FRENGER: HALF FRIEND, HALF STRANGER

Ada sebuah masa dimana seorang ego begitu berjaya. Tak terbantahkan, tak bisa disangkal. Kata-katanya adalah perintah, diamnya adalah titah. Tak butuh pengakuan karena dialah kerajaan. Tak bisa dibilang banyak yang suka meski tak terhitung yang kagum padanya. Tak sulit mencari kawan meski tak jarang juga yang memanggilnya setan. Semua diterima tanpa  ingin bertanya. Datang dan pergi, silahkan saja.

Dan mulailah ego sampai pada sebuah dunia, dunia baru yang belum pernah ditemuinya. Dunia yang penuh dengan ego-ego yang membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ego bertanya, “bagaimana bisa?” dalam hati saja. Semua orang begitu berisik, bising. Ego bingung sedang selama ini yang dia kenal hanya hening. Dunia yang meski sepi tapi penuh warna. Tanpa lirik tapi tak juga kehilangan ritmenya. Tanpa petikan gitar tapi dia hapal betul melodinya.

Ego berdiri, menjauh. Sempat mencoba kembali tapi tak bisa. Ini bukan lagi sebuah pilihan, ego harus melewatinya. Dan merekapun menariknya. Meski tak tahu apa yang mereka minta ego diam saja. Dia adalah kerajaan, dia terbiasa kukuh di tempatnya. Dia adalah raja, tak pernah meminta, semua disodorkan padanya. Sombong, mereka bilang. Kamus mereka tak sama. Ini adalah perisai yang akan melindunginya bukan sebuah kebanggaan untuk mengunggulkan dirinya.

Ego sadar mereka berbeda, tak lagi ingin hanya diam seribu kata. Mereka tak percaya, seorang ego yang berdiri dengan angkuhnya ternyata gila. Mereka tertawa, gembira, seolah menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang lucu. Ego ikut tertawa, merasakan hal baru yang aneh baginya. Dan bersama-samalah mereka tertawa. Bibir boleh sama tersenyum, kepala entah apa isinya.

Waktu berjalan seperti biasa, tanpa istirahat. Seperti juga musim yang harus berganti yang kadang tak bisa diprediksi, egopun mengalami hal yang sama. Ketika isi kepala tak bisa diterima, tak sama, maka sebuah benturan tak bisa dielakkan. Ego diam meski dalam hati dia bertanya apa salahnya. Mereka mulai menanyainya, sesuatu yang tidak bisa dia jawab. Dia adalah benteng, bukan untuk ditanyai. Jika dengan ditakuti mereka akan membiarkannya, dia rela. Mereka mulai menginterogasi, dia tidak bisa. Dia adalah sebuah buku dan sebuah buku tidak menerjemahkan dirinya sendiri.

Ini bukan sebuah pilihan tapi ego dipaksa tegas menunjukkan posisinya. Untuk apa? Bukankah selama ini dia selalu ada, kalaupun kadang dia ingin sendiri bukankah wajar saja. jikapun dia lari, menghilang, itulah dia. Ego tidak setia, begitu mereka bilang. Bagaimana bisa? Sedang kadang dia harus terpaksa mendengar ocehan yang tak ada artinya tapi dia diam saja. Sedang dia selalu ditertawai dan dipaksa untuk membuat tertawa. Dia bukan badut meski tak jarang dia menertawai dirinya sendiri.

Ego berlari, lebih baik pergi daripada terus mendengarkan omong kosong ini. Jangan minta dia memilih karena mungkin kau akan kecewa dengan pilihannya. Jangan paksa dia mengaku pada hati yang setengah mati dijaganya. Dia tidak buta hanya kadang sulit bicara. Dia bukan tidak peduli meski sering juga dia terpaksa harus pergi. Dia mungkin tidak baik, dia memang tidak akan pernah sempurna.

Ego hanyalah sebuah jiwa yang ingin tetap mempertahankan identitasnya. Kau mau jadi temannya silahkan saja tapi jangan paksa dia mengikuti jalanmu. Kau anggap dia orang asing, tak masalah baginya karena dia adalah jiwa yang terbiasa bebas di alamnya. Jangan pernah berusaha memiliki dia, dia bukan milik siapa-siapa, dia adalah milik dirinya. Dia akan datang jika dia mau, pada seseorang yang bisa diajak bicara. Dia akan pergi, sesuka hatinya dan jangan kecewa karena dia hanya sedang menjadi dirinya.

Note: Judul dalam coretan ini kuambil karena terinspirasi  seorang teman yang bernama Manci Irenk di HPku yang katanya istilah ini dari band MEW. Suwun.

Advertisements

One thought on “FRENGER: HALF FRIEND, HALF STRANGER

  1. yap… saya mengerti
    “Jangan pernah berusaha memiliki dia, dia bukan milik siapa-siapa, dia adalah milik dirinya. Dia akan datang jika dia mau, pada seseorang yang bisa diajak bicara. Dia akan pergi, sesuka hatinya dan jangan kecewa karena dia hanya sedang menjadi dirinya.”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s