopo sing kate ngendong?” jawab Mak.

“Yo enggak tapi mosok ditinggal dewean?”

“Piye Yu?” tanya Ulul.

“Jarno ae sopo sing kate ganggu de’e.  Ayo ndang budal wes telat iki ngko kebengen mulihe,” ajak Mak tanpa menghiraukan tatapan Mat yang memelas.

Sebenarnya Pari kasian juga tapi mau apa Emak sudah memutuskan. Lagi pula keadaan Mat juga tidak terlalu mengkhawatirkan. Mungkin Mat akan kesulitan berjalan tapi Mak sudah menyiapkan semua kebutuhan Mat di sampingnya. Emak tidak akan setega itu meninggalkan Mat kehausan atau kelaparan.

“Wes kon turu ae kabeh wes tak cepaki.”

“Iyo Mat nggo leren ae, ojo kekean obah,” tambah Ulul.

“Lha lek aku kate nguyuh piye?” tanya Mat.

“Diempet ae,” jawab Mak singkat.

“Nguyuh kok kon ngempet to Mak lek loro piye?”

“Mbuh pikiren dewe. Wes ojo kemalan selak sore iki ngko. Ayo cah ayu, lul” ajak Mak.

“Ati-ati yo Mat, ndang muleh kok,” pamit Ulul.

Mat tidak menjawab, mulutnya manyun menahan kecewa. Dia tidak bisa menerima perlakuan Emak yang tega meninggalkannya sendiri di rumah padahal dia sedang sakit karena baru saja jatuh. Lebih-lebih Mat kecewa karena dia tidak bisa ikut pergi dengan Pari, perempuan yang akhir-akhir ini sering mengisi lamunannya. Mat semakin nelangsa. Dia menyesal kenapa tidak mengikuti perkataan Emaknya tapi nasi sudah jadi bubur dan Mat mau tidak mau harus rela ditinggal sendirian di rumah sambil menahan sakit pada lukanya.

Advertisements

2 thoughts on “KUTUKAN SI KUNTI seri 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s