KUTUKAN SI KUNTI seri 8

Untuk penjaga malamku,

Malam sudah sangat gelap. Tak lagi kudengar suara. Tidak untuk sebuah tarikan nafaspun. Sepertinya semua sudah lelap, dalam dekapan malam yang masih hangat. Malam ini sangat gelap. Meski terlihat bintang tapi tak jua malam terang. Malam ini semua makhluk begitu pendiam. Bahkan detak jantungpun sepertinya lelah berjalan.

Malam ini bukan satu-satunya malam yang muncul dengan keangkuhannya. Malam ini bukan satu-satunya malam dimana ada makhluk yang kesulitan memejamkan matanya. Bukan malam yang luar biasa untuk seorang makhluk yang mulai terbiasa. Pada malam tempatnya bercerita, diungkapkan kata hatinya yang tak terbaca.

Malam ini seperti juga malam sebelumnya aku kesulitan hanya untuk memejamkan mata. Badan yang sudah remuk ternyata tak mampu memaksa mataku, aku masih menyala di malam yang bahkan sudah tak bernyawa. Ribuan bintang kulihat bersinar tak satupun membuatku senang. Aku ingin malam cepat berlalu agar esok bisa kupandang wajahmu.

Duhai penjaga malamku, andai kamu tahu. Di malam yang kian gelap hatiku tak jua lelap. Tidur aku tak bisa karena hati terlalu merindu. Dia memanggil namamu, dia memaksaku terjaga malam ini. Dia membuatku terus terjaga malam-malam sebelumnya. Aku begitu tersiksa.  Meski kutahu apa obatnya, aku tak yakin kamu sudi menerimanya.

Dari aku yang selalu menunggu

“Heh…surat ini lagi,” seorang gadis tampak menghela nafas panjang setelah membaca sebuah surat.

“Opo’o Mbak?” tanya temannya.

“Ini lho,” jawab si gadis sambil menunjukkan sebuah surat.

“Siapa ya Mbak kira-kira yang ngirim? Kenapa dia nggak pernah nyantumin namanya?”

“Mana aku tahu. Ini sudah yang keberapa kali aku dapat surat seperti ini dan selalu saja tak bernama, tak beralamat,” dilipatnya surat itu kemudian dimasukkan ke amplopnya kembali.

“Masak Mbak nggak punya pandangan kira-kira siapa,salah seorang teman Mbak mungkin.”

“Nggak tau Til, setauku temanku nggak ada yang suka nulis-nulis surat kayak gini,” kata gadis itu sambil mengambil sebuah kotak dari bawah ranjangnya.

“Semua itu dari orang yang sama Mbak?” tanya temannya.

“Nggak juga, ada yang dari temanku. Kalau dibaca dari tulisannya kurasa bukan temanku soale aku hapal betul tulisan mereka. Mbuh lah Til.”

“Mbak Runa ada telpon!” suara pemilik kos terdengar dari lantai bawah.

“Nggih Bu. Bentar ya Til tak angkat dulu,” gadis itu, Runa, bergegas turun ke bawah untuk menerima telpon.

Di Njabon Runa tinggal di sebuah rumah kos. Dia sudah tinggal di Njabon lebih dari tiga tahun sejak dia diterima bekerja di Kleleken Senter.  Tidak ada yang tahu asalnya dari mana ataupun keluarganya karena Runa bukan tipe orang yang suka bercerita. Sering temannya bertanya tapi hanya ditanggapinya dengan senyuman. Runa adalah sebuah misteri dan saat ini dia juga sedang menghadapi sebuah teka-teki. Hampir tiga tahun sejak bekerja di Kleleken Senter Runa sering sekali menerima surat yang tak jelas siapa pengirimnya.

Semua surat yang dia terima dikumpulkan dalam sebuah kotak yang dia simpan di bawah ranjangnya. Dia sendiri tidak habis pikir kenapa orang mesti mengirim surat tanpa mau diketahui identitasnya. Teman-temannya di Kleleken Senter tidak ada yang tahu karena dia memang tidak pernah cerita hanya Suthil, teman kosnya, yang tahu itupun karena tidak sengaja ketika Runa sedang membaca surat yang dia baru terima Suthil tiba-tiba masuk ke kamarnya.

***

“Mat kon lapo mleding nang kono?” suara Emak yang tiba-tiba mengejutkan Mat’ekae Lekiso.

“Eh Mak ngaget-ngageti ae. Anu…” Mat bingung menjawab pertanyaan Emaknya. Digaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Anu lapo? Ojo koyok bedes kukur-kukur ngono,” Emak masih mendesak.

“Golek kodok Mak,” jawab Mat sekenanya.

“Golek kodok? Tok enggo opo hah?”

“Tak nggo…anu…anu diinggu,” jawaban Mat semakin tidak jelas.

“Nginggu kodok? Kon sing ngenah ta Mat. Trus mari tok inggo kate tok kapakno?”

“Yo diinggu ae cek gede be’e iso didol.”

“Arek edan!Lha sopo kate nuku kodok. Kon suwe-suwe kok gak tambah pinter to Mat,” sekarang Mak yang garuk-garuk kepala memikirkan tingkah anaknya.

“Kan iso dipanggan Mak. Saiki akeh lo sing doyan kodok.”

“Iyo wong edan koyok kon iku sing kate mangan kodok. Gak mesisan nginggu cecak trus to pangan pisan lek gede,” Emak semakin sewot.

“Mak ono opo kok rebut?” tiba-tiba seorang gadis muncul.

“Lho cah ayu Pari, awakmu tho. Soko endi awakmu?”

“Tas adus Mak. Awakku ambu kabeh suwe gak adus,” jawab gadis itu yang ternyata Pari.

“Wes gak opo-opo awakmu cah ayu? Wes penak?” tanya Mak.

“Iyo Mak wes lumayan, cuma iki tanganku ga tak keneki banyu. Durung wani.”

“Yo wes ndang mlebu, surup-surup gak apik nang njobo.”

“Iyo Mak,” Pari pun bergegas masuk.

Emak memandangi Pari sampai gadis itu masuk ke rumah. Kemudian tatapannya langsung berpindah ke arah Mat yang sedari tadi masih berjongkok di bawah pohon. Wajah Emak tampak geram. Matanya menatap tajam pada anak satu-satunya yang saat ini mulai merasakan keselamatannya terancam oleh ibunya sendiri. Mat sudah siap dengan segala kemungkinan, melihat tatapan Emak dia tahu Emak sedang tidak senang. Mat berdiri lalu mendekati Emaknya. Pasrah.

“Golek kodok yo?” tanya Emak.

Mat diam, dia hanya tertunduk tidak berani menatap mata Emaknya.

“Lapo meneng ae hah? Tok pikir aku lagi ngomong karo tembok ta?” Emak berbicara sambil melotot.

“Iyo Mak,” jawab Mat lirih.

“Iyo opo?”

“Aku golek kodok Mak, sumpah,” jawab Mat sambil mengangkat dua jari tangannya.

“Lapo tanganmu iku? Kate mlinteng ta?” Emak masih belum melunak.

“Dudu Mak iki ngono tanda sumpah, aku gak ngapusi,” Mat mencoba menjelaskan.

“Kon ngerti hukumane wong sing wani ngapusi Mak’e.”

“Nggak.”

“Uripe bakal soro, gak oleh bojo sampek tuwo. Iso-iso mati joko. Kon gelem ta?” mimik muka Emak terlihat sangat serius.

“Nggak Mak, gak gelem aku,” Mat benar-benar ketakutan.

“Trus?”

“Ampun Mak, aku golek…anu aku gak ndelok kok Mak. Sumpah Mak, sampeyan kudu percoyo aku.”

“Gak ndelok opo?” Emak masih memanncing.

“Gak ndelok…wong adus,” suara Mat begitu pelan nyaris tak terdengar tapi dari gerak bibirnya Emak paham betul yang diucapkan anaknya.

“Ndelok?Tok pikir tontonan! Lek sampek kon ngene maneh titenono,” Emak mengancam.

Mat yang sudah tertangkap basah tidak berani berkata-kata lagi. Sebenarnya memang Mat tidak sengaja ingin melihat Pari mandi. Dia sedang naik pohon mangga di belakang rumah ketika tiba-tiba Pari masuk ke kamar mandi. Kamar mandi rumah Mat memang bukan kamar mandi selayaknya. Dindingnya hanya terbuat dari rajutan bambu tak beratap. Mat bingung karena pohon mangga yang dinaikinya tepat di sebelah kamar mandi. Karena tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan Mat pelan-pelan turun tanpa mengeluarkan suara agar Pari tidak mendengar dan tidak berpikir macam-macam. Tapi bukannya cepat pergi setelah turun, Mat justru duduk di bawah pohon di antara semak-semak yang memang banyak terdapat  di belakang rumahnya. Bukan tanpa alasan kalau Mat memutuskan tidak segera pergi, Mat sudah berniat pergi tapi suara Pari menghentikannya. Pari  yang sedang mandi rupanya berdendang. Mat yang terpesona dengan suara Pari keenakan sampai Emak datang dan memergokinya.

“Kon ngerti ora Mat?” tanya Emak.

“Iya Mak…aku ngerti,” jawab Mat terbata.

“Ngerti hukumane?”

“Iyo Mak.”

“Opo?” Emak masih terus mendesaknya.

“Gak oleh bojo sampe tuwo,” jawab Mat.

“Trus?”

“Mati joko,” jawab Mat memelas.

“Pinter. Ojo pisan-pisan tok baleni.”

“Ora Mak. Kapok.”

“Ndang adus selak bengi. Dicokot ulo mbuh kon!”

“Ojo to Mak, sampeyan kok ngeden-ngedeni terus to.”

Emak berlalu sambil menahan tawa meninggalkan anaknya yang ketakutan. Mat memang penakut. Tak jarang dia minta Emaknya menemani kalau dia sedang mandi atau harus ke belakang malam-malam. Seperti juga saat ini.

“Mak tunggoni aku,” pinta Mat memelas.

“Gak athik. Wani nginceng wong adus kok adus dewe ra wani. Ra isin piye,” Emak terus saja berlalu.

“Mak…” Mat semakin nelangsa.

***

Sementara itu Tikno dan Parian sudah bersiap-siap menunggu kereta KMSM di stasiun kota Njotangan. Sudah hampir satu jam mereka menunggu tapi kereta yang terkenal sangat lambat ini belum juga menunjukkan keberadaannya.

“Lama juga ya Tik,” Parian gerah juga menunggu.

“Ya gini ini kereta ekonomi Yan, harus sabar. Ini belum seberapa kadang bisa sampai dua jam. Satu jam itu nggak dihitung telat saking seringnya,” Tikno menjelaskan.

“Wah lumayan juga ya,” kata Parian sambil tertawa.

“Yan lihat cewek yang disana,” Tikno member tanda dengan alisnya.

“Mana?”

“Arah pukul dua, pake baju merah. Dari tadi ngliatin kamu terus.”

“Yang rambutnya sebahu itu. Kenapa?”

“Sepertinya dia suka kamu. Dari tadi tak perhatikan dia curi-curi pandang ke kamu. Lumayan lo Yan,” kata Tikno cekikikan.

“Kamu ini ada-ada saja, bukannya kamu yang diliatin terus. Itu anaknya senyum-senyum,” ujar Parian.

“Eh iya dia senyum ke kamu…ato aku ya?”

“Kamu aja deh, aku ngalah,” kata Parian.

“Walah kok matanya kedip-kedip ya. Dia ramah banget ya. Samperin yuk,” ajak Tikno.

“Hah. Nggak, kamu aja,” Parian menolak. Parian memang bukan tipe laki-laki genit. Bahkan dia terkenal pemalu jika harus berhadapan dengan perempuan.

“Lho Yan kok cewek itu malah joget-joget?” Tikno tambah penasaran.

“Saking senengnya liat cowok ganteng kayak kamu Tik.”

Stasiun sangat ramai hari ini. Kebanyakan dari mereka menunggu kereta KMSM yang juga akan ditumpangi Parian dan Tikno. Hiruk pikuk para calon penumpang dan penjual makanan menambah gerah suasana. Tapi sepertinya ada yang begitu menikmati suasana itu yaitu seorang gadis muda berbaju merah. Sedari awal kedatangan Parian dan Tikno d stasiun gadis itu sudah mengamati mereka. Dilemparkannya senyum termanis yang dia miliki, sepertinya dia begitu tertarik pada dua pemuda tampan itu. Bukan hanya senyuman tapi juga kedipan mata nakal dia berikan untuk menarik perhatian Parian dan Tikno dan dia berhasil, Tikno tertarik. Si gadis pun semakin berani dan mendekati mereka.

“Yan cewek itu kemari,” Tikno bingung juga karena meski tidak sepemalu Parian tapi dia juga bukan tipe laki-laki berani.

“Kok bingung? Katanya mau kenalan,” jawab Parian enteng.

“Eh…tapi…gimana ya?” Tikno menggaruk-garuk kepalanya.

“Sudah tenang saja,” Parian berusaha menenangan sahabatnya walau sebenarnya dia sendiri juga bingung. Bagaimana jika gadis itu benar-benar mendekati mereka. Dia tidak terbiasa dengan perempuan apalagi yang seperti ini.

“Pagi Mas,” sapa si gadis masih tersenyum-senyum.

“Pagi,” jawab Parian. Tikno hanya melongo.

“Kok Mas satunya diem aja? Sakit ya?” tanya si gadis.

Tikno yang sadar kalau dia yang dimaksud oleh si gadis tampak tergagap,”Eh…pagi Mbak.”

Si gadis tersenyum.”Mau kemana Mas-mas yang ganteng ini?”

“Mau ke kota Bajul. Mbak sendiri mau kemana?” Tikno sudah mulai menguasai dirinya.

“Jauh amat. Kalau aku mau kemana aja deh. Apalagi kalau sama Mas-mas yang ganteng ini,” jawab si gadis sambil cekikikan.

“Begitu ya,” Tikno bingung mendapat jawaban dari si gadis. Sedang Parian tampak menahan senyum.

“Mas ikut dong,” pinta si gadis.

“Ikut kemana?” tanya Tikno.

“Kemana aja, terserah Mas,” si gadis mulai berkedip-kedip lagi.

“Wah gimana ya…kita sedang ada tugas Mbak,” jawab Tikno.

“Nggak apa-apa aku nggak ngrepoti kok. Ya mas ya?”

“Yan? Kamu kok diem aja?” Tikno menyikut pinggang Parian.

“Lho kok aku?” Parian ikut bingung.

“Mas…aku padamu. Aku trisno karo sampeyan Mas,” si gadis mulai berani.

“Hah?” Tikno benar-benar bingung sekarang. Parian juga tidak kalah kaget.

“Mas mau ya ma aku?” gadis itu terus saja merengek.

Parian dan Tikno tidak bisa berkata apa-apa. Mereka tidak mengerti dengan kelakuan si gadis yang saat ini terlihat semakin tidak wajar. Bahkan saat ini si gadis mulai berteriak. Dia berdiri sambil berkacak pinggang dan marah-marah.

“Dasar bajingan! Kamu mau ninggalin aku ya? Laki-laki nggak tau diuntung! Kalian semua bajingan!” gadis itu semakin semakin di luar kendali.

Teriakan si gadis menarik perhatian orang-orang yang memadati stasiun. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Semua mata saat ini tertuju pada gadis itu, Parian dan Tikno. Sebagian tampak berbisik-bisik mencoba menerka yang terjadi.

“Kenapa diam saja? beraninya sama perempuan. Dasar pengecut! “

“Sabar Mbak, sebenarnya ini ada apa? Apa salah kami?” tanya Tikno memberanikan diri.

“Apa salah kalian? Kalian ini bajingan! Teganya meninggalkan aku setelah apa yang terjadi. Aku cinta kamu, kurang apa lagi pengorbananku Mas? Semua sudah kuberikan padamu. Kamu malah enak-enakan lari dengan gadis lain. Penghianat!”

Tikno dan Parian saling memandang. Ada yang tidak beres.

“Sabar Mbak.”

“Sabar…sabar. Aku hamil Mas dan ini anak kita.”

Parian dan Tikno terbelalak. Hamil? Mereka bahkan baru bertemu hari ini, baru bicara saat ini. Ditengah kebingungan Parian dan Tikno tiba-tiba dating seorang laki-laki setengah baya. Dilihat dari bajunya sepertinya dia adalah salah seorang petugas kereta api.

“Ada apa ini?” tanyanya.

“Ini Pak, Mbak ini tiba-tiba marah-marah padahal kami belum kenal,” kata Parian.

“Eh dokter Parian. Mau kemana dok?” tanya si petugas.

“Kamu kenal Yan?” tanya Tikno. Parian bingung.

“Saya Pardi dok, dulu pernah berobat ke dokter di rumah sakit.”

“Oh”

“Minthuk ndang ngaleh kono ojo ganggu penumpang,” kata si petugas yang menyebut namanya Pardi pada si gadis. Si gadis tidak bergeming, dia masih saja berteriak-teriak tidak jelas.”Ayo ndang ngaleh kono!”

“Mbak ini siapa Pak?” tanya Parian.

“Maaf dok, ini Minthuk anak saya. Dia…” kata Pardi sambil menyilangkan salah satu jarinya di dahi.

“Oh maaf,” kata Parian.

“Dia memang selalu ikut kalau saya bekerja. Saya sudah melarang tapi dia nggak mau. Setelah saya pikir mungkin lebih baik memang ikut sekalian saya bisa mengawasi soalnya kalau ditinggal di rumah kasian ibunya kewalahan.”

“Sudah pernah dibawa ke rumah sakit?” tanya Tikno.

“Sudah Mas tapi belum juga sembuh. Dia seperti ini sejak ditinggal lari pacarnya,” wajah Pardi berubah sendu.

“Ini teman saya pak, dokter juga namanya Tikno,” Parian memperkenalkan Tikno pada Pardi.

“Oh maaf, dokter juga ya?”

“Tidak apa-apa Pak,” jawab Tikno.

Dari pengeras suara terdengar informasi bahwa kereta KMSM akan memasuki stasiun. Para calon penumpang mulai bersiap-siap.

“Akhirnya dating juga,” kata Tikno.

“Dokter menunggu kereta ini, mau kemana?”

“Kami mau ke kota Bajul pak sedang ada tugas disana,” jawab Parian.

“Aku ikut Mas, aku jangan ditinggal,” si gadis tiba-tiba seperti tersadar setelah marah-marah.

“Huss kamu sama bapak. Maaf ya dok atas kelakuan anak saya ini.”

“Tidak apa-apa pak, jangan lupa sering dikontrol pak. Diperiksa ke rumah sakit biar bisa dibantu.”

“Iya dok. Itu keretanya sudah datang. Selamat jalan semoga selamat sampai tujuan.”

“Terimakasih pak, kami pamit dulu.”

“Iya dok.”

“Pak aku mau ikut Masnya. Ikut..ikut,” si gadis merengek lagi.

Pardi memegangi tangan anak gadisnya yang memaksa ingin ikut Parian dan Tikno. Si gadis masih meronta-ronta sambil menangis. Tikno dan Parian segera naik ke kereta dan mencari tempat duduk. Kereta begitu sesak oleh penumpang. Meski terkenal lambat dan sangat tidak nyaman kereta KMSM tidak pernah sepi penumpang. Setelah berhasil mendapatkan tempat duduk, Tikno dan Parian pun segera duduk.

“Mas aku padamu,” teriak Minthuk dari luar kereta. Bapaknya masih memegangi tangannya.

Parian dan Tikno saling berpandangan, mereka tersenyum. Mereka tidak berkata apa-apa.

***

Bangunkan aku dan bilang padaku kalau ini semua hanya mimpi. Aku sudah tidak tahan. Kukira yang kulalui sudah cukup berat ternyata semuanya belum berakhir. Aku tidak yakin akan mampu melewatinya meski aku tahu aku tidak punya pilihan kecuali menghadapinya. Tapi coba bilang padaku kalau ini semua hanya mimpi. Bilang kalau aku akan segera terbangun dan terbebas dari mimpi buruk ini. Meski tak ringan apa yang sudah kulalui tapi aku tak pernah sendiri. Kau kirimkan padaku seseorang untuk berbagi tapi saat ini kau mengambilnya. Apa salahku terlalu berat hingga tak terampuni. Aku bukan orang mulia, bukan karena aku tak mau. Aku berusaha dalam ketidakberdayaanku. Setidaknya tak pernah terpikir dalam benakku untuk mengakhiri hidup yang tak lebih dari sekedar mimpi buruk ini.

Katakan padaku ada apa di balik semua ini karena aku sudah tak mampu berpikir lagi. Otakku sudah tak cukup untuk ditambah pikiran-pikiran yang hanya bisa menghantui. Aku tahu aku sering kesulitan untuk tidur tapi saat ini tolong bangunkan aku. Sudah cukup kulihat mimpi ini. Di hidupku yang lalu aku sudah sangat kenyang, di hidupku yang kurasa mulai terang kenapa kau ciptakan mendung lagi. Aku bisa gila. Inginku tak pernah muluk karena aku tahu aku mungkin tidak pantas. Kembalikan dia padaku. Sekali lagi kumohon bangunkan aku. Mimpi ini terlalu menakutkan, terlalu sakit untuk kurasakan sendiri.

Tak terasa air mata mengalir deras ke kedua buah pipinya. Dia sudah tidak tahan. Memikirkan Jalang setiap hari membuat batinnya tersiksa. Sudah seminggu lebih Jalang meninggalkan gubuk mereka di bawah Jembatan Kali Buthek dan sampai saat ini tak pernah ada kabar beritanya. Belum lagi tiap dia teringat ceceran darah itu, hatinya semakin sakit. Tung yang selama ini selalu bersama Jalang benar-benar tidak bisa menerima kenyataan kalau dia telah ditinggal, sendiri. Setiap malam dia terbangun dari tidurnya dan menyadari dirinya terbaring sendirian di gubuk reot ini. Gubuk yang sebenarnya sangat sempit terasa terlalu luas untuknya tanpa Jalang.

Di tiap malamnya yang tidak pernah tenang setelah menghilangnya Jalang, kadang Tung terbangun dan menangis. Meski badannya telah remuk redam setelah seharian bekerja di Kleleken Senter ternyata tak membantunya untuk tidur lelap. Seperti juga malam ini. Tak ada teman yang bisa diajaknya bicara. Dia sadar Jalang bukan teman bicara yang baik karena dia lebih sering memaki daripada bicara tapi dia tahu itu cara dia berkomunikasi. Dia tak butuh teman yang enak untuk bicara, dia tak butuh pujian, dia hanya butuh Jalang untuk di sampingnya. Cukup perasaan bahwa dia tak sendiri di hidup yang semakin tak masuk di akalnya.

Maka dihabiskannya malam dengan pena dan secarik kertas. Ditumpahkannya rasa yang sudah tak terbendung. Tidak merubah keadaan memang tapi setidaknya dia lega. Dia tak perlu malu untuk mengatakan yang dia rasa. Dia tak perlu mendengar cacian yang akan menghujat sedihnya. Dia hanya ingin mengeluarkan bongkahan yang terasa semakin berat di kepalanya, di dadanya. Dan ketika air mata datang tanpa banyak bicara baginya adalah hujan yang membasahi kemarau hatinya. Dia benar-benar menderita dalam kesendiriannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s