SEBUAH EMAIL: Pengecut

Aku baru saja nonton serial televisi tentang seseorang yang tidak berani mengakui kalau dia pernah gagal. Belum berani mengakui kalau dia adalah seorang penakut, pengecut. Aku sempat tertawa, nggak nyangka kalau ada orang seperti itu. Aku masih tertawa tapi bukan lagi menertawakan karakter di serial itu. Aku menertawai diriku sendiri. Entah bagaimana aku melihat diriku. Selama ini aku begitu tinggi meletakkan diriku, sampai nggak sadar kalau kakiku tidak lagi menginjak bumi.

Kesombonganku bukan karena tahu kelebihanku, ternyata, tapi karena aku takut dengan kenyataan. Aku terlalu takut jatuh, sakit, aku nggak tahu kalau seperti ini justru lebih menyakitkan. Aku tidak terbiasa mengatakan apa yang kurasa, apa yang kumau. Berharap dimengerti tanpa kata ternyata tidak bisa. Tidak ada yang bisa mengerti. Orang salah mengartikanku tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar mereka mengerti. Kadang kupikir tidak ada gunanya karena bagiku mereka tidak pernah akan mengerti. Aku ragu mereka mau mengerti.

Diamku kupikir bisa menyelesaikan masalah, tidak memperbesar masalah mungkin tapi tidak pernah menyelesaikan masalah. Aku akan pergi ketika tak kutemukan sesuatu yang bisa kupertahankan lagi. Aku tidak pernah merasa layak untuk memperjuangkan apa yang kumau. Akhirnya aku diam dan merekapun bilang aku tidak peduli. Aku pun pergi dan mereka bilang aku benci. Aku bahkan tidak tahu apa aku berhak membenci. Sedang mencintai saja aku takut setengah mati.

Hidup bagiku nggak lebih dari mimpi karena dalam mimpi aku bisa melihat apa yang tidak bisa kulihat di dunia ini. Mimpi yang membuatku bertahan sampai saat ini. Aku nggak tahu apa tujuanku hidup di dunia ini. Aku terbiasa menerima yang ada tanpa pernah berani bertanya. Aku tidak mau dibilang terlalu menuntut meski aku tahu betul kadang aku pingin sekali. Aku lebih sering lari daripada menghadapi kenyataan hidup ini. Kali ini aku tertawa sendiri, aku nggak lebih dari seorang pengecut.

Tembokku terlalu tebal untuk ditembus, kupikir, aku lupa kalau sakit bukan hanya dari luar tapi dari dalam. Tau kenapa aku nggak suka dipandang, menatap langsung mata? Karena aku nggak mau ada yang tau apa yang kupikirkan, kurasakan. Tak terucap, tak tersirat dalam tindakan tapi aku yakin mata tidak bisa bohong. Aku terlalu sering membohongi diri sendiri. Aku kuat agar mereka kuat, agar mereka tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku nggak kuat. Dan kurasa aku mengkhawatirkan mereka dengan pemikiran kalau aku tidak pernah khawatir dengan apapun, aku terlalu tidak peduli.

Aku benci pengecut, kurasa aku harus membenci diriku sendiri. Aku nggak bisa mengatakan apa yang kumau dan aku benci sekali itu. Maka ketika kulihat kepengecutan itu pada orang lain, aku seperti melihat diriku sendiri dan aku tidak suka itu. Aku tahu apa yang aku katakan meski kadang sulit menjelaskan. Aku tahu apa yang kubicarakan tapi kadang aku nggak tahu harus bicara apa. Mimpi. Separah itukah aku? Sedang hampir semua orang di sekitarku tak bisa menyangkalku. Aku begitu pandai bicara tapi tidak untuk membicarakan diriku.

Orang boleh bilang aku tidak tahu malu, mereka tidak tahu apa-apa. Aku tahu betul aku malu dengan diriku. Bahkan untuk mengakui satu saja perasaanku aku harus kehilangan dulu. Untuk mengakui satu saja rasa yang orang lain biasa rasakan, aku harus melalui siksaan ribuan malam tanpa tidur lelap.  Dan tahu apa hasilnya? Aku tidak pernah bisa mengatakan. Aku lebih sering mencaci dan orang akan bilang aku kasar, aku tidak mencaci mereka, aku mencaci diriku sendiri. Aku memaki kebodohanku sendiri.

Jangan bilang aku bermimpi karena mimpi lebih indah, tidak. Bahkan dalam mimpi aku pun dhantui. Karena pikiran-pikiran yang seharusnya keluar kupaksa semedi dan berubah menjadi monster yang setiap malam harus kutemui. Tidak mudah. Aku jarang sekali menangis dalam kenyataan tapi aku sering sekali menangis dalam mimpi. Karena menangis bagiku adalah sesuatu yang harus kuhindari. Orang kuat tidak menangis, itu yang kupikirkan dulu. Ternyata pengecutlah yang tidak berani menangis dan lebih memilih mengatakan kalau dia baik-baik saja sedang dia tahu betul dia tidak baik-baik saja.

Advertisements

One thought on “SEBUAH EMAIL: Pengecut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s