“JALANKU”

Ada masa dimana aku begitu terlena, pada apa yang kupunya, pada apa yang sebenarnya terlalu abstrak untuk dirasa. Sebuah masa dimana aku tak berani bertanya, hanya berusaha menerima apa yang ada. Mencoba menjalani hidup seperti mereka, manusia-manusia, pada umumnya. Tak ingin dibilang tidak bersyukur, tak ingin ada kata bahwa aku menyiakan apa yang telah diberi. Kenapa menuntut sedang semua sudah di depan mata. Apa yang belum ada hanya karena waktu saja.

Aku salah. Kukira aku mengenal mereka, para manusia. Tak kukira aku tak mengenal diriku sendiri. Tidak pernah ada yang sama. Persamaan hanya akan melahirkan kesia-siaan, alasan untuk sebuah kemalasan, bagiku. Aku dilahirkan bukan untuk menjadi salah satu dari sebuah barisan. Kurasa ini kenapa aku tidak suka garis. Semua orang punya setidaknya satu yang membuat kita sebagai manusia berbeda, pikiran. Tidak pernah ada yang umum, mungkin kelihatannya saja karena pada dasarnya semua individu istimewa. Maka ketika pertanyaan mulai tak terbendung, kupertanyakan “pikiranku.”

Bukan ini yang kumau. Bukan seperti ini yang ingin terus kulakukan. Jika hidup memang hanya sekali, sungguh tak ingin menjadi salah satu yang menyiakannya. Dan karena waktu tidak pernah kembali yang akan datang tentu harus berbeda. Aku bukan satu dari sekodi seragam. Tak ingin menjadi satu dari ribuan pasir di pantai. Walau sempat kupikir aku begitu “aman” aku salah, karena bumi tak pernah berhenti berputar dan mungkin akan segera berhenti. Maka ketika tanyaku terjawab, inilah jalan yang ingin kulalui.

Kutinggalkan apa yang kupunya. Bilang aku tidak bersyukur, bilang aku bodoh, aku lebih tahu apa yang kurasakan. Bagiku apa yang kurasakan, ingin kurasakan harus diperjuangkan. Sudah cukup untuk sebuah “kewajiban” saatnya aku memperjuangkan “hakku.” Aku tidak sedang kehilangan tapi aku justru sebaliknya aku menemukan, kutemukan “hidupku.” Apa yang tak kupunya, tak ingin kujadikan alasan untuk menghentikan langkah karena aku sadar semua sudah pada porsinya. Aku berjalan, mungkin merangkak, pada apa yang kupilih sebagai “jalanku.” Berjalan meski tak bisa kuhindari banyak yang mencoba mengalihkan  jalurku.

Jangan tanya semangat, aku hampir tidak pernah kehilangan dirinya. Yakinku masih satu, tak ternoda. Tak ingin menyerah pada apa yang mereka sebut kenyataan. Bukan hanya sedang bermimpi tapi ini caraku menjalani hidup ini. Mungkin tak terlihat tapi aku merasa dan untuk saat ini itu cukup. Setidaknya aku tahu ini bukan angan semata. Dan jika ini sebuah kesombongan aku tidak keberatan. Tak butuh jika hanya untuk menjatuhkan karena aku sudah pernah merasa dan aku tahu sakitnya.

Tak perlu dimengerti jika memang terlalu sulit dipahami. Biarkan saja makhluk yang namanya masih “manusia” ini menjalani apa yang diyakininya. Tak ingin kubuktikan pada siapa-siapa, bukan lagi tentang sebuah kebanggaan. Hanya berusaha memperjuangkan keyakinan. Meski mimpi pernah berkhianat tapi mimpi juga yang membangunkan. Apa yang ingin dirasakan sudah sepatutnyalah diperjuangkan. Karena hati sudah bosan membohongi diri, karena otak tak ingin dibatasi pada apa yang sering kita sebut “nilai.” Karena hidup adalah anugerah maka tak ingin menyiakan hanya karena takut pada apa yang sering disebut “aneh.”

Advertisements

2 thoughts on ““JALANKU”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s