kUTUKAN SI KUNTI seri 4



Pagi masih sangat petang tapi Tung dan Jalang sudah terjaga. Tampak Tung menggeliat, dikucek-kucek matanya. Entah jam berapa pastinya karena waktu tidak berlaku disini. Berbeda dengan Jalang yang langsung bangun mengambil peralatan mandinya menuju ke sungai. Sungai ini mengaliri seluruh kota Njabon. Banyak warga yang memanfaatkan untuk mandi, mencuci, memasak, bahkan buang hajat. Terutama warga liar seperti Tung dan Jalang. Di bawah jembatan ini tidak kurang dari 20 gubuk sudah dibangun dan semuanya dihuni oleh warga pendatang yang berniat adu nasib.

Dingin. Meski kota Njabon terkenal sebagai salah satu kota terpanas tapi kalau pagi buta seperti ini hawa dingin tetep terasa, terutama sekali pada tubuh Jalang yang tinggal tulang. Hawa dingin pagi langsung menusuk sendinya. Disentuhkan tangannya ke sungai. Diambilnya segayung air dan mulai sikat gigi. Sudah tidak terlalu dingin rupanya. Satu persatu dibuka bajunya dan mulai mandi.

“Jangkrik adem yo?” tiba-tiba Tung sudah muncul di sungai. Dengan handuk yang diselimutkan ke tubuhnya Tung mulai memasukkan salah satu kakinya ke air.

“Errr..adem lek.”

“Ancik!Aleman. Biasane yo gene ae katek ngalem barang.”

“Kon ngko kate nang ndi? Males aku, ki wayahe pasaran mesti warunge rame. Ahh…pasti ngko akeh wong edan.”

“Nang Lek Samin. Wingi aku ketemu de’e jare kon ngewangi nunggu telo ne soale de’e ape njupuk dagangan nang deso sebelah.”

“Duh wetengku loro, mangan opo yo aku mau bengi?”

Tung memegangi perutnya yang terasa mulas. Ditaruhnya handuk yang sedari tadi dilingkarkan ke badannya.

“Cuk kon picek opo goblok?”

Tung yang sedang konsentrasi tidak bereaksi sedikitpun. Wajahnya tampak sedang menahan sakit. Dipijat-pijatnya perutnya.

“Asu!”

“Lapo seh? akhirnya Tung menyahut.

“Lapo matamu Cuk! Kon delok-delok ta lek kate ngeseng. Lha aku adus nang kene tok isinge kaline. Jan awakmu ki….”

Jalang tak melanjutkan kata-katanya. Tapi jelas sekali dia masih emosi. Tung yang sedang kesakitan tak bergeming.

“Aku mau bengi mangan opo ya Lang?” tanyanya.

“Mangan asu!” jawab Jalang ketus.

“Ancik, ditakoki temenan kok jawabanmu ngono seh.”

“Pikiren dewe cuk!”

“Kon nesu’a?” masih Tung tidak merasa bersalah.

“Banyune lak mlaku seh ngko lek taiku mrono yo lak iso endo. Wes ga kuat iki.”

“Sak karepmu. Males ngomong karo kon cuk!” Jalang langsung berdiri dan mengambil pakaiannya. Pulang.

Masih terdengar serapahnya meskipun dia sudah masuk ke gubuk mereka.

“Ngono ae ngamuk. Lapo ya wetengku iki?” Tung kelihatan lemas. Tampaknya seluruh isi perutnya terkuras habis.

***

Sementara itu Tikno yang sedang mencari bantuan untuk menyelamatkan warga Bajul telah sampai di kota kabupaten, Njotangan. Hampir lima jam dia di kereta. Dipeganginya pantatnya. Sakit. Bagaimana tidak, lima jam duduk di atas bangku kayu di kereta Kdang Mlaku Sring Mogok’e atau biasa disebut kereta KMSM. Tidak ada pilihan karena hanya ini satu-satunya kereta yang bisa dia naiki untuk bisa sampai ke Njotangan. Tidak ada kereta ekonomi apalagi bisnis, hanya ada kelas ekonomi lemah. Penumpangnya pun bukan hanya manusia tapi barang-barang dagangan mulai dari keperluan rumah tangga, hasil pertanian bahkan ternak. Jadi jangan kaget jika naik kereta KMSM ini begitu turun bukan lagi aroma manusia yang tercium tapi aroma binatang bahkan bisa juga kumpulan aroma. Begitu pula yang dialami Tikno.

Diciuminya tubuhnya. Sejenak dia geleng-geleng kepala.

“Mbekkkkkk…mbekkkkk…mbekkk.”

Hampir saja Tikno terjungkal saking kagetnya. Ternyata di sebelahnya ada dua ekor kambing yang diikat di bangku tempat dia duduk. Digaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seingatnya ketika naik tadi pagi dia duduk disebelah bapak separuh baya penjual sayur. Ternyata selama dia tertidur di perjalanan si bapak penjual sayur sudah turun dan diganti dua ekor kambing. Dia menggela nafas panjang kemudian bergegas turun. Coba diacuhkannya bau kambing yang begitu melekat di kemeja putihnya. Dicarinya kamar mandi umum begitu dia turun. Batinnya tidak mungkin dia menemui temannya dengan keadaan seperti ini. Bukan itu saja karena dia nanti bakal bertemu dengan pengajar-pengajarnya dulu, orang-orang pintar, orang-orang berpendidikan yang baunya seperti buku bukan kambing. Tidak seperti dia saat ini.

***

Seperti yang sudah diperkirakan Tung sebelumnya, warung dibanjiri para pedagang yang lelah dan lapar. Dia yang biasanya hanya diminta menemani pembeli atau membuatkan kopi saat ini harus membantu mencuci piring-piring dan gelas yang sudah kotor semua. Pasaran begitu mereka menyebutnya. Dalam tiap lima hari ada satu hari yang seperti ini. Hari dimana banyak pedagang dari desa bahkan dari gunung yang berkumpul menjajakan berbagai macam dagangan. Terkadang malah mereka hanya menukar saja. Sekarung singkong dengan sepasang baju dan celana. Sayur mayur ditukar dengan beras atau kebutuhan pokok lainnya. Yang terbaru seekor kambing ditukar dengan Hang Phong atau biasa disingkat HP.

Kota Njabon yang memang lumayan besar untuk ukuran kota kecamatan mulai mengikuti perkembangan jaman. Para pedagang kaya yang mengenalkannya. Biasanya HP dibuat dari kayu yang kuat seperti kayu jati, bentuknya persegi panjang. Tapi saat ini bentuk HP sudah bermacam-macam tergantung buatan pabriknya. Seperti HP buatan Gedang Corp, bentuknya mirip pisang warnanya kuning. Bahannya bukan lagi dari kayu jati tapi dari mahoni agar lebih murah. Disebut Hang Phong karena ditemukan oleh Phong.

Phong adalah seorang saudagar kaya di kotanya. Pabriknya banyak dan bermacam-macam mulai dari pabrik pengolahan singkong jadi pizza, pabrik pentol korek, pabrik curek kuping, macam-macam pokoknya. Tiap hari Phong mengurusi pabrik-pabriknya dari yang satu ke lainnya. Dia harus melihat langsung proses produksi tiap pabriknya karena dia tidak percaya para mandornya. Menurutnya jika tidak diawasi langsung mereka pasti malas-malasan dan itu akan merugikannya. Tapi karena pabriknya terlalu banyak Phong capek juga. Dia ingin bisa mengawasi pabriknya tanpa harus datang langsung cukup memberi perintah atau pengarahan dari jauh jika keadaan mendesak. Belum lagi laporan pengiriman barang yang lama karena harus menunggu sopirnya kembali.

Suatu pagi Phong terbangun. Diam sejenak dia di kasur, entah apa yang dipikirkannya. Tidak seperti biasanya hari itu dia tidak berkeliling mengawasi pabrik-pabriknya malah dia pergi ke salah satu gudang yang ada di belakang rumahnya. Tentu saja istrinya cemas. Sesuatu pasti terjadi pada Phong tapi istrinya tak berani bertanya. Hanya dipandanginya gudang dari dapur. Dia pelototi seharian kalau-kalau suaminya keluar. Malam sudah menjelang Phong tak keluar juga. Istrinya semakin cemas dan memerintahkan anak laki-lakinya untuk melihat suaminya.

Gudang begitu gelap karena ternyata Phong tidak menyalahkan lampu satupun. Sambil meraba-raba anak Phong berusaha mencari lampu meski dalam hati dia juga takut karena ayahnya pasti marah jika dia diganggu tapi ibunya juga akan memarahinya jika dia tidak membawa berita apa-apa tentang ayahnya. Akhirnya diberanikan diri masuk lebih dalam ke gudang. Dia tahu betul ayahnya sering mengunci diri di sebuah ruang di dalam gudang tua milik keluarganya ini. Entah berapa lama umur gudang ini karena seingatnya gudang ini sudah ada sejak dia belum lahir. Ayahnya juga pernah cerita kalau gudang ini peninggalan nenek moyangnya.

Sinar bulan membantu anak laki-laki yang ketakutan ini, setidaknya pancarannya yang menembus sebagian atap yang berlubang dan rapuh dimakan umur bisa membantu penglihatannya. Tapi entah kenapa anak Phong justru merasa sebaliknya. Baginya malam ini bulan menambah kengeriannya. Tiba-tiba tubuhnya merinding. Dia menghentikan langkahnya. Sayup-sayup dia mendengar lolongan anjing kesayangannya. Hampir saja dia memutuskan untuk segera keluar dari gudang tapi ketakutan pada ibunya langsung mencegahnya. Ditariknya nafas panjang, dipejamkan matanya. Pintu yang dia cari sudah ada di hadapannya, beberapa langkah saja. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

“Ayah…yah” panggilnya.

“Apakah ayah ada di dalam?”

Tidak ada yang menyahut, sepi. Hatinya semakin tidak menentu. Dia harus masuk. Dipegangnya daun pintu yang terlihat angkuh. Pintu itu sangat besar, semakin besar karena ketakutannya saat ini. Dan sepertinya pintu itu mulai mengejeknya karena tiba-tiba saja dia melihat sebuah bibir menempel, bukan, bukan menempel tapi pintu itu tiba-tiba punya bibir. Bibir dengan senyum menyeringai, mengejeknya mungkin. Dia mundur. Dipejamkan lagi matanya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ada. Perlahan dia buka matanya.

“Akhhhhhhhhhh!”

Anak Phong terjatuh, terduduk di lantai. Kakinya gemetar.

“Tidak…tidak mungkin!” masih dia berteriak.

Saat ini yang dia lihat dua bola mata. Pintu itu bermata. Matanya merah menyalang. Mata itu marah dan seolah-olah ingin menerkamnya.

“Tidakkkkkkkkkkkkkkkk!”

Dan anak laki-laki itupun tak sadarkan diri.

“Hahaha…hahaha..haha….”

“Ayo cepat diangkat kursinya. Itu mejanya jangan ditaruh disitu, pindahin sebelah lemari” tampak seorang wanita separuh baya sedang sibuk dengan para pembantunya.

“Itu piring-piringnya dikeluarkan semua lalu dicuci di belakang. Heh kamu..sapa yang suruh ngambil meja itu?”

“Tadikan ndoro bilang suruh pindahin mejanya” yang diajak bicara tampak kebingungan.

“Malah ngeyel! Sudah biarin disitu, kamu bantu Tomin angkat-angkat piring. Sebentar lagi tamu pada datang ini malah berantakan.”

“Sudah mbak jangan marah-marah kita ini kan sedang berduka.”

Seorang wanita muda mencoba menenangkan istri Phong.

“Tapi kita nanti bisa malu. Pasti banyak penggede yang datang kesini, masmu itu orang kaya, terpandang, temannya banyak.”

“Bukan tamu yang mesti kamu urusi saat ini tapi Mas Phong, anakmu juga. Dia masih belum sadar sampai sekarang. Apa kamu tidak cemas?”

Yang diajak bicara tampak terdiam dan kemudian menangis.

“Kenapa seperti ini? Kenapa nasibmu buruk sekali Phong? Kenapa kamu gantung diri?”

Malam itu karena tidak ada kabar tentang suaminya Phong dari anak laki-lakinya istri Phong memerintahkan pembantunya untuk ikut mencari suami dan anaknya. Tapi karena pembantunya tidak berani masuk ke gudang dia memutuskan mencari ke pabrik-pabrik majikannya. Siapa tahu majikannya sibuk mengurus pabrik karena memang saat ini musim pengiriman barang. Tapi setelah dicari di semua pabrik tidak ditemukan juga majikannya si pembantu tidak berani pulang. Dia tahu majikannya akan marah jika dia pulang tanpa hasil. Untuk mencari di gudang seperti yang diperintahkan istri majikannya tentu dia tidak berani, tidak di malam hari. Semua pegawai Phong tahu gudang itu keramat, angker. Keluarga Phong sendiri tidak ada yang berani masuk jika malam hari kecuali Phong sendiri itupun jarang sekali.

Esok harinya pagi-pagi sekali si pegawai memutuskan pulang dan mengatakan yang sebenarnya bahwa dia gagal mencari majikannya. Dan bisa ditebak majikan perempuannya langsung memarahinya. Sampai tiba-tiba terdengar jeritan dari gudang. Ternyata salah satu pegawai wanita yang bekerja di gudang menemukan anak Phong yang pingsan di depan kamar rahasia Phong dalam gudang. Dan karena curiga Phong ada di dalam kamar tersebut istri Phong menyuruh pembantunya untuk membuka pintu kamar. Betapa terkejutnya mereka begitu pintu terbuka. Tampak Phong tergantung dengan tali mengikat lehernya. Lidahnya menjulur, setetes darah tampak keluar dari sisi bibirnya, matanya tampak melotot. Semua yang melihat langsung syok bahkan pegawai wanita yang tadi menemukan anak Phong langsung pingsan. Mayat Phong pun diturunkan untuk dirawat sebelum dimakamkan. Sedang anak laki-lakinya langsung dibopong ke rumah dan sampai saat ini belum menyadari kalau ayahnya sudah meninggal.

Berita telah menyebar Phong yang seorang saudagar kaya begitu terkenal. Pelayat mulai berdatangan mulai dari penduduk sekitar, para pejabat sampai rekan-rekan bisnis Phong dari luar kota. Rumor pun ikut menyebar tentang kematian Phong. Para penggosip pun mulai menyebar cerita tentang saudagar kaya yang bunuh diri karena telah dikutuk. Ada juga yang bilang kalau Phong bukan bunuh diri tapi dibunuh oleh penghuni gudang yang minta tumbal.

Anak Phong yang akhirnya sadar dan tahu kalau ayahnya meninggal hanya bisa terisak. Dia masih ngeri mengingat kejadian di malam itu. Hari-harinya dilalui dengan merenung. Apa yang terjadi pada ayahnya dan apa yang dilakukan ayahnya malam itu. Dia tidak pernah menemukan jawabannya. Yang dia tahu ayahnya memang sering melamun di hari-hari terakhir sebelum ditemukan tewas gantung diri. Dia tahu ayahnya seorang pekerja keras yang perfeksionis. Dia juga tahu ayahnya ingin membuat sesuatu, menemukan alat untuk mempermudah komunikasi.

Sejak itu juga, anak Phong jadi sering ke gudang, ke kamar itu. Dia ingin tahu apa yang ayahnya sedang kerjakan dan dia menemukan bahan-bahan percobaan ayahnya. Setahun kemudian anak Phong berhasil mewujudkan keinginannya. Dia berhasil menciptakan alat komunikasi jarak jauh dan karena ingin mengenang ayahnya maka dia namai Hang Phong atau Phong yang tergantung. Saat ini Phong pasti tersenyum dari alamnya.

HP telah berkembang saat ini, bukan hanya dari yang telah dibuat oleh anak Phong tapi mulai banyak pabrik-pabrik lain yang ikut membuat dengan variasi dan kelebihan masing-masing. Meskipun sudah banyak yang memproduksi tapi harga HP masih mahal. Itu karena setiap pabrik yang memproduksi harus membayar royalti ke keluarga Phong sebagai penemu. Harga HP saat ini sama dengan seekor kambing jantan berumur tiga tahun. Karena harganya yang masih sangat mahal itu hanya saudagar kaya saja yang mampu memilikinya, meski perkembangan permintaan HP selalu menunjukkan peningkatan.

***

“Kamu pembantu baru ya?” tiba-tiba saja di sebelah Tung sudah berdiri seorang gadis yang sebaya dengannya.

Tung hanya diam karena masih kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba.

“Hello….” kata gadis itu lagi.

“Eh…a..a..apa?” Tung tergagap.

“Ka-mu..pem-ban-tu..ba-ru?”

“Bu…bukan,” masih Tung tergagap.

“Trus kamu siapa?” tanya gadis itu lagi.

Tung menarik nafas. Satu detik, dua detik…

Gadis itu memandangnya. Sejak kapan Tung berubah gagap seperti itu.

“Hello…” gadis itu mulai tak sabar.

“Iya” jawab Tung singkat.

“Iya apanya?” sekarang gadis itu yang terbengong.

“Kamu tadi tanya apa?”

Gadis itu menghela nafas panjang. Tampak matanya sedikit melotot. Dadanya naik turun tampak sedang mengatur emosinya.

“Kamu siapa?” akhirnya diulangi pertanyaannya.

“Oh…aku Tung.”

Gadis itu terdiam menunggu Tung berbicara lagi. Tapi tidak, hanya itu jawaban yang dia terima.

“Kamu baru ya?”

“Baru apanya?” tanya Tung dengan keheranan.

“Baru kerja disini?”

“Tidak. Aku sudah lama disini hampir dua bulan.”

“Lho nduk sejak kapan kamu disini, kok nggak bilang-bilang mau kesini?” tiba-tiba pemilik warung datang dan langsung menyapa gadis itu.

“Baru saja Lek, tadi pulang dari pabrik trus langsung kesini mumpung besok libur. Lek Piah gimana kabarnya?”

“Apik cah ayu. Ibumu apik-apik saja kan?”

“Berkat doa Lek Piah, ibu baik-baik saja.”

“Syukur lek ngono. Wes makan belum? Ayo makan dulu.”

“Nggak usah Lek, cuma mau nengok Lek Piah aja kok.”

“Nggak,  kudu makan dulu. Tung siapno ki maem nggo Mbak Cendol.”

Tung yang masih terbengong, diam saja.

“Tung kon krungu nggak seh dijak ngomong? “

“Iya Nyah.”

Gadis yang dipanggi Cendol tadi geleng-geleng kepala melihat polah Tung.

“Bawa ke kamar belakang yang bersih.”

“Sudah Lek nggak usah repot-repot biar Cendol nanti ambil sendiri. Cendol ke belakang saja, mau istirahat sebentar.”

“Ya sudah tapi nanti makan lo ya. Lek mau ngurusi pembeli dulu, warung lagi rame. Nanti kalo mau apa-apa minta ke Tung tapi yang sabar ya soale rodok…” Lek Piah tampak menunjuk sudut keningnya dengan jari telunjuknya. Dan si gadispun langsung paham arah pembicaraan Leknya. Di benaknya timbul rasa kasihan pada gadis di depannya, Tung. Gadis secantik itu tapi agak susah diajak ngomong.

Sejak perjumpaan Cendol dengan Tung di warung bibinya, hampir setiap pulang dari pabrik dia menyempatkan mampir. Dan mereka pun semakin akrab, mungkin karena memang seusia karena jika dilihat dari percakapan tampak sekali Cendol kesulitan berkomunikasi dengan Tung. Atau justru sebaliknya Tung yang sulit mengerti Cendol.

“Kamu tinggal dimana Tung?”

“Apa?”

“Kamu tinggal dimana?” ulangnya.

“Di jembatan” jawab Tung sambil memotong terus memotong bawang.

“Di jembatan?”

“Di bawah jembatan yang deket sungai Kali Buthek.”

“Ma sopo?”

“Temanku, Jalang.”

“Trus temanmu dimana?”

“Kerja. Dia bantu-bantu di toko.”

“Jauh kerjane?”

“Nggak juga. Kadang dia bantu di toko seberang, tokonya Pak Djon.”

“Kok nggak pernah maen sini?”

“Nggak berani.”

“Kenapa?”

“Nggak boleh ma Bu Piah.”

“Kenapa nggak boleh?”

Tung diam, tidak menjawab. Dulu Jalang memang pernah mampir ke warung Bu Piah untuk menemui Tung tapi Bu Piah melarang bahkan marah-marah dan mengusirnya. Karena tidak ingin dapat masalah Jalang pun pergi, Tung sendiri tidak berani mencegah Bu Piah. Yang mereka butuhkan saat ini adalah pekerjaan bukan harga diri. Kata Bu Piah penampilan Jalang seperti orang penyakitan bisa membuat pembelinya pergi.

“Nggak knapa-knapa” jawab Tung berbohong.

Cendol tahu betul pasti ada yang tidak beres meski dia belum mengenal betul Tung tapi dia tau pasti sifat bibinya. Bibinya memang keras, suka ceplas-ceplos sehingga mungkin bagi beberapa orang terdengar kasar. Sebenarnya bibinya orang baik, tak segan dia membantu orang yang butuh pertolongan tapi dia paling benci orang pemalas. Itu kenapa dia benci melihat pengemis, bagi Lek Piah pengemis itu orang malas, tidak mau kerja maunya minta dikasihani. Itu kenapa dia mengusir Jalang waktu datang ke warungnya karena dia mengira Jalang akan mengemis.

“Kamu dulu sekolah nggak Tung? tanya Cendol suatu hari, ketika dia mampir k warung bibinya.

“Sekolah”

“Lulus ST nggak?”

“Lulus aku malah sudah masuk SA tapi cuma sampai kelas 2.”

“Kok nggak cari kerja lain? Kamu kan bisa cari yang lebih layak. Sekarang kan banyak yang butuh lulusan Sekolah Tengah, di pabrikku juga bisa.”

“Nggak punya ijazah.”

“Kok bisa?”

Cendol tampak heran dengan apa yang didengarnya. Tung tahu betul akan sakit jika dia harus bercerita karena artinya dia akan menguak luka lama.

“Ijazahku ilang” akhirnya dia berbohong.

“O gitu…ehm kamu mau nggak kerja di tempatku?”

“Kerja dimana?”

“Di Kleleken Senter. Kerjanya enak kok cuma ngangkat telpon. Mau?”

“Ngangkat telpon? Trus habis diangkat ditaruh dimana?”

“Ditaruh dimana apanya?” Cendol tidak mengerti dengan pertanyaan Tung.

“Tadi kamu bilang ngangkat telpon, setelah diangkat telponnya dibawa kemana?”

“Ha…ha…ha. Maksudnya kamu tinggal nrima telpon yang masuk, ngomong bukan diangkut” Cendol tak bisa menahan tawanya.

Tung terdiam, tidak mengerti. Apanya yang lucu, batinnya. Melihat Tung yang terdiam dan kelihatan bingung Cendolpun menghentikan tawanya. Salah. Tung belum paham.

“Kamu tau telpon nggak?”

“Nggak”

“Hang Phong?”

“Nggak”

“Ya ampun, kamu tinggal dimana sih Tung?”

“Dulu kan sudah pernah kubilang, tinggal di bawah jembatan yang deket Kali Buthek itu.”

Sekarang Cendol yang terdiam. Dia berpikir bagaimana caranya agar Tung mengerti yang dia bicarakan.

“Jadi begini Tung, kerja di Kleleken Senter itu cuma menerima telpon yang masuk. Telpon itu alat komunikasi yang bla…bla..bla…kayak ini contohnya, Cendol memperlihatkan HPnya, nanti kamu bla…bla…bla.

Cendol menceritakan panjang lebar tentang telpon, HP dan Kleleken Senter tempatnya bekerja. Baginya sayang gadis secantik Tung dengan pendidikan yang sebenarnya memadai harus bekerja jadi pembantu di warung. Dia tidak tahu bahwa Tung masih menyimpan cerita hidupnya, masa lalu yang dianggapnya kelam, bahkan sampai saat ini.

“Bagaimana Tung, mau nggak?”

“Tapi aku kan nggak punya ijazah.”

“Masalah itu jangan kuatir, nanti aku urus kebetulan aku kenal dekat dengan Mandor disitu. Lagi pula saat ini pabrik lagi butuh pegawai banyak karena sebentar lagi hari raya. Kamu mau kan?”

“Trus disini siapa yang bantu, warung kan sekarang sering ramai?”

“Lek Piah itu pegawainya banyak, lagi pula kerja seperti ini pasti banyak yang mau. Sayang kalau kamu cuma jadi pembantu padahal kamu bisa dapat lebih layak. Di tempatku gajinya banyak, kerjanya enteng lagi.”

“Ada orang iseng nggak?”

“Iseng seperti apa?”

“Ya kamu tau disini kan banyak pembeli iseng yang suka…”

“Jangan takut kan kita nggak ketemu orangnya cuma suaranya aja. Aman, nggak bakal ada yang nyolek-nyolek kamu kayak disini.”

Akhirnya setelah penjelasan yang cukup panjang, Cendol berhasil menyakinkan Tung untuk ikut tes masuk jadi pegawai di Kleleken Senter. Mereka sepakat untuk janjian pada hari Senin minggu depannya. Sebelumnya Cendol sudah memberi tahu Mandor di pabriknya mengenai Tung dan si Mandor memintanya membawa Tung Senin pagi untuk menghadapnya.

“Ojo umek ae cuk, aku gak iso turu lek kon koyok ngono trus.”

Jalang mengomel karena Tung terus saja bergerak-gerak selama tidur. Tung memang akhir-akhir ini selalu resah, sepertinya ada yang dia pikirkan. Di warung dia sering melamun, sedang kalau di gubuk ketika mereka mau tidur, seperti malam ini, dia tidak benar-benar tidur.

“Cuk!Kon turu nang njobo ae Tung.”

“Opo seh?” akhirnya Tung bereaksi juga.

“Ojo umek ae cuk! Turu yo meneng, ojo usrek. Tok pikir kene nang kasur empuk, ombo dadi lek kon umek liyane gak kroso.”

“Aku gak iso turu.”

“Trus kowe kate lapo bengi-bengi ngene? Garek merem ae angel. Lek kon umek ae yo gak bakalan iso turu.”

“Aku umek iku polahe gak iso turu.”

“Yo wes metu kono, mlayu-mlayu nang pinggir kali opo ngubengi jembatan” Jalang masih saja ketus.

Seharian tadi dia memang kecapekan karena toko Pak Djon ramai sekali. Maka ketika mau tidur dan Tung terus saja bergerak, dia jadi emosi.

“Trus diuber asu, ngono”

“Lha lapo koncomu nguber kon?Paling yo dibarengi mlayu lak enak ono koncone.”

“Jangkrik!Maksudmu..”

“Biasane yo langsung turu ae katek umek barang.”

“Sakjane ancen ono sing tak pikir tapi…”

Tung tidak melanjutkan kata-katanya.

“Aku sesuk…”

Diam.hening.

Krik…krikk..krikk

“Kesuen cuk!”

“Sesuk…” Tung masih belum bisa bicara.

“Wes ra sah crito. Menengo ae cuk. Aku ape turu.”

Jalang semakin jengkel dengan Tung.

“Yo wes. Paling kon yo ora ngerti.”

“Ga pingin ngerti!pingin turu.”

Dan begitulah malam itu berlalu. Tung tetap tidak bisa tidur tapi dia lebih tenang, dia tidak ingin membuat Jalang semakin marah. Sebenarnya dia ingin cerita kalau besok dia tidak kerja di warung lagi, Cendol mengajaknya kerja di Kleleken Senter. Tapi seperti biasa, agak sulit baginya mengungkapkan yang ingin dia katakan. Entah kenapa setiap dia merasa cemas, kaget atau tidak aman dia akan kesulitan berkata-kata. Sedang Jalang karena memang sudah sangat mengantuk langsung terlelap.

***

“Lumayan” tampak seorang pemuda memuji penampilannya di sebuah cermin.

Dicium kemajanya, tangannya.

“Wangi. Kalau begini nanti nggak bakalan malu ketemu Parian. “

Setelah merasa cukup rapi pemuda itupun keluar dari kamar mandi umum di stasiun kota Njotangan. Pemuda itu adalah Tikno, mantri Bajul yang sedang mencari bantuan.

“Cak, nang Rumah sakit piro?” tanyanya pada tukang becak.

“Limang atus.”

“Cek larange? Biasa yo telung atus.”

“Yo gak popo tapi engkolen dewe” jawab tukang becak ketus.

Tikno berlalu, dia tak habis pikir baru dua bulan meninggalkan Njotangan banyak sekali yang berubah. Dulu tiap mau ke rumah sakit dari stasiun cukup tiga ratus perak sekarang lima ratus ditambah tukang becak yang tidak ramah. Kalau cuma masalah uang tidak begitu masalah tapi dia tidak mau naik becak yang tukang nariknya emosian.

Akhirnya dia menemukan tukang becak yang dia inginkan. Oranganya sudah setengah baya, kulitnya legam terbakar matahari, dia sangat kurus tapi tampak otot-ototnya begitu menonjol menunjukkan dia seorang pekerja keras. Kali ini Tikno tidak menawar. Lima ratus perak untuk ke rumah sakit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s