KUTUKAN SI KUNTI seri 7



“Anjrut!” seseorang terdengar memaki.

Dia hampir saja terjatuh jika tidak cepat menguasai keseimbangan tubuhnya. Rupanya sesuatu menghalangi langkah kakinya.

“Lapo kon Mat?”

“Koyok ono sing nyandung sikilku. Ndi obormu Lek?”

Dua orang pemuda tampak bingung dalam gelap pagi yang berselimut kabul tebal. Salah satu dari mereka mengarahkan obor yang mereka bawa ke tanah.

“Ancik!” seseorang yang dipanggil Mat tadi berteriak kaget.

“Opo’o?” pemuda satunya tampak bingung.

“Mayit lek, deloken iki.”

“Astagfirullah…iyo. Mayite sopo iki?” tanyanya semakin bingung.

Kedua pemuda itu kemudian duduk di samping sebuah tubuh yang tergeletak di tengah jalan. Tidak begitu jelas karena obor mereka terlalu kecil. Kabut masih sangat tebal. Salah satu dari mereka duduk sambil mencoba memeriksa tubuh yang baru mereka temukan. Umurnya mungkin awal tiga puluhan. Sedang pemuda lainnya tampak lebih muda, sekitar delapan belas tahun.

“Sek ambegan Mat,” kata pemuda yang lebih tua.

“Iyo ta Lek?Aku wedi lek, ojo-ojo iki menungso jadi-jadian.”

“Ojo aneh-aneh Mat. Ayo digowo muleh ae, sopo ngerti iso diobati.”

“Tapi ngko lek moro-moro brubah piye?” si pemuda yang lebih muda tampak masih takut.

“Wes ra sah mikir aneh-aneh. Sakno ngko iso-iso mati temenan lek gak ndang ditulungi. Kon ngangkat sikile aku awake.”

“Lha trus sing gowo obor sopo?”

Pemuda yang lebih tua menggaruk-garuk kepalanya. Benar juga pikirnya.

“Koyoke enteng, tak coba’e,” dan diangkatnya tubuh itu.

Dia benar ternyata, tidak berat. Baginya seperti ini tidak masalah, dia sudah terbiasa mengangkat barang yang lebih berat. Kedua pemuda tadi adalah warga setempat yang biasa mencari kayu di hutan untuk dijual ke kota. Pagi ini mereka berencana berangkat ke hujan seperti biasa tapi ternyata di tengah perjalanan mereka menemukan tubuh manusia.

Mereka berjalan menembus kabut tebal pagi yang mulai menipis. Mereka memutuskan membawa tubuh itu pulang meski mereka tidak tahu siapa dia dan apa yang akan mereka lakukan untuk menolongnya. Tidak mungkin bagi mereka meninggalkan tubuh itu di tengah jalan apalagi jalanan itu sangat sepi. Hampir tidak ada yang melewatinya selain mereka berdua dan warga yang ingin ke hutan, itupun jarang sekali. Belum lagi hewan-hewan liar yang masih banyak di sekitar hutan, bisa-bisa tubuh itu dicabik-cabik anjing hutan.

“Arek wedok lek,” kata laki-laki yang lebih muda begitu mereka sampai di rumah.

“Aku ngerti.”

“Ket kapan?Kon sampeyan meneng ae lek?”

“Lha trus kon lapo? Awake enteng, gak mungkin lek lanang.”

“Lho kok muleh maneh?Ono opo?” tiba-tiba seorang perempuan separuh baya masuk ke dalam rumah.

“Iki lho Mak, kene mau nemu mayit kleleran nang ndalan.”

“Mayit?” tanya wanita itu terkejut.

“Dudu mayit, sek urip arek’e,” kata pemuda yang lebih tua.

“Lha trus lapo tok gowo muleh? Ngko lek ono opo-opo piye?”

“Mbuh Lek Ulul ki. Aku yo wedi mak.”

Kedua ibu dan anak itu tampak menyalahkan dengan keputusan pemuda tadi membawa pulang tubuh perempuan yang ditemukannya.

“Lha mosok kate ditinggal, ngko lek dipanggan asu piye? Opo ora mesakne?” katanya membela diri.

Yang diajak bicara terdiam. Dalam hati mereka membenarkan ucapan keluarganya itu tapi mereka juga takut. Mereka tidak kenal perempuan itu, apa yang telah terjadi padanya. Sedang pemuda yang dipanggil Mat tadi masih belum sepenuhnya percaya kalau perempuan yang ditolong tadi benar-benar manusia. Dia sering mendengar warga desa yang bercerita tentang hantu gentayangan yang banyak menghuni hutan. Jangan-jangan perempuan ini salah satunya.

“Tangan’e ono getihe mak,” kata Mat.

“Iyo le. Jupukno gombal karo banyu tak resik’ane disik. Lul jupukno godong yodium cek iso nggo ngobati luka’e.”

“Iyo yu.”

Mulailah keluarga itu bekerja sama membantu perempuan tadi. Mat’ekae Lekiso atau biasa dipanggil Mat tinggal bersama Emak dan adik ibunya yang bernama Ulul. Mat adalah seorang yatim. Ayahnya meninggal ketika Mat masih bayi. Sejak kecil dia diasuh oleh ibunya dan juga pamannya yang tidak tega membiarkan kakaknya mengurus sendiri Mat kecil. Ulul sendiri belum menikah meski kakaknya berulang kali memintanya mencari istri. Bagi Ulul membahagiakan kakak dan keponakannya jauh lebih penting.

Sering Emak merasa bersalah atas apa yang terjadi pada adiknya. Dia berpikir jika bukan karena dia, Ulul pasti sudah berkeluarga. Teman-teman sebaya Ulul sudah punya istri semuanya, bahkan ada yang anaknya sudah tiga. Tapi Ulul selalu menolak, entah karena belum ingin atau belum ada yang cocok. Sering Emak menjodoh-jodohkannya dengan gadis anak tetangga, kadang juga dari tetangga desa tapi semuanya tidak membuahkan hasil. Ulul memang pemalu, dia jarang sekali bergaul. Setiap hari kerjanya hanya mencari kayu di hutan lalu menjualnya ke kota. Jangankan bicara dengan perempuan dengan tetanggapun jarang. Hanya Emak dan Mat saja keluarga sekaligus temannya.

Mat sendiri tidak jauh beda dari pamannya. Meski sekarang sudah jadi pemuda tapi sejauh ini tidak menunjukkan ketertarikan pada perempuan. Tiap hari dia membantu pamannya mencari kayu dan tidak pernah bermain dengan teman-teman sebayanya. Sebenarnya bukan tidak tertarik, Mat sendiri pernah merasakan jatuh cinta. Cinta monyetnya terjadi pada saat dia berumur enam tahun. Waktu itu Emak mengajaknya mengunjungi keluarga di luar Kota. Ketika sedang naik andong dia melihat seorang gadis yang lebih tua darinya. Entah kenapa Mat begitu terpesona. Gadis itu tampak sangat lincah. Dia sedang bermain dengan teman-temannya di sungai. Dalam hatinya Mat berjanji jika besar nanti dia akan menikahinya.

***

“Tung kon oleh salam” suara Cendol mengagetkan Tung yang sedang melamun.

“Eh..opo Ndol?”

“Kon oleh salam,” ulang Cendol.

“Salam opo?” Tung masih belum paham.

“Kon opo’o Tung?Tak delok akhir-akhir iki kon sering nglamun. Kon loro ta? Opo kon gak betah nang kene?”

“Nggak kok. Aku gak loro,” jawabnya.

“Trus opo’o? Kon crito’o ta lek ono masalah cek aku iso ngewangi. Saiki awake dewe wes dadi konco jadi kon ojo sungkan.”

Tung menghela nafas panjang. Cendol memang baik, selama ini dia sudah membantunya dan Tung tidak ingin merepotkannya lagi. Setelah kepergian Jalang, Tung memang sering melamun. Sampai saat ini dia belum tahu keberadaan Jalang dan itu membuatnya cemas. Belum lagi ceceran darah yang ada di gubuk di hari Jalang hilang. Tung takut sesuatu yang buruk terjadi pada Jalang. Sempat dia berpikir ini ada hubungannya dengan Kunti. Kunti yang menuntut balas atas apa yang terjadi padanya. Tapi apa benar orang yang sudah mati masih bisa mengutuk dan menuntut balas. Memikirkannya membuat Tung semakin tidak bersemangat.

“Tung?” Cendol mulai cemas melihat Tung.

“Hah?Eh nggak papa kok mungkin aku capek. Oh iya tadi kamu mau bilang apa Ndol?”

“Nggak kok, nggak penting. Kapan-kapan ae,” Cendol merasa waktunya tidak tepat.

Sebenarnya Cendol ingin bilang kalau seseorang mengirimkan salam untuk Tung. Salah satu MM laki-laki di Kleleken Senter tertarik pada Tung. Goendul Mletus namanya. Dia bilang sejak pertama melihat Tung di pabrik dia sudah jatuh hati. Cantik, baik dan terlihat pendiam, tidak neko-neko menurut Goendul. Goendul yang sejak masuk ke Kleleken Senter memang berniat mencari istri merasa sudah mendapat calon istri yang tepat. Banyak sekali gadis disini, hampir semuanya cantik tapi yang benar-benar menggetarkan hatinya belum ada. Perempuan di Kleleken Senter lebih terlihat seperti artis daripada manusia biasa. Bukan hanya dari dandanan tapi perilakunya. Mencari wanita cantik disini mudah sekali tapi yang cocok untuk dijadikan istri dia harus berpikir ribuan kali.

Pernah dulu ketika awal masuk di Klelekan Senter dia tertarik oleh seorang wanita, salah satu MM. Goendul yang memang tidak terlalu percaya diri berusaha menunggu saat yang tepat untuk berkenalan. Setiap hari dia mencari momen sambil mencari informasi mengenai si gadis.  Pada saat kesempatan itu tiba Goendul justru memutuskan untuk berhenti mencintainya. Baginya gadis itu terlalu tinggi, semua orang menyukainya dan dia merasa tidak akan ada kesempatan untuk lelaki seperti dirinya bisa meminta lebih dari seorang idola kecuali menjadi penggemar saja.

Goendul tidak kecewa, meski dia harus merasakan pedihnya patah hati. Untuk memandangnya saja tidak masalah tapi bicara padanya membuatnya terintimidasi. Ada aura yang begitu kuat yang tidak bisa ditolaknya. Dia akan tampak semakin kecil dan bodoh dihadapan gadis itu. Dia tahu gadis itu tidak jahat justru dia sangat ramah tapi kadang manusia harus bisa membedakan mana yang mimpi mana yang bisa jadi kenyataan dan Goendul sadar betul itu.

“Kun! Kon kate nang ndi?” Cendol berteriak begitu melihat Kunti.

“Eh Ndol, kate nang WC. Melu ta? Wetengku mules maneh iki,” jawab Kunti.

“Anjrut!Cek malese,” Cendol mengomel.

“Sopo ngerti pingin dadi saksi.”

“Saksi matamu! Ndang kono selak mbrojol ngambon-ngamboni ae,” kata Cendol sambil menahan senyum.

Kunti tertawa melihat Cendol dan langsung lari menuju kamar mandi.

“Mbak Kun!” tiba-tiba seorang gadis memanggil.

“Iya?” dia berhenti. Dipegangi perutnya yang sudah semakin mulas.

“Kate nang ndi?” tanya gadis itu lagi.

“Ngeseng. Gelem ta?” jawabnya sambil meringgis.

“Yek nggilani ki.”

“Wong kate ngeseng dadak tok celuk barang. Engko lek mbrojol nang kene awake dewe sing susah,” kata Cendol.

“Disikan!” teriak Kunti sambil ngacir.

“Lucu ya mbak iku. Aku seneng.”

“Dudu lucu tapi nggilani!” jawab Cendol.

“Iso ae sampeyan Mbak. Eh Mbak, Mbak Kunti wes duwe pacar ta?” tanyanya.

“Lapo emange?” Cendol balik tanya.

“Takok tok ae he..he..he,” jawab si gadis cengengesan.

“Kon ngesiri ta?”

“Maksud’e? Nggak, wingi ditakokno kancaku.”

“Sopo?”

“Nggak ah ngko areke isin. Wes yo Mbak aku kate masuk. Ojo omong-omong Mbak Kunti lo.”

Cendol diam. Gadis tadi masuk ke ruang MM. Cendol memandanginya sambil geleng-geleng kepala. Dilirik jam di tangannya, sebentar lagi dia pulang tapi Boio belum memberi kabar. Mengingat Boio dia jadi kesal. Mereka pacaran sudah cukup lama dan sebentar lagi akan meresmikan hubungan mereka dalam tali pernikahan. Cendol memutuskan masuk ke ruangan.

***

Sementara itu Parian yang sudah mendapai ijin cuti untuk membantu Tikno menyelamatkan warga Bajul sedang bersiap-siap. Beberapa potong pakaian yang dia tata rapi di dalam koper telah dia siapkan. Dia juga membawa beberapa peralatan medis dan obat-obatan. Tikno yang tidak membawa barang banyak tampak sedang duduk di pinggir ranjang di dalam kamarnya. Dia masih menikmati suasana nyaman di rumah Parian. Tapi dia harus segera kembali. Warga Bajul membutuhkan bantuannya dan harus segera diselamatkan. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada bingkai foto itu lagi, foto keluarga Parian. Gadis itu, adik Parian, ada dimana dia. Parian memang cerita kalau adiknya tinggal dengan keluarga bibinya tapi dia tidak tahu dimana bibinya tinggal saat ini.

Parian bilang sudah lebih dari lima tahun terakhir ini dia tidak mendengar kabar mengenai keluarga bibinya, adiknya. Untuk mencari, Parian tidak tahu harus kemana. Alamat terakhir yang diberikan bibinya ternyata sudah tidak ditempati. Dan bibinya tidak pernah datang lagi, tidak juga adiknya. Maka jika ada yang bertanya apakah dia masih punya keluarga akan menjadi pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya. Mungkin adiknya masih hidup dan berbahagia mungkin juga sebaliknya atau bahkan mungkin adiknya sudah tiada. Hanya foto itu keluarga yang dia miliki, satu-satunya kenangan yang tertinggal untuk mengingatkannya kalau dia pernah punya keluarga.

Gadis itu seolah tersenyum dari bingkainya. Tikno membayangkan jika saat ini dia masih hidup pasti cantik sekali. Mungkin dia sudah bersuami karena pasti banyak lelaki yang menyukainya dan mau menjadikannya istri. Dia sendiri pasti tidak akan menolak. Sayang sekali saat ini keberadaanya tidak jelas. Pasti Parian sering merasa kesepian dan sedih sekali. Satu-satunya keluarga yang dia miliki tak diketahui nasibnya.

“Wah nglamun apalagi ini?” tiba-tiba saja Parian sudah ada di kamar Tikno.

“Eh kamu..nggak nglamun kok,” jawab Tikno berbohong.

“Maaf kalau buat kamu kaget tadi tak panggil kamu nggak nyahut.”

Tikno malu ketahuan sedang berbohong.

“Dia memang cantik mirip sekali dengan almarhum ibu. Andai saat ini dia disini dan belum menikah aku tidak keberatan kamu jadikan dia istri”

“Kamu bisa saja tapi memang adikmu sangat cantik. Kenapa kamu tidak coba lapor polisi?”

“Sudah tapi belum ada hasilnya. Lagipula kasus begini kan rumit, menurut mereka ini masalah keluarga tidak perlu melibatkan polisi”

“Iya juga tapi apa kamu serius?”

“Serius apanya?” tanya Parian bingung.

“Kalau seandainya dia masih ada dan belum menikah…”

“Tentu saja kalau kamu juga mau tentunya,” sahut Parian.

Tikno terdiam, pipinya merona.

“Nggak usah dijawab, doakan saja adikku tidak apa-apa dan kami bisa bertemu lagi,” lanjut Parian.

“Tentu saja.”

“Besok jam berapa keretanya berangkat?” tanya Parian.

“Jam sepuluh tapi jangan kaget keretanya hanya ada ekonomi lemah, maklum ke kota kecil.”

“Kamu kayak nggak kenal aku aja, aku sudah biasa. Kamu tenang saja.”

Malam itu mereka memutuskan tidur lebih cepat agar besok tidak terlalu capek. Perjalanan ke kota Bajul akan sangat melelahkan apalagi dengan kereta Kadang Mlaku Sring Mandeke atau KMSM, kereta yang amat sangat ekonomi. Malam itu Tikno bermimpi bertemu adik Parian dan benar dia memang cantik tapi dia kelihatan sangat sedih. Yang membuat Tikno ketakutan dari tangan kirinya mengeluarkan darah yang sangat banyak, dia juga kelihatan pucat dan lebih kurus dari foto yang biasa dia pandangi. Apa yang terjadi dengannya?

***

“Mak arek’e melek!” teriak Mat’ekae Lekiso begitu melihat perempuan di depannya membuka mata.

“Nang ndi aku?” si perempuan tampak kebingungan.

“Nang omahku. Mak ndang mrene!” Mat masih berteriak-triak.

“Opo to Mat kok bengak-bengok ae? sek nggoreng tempe ki lo,” Emak tampak tergopoh-gopoh demi mendengar Mat yang berteriak.

“Ki lo areka wes sadar Mak.”

“Nang ndi aku?” tanya perempuan itu sekali lagi.

“Kowe nang omahku cah ayu, nang omahe Mak’e Mat,” jawab Mak.

Setelah tidak sadarkan diri selama hampir tiga hari akhirnya perempuan yang ditemukan Mat dan pamannya sadar juga. Sebelumnya Mat sekeluarga sempat bingung dan takut kalau perempuan itu mati tapi jantungnya masih berdetak dan nadinya masih berdenyut mesti lemah. Tidak ada yang tahu keberadaan perempuan itu di rumah Mat karena mereka memang merahasiakannya. Mereka takut kalau ada apa-apa mereka akan dituduh.

“Jenengmu sopo cah ayu?” tanya Mak.

Perempuan itu diam, tak menjawab. Dia masih bingung. Dirasakan sekujur tubuhnya sangat sakit. Dia merasa sangat lemas, tak berdaya.

“Mat ojo mlongo koyok kebo, ndang jupukno banyu putih. Areke pasti ngelak.”

“Iyo Mak,” Mat bergegas ke dapur di belakang rumah.

Tapi tidak lama kemudian, “Mak tempemu gosong!”

“Opo ae seh kon iku Mat, ket mau isomu bengak-bengok ae” Mak mulai kesal dengan Mat.

“Iki Mak, tempemu gosong,” masih Mat berteriak dari dapur.

Emak yang kesal langsung menuju ke dapur untuk melihat.

“Lah kon cek goblok’e seh Mat. Duh gusti paringono sabar, duwe anak sitok ae kok congok pisan,” Mak mengelus-elus dadanya menahan marah.

“Kok malah aku tok seneni to mak?” suara Mat memelas.

“Lha lapo wajanku tok grujuk banyu ngene. Trus dadi opo tempene ki ngko”

“Lha wong gosong lo Mak,” katanya tanpa rasa bersalah.

“Diangkat wajane lak iso to cah edan,” Emak masih mengomel.

“Iku mau kate kobong wisan, kan panas mak,” Mat masih membela diri.

“Panas lek tok angkat katek bathukmu.”

Sambil terus menggerutu Emak mengangkat wajannya. Dipandanginya tempe yang digorengnya tadi, gosong dan bercampur air. Sedangkan Mat hanya mengamati saja dia tidak mengerti mengapa Mak begitu marah meski dia tak lagi protes. Baginya mendengar omelan Emak seperti mendengar kicauan burung di pagi hari tiap dia dan pamannya pergi ke hutan mencari kayu. Emak memang selalu mengomel tapi dia tahu Emak sangat sayang padanya. Dia ingat tiap mau tidur Emak selalu menemaninya, berdendang lirih untuknya. Sering Mat pura-pura tertidur dan Emak akan mengecup keningnya, pipinya. Baginya Emak adalah ibu terbaik di dunia. Dia begitu mencintainya dan tiba-tiba dia teringat pada gadis itu, gadis yang lincah itu, cinta monyetnya.

“Lapo to kok rebut ae ket mau? Tak rungokno ko mburi kok banter tenan,” Ulul tiba-tiba saja sudah di dapur.

“Opo maneh lek gak ponakanmu sing bagus dewe,” jawab Emak.

“Oh iyo yu, arek’e wes sadar ketoke.”

“Iyo. Ndang jupukno banyu pasti de’e ngelak. Trus tak ke’I pangganan opo arek’e wong tempene gosong ngene?” Emak kembali kesal mengingat tempenya.

Mat terdiam, dia tak berani bicara takut Emaknya marah lagi. Akhirnya Emak menyuruh Mat membeli lauk di warung tetangganya. Sungguh hal yang istimewa karena selama ini Emak memang tidak mau membeli makanan matang, tidak enak katanya. Kalau menurut Mat sih bukan tidak enak tapi Emak tidak punya cukup uang untuk membeli. Selama ini mereka memang hidup pas-pasan. Hasil menjual kayu hanya cukup untuk makan sehari-hari sehingga mereka harus benar-benar menghemat.

“Iki cah ayu diombe disik” kata Emak sambil menyodorkan segelas air putih ke perempuan itu.

Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar. Tangannya bergetar ketika menerima gelas dari Emak sehingga Emak membantunya memegangi gelas. Dalam sekejap air dalam gelas habis. Tampaknya dia benar-benar haus.

“Maneh?” tanya Emak.

Perempuan itu hanya mengangguk. Dipandanginya perempuan di depannya lalu pandangannya beralih ke dua laki-laki yang berdiri di belakang perempuan setengah baya itu. Dia tidak mengenalnya. Mat tampak tersenyum tipis ketika perempuan itu memandangnya, sedang pamannya Ulul tak berekspresi sama sekali.

“Aku Emak. Iki anakku Mat sijine adikku Ulul. Mreka yang nemu kamu nang pinggir alas,” kata Emak memperkenalkan diri.

Perempuan itu masih terdiam. Dia masih terlalu lemas untuk bergerak ataupun berbicara, dia juga masih bingung.

“Jenengmu sopo cah ayu?” tanya Emak.

“Aku…”tak dilanjutkannya.

Perempuan itu seperti sedang berpikir. Dia mulai ingat dengan apa yang telah terjadi padanya. Dia baru saja membunuh orang dan luka di tangannya itu adalah buktinya. Tangannya terluka oleh sabetan golok Tomin. Perempuan itu Jalang.

“Aku…Pari,” akhirnya dia menjawab.

“Pari?Ehm koyok jenenge iwak yo Mat?” kata Emak.

“Iyo Mak,” jawab Mat.

“Apik kok cah ayu. Ayo mangan mumpung sek anget segone,” ajak Emak. Dia tahu pasti Pari sangat lapar setelah sadar dari pingsannya.

Merekapun makan bersama. Pari tampak sangat lahap meski dia harus hati-hati dan pelan karena tubuhnya masih lemas. Emak pun kelihatan demikian. Ulul sepertinya juga menikmati makanannya, dia memang selalu menikmati makanan apapun yang disiapkan kakaknya. Hanya Mat yang kelihatan tidak begitu bersemangat. Dia kecewa karena Emak hanya membeli lauk untuk Pari sedang dirinya harus rela makan dengan lauk tempe gosong yang sudah diguyur air, entah bagaimana rasanya. Tapi melihat Pari begitu lahap, dia ikut senang. Di matanya saat ini muncul lagi sosok gadis lincah itu, gadis impiannya.

Advertisements

One thought on “KUTUKAN SI KUNTI seri 7

  1. Pingback: Kunti (Shumang leela) Part 16 | Acting Classes Drama Lessons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s