KUTUKAN SI KUNTI SERI 6

“Moi!” teriak Cendol.

Gadis yang dipanggil menoleh, “Heh Mbok Ndol. Opo’o?”

“Ki kenalno arek anyar. Ki anak buahku ojo diganggu.”

“Sopo?” tanya Moi.

“Tung kenalin ini Moi yang tak critain kemarin?”

Tung hanya mengangguk.

“Sopo jenengmu?”

“Aku Tung Mbak” jawab Tung sopan.

“Ayu” kata Moi lirih sambil memandangi Tung dari kaki sampai kepala.

“Tung kalau mau tanya apa-apa kamu bisa cari Moi. Iyakan Moi?”

“Iyo. Omahmu nang ndi Tung?”

“Di jembatan Kali Buthek Mbak”

“Anak’e wong sugih ta Mbok Ndol?”

“Maksudmu?” tanya Cendol tidak mengerti.

“Kok lek omong bahasa Indonesiaan”

“Tung lek omong biasa ae, anggep konco dewe. Ora usah wedi, arek kene apik-apik kok.”

“Iya Mbak”

“Oh iyo Tung mulai saiki gak usah nyeluk Mbak, Cendol ae yo ben santai. Kon kan koncoku”

Tung hanya mengangguk. Dia sungkan karena bagaimanapun Cendol adalah keponakan pemilik warung dimana dia pernah bekerja dan Cendol jugalah yang membawanya kesini.

“Tung?”

Tung tergagap, “Eh iya Mbak. Eh…”

“Sudah gak popo, ndak usah dipekso nanti lek kebiasaan dewe.”

“Eh ayo, wayahe mlebu iki ngko telat” ajak Moi.

Dan mereka bertigapun segera masuk pabrik. Mencari tempat masing-masing. Meskipun sebenarnya posisi sudah ditentukan oleh pengawas tapi bagi MM lama seperti Cendol dan Moi hal itu tidak selalu berlaku. Mereka akan memilih tempat yang paling nyaman buat mereka. Dan blok A adalah favorit mereka.

“Nang sebelahku ae Tung dadi ngko lek ono opo-opo gampang.”

“Iya Mbak”

“Arek-arek gak masuk ta Moi?”

“Mbuh aku yo durung ketemu tapi mau aku eruh Cepra. Nang warung lagi mangan koyoke”

“Tung wes iso to carane?”

“Iya Mbak”

“Yo wes ndang diangkat ngko lek kesuwen diseneni pengawas”

Tung mengangguk.

+62010xxx

Bahasa Indonesia

“Kleleken Senter pagi, bisa dibantu?”

“Aku minta lagu Mbak. Itu lo yang kayak gini …walau malam-malam tidak ada bintang..”

“Dengan siapa ini?”

“Itu lo yang nyanyi Duda Hardono”

“Maaf dengan siapa ini?” Tung mengulang pertanyaannya.

“Hengky Mandala Wati Mbak.”

“Pak Hengky minta lagu buat nada sumbang?”

“Kok bapak? Saya masih belum menikah. Saya masih muda” pelanggan protes.

“Baik Mas Hengky ya. Judulnya apa Mas, terus yang nyanyi siapa?”

“Judulnya Mati Dalam Kubur, yang main di RRYI itu lo Mbak. Masak Mbak nggak ngerti sih.”

“Bisa dipastiin judulnya Mas Hengky?”

“Yang kayak gini lo Mbak”

Si Pelanggan mulai menyanyi. Dan Tung yang kebingungan menekan tombol Muten dan bertanya pada Cendol di sebelahnya.

“Kamu Hell aja Tung, suruh orangnya nunggu.”

“Tau nggak Mbak?”

“Mas Hengky saya cari dulu lagunya, ditunggu ya?”

“Iya Mbak, lama juga nggak apa-apa. Buat Mbak apa sih yang nggak”

Hell On.

“Lagu siapa to itu Mbak?” tanya Tung pada Cendol.

“Dasar pelanggan congok. Itu lo Tung lagunya yang di sinetron Mati Dalam Kubur yang nyanyi Kangen Yo Ben. Judule Miber Karo Asu. Coba cek’en”

“Halo Mas Hengky, terimakasih ya sudah mau nunggu”

“Iya Mbak ndak apa-apa, buat Mbak cantik nunggu sampai kiamat juga mau he..he” pelanggan di seberang mulai cekikikan.

“Mas Hengky sudah saya cek ini lagunya Kangen Yo Ben judulnya Miber Karo Asu. Apa benar itu yang Mas minta?”

“Ya bener Mbak cantik. Itu maksudku tadi. Berapa mbak nomernya?”

“Dicatat ya” Tung pun memberikan nomer lagu yang diminta.

“Kalo nomer Mbak berapa?”

“Maaf Ya Mas Hengky saya tidak bisa kasih nomer pribadi. Telpon ke Kleleken Senter saja pasti nanti dibantu.”

“Nggak saya mau nomer Mbak sendiri kan enak nanti bisa langsung tanya nggak usah nunggu lama” pelanggan masih ngotot.

“Maaf tidak bisa. Ada yang lain?”

“Masak nggak bisa sih Mbak? Mbak rumahnya mana? Nanti saya main ya?”

Tung mulai bingung, dia belum tahu cara menangani pelanggan seperti ini. Cendol yang tahu Tung kebingungan langsung menyarankan ditutup saja telponnya.

“Asal kamu dah ngasih yang bener, kamu tutup aja Tung”

“Iya Mbak”

Tung pun mengakhiri telponnya tapi sepertinya pelanggannya belum bisa menerima.

“Mbak jangan ditutup, aku masih mau tanya”

“Maaf tidak bisa dilanjutkan…”

“Mbak…mbak….Asu!” pelanggan yang tidak terima telponnya ditutup mulai mencaci.

Tung menghela nafas panjang. Dia baru sehari kerja di Kleleken Senter dan sudah menerima berbagai macam pelanggan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengerti kenapa para MM sering teriak-teriak dan marah-marah. Tapi Tung masih bersyukur, setidaknya dia tidak bertemu langsung pelanggannya.

“Tung habis ini istirahat jangan lupa. Tapi telpon nggak boeh dimatikan lo”

“Iya mbak”

Dan merekapun menuju warung yang ada di bagian belakang pabrik, disana banyak sekali pegawai yang sedang istirahat. Tidak cuma para MM tapi dari bagian lain juga sedang istirahat untuk makan.      Karena para MM tetap harus menerima telpon selama istirahat maka mereka merubah posisi telpon dengan mode ransel, ditaruh di punggung. Meski keseringannya mereka menggunakan Muten dan Hell mode on.

Tung mencari tempat duduk, sedang Cendol memesan makanan. Dia lihat sekelilingnya, ramai. Para pegawai tampak menggerombol, ada semacam kelompok disini. Ada kelompok yang tampak sangat asik, mereka tertawa-tawa sambil menikmati makanan bukan MM karena mereka tidak membawa ransel telpon di punggungnya. Sedang di sampingnya tampak kelompok MM, mereka menikmati makanan sambil sedikit berbicara. Dari perilaku dan mimik yang ditunjukkan tampaknya mereka adalah sekumpulan MM baru, sama seperti Tung. Mereka bercakap-cakap tapi lirih sekali, hanya berbisik. Sedang di mejanya sendiri sangat ramai. Dia duduk bersama Moi dan MM lama lainnya. Itu karena Cendol yang membawanya.

Ketika sedang asik melihat-lihat sekelilingnya tanpa sengaja pandangannya mengarah ke Cendol yang masih berdiri di samping penjual. Wajah Tung seketika berubah. Tanpa sadar keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, badannya bergetar. Diucek-ucek matanya tanda tak percaya.

“Kunti” katanya lirih.

“Kok kon kenal Tung?” tanya Moi yang mendengar suara Tung.

“Eh Mbak Moi. Anu..itu Kunti?”

“Iya iku Kunti. Kon kok ngerti, kon lak arek anyar. Wes tau ketemu ta?”

“Aku..aku..” Tung benar-benar tidak menyangka. Bukankah kata Jalang Kunti sudah mati, dibunuh atau tepatnya mati dibakar warga Bajul. Kenapa dia sekarang bisa ada disini.

Tung semakin gelapapan ketika melihat Cendol dan gadis yang bernama Kunti menuju ke arahnya.

“Kene ae Kun” kata Cendol.

Gadis itu hanya mengangguk.

“Mbak Kunti” tampak seorang gadis di meja seberang menyapanya.

“Hei. Istirahat ya?” tanyanya.

“Iya Mbak”

“Makan dulu ya” pamitnya.

“Iya Mbak” jawab gadis itu lagi.

Tung masih terngangga.

“Tung kamu knapa?”

“Eh nggak Mbak” jawab Tung sambil tidak melepaskan pandangannya pada gadis yang duduk tepat di depannya.

“Oh ini ta? Ini namanya Kunti. Kun kenalin ki Tung, arek anyar” Cendol mengenalkannya.

“Runa” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya.

Tung masih terdiam.

“Tung?” Cendol mulai bingung dengan tingkah Tung yang terlihat aneh.

“Kunti?” tanya Tung lirih.

“Namanya Runa tapi arek-arek kene kenalnya Kunti. Jadi kamu panggil Kunti aja” kata Cendol.

“Iyo Kunti ae. Ngko lek tok celuk Runa malah akeh sing gak ngerti. Wes ta lah Kun trimonen ae jenengmu saiki Kunti dudu Runa. Mundak nggak ono sing ngerti” kata Moi menimpali.

“Yo sak karep” jawab gadis yang dipanggil Kunti tadi. dia menarik tangannya karena Tung tidak juga menerimanya.

“Cepra gak mlebu ta?”

“Mlebu tapi wes muleh jare kate nang rumah sakit prikso karo bojone. Koncomu gak popo ta Ndol?”

Kunti mulai cemas melihat Tung yang masih diam terpaku memandangnya.

“Tung? Kon knapa?” tanya Cendol.

“Eh nggak papa Mbak” jawab Tung. Dia mulai menyadari kalau sedari tadi dia terus memandangi gadis bernama kunti itu.

“Koyoke Tung wes kenal Kunti deh” kata Moi.

“Iyo ta Tung? kapan?”

“Masak? Aku lo belum pernah ketemu Tung” kata Kunti.

“Tung?” tanya Cendol lagi.

“Nggak kok Mbak. Belum pernah ketemu” jawab Tung akhirnya. Meski dia tidak yakin dengan apa yang dia katakan. Kalau dia memang Kunti yang pernah dikenalnya bukankah seharusnya dia mengenal Tung tapi Kunti yang di depannya ini sama sekali tidak menunjukkan kalau dia kenal Tung, meski dia bersikap ramah.

“Kon normal kan Tung?” tanya Moi tiba-tiba yang disambut tawa MM lainnya, termasuk Kunti.

“Ojo lho Tung, aku gak iso” kata Kunti bercanda.

“Walah Tung kon ndelok wong ayu ae mlongo koyok ngene. Ayo ndang mangan, iku pelangganmu kesuwen tok Hell On” kata Cendol.

“Eh iya Mbak”

Mereka masih tertawa melihat sikap Tung meski mereka tidak heran karena selama menjadi teman Runa atau Kunti hal seperti ini biasa terjadi. Kunti juga salah seorang MM lama di Kleleken Senter ini. Semua orang mengenalnya. Dan kalau Tung sampai terpesona itu juga tidak mengherankan karena Kunti terkenal dengan kecantikannya. Orang-orang akan terpaku setiap melihatnya. Rambutnya yang hitam dan panjang selalu terurai, senyumnya yang begitu mempesona, dia adalah idola.

***

“Gimana menurutmu Yan?” tanya Tikno.

“Wah kalau seperti ini ya harus diperiksa langsung dan tentu saja secepatnya” kata Parian.

“Menurutku juga seperti itu, waktu kita nggak banyak.”

“Jadi kapan menurutmu kita bisa berangkat?”

“Aku nunggu kamu, kapan kamu bisa ya kita langsung berangkat. Aku takut korbannya semakin banyak.”

“Oke kalau begitu nanti aku tak coba lapor ke kepala rumah sakit minta ijin. Secepatnya kamu tak kabari. Oh iya kamu nginap dimana?”

“Belum tahu, begitu nyampe aku langsung kesini”

“Kalau begitu kamu nginap di rumahku aja nanti kamu bisa cerita lebih banyak lagi.”

Tikno mengangguk, menyetujui. Setelah menunggu Parian menyelesaikan tugasnya di rumah sakit, mereka langsung pulang ke rumah Parian. Kurang lebih lima belas menit mereka menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda bebek milik Parian. Sepanjang perjalanan Parian banyak cerita mengenai kota Njotangan yang berkembang pesat. Tikno sendiri mendengarkan sambil menikmati suasana kota yang memang terlihat semakin hiruk pikuk, berbeda dengan ketika dia dulu tinggal disini.

Di sebuah rumah model peninggalan Belanda, Parian menghentikan sepedanya. Halamannya sangat luas dengan pohon-pohon besar yang sangat rindang. Masih sama, batin Tikno. Rumah ini tetap asri. Meski berteman baik tapi Tikno memang jarang main ke rumah Parian. Dulu ketika mereka masih sama-sama menimba ilmu di sekolah yang sama, Parian pernah mengajaknya ke rumah ketika libur semester. Selebihnya Tikno memanfaatkan waktu liburnya untuk pulang ke kampungnya sendiri.

Seorang wanita setengah baya menyambut mereka.

“Sudah pulang Den?”

“Iya mbok. Mbok masih ingat nggak ma Tikno?”

Perempuan yang dipanggil Mbok itu tampak terdiam sejenak. Dipandanginya Tikno sambil mencoba mengingat-ingat.

“Dulu pernah kesini, ya sudah lama sih sekitar tiga tahun lalu ya?” tanya Parian ke Tikno.

“Iya sudah lama” jawab Tikno.

“Sepertinya ingat. Maaf ya Den, maklum sudah tua” kata si Mbok.

“Nggak apa-apa Mbok, memang sudah lama sekali” kata Tikno.

“Ayo Tik masuk, anggap aja rumah sendiri.”

“Iya, trimakasih.”

Parian mempersilahkan Tikno duduk di ruang tamu tapi Tikno memilih untuk duduk di serambi saja. Rumah Parian memang sangat nyaman dan asri. Mekipun bangunan rumahnya tua tapi sangat bersih dan terawat. Jalanan yang cukup ramai dengan kendaraan atau orang yang berlalu-lalang  tak mengganggu ketenangan rumah karena luasnya halaman Parian. Pagar yang membatasi rumahnya dengan jalan raya tidak sampai setengah tubuh manusia sehingga dari rumah atau halaman bisa dengan mudah melihat jalanan di luar.

Sementara Tikno duduk sambil menikmati kenyamanan rumahnya, Parian masuk ke dalam dan berganti pakaian. Dimintanya Si Mbok untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati Tikno. Tidak lupa dia minta Si Mbok menyiapkan teh hangat dan pisang goreng hangat untuk Tikno.

“Trimakasih Mbok, nggak usah repot-repot” kata Tikno.

“Ndak apa-apa Den. Silahkan cuma seadanya.”

“Ini sudah lebih dari cukup Mbok. Trimakasih.”

Menikmati sore hari dengan segelas teh hangat dan pisang goreng sangatlah nikmat. Capek yang seharian mendera Tikno selama perjalanan langsung hilang. Parian benar-benar beruntung, batinnya.

“Nglamun apa?” suara Parian membuyarkan lamunan Tikno.

“Eh…nggak. Kamu beruntung sekali, rumahmu sangat nyaman. Kalau seperti ini rasanya aku nggak pingin kemana-mana.”

Parian tertawa.

“Kamu sendirian?” tanya Tikno.

“Ya beginilah, rumah selalu sepi. Sejak bapak dan ibu meninggal aku tinggal sendirian. Si mbok memang kerja disini tapi tidak tinggal disini” suara Parian sedikit sendu.

“Maaf” kata Tikno tidak enak.

“Nggak apa-apa. Aku sudah biasa.”

Tiba-tiba saja Tikno ingat keluarganya di desa. Bapak ibunya masih sehat. Dua adik perempuan dan seorang adik laki-laki membuat rumahnya tidak pernah sepi. Dulu dia sering kesal, menyesali keluarganya. Bapaknya yang hanya petani dan ibu yang seorang ibu rumah tangga biasa dengan adik-adik yang selalu minta diurus. Tidurnya harus berdesak-desakan karena di rumahnya tidak cukup kamar untuk mereka semua. Sering dia membayangkan andai dia tidak punya adik, mungkin kasih sayang orang tuanya akan bisa dia nikmati. Tapi itu tidak pernah terjadi. Bapak yang seharian capek karena kerja di sawah atau ladang sudah tidak punya waktu untuk memanjakannya. Ibu yang selalu repot mengurus adik-adiknya.

“Ayo kutunjukkan kamarmu” ajak Parian.

“Iya. Maaf merepotkan.”

“Tidak, justru aku senang karena ada temannya.”

Parian menunjukkan sebuah kamar. Kamarnya cukup luas dengan ranjang kayu besar di tengahnya. Di samping tampak jendela besar mengarah ke halaman, dengan tirai putih melambai tertiup angin. Tikno mengamati sekeliling kamar. Dan kekagumannya semakin besar. Sampai matanya tertuju pada sebuah bingkai foto di atas meja. Sebuah foto keluarga dengan seorang laki-laki duduk di dampingi seorang perempuan cantik berkebaya. Mereka pasti orang tua Parian. Dua orang tampak berdiri di belakangnya. Seorang laki-laki muda yang dia sudah kenal, Parian, tampak makin tampan dengan senyum tipisnya. Tapi seorang gadis di sampingnya, Tikno tidak pernah melihat dia sebelumnya.

“Itu adikku” kata Parian melihat Tikno yang tampak bingung dengan foto yang dilihatnya.

“Adikmu?” tanyanya tak percaya.

“Kenapa?Cantik ya?Sayang kamu tidak pernah ketemu dia, aku sendiri juga jarang.”

Gadis itu memang cantik, mirip sekali dengan ibunya. Umurnya mungkin sekitar 14 tahun ketika foto itu diambil tapi kecantikkannya sudah sangat mempesona. Malam itu setelah istrahat sejenak dan membersihkan badan Parian bercerita banyak pada Tikno. Tentang pekerjaannya, keluarganya, tentang adik yang merupakan satu-satunya keluarga yang dia miliki yang saat ini jauh darinya. Sejak kematian orang tuanya karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu, keluarga besarnya memutuskan membawa adiknya. Bibi dari ibunya membawa adiknya untuk diasuh. Mereka pikir adiknya terlalu muda untuk tinggal sendiri tanpa orang tua, sedang Parian yang saat itu baru saja masuk sekolah tinggi harus meninggalkan kotanya demi menuntut ilmu. Sejak itu Parian jarang sekali bertemu adiknya. Kesibukan pada pelajaran di sekolahnya serta kota yang memisahkan mereka, apalagi suami Bibinya adalah seorang pejabat keamanan sering dipindahtugaskan.

Sekali lagi Tikno merasa bersyukur. Dia tidak pernah kesepian, dia tidak sempat kesepian. Tiap kali akan belajar atau tidur adik-adiknya selalu saja mengganggu. Minta dibuatkan pesawat-pesawatan, main kuda-kudaan bahkan minta digendong kalau mereka sedang menyaksikan pertunjukkan wayang di desanya. Baginya saat itu tidak ada waktu untuk dirinya sendiri, ibu akan memintanya membantu menjaga adik-adiknya karena ibu harus memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Tikno tidak bisa menolaknya. Dan saat ini dia benar-benar kangen dengan adik-adiknya. Dua adik perempuannya sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di luar kota. Sedang adik laki-lakinya sedang menempuh pendidikan di sebuah akademi militer.

Orang tuanya memang bukan orang berada tapi mereka selalu bilang anak-anaknya harus jadi orang, membanggakan orang tuanya. Tikno sendiri jarang pulang karena setelah menempuh pendidikannya dia langsung ditugaskan di kota Bajul, jauh dari desanya. Orang tuanya tidak keberatan karena yang mereka inginkan anaknya bisa menjadi orang yang berguna. Dalam hati dia memutuskan kalau dia sudah berhasil membantu warga Bajul dia akan mengambil cuti untuk pulang, menjenguk orang tuanya.

“Bagaimana apa kamu sudah dapat seseorang yang cocok?” sekali lagi suara Parian membuyarkan lamunan Tikno.

“Hah…cocok apanya?” Tikno tidak mengerti maksud Parian.

“Perempuan. Apa kamu tidak mau menikah?”

“Oh..nggak tahu. Kamu sendiri?”

“Kok malah tanya. Di kota tempat kamu bekerja masak tidak ada perempuan yang cocok?”

“Aku baru beberapa bulan disana dan kamu tahu sendiri kondisinya. Jarang sekali bisa bertemu orang. Bukankah kamu disini lebih gampang cari istri?”

“Kota ini sudah berubah termasuk perempuannya. Memang banyak perempuan cantik tapi perempuan baik, entahlah. Perkembangan jaman memang kadang begitu menakutkan.”

“Lalu teman-teman kita bagaimana?Apa mereka juga nggak cocok? Pintar, cantik, keluarga baik-baik, apalagi?” tanya Tikno.

“Ha..ha..ha terlalu pintar, terlalu cantik, menakutkan.”

“Kamu memang pemilih” kata Tikno.

“Kamu sendiri apa? Apa yang kurang darimu, perempuan menggilaimu, pintar, baik. Siapa yang berani menolakmu?”

“Tidak ada yang mau.”

“Jangan bercanda, teman-teman perempuan kita begitu memujamu. Kamu saja yang tidak mau membuka diri. Mereka selalu mengerumunimu.”

“Mereka mengejarku karena pingin dekat ma kamu. Mereka mencari informasi tentang kamu. Kamu terlalu cuek” kata Tikno.

“Ha..ha..ha, sudah sudah jangan membuatku tertawa.”

Dan malampun mereka habiskan dengan obrolan. Dua sahabat yang terpisah karena tugas sedang menggenang memori bersama, membuat memori baru. Malam itu juga Parian mendapat berita kalau dia diijinkan membantu Tikno. Kepala rumah sakit memberinya ijin karena sudah berhasil menemukan pengganti sementara yang akan mengambil alih tugas Parian dan dua hari lagi dia akan berangkat ke kota Bajul bersama Tikno.

***

“Cuk!Asu!” Jalang mengumpat. Dia terjatuh karena tiba-tiba saja kakinya tersandung kayu yang entah kapan tiba-tiba sudah muncul di depannya.

“Ayo lek wani saiki. Tak tandangi kon!” Tomin sudah siap dengan posisi kuda-kudanya.

“Kon ancen asu. Ayo!tok pikir aku wedi ta karo raimu?” Jalang tampak sangat emosi. Dia marah karena Tomin telah berbuat pengecut dengan menyabotase jalannya. Diambilnya kayu yang tadi menyandungnya.

Sore itu sepulang kerja di rumah Pak Djon seperti biasa Jalang melewati jalan setapak yang ada di sepanjang pinggir Kali Buthek. Ternyata pertengkarannya dengan Tomin tadi siang di toko Pak Djon begitu membekas pada Tomin. Dia sakit hati dengan Jalang, dia marah karena gara-gara itu dia juga dimarahi Pak Djon. Jalang harus mendapat balasan pikirnya dan dipilihnya sore ini. Dia tahu Jalang selalu melewati jalan ini tiap pulang, sangat cocok karena jalanan ini sepi.

“Lek sesuk kon sek urip ojo nyeluk aku Jalang!” Jalang sudah siap-siap mengayunkan kayunya ke arah Tomin.

“Kon ancen Jalang sesuai karo jenenge. Asu Jalang!” Tomin tidak kalah marah.

“Wes ojo kakean bacot, ayo dientekno saiki ae. Asu koyok kon gak pantes urip nang dunyo” dan Jalangpun melayangkan kayunya tepat ke badan Tomin.

Tomin mengaduh.

“Jancuk!Kon ancen kudu tak pateni!” Tomin mengeluarkan sebilah golok dari balik bajunya yang sedari tadi memang sudah dia siapkan.

Jalang terkejut tapi langsung siaga. Dia tidak punya pilihan, dibunuh atau membunuh. Dia tidak peduli. Dia seperti kemasukkan setan. Kondisi fisiknya yang sebenarnya lemah entah kenapa seperti tiba-tiba mendapat energi baru. Dengan membabi buta dipukulkan kayu yang sedari tadi digenggamnya ke tubuh Tomin. Tangan, kaki, kepala, semua yang bisa dikenainya.

Cress!

Darah mengucur dari tangan Jalang ketika golok mengenai tangan kirinya.

“Asu!” teriaknya.

Jalang mundur sesaat, darah tampak mulai membanjiri tangannya. Dia meringis, menahan sakit. Tomin yang mengetahui lawannya terluka tampak tertawa bahagia.

“Matek kon!Ha..ha..ha”

Jalang menyeringai. Diayunkan kayu dengan sisa tenaga yang dia miliki ke kepala Tomin. Tomin yang tidak sadar karena merasa telah menang tidak sempat mengelak.

Brak!

Kayu yang dipegang Jalang patah setelah mengenai kepala Tomin. Darah segar langsung mengucur dari kepalanya. Tomin terdiam dengan mata terbelalak. Beberapa menit kemudian dia roboh bersimbah darah. Jalang jatuh terduduk, dipeganginya tangan kirinya yang terus mengeluarkan darah. Sejenak dia diam di tempatnya, mencoba mengumpulkan tenaga. Dipandanginya tubuh Tomin yang tidak bergerak. Jalanan masih sepi. Perlahan dia berdiri, menjauh dari tempatnya, meninggalkan Tomin yang terkapar di tengah jalan.

Seperti biasa gubuknya masih sepi. Tung belum pulang. Diacaknya tumpukan baju yang berserak di lantai. Diambil salah satu dan disobeknya. Tangannya masih terus mengeluarkan darah dan harus dihentikan. Diikat tangan kirinya dengan menggigit salah satu ujung kain. Dililitkan beberapa kali sebelum mengikat ujungnya.

“Cuk!”

Nafasnya mulai memburu. Diraihnya botol air di sampingnya.

“Asu!” dilempar botol yang baru diraihnya begitu mengetahui ternyata isinya kosong.

Jalang mulai cemas. Apa yang baru saja dialaminya mulai merasuki pikirannya. Tomin, laki-laki itu mungkin  sudah mati. Dia memang pantas mati, pikirnya tapi apa yang akan terjadi padanya. Dia baru saja membunuh dan orang-orang mungkin sudah menemukan mayatnya dan akan segera mencari pembunuhnya. Dia harus pergi.

“Tung sepurane” ucapnya lirih.

Remang sore yang sudah beranjak malam ditembusnya. Tidak banyak yang dia bawa karena memang tak banyak yang dia miliki. Baginya yang terpenting adalah meninggalkan kota ini, secepatnya dan sejauh mungkin. Dengan menahan rasa sakit di tangannya yang saat ini sudah menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Kakinya terasa semakin berat, kepalanya mulai pusing. Mual mulai menyeruak dari perutnya. Dia ingin muntah. Tapi dia tidak mau berhenti. Entah sudah berapa lama dia berjalan, dia tidak tahu. Dia seperti mayat hidup yang berjalan tanpa arah, tanpa tujuan sampai akhirnya dia tidak kuat, dia pingsan.

“Lang!Jalang!” teriak Tung.

Aneh pikirnya, kenapa gubuk berantakan sekali. Baju-bajunya berserakan. Dinyalakan lampu minyak untuk meneranginya. Tidak biasanya Jalang membiarkan gubuk mereka gelap gulita. Tung terkejut begitu melihat diantara bajunya yang terserak ada bercak-bercak darah.

“Akh!Da..darah siapa ini” Tung mulai cemas.

Jalang selalu pulang lebih awal dari Tung dan dia tak pernah meninggalkan gubuk terbuka jika ditinggal. Apakah ada yang mendobrak masuk ke gubuknya dan mencuri sesuatu, pertanyaan-pertanyaan mulai menghinggapinya. Tapi apa yang mau dicuri, di gubuk ini Jalang dan Tung tidak punya barang-barang berharga, seharusnya mereka tahu itu jika mau mencuri. Dan darah ini milik siapa.

“Lang!Jalang!” Tung mulai memanggil-manggil lagi.

Tidak ada jawaban. Dipandanginya sekitar gubuk, jembatan Kali Buthek, tidak ada. Tung tidak menemukan Jalang. Meski cemas Tung memutuskan untuk menunggu Jalang di dalam gubuk. Ditata baju-baju yang berserakan. Dibersihkan bekas darah yang tercecer. Pikiran buruk mulai menghantuinya tapi dia mencoba tenang. Apakah ada yang lebih buruk lagi dari apa yang dia sudah lalui, batinnya. Dalam hati dia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Jalang. Jalang adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki, satu-satunya harta yang dia punyai dan dia tak ingin kehilangan lagi. Tak terasa airmatanya menetes.

“Tuhan kalau kamu memang ada, lindungi dia” bisiknya lirih. Setelah apa yang dia alami Tung memang tidak begitu percaya pada Tuhan. Tapi kali ini dia berdoa, dia meminta. Hidupnya yang keras membuat hatinya ikut mengeras. Tuhan baginya terlalu jauh untuk mengerti karena selama ini dia merasa sendiri.  Hanya Jalang yang dia miliki dan saat ini entah dimana dia.

Malam terasa begitu gelap saat ini. Tung semakin terperangkap dalam hitamnya. Dicoba merebahkan badan agar bisa tidur tapi tidak bisa. Jalang mungkin bukan teman tidur yang baik tapi ada rasa nyaman ketika dia di sampingnya. Rasa bahwa dia tidak sendiri, rasa bahwa dia masih punya alasan untuk tetap menjalani hidupnya yang begitu pahit. Saat itu semua rasa itu hilang. Sudah tengah malam dan tidak ada tanda kalau Jalang akan pulang. Karena kecapekan akhirnya Tung tertidur juga.

“Lang kon nang ndi ae?” tanya Tung begitu Jalang pulang.

Jalang hanya diam.

“Lang kon krungu gak sih?” Tung kembali bertanya.

Dan Jalang masih diam.

“Lang kon gak popo ta?Kon kok pucet sih?” Tung mulai cemas.

Dan tiba-tiba Jalang menghilang.

“Lang…Jalang!” Tung mengejarnya sambil berteriak memanggil nama Jalang.

“Lang!Jalang!Kon kate nang ndi?” Tung masih terisak.

“Ojo ninggalno aku, aku ga pingin dewe.Jalang!”

“Akh!!!” Tung berteriak keras sekali.

“Lang..Jalang!” Tung memanggil lagi.

Tung terengah-engah. Dia bangun dan duduk sambil mengatur nafasnya.

“Lang kon nang ndi?” katanya lirih sambil mulai terisak.

Langit di luar masih gelap. Sunyi. Tung masih sendiri di gubuknya. Dia menangis.

“Kutukan apa lagi yang kau timpakan padaku?”

Malam itu Jalang tidak pulang, tidak pernah pulang. Tung yang masih takut tidak ingin tidur lagi. Dia takut dengan mimpi yang baru dia alami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s