KUTUKAN SI KUNTI seri 5

Seorang gadis cantik sedang berdiri di pinggir jalan. Dia terlihat cemas. Sesekali diliriknya jalan seperti sedang menunggu sesuatu atau seseorang. Pagi ini cuaca begitu cerah nampak kontras dengan wajah si gadis yang muram. Ditarik-tarik ujung bajunya. Dipenjamkan matanya, mulutnya seperti mengucapkan sesuatu. Tak terdengar karena sepertinya dia sedang berbicara dengan dirinya sendiri atau mungkin sedang berdoa.

“Tung” tiba-tiba saja ada suara memanggil namanya.

“Ada apa?” Tung tampak enggan menjawab, sepertinya dia juga kecewa.

Ternyata seorang laki-laki sudah berdiri di sampingnya. Dari raut muka dan cara Tung menjawab jelas sekali bukan kehadiran laki-laki ini yang dia tunggu.

“Lapo nang kono, gak jogo warung ta?”

“Prei” jawabnya singkat.

“O..trus lapo nang kono?”  si laki-laki masih saja bertanya.

“Nunggu koncoku”

“Lanang yo?”

Laki-laki itu bertanya sambil cengengesan dan tingkahnya itu semakin membuat Tung kesal.

“Bukan urusanmu!”

“Ngono ae nesu aku kan cuman takok tok. Eh Tung kapan-kapan ndelok pasar malem bareng yuk. Ngko tak tukokno kembang gulo. Tak papak nang omahmu ya?”

Benar-benar menyebalkan apa yang dilakukan laki-laki itu tapi Tung tidak mau ambil pusing. Saat ini dia sedang menunggu seseorang yang akan merubah nasibnya.

“Tung..kok meneng ae to?”

“Tung maaf ya sudah nunggu lama” tiba-tiba saja seorang gadis muda mendekati Tung.

Tung kaget.

“Eh mbak Cendol, nggak apa-apa mbak”

“Sepurane ya Tung tadi itu aku nunggu Boio. Pancet ae arek iku jare kate mapak jam setengah enem tibane malah gak sido. Ngerti ngono lak aku budal ket mau”

Cendol tampak emosi.

“Nggak papa mbak, aku juga baru datang kok”

“Eh ini siapa?” Cendol baru menyadari   kalau ada laki-laki di samping Tung.

“Pacarmu ya Tung” tanya Cendol lagi.

“Iya” si laki-laki langsung menyahut.

“Oh..”

“Bukan mbak. Dia bukan pacarku kok tadi cuma lewat”

“Nggak usah malu Tung, nggak papa kok”

“Iya nggak usah malu Tung. Jadi ya besok malam minggu ke pasar malem?” laki-laki itu tampak kegirangan karena Cendol menyangka dia adalah pacar Tung.

“Ayo mbak kita berangkat” ajak Tung, tak dihiraukannya laki-laki di sebelahnya itu.

“Oh iya nanti kita telat”

“Lho Tung piye to kok malah ditinggal. Tak papak yo nang omahmu?” laki-laki itu masih saja kukuh.

Tung tarik tangan Cendol menjauh dari laki-laki itu.

“Ayo mbak cepat” tak diperdulikannya laki-laki yang masih saja berteriak-teriak itu.

Cendol kebingungan tapi dia pasrah, diikutinya Tung. Dalam perjalanan Tung bercerita kalau laki-laki tadi hanya orang iseng. Dia adalah salah satu langganan di warung Bu Piah.  Cendolpun maklum kenapa Tung bersikap seperti itu. Dia tahu betul bagaimana perangai laki-laki pelanggan di warung bibinya.

“Tung…aku seneng kon!” dari jauh masih terdengar suara laki-laki itu.

Cendol hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam batinnya dia harus bisa membantu Tung. Tung harus bisa bekerja di pabriknya agar bisa menghindar dari laki-laki kurang ajar seperti laki-laki tadi,  setidaknya gangguan secara fisik.

Merekapun sampai di pabrik Kleleken Senter tempat Cendol bekerja. Setelah membayar becak, mereka menujus Pos jaga untuk lapor. Di Kleleken Senter semua orang yang mau masuk harus lapor dulu. Untuk pegawai diberi semacam keplek dari kertas dibungkus plastik, tertulis nama pegawai dan dari bagian apa. Cendol Gedhi bagian Mangap-mangap (MM), Tung melirik keplek yang ditunjukkan Cendol pada penjaga pos. Pada penjaga Cendol mengatakan kalau Tung adalah calon pegawai baru dan dia sudah membuat janji dengan Mandor untuk bertemu. Tung pun diminta menulis nama dan alamat. Tung Mot, bawah Jembatan Kali Buthek. Si penjaga tampak sedikit bingung dengan apa yang Tung tulis, sesaat diliriknya gadis itu. Tapi kemudian Cendol menjelaskan pada penjaga dan merekapun dipersilahkan masuk.

“Tung kamu tunggu disini dulu, aku mau lapor ke Mandor dulu ya” kata Cendol pada Tung.

“Iya mbak”

Dan Cendolpun menuju ke sebuah ruangan. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan perempuan yang berada di depan ruangan, Cendolpun masuk. Tak lama kemudian dia keluar.

“Tung kamu boleh masuk, Pak Mandor sudah menunggu.”

“Aku takut mbak”

“Nggak usah takut. Nanti kamu akan ditanya-tanya sedikit, kamu jawab saja apa adanya”

“Ditanyai apa mbak?”

“Paling-paling tentang sekolahmu dulu. Nggak papa tadi aku sudah sedikit cerita tentang kamu”

“Tapi mbak…”

“Sudah jangan takut, Pak Mandor orangnya baik kok. Asal kamu sopan aku yakin kamu pasti diterima. Apa kamu nggak pingin kerja disini?”

“Pingin banget mbak. Aku sudah nggak kuat kerja di warung. Bu…bukan karena Bu Piah kok mbak  tapi…”  Tung segera meralat takut kalau Cendol salah sangka dengan maksudnya.

“Nggak apa-apa Tung, aku ngerti kok. Ayo cepat masuk Pak Mandor dah nunggu”

“Iya mbak”

Dengan perasaan masih cemas Tung masuk. Sebelumnya dia tersenyum pada perempuan yang duduk di depan ruang Pak Mandor tapi tampaknya yang disenyumi sedang tidak berselera beramahtamah. Dan Tungpun kembali cemas. Dia harus masuk. Cendol sudah membantunya sejauh ini, dia tidak boleh kembali. Tekadnya sudah bulat, dia ingin merubah nasibnya. Dan di depannya saat ini adalah jalan menuju ke perubahan itu.

***

“Lang iku telone tulung lebokno ya, aku kate nang Pak Samin njupuk liyane”

“Nggih Pak”

Pagi ini Jalang membantu di toko Pak Djon. Tidak seperti Tung memang yang hampir pasti bekerja di warung Bu Piah, Jalang lebih sering berpindah-pindah dari satu toko ke toko lainnya, tergantung yang sedang butuh bantuan. Bagi mereka memperkerjakan Jalang tidak lebih hanya karena kasihan saja. Tubuh Jalang yang kurus kering sangat tidak cocok untuk jadi kuli angkut tapi warung-warung tidak ada yang mau menggunakan jasanya.

Biasanya pada hari Jum’at Jalang bisa seperti ini, mendapat pekerjaan, selebihnya mungkin hanya menjaga dagangan sebentar sebelum diangkut ke truk-truk untuk dikirimkan. Di pasar memang sering terjadi pencurian, barang-barang dagangan yang akan diangkut jika tidak dijaga bisa lenyap oleh kawanan pencuri cilik. Tak jarang juga dia hanya mengumpulkan kertas atau plastik-plastik yang banyak dibuang di sekitar toko untuk dijual lagi ke pengepul. Itupun kadang pemilik toko tidak mengijinkan.

“Akh!”

Tiba-tiba Jalang mengaduh. Rupanya pundaknya terseleo ketika mencoba mengangkat singkong.

“Cuk!”

Jalang tampak kesal. Dia kesal kenapa tubuhnya begitu lemah. Saat ini bukan waktunya bermanja-manja, dia harus kerja kalau ingin bisa makan. Itu artinya dia harus kuat, sehat.

“Lapo kon Lang? mrotol ta balungmu?ha…ha..ha” Tomin, salah seorang pembantu Pak Djon mencibirnya.

“Cuk lapo takon-takon”

“Ha…ha makane ta ojo polah. Awak sakmono ae kemlinti dadi kuli angkut barang”

“Opo urusane karo kowe cuk? Awak-awakku dewe” Jalang semakin kesal.

“Gak cuma raimu, cangkemmu rusak pisan” Tomin ikut emosi.

“Kon lek gak meneng, raimu yo bakal rusak pisan. Gelem ta?”

Jalang mungkin hanya perempuan rapuh tapi kata-katanya, gertakannya ternyata mampu membuat ciut nyali Tomin.

“Gathel!”

“Cangkemu omong opo?” Jalang sudah bersiap-siap menyerang Tomin.

“Opo-opoan iki? Ditinggal sediluk ae wes podo gembrah.”

Jalang dan Tomin sama-sama diam. Mereka tidak ingin mencari masalah. Mereka tahu betul Pak Djon tidak suka melihat pertengkaran, apalagi pada pegawainya sendiri.

“Ayo kerjo maneh. Kon lapo nang kene Min? Aku lak wes kondo sing nang gudang ndang ditokno”

“Nggih Pak” dan Tomin pun masuk ke dalam.

“Awakmu gak popo Lang?”

“Mboten Pak”

“Aku gak seneng lek pegawaiku podo gelutan. Lek pingin kerjo nang kene yo kudu gelem melu peraturan”

“Nggih”

“Ngerti ora?”

“Ngertos Pak.”

***

Tung diterima kerja di Kleleken Senter. Dia begitu gembira. Pak Mandor bilang besok Tung sudah boleh masuk meski tidak langsung kerja karena dia harus diajari dulu tugas-tugasnya serta peraturan-peraturan yang ada di Kleleken Senter. Dan malamnya seperti biasa karena terlalu senang dia malah tidak bisa tidur.

“Cuk, opo maneh saiki?” lagi-lagi Jalang protes.

Memang Jalang belum tahu kalau Tung sudah mendapat pekerjaan baru dan Tung memang berencana memberitahunya.

“Eh Lang…”

“Opo?”

“Sesuk aku ora kerjo nang warung maneh” tidak dilanjutkannya.

Sampai akhirnya Jalang berkomentar, “Yo sak karepmu lah”

“Sek ta rungokno”

“Lha tok pikir aku ket mau lapo Cuk”

“Sesuk aku kerjo nang Kleleken Senter diajak Mbak Cendol”

“ Toko opo iku?”

“Guduk toko tapi pabrik. Mbak Cendol, ponakane Bu Piah, kan kerjo nang kono trus aku diajak. Jare kerjone gampang ngangkat telpon tok lan bayarane akeh.”

“Trus?”

“Sesuk aku wes langsung masuk mau wes ketemu Mandor’e. Huh…” Tung menghela nafas panjang dalam khayalannya tidak akan ada lagi laki-laki iseng yang menggodanya. Dia bisa dapat uang lebih banyak. Cendol cerita bayaran di Kleleken Senter per bulan bisa untuk beli satu Hang Phong terbaru. Mesti dia tidak tahu berapa tapi dia yakin sangat banyak. Membayangkannya dia jadi tersenyum-senyum.

“Gendeng pisan!” kata Jalang.

***

Sehari penuh Tung mendapat pengarahan di pabrik barunya. Pak Mandor memberitahu Tung mengenai peraturan yang ada di Kleleken Senter. Di Kleleken Senter ini ada semacam target yang harus dipenuhi pegawai yaitu banyaknya telpon yang harus bisa diterima dalam satu hari. Karena banyaknya telpon yang masuk maka setiap pegawai harus tetap mengangkat telpon meskipun sedang istirahat, seperti ketika makan ataupun ke kamar kecil. Itu kenapa perangkat telpon dirancang sefleksibel mungkin sehingga tetap melekat pada pegawai sampai jam pulang kerja. Bentuknya dibuat semacam tas ransel yang melekat di punggung dengan kabel yang terhubung langsung pada telinga dan mulut. Mau jalan-jalan sambil menerima telpon tidak menjadi soal.

Suasana kerja di Kleleken Senter lebih mirip pasar daripada pabrik, ramai. Masing-masing pegawai tampak sibuk menerima telpon dari pelanggan dengan berbagai posisi yang mereka buat senyaman mungkin. Tung benar-benar terkesima. Tampak di sudut ruangan seorang pegawai sedang menerima telpon dengan duduk rapi di mejanya. Di sampingnya terdapat berbagai macam makanan mulai dari camilan sampai makanan besar yaitu nasi. Sebuah botol besar air putih dengan isi tinggal separuh. Si pegawai tampak asik, sesekali dia memasukkan camilan ke mulutnya sambil terus bicara dengan pelanggan. Sedang di sisi lain tampak seorang pegawai tiduran di lantai. Dia menggengam sebuah majalah. Sangat mengasikkan kelihatannya. Di sebelahnya lagi temannya sedang menggerak-gerakkan badan seperti orang sedang olah raga. Dia berdiri dengan kedua tangan memegang kepalanya lalu jongkok. Berdiri kemudian jongkok.

“Bagaimana Tung?” sebuah suara mengagetkan Tung yang masih terkesima dengan suasana di Kleleken Senter.

“Eh Mbak Cendol. Iya mbak sudah. Tadi baru dapat pengarahan dari Pak Mandor sekarang aku disuruh liat-liat suasana kerjanya.”

“Ya seperti ini di Kleleken Senter. Ramai tapi mengasikkan. Mau sambil apa saja boleh asal telpon harus diterima.”

Cendol tampak menjelaskan pada Tung.

“Kapan kamu mulai menerima telpon?”

“Kata Pak Mandor besok saja, hari ini aku diminta keliling melihat-lihat sambil mendengarkan pegawai yang sedang menerima telpon biar tahu caranya.”

“Ya sudah kamu lanjutin aja. Kalau mau ikut aku, aku di pos pojok Blok A. Disana enak, jauh dari pengawas dan nggak terlalu dingin. Tempatnya juga nggak serame ini jadi bisa tidur.”

“Iya mbak nanti aku kesana.”

Sungguh suasana kerja yang menyenangkan, tidak seperti di warung Bu Piah. Tung tersenyum-senyum membayangkan dirinya besok sudah mulai kerja, menerima telpon seperti pegawai-pegawai yang lain. Tidak ada lagi yang akan mengusilinya. Tidak ada lagi yang akan berlaku kurang ajar padanya. Dan yang lebih membuat Tung bahagia adalah membayangkan bayarannya. Dia ingin membeli baju baru, sandal, tas, semuanya. Dia melihat semua pegawai disini bajunya bagus-bagus dan terlihat mahal. Rasanya tak sabar bagi Tung untuk segera merasakan hal yang sama.

“Jancuk!Gathel!”

Suara teriakan yang cukup keras mengagetkan Tung. Tampak seorang pegawai berdiri sambil marah-marah. Pegawai-pegawai lain yang mendengar juga ikut menoleh.

“Nggatheli ancen wong iki!Cuk!” masih dilanjutkan omelannya, entah pada siapa.

“Santap ae Moi. Ancen nggapleki wong-wong iku”  teman di sebelahnya tampak menyemangati.

“Congok!” pegawai yang dipanggil Moi tadi masih semangat mencaci.

“Sabar Moi. Pateni ae ha…ha…ha” teman yang lain malah menertawakannya.

Seisi Kleleken Senter ikut tertawa membuat suasana tambah gaduh. Tung masih terpana. Tiba-tiba seorang pengawas mendekati Moi.

“Ada apa ramai-ramai?” tanyanya.

Yang ditanya diam sejenak, menahan emosinya.

“Ki lo Mbak wonge jan cuongok. Mangkel aku” katanya membela diri.

Pegawai yang lain tampak senyum-senyum saja, mereka berusaha menahan tawa.

“Kamu kan dah ngerti aturannya”

“Iya”

Pengawas itu pun tidak berlama-lama. Dia kembali ke mejanya. Sedangkan Moi tampak bersunggut-sungut.

“Cik!”

Moi adalah pegawai lama di Klelekan Senter. Semua pegawai sudah mengenalnya. Dia adalah Mangap-mangap (MM) terbaik tahun lalu dan tahun ini masih dipromosikan. Senioritas berlaku disini. Semua pegawai baru pasti akan dikenalkan secara tidak formal ke pegawai atau MM lama seperti Moi. Ada hukum tidak tertulis disini. Hormat dan patuh pada senior. Adalah tugas kepala kelompok untuk mengenalkan anak buah barunya pada senior-senior.

Selain terkenal karena MM lama dan terbaik di Kleleken Senter Moi juga terkenal karena perilakunya. Moi adalah sumber berita di Kleleken Senter. Tanya apa saja mengenai pegawai atau keadaan pabrik, dia pasti tahu. Mulai dari MM yang kena sangsi dari pabrik, dikeluarkan dari pabrik atau pun masalah percintaan antar sesama MM atau pegawai lainnya, dia pasti tahu. Entah dari mana dia tahu semua itu. Dia selalu bilang sumbernya sangat terpercaya tapi rahasia. Ratu gosip julukannya.

“Tung kamu kenapa?” sebuah sentuhan halus mengagetkan Tung.

“Eh nggak Mbak”

Ternyata Cendol melihat Tung yang tampak terkejut dengan apa yang baru dilihatnya.

“Jangan takut, nggak apa-apa kok. Disini sudah biasa seperti ini” Cendol menjelaskan.

Tung masih terkesima.

“Kamu tahu gadis itu” kata Cendol sambil menunjuk ke arah Moi.

Tung menggeleng.

“Itu yang rambutnya merah. Namanya Moi. Dia sudah tiga tahun kerja disini. Nanti kamu tak kenalin ke dia.”

“Iya Mbak.”

“Ayo ke tempatku aja.”

***

Sementara itu Tikno yang sudah sampai di kota Njotangan dan sedang mencari bantuan sudah sampai di tujuannya. Rumah Sakit Njotangan adalah rumah sakit terbesar di kabupaten ini. Siang ini suasananya tampak ramai. Tikno menyusuri lorong-lorong panjang rumah sakit. Tujuannya menemui Parian temannya. Parian adalah dokter muda yang sangat pintar. Dia adalah lulusan terbaik di angkatannya, tak heran begitu lulus Bupati langsung meminta Parian menjadi untuk mengabdikan ilmunya di Njotangan ini.

“Brak!”

Seorang laki-laki muda tersungkur karena bertabrakan dengan Tikno. Tikno yang begitu terburu-buru tidak menyadari ada orang di depannya.

“Ancik!”

“Maaf mas” kata Tikno.

“Picek ta?” laki-laki itu masih marah.

“Maaf saya buru-buru jadi ndak liat sampeyan”

Laki-laki itu berdiri sambil membenahi bajunya. Tangan Tikno yang diulurkan untuk membantu ditepisnya.

“Ra sah” katanya kasar.

“Skali lagi maaf Mas.”

Laki-laki itu berlalu, pergi meninggalkan Tikno dengan perasaan bersalahnya.

“Maling!Maling!”

Tiba-tiba dari arah belakang sekelompok laki-laki berlari sambil meneriakkan maling. Tikno kebinggungan.

“Maling!”

Orang-orang itu masih berteriak.

Laki-laki yang ditabrak Tikno tadi langsung lari mendengar teriakan itu. Dia menabrak orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang lorong rumah sakit.

“Kok sampeyan malah mlongo ae to Mas?” salah seorang laki-laki yang mengejar menegur Tikno.

“Eh..kenapa?”

“Walah ilang arek’e. Asu!” laki-laki itu semakin kesal melihat buruannya tak terlihat lagi.

“Tadi itu maling?” tanya Tikno.

“Bakul lemper!” jawabnya ketus.

Para pengejar itupun kembali. Mereka kesal sekali. Tidak sekali ini kejadian seperti ini terjadi. Rumah sakit sudah tidak aman lagi. Barang-barang bawaan keluarga yang menunggui si sakit sering jadi jarahan maling-maling yang banyak berkeliaran. Mereka memanfaatkan kondisi para penjaga yang kelelahan. Dompet, baju, bahkan sandalpun jadi sasaran.

Tikno masih tercengang, tidak menyangka laki-laki yang ditabraknya tadi adalah seorang maling. Dia benar-benar heran. Sepertinya dia sudah sangat ketinggalan dengan apa yang terjadi di kota ini. Baru sampai dan dia sudah mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Ditatapnya lorong yang masih sangat panjang. Tampak di sepanjang lorong, di pagar pembatas yang ada di sepanjang lorong, baju-baju bertengger. Sepertinya para keluarga penunggu pasien memanfaatkan pagar itu untuk menjembur pakaian mereka. Belum lagi sebagian orang yang menggelar tikar dan tiduran menambah sempit dan penat lorong rumah sakit. Tikno menggaruk-garuk kepalanya. Masih terpaku di tempatnya berdiri sampai tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya.

“Tikno?”

Laki-laki muda, sangat tampan tampak tersenyum. Dari pakaiannya dia pasti seoarang dokter. Sangat terpelajar.

“Parian?” Tikno seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kedua lelaki muda itupun bersalaman kemudian berpelukan. Orang-orang melihat mereka berdua dengan penuh kekaguman. Dua laki-laki tampan yang tampak sangat berpendidikan. Mungkin pikir mereka andai itu anaknya, kekasihnya, suaminya.  Parian melepas pelukannya. Sepertinya dia menyadari orang-orang melihat ke arah mereka.

“Kapan kamu datang?Kenapa tidak memberi kabar?”

“Baru saja. Maaf aku tidak sempat ada hal penting yang mau aku bicarakan.”

“Tenang kawan kita baru saja berjumpa”

“Tidak, ini penting sekali.”

Parian terdiam. Dilihatnya muka temannya yang berubah menjadi serius. Pasti ada hal yang benar-benar penting, pikirnya.

“Baiklah, kita ke ruanganku saja.”

“Iya.”

Merekapun berjalan menuju ruang kerja Parian yang ada di ujung lorong. Sambil berbincang sesekali mereka menepuk pundak, seolah tak percaya mereka bertemu. Kegembiraan tampak jelas di wajah keduanya meski dibalik itu ada rasa cemas menyelimuti hati Tikno.

***

“Kleleken Senter Siang. Ada yang bisa dibantu?”

“Mbak aku milih boso Jowo kok!”

“Bapak disini masuknya bukan bahasa Jawa. Jangan mengada-ada ya!”

“Gathel! Sok ayu! Taek!Taek!”

“Bapak mau tanya apa mau marah-marah?”

“Asu!Asu!Asu!Mbak kayok asu ha…ha…ha”

“Maaf tidak bisa dilanjutkan karena yang nelpon orang gila”

Klek.

Telponpun ditutup.

“Jancuk!” seorang MM yang baru saja menerima telpon tampak marah-marah.

“Lapo Tul?” tanya teman di sebelahnya.

“Ki lo wong edan, misuh-misuh gak jelas. Taek!”

“Ha..ha..ha yo pisuhono ganti. Ngono ae kok angel”

“Omong thok, kon wani ta?”

“He..he iyo ora sih.”

“Awas ngko lek muleh kate tak telpon, tak pisuhi. Mangkel aku wong kok koyo gathel!”

“Ha..ha..ha” si teman masih saja tertawa.

Tung yang melihat itu dari tempat duduknya hanya terdiam. Dia semakin bingung sebenarnya apa yang dibicarakan para MM dengan pelanggannya. Kenapa mereka sering marah-marah. Dan kenapa teman lain justru menertawakannya.

“Itu yang pake kacamata namanya Rantul. Dia masih baru, mungkin tiga bulanan tapi sudah akrab dengan MM lainnya.”

Cendol tahu Tung sedang memperhatikan teman-teman di sebelahnya.

“Kalau yang sebelahnya, yang bicara sama dia itu Cipru. Cipru seangkatan ma aku, anak lama. Dia bukan anak sini, anak perantauan.”

Tung hanya mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan Cendol.

+620000xxx

BOSO JOWO

Di layar telpon tampak muncul tulisan. Tanda merah berkedip-kedip tanda harus segera diterima. Cendol memberi tanda pada Tung untuk diam.

“Kleleken Senter, ono sing iso tak ewangi?”

“Mbak aku kate pesen sego goreng” suara dari seberang, seorang laki-laki.

“Karo sopo iki?”

“Aku”

“Iyo jenenge sampeyan sopo Cak?” tanya Cendol.

“Paimin”

“Ono sing iso tak ewangi ta Cak Paimin?”

“Mbak’e sopo?”

“Kengko”

“Anu Mbak Kengko aku kate pesen sego goreng. Loro yo Mbak gak pedes.”

“Sampeyan iki kate takok opo guyon?”

“Aku kate pesen sego goreng Mbak, nggak takok.”

“Sampeyan ngerti ora iki gawe opo?” dari nada suaranya Cendol tampak mulai emosi.

“Iyo, gawe pesen pangganan. Cepet yo Mbak aku durung mangan ket mau isuk.”

Cendol menekan tombol Muten di telponnya.

“Kon mathek lo aku gak peduli”

Tung tampak kaget. Dia tidak menyangka dengan apa yang baru didengarnya. Cendol yang biasanya begitu ramah padanya tampak lain.

“Cak Paimin iki Kleleken Senter dudu warung. Lek kate pesen sego nang warung dudu nang kene.”

“Mulai kapan Mbak, wingi aku pesen mie ae dikei mosok saiki pesen sego goreng gak oleh. Gak dodol sego ta?”

“Ancik!” Muten ON.

“Sampeyan lek gak takok tak pateni telpone.”

“Nggak..nggak Mbak, guyon tok. Oh iyo, Mbak Kengko yo iki mau?”

“Iyo”

“Sampeyan wes duwe bojo durung Mbak?”

“Cak..”nada Cendol semakin tinggi tapi belum dia menyelesaikan kalimatnya suara di seberang sudah mendahuluinya.

“Mbak gelem ta karo aku. Ayo Mbak uthuk-uthuk. Enak lo he..he..he”

“Sampeyan lek ngene terus tak blokir nomermu. Gelem ta?”

“Ayo Mbak Kengko, aku wes gak kuat. Ayo uthuk-uthuk, piro sih?”

Cendol semakin geram.

“Cik!Asu!” Muten On.

“000xxx” Cendol menyebutkan nomor pelanggannya.

“Dudu iku dudu nomerku. Iku nomere koncoku” suara diseberang mulai ketakutan.

“Gak usah ngapusi nang kene nomere sampeyan metu kabeh sak alamat lan data-data liyane. Lek sampeyan macem-macem…”

Klik!

Telpon mati. Sepertinya pelanggan tadi ketakutan dan langsung mematikan telponnya. Cendol tersenyum puas meski masih geram dengan apa yang dialaminya baru saja.

“Kamu ndak apa-apa Mbak?” tanya Tung.

“Ngak popo Tung, wes biasa. Kon ngko pasti ngerti dewe, santé ae yo. Ojo wedi.”

Tung mengangguk. Dalam batinnya semakin bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang dia tak berani keluarkan. Dia hanya heran saja melihat para pegawai yang biasa disebut MM ini sering marah-marah tapi kemudian tertawa. Sebenarnya apa yang terjadi. Ada apa dengan orang-orang yang menelpon ke Kleleken Senter. Tapi dia percaya pada Cendol, semua pasti baik-baik saja. Dipandangi sekelilingnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka masih santai dengan posisi masing-masing. Masih menerima telpon, masih makan, masih tertawa-tawa  meski kadang tiba-tiba mereka berubah beringas.

Advertisements

One thought on “KUTUKAN SI KUNTI seri 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s