KUTUKAN SI KUNTI seri 3

Seperti yang sudah diceritakan pada seri sebelumnya sejak tragedi yang menimpa Kunti, Jalang dan Tung terpaksa meninggalkan kecamatan Bajul untuk kemudian tinggal di kota Njabon. Walau hanya di sebuah lapak kecil sewaan tapi setidaknya ada tempat untuk sekedar merebahkan badan. Tak pernah terlintas di pikiran mereka kalau akhirnya harus seperti ini. Mereka sudah kenyang menderita, terhina, dihina tapi saat ini entah bagaimana harus menyebut keadaan seperti ini. Bahkan merekapun tak yakin ini masih bisa disebut kehidupan, hidup.

Jalang yang kelihatannya kokoh, tak tersentuh ternyata sangat rapuh. Fisiknya kian hari kian lusuh, layu oleh penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Tanpa perawatan, tanpa obat, entah bagaimana harus bertahan. Tapi bukan Jalang jika harus menyerah pada keadaan. Dia sudah pernah mengalami semua pahit getir hidup. Tak pernah dia bermalas-malasan meski tubuhnya benar-benar tak bisa diajak kompromi.

Tiap pagi seusai Shubuh dia meninggalkan lapak. Berjalan dari toko ke toko menawarkan jasa. Jika dia di sebuah toko milik warga keturunan dia akan menawarkan diri sebagai pembantu, tukang angkut-angkut pun dia mau. Jika tiba di warung dia akan menawarkan diri sebagai pencuci piring, meladeni pembeli atau apapun. Baginya apapun halal saat ini daripada harus kelaparan. Tapi apa lacur, siapa yang mau memperkerjakan orang penyakitan seperti dia. Pernah dalam satu hari tak seorangpun membutuhkan jasanya dan pulanglah dia tanpa makanan, tanpa apapun..

Tak jarang juga dia beruntung, biasanya ketika hari-hari besar dan toko-toko kebanjiran pembeli banyak yang membutuhkan jasanya. Mereka lupa kalau Jalang adalah orang yang hampir tiap hari mereka tolak, tidak dengan baik-baik.

“Koh butuh pembantu nggak? Tanyanya tiap kali mendatangi toko untuk minta pekerjaan.

“Koh? Masih dia kukuh.

Yang ditanya entah karena tidak mendengar atau tidak ingin mendengar tetap asik dengan barang dagangannya.

“Koh! Kali ini suaranya meninggi karena jengkel.

“Apa lu triak-triak! Pigi sana jangan ganggu orang dagang.”

Engkoh pemilik toko akhirnya bereaksi.

“Lu jangan deket-deket toko oe ntar gak ada yang mau beli disini. Dasar jorok.”

Pemilik toko masih marah-marah sambil mengibas-ibaskan tangannya tanda mengusir.

“Cuk!”

“Apa kata lu?” ternyata pemilik toko mendengar serapah yang dilontarkan Jalang.

Tanpa banyak kata Jalang langsung pergi meninggalkan pemilik yang ternyata masih saja terus mengomel.

“Asu!”

Jalang yang sudah jauh dari toko masih menyumpah. Dia kesal dengan pemilik toko, dia kesal dengan hidupnya. Dipegangi perutnya yang sedari pagi belum diisi. Tenggorokannya makin kering, bahkan ludahpun tak bisa lagi ditelan. Yang seperti ini sudah bukan hal yang istimewa, dia sudah biasa, terbiasa.

Terus dia berjalan, melakukan hal yang sama pada tiap toko yang dia datangi. Masih mereka melakukan hal yang sama, menolak dengan cara yang kurang lebih sama. Penolakan demi penolakan, penghinaan dan caci maki selalu dia tanggapi dengan cara yang sama, sumpah serapah.

Mungkin jika kamu terpelajar, jika kamu pernah sekolah, jika kau pernah dididik, jika kamu punya keluarga, kamu akan bilang ini tidak benar. Bukankah ini cobaan? Dan tidak seharusnya kamu menyumpah. Tetap berusaha, tetap berdoa, mungkin itu katamu, kata mereka. Dia pernah sekolah, dia pernah dididik, dia pernah punya keluarga tapi dia menyumpah. Katanya, dia berusaha walau entah apa dia berdoa, dia menyumpah tapi dia tidak pernah mengeluh. Semua yang dialaminya adalah pilihan hidupnya, dia mengambil jalan dan dia menanggung resikonya. Jadi jangan bilang dia salah, jangan bilang dia jalang. Itu hanya nama.

Kalian tidak punya hak menghakimi perilakunya, kalian tidak sepantasnya menudingnya sebagaimana kalian juga tidak pantas disebut manusia karena kalian juga jalang. Kalian boleh tertawa kalau menurutmu kalian lebih berharga tapi coba tanya berapa kali dalam sehari kalian mengeluh. Tanya bahagiakah kalian hidup sebagai manusia yang menurut kalian sempurna?Tai.

Kalian mungkin terlahir dengan fisik sempurna, lahir di keluarga yang lengkap, tidak perlu mengemis untuk makan, tidak perlu menangis karena menahan lapar tapi kalian cacat. Kalian cacat mental. Kalian jalang. Merasa pintar dengan apa yang menurut otak kerdilmu pintar. Merasa benar dengan apa yang pikiran picikmu bilang benar. Merasa tahu apa yang kalian rasa tahu tapi kalian tidak punya rasa, kalian tidak tahu. Kalian tidak lebih dari tai. Kalian jalang yang membawa tai di otak kalian, hati kalian, mata kalian, mulut kalian. Semuanya bau.

Disini Jalang masih berdiri dengan pilihannya, dengan keyakinannya walau dengan tubuh yang kian rapuh. Hatinya tak pernah jatuh. Jiwanya tak pernah mati. Dia selalu punya alasan untuk hidup. Dia tahu kenapa dia harus hidup. Apa yang seperti itu kalian pernah tahu? Tai-tai seperti kalian, aku ragu. Takut salah hanya karena orang lain bilang salah. Takut jadi benar karena kalian tak pernah benar-benar tahu apa yang  kalian pikirkan walau kadang kalian berani bilang.

Jalang hanya berusaha menjalani hidupnya, tidak menyesal dengan apa yang telah dipilihnya. Dia yang dulu begitu kaya, punya keluarga malah meninggalkan semuanya untuk pergi ke suatu tempat yang dia sendiri tidak pernah dengar namanya. Dia hanya membawa dirinya, pergi dari kekosongan yang terus menggerogoti jiwanya. Dia kaya tapi dia kosong. Dia berkeluarga tapi selalu dia merasa sendiri. Maka dia pergi, mencari yang hilang dari dirinya. Dia tahu dia tidak bisa mengubah apa yang terjadi, seperti dia tak bisa merubah pikiran orang meskipun keluarganya sendiri. Dia tidak lari, dia hanya ingin pergi mencari separuh hati yang selalu kosong.

Dan kalian lalu bilang dia jalang karena meninggalkan keluarganya. Dan kalianpun bilang dia bodoh karena meninggalkan kenyamanan hidup yang dia punya. Kalian tidak tahu apa-apa, kalian tidak pernah tahu apa-apa. Otak lain terlalu kosong untuk bisa mengerti. Kepala kalian terlalu keras untuk mau mengerti. Maka berhentilah bicara.

Lain Jalang lain pula keadaan Tung walau kemelaratan sama-sama mereka rasakan saat ini. Tung mungkin lebih rentan secara mental jika dibandingkan dengan Jalang. Dia seperti ini bukan karena inginnya, itu akan dia bilang jika kalian bertanya. Dia tidak akan bilang kalian bodoh bukan karena dia merasa lebih bodoh tapi karena dia sadar kadang dia melakukan kebodohan yang sama. Dia tidak akan menyalahkan jika kalian bilang dia salah. Walau dia juga punya alasan kenapa dia salah, dia akan lebih menerima. Baginya apa yang orang bilang pasti ada alasannya dan mungkin saja memang benar.

Dia jalang, dia merasa. Dia bersalah pada dirinya, pada keluarganya. Baginya menjadi salah adalah sebuah ketakutan karena itu artinya dia adalah bagian dari orang-orang yang kalah. Yang seperti ini mungkin kalian lebih suka. Orang yang menurut kalian salah dan merasa kalah. Mungkin kalian akan tersenyum dan bilang inilah sebuah contoh kesalahan yang tidak patut ditiru agar tidak jadi orang yang kalah.

Tung yang walaupun terjaga lebih pagi dari Jalang selalu kehilangan Jalang di pagi hari. Dia terbangun, dia sendiri. Dia akan merenung tentang semalam, tentang apa yang akan terjadi lalu dia akan berdiri. Apa aku bilang ini salah?  Tidak. Dan diapun menjalani hari-harinya yang kurang lebih sama. Berbeda dengan jalang yang lebih banyak mendatangi toko-toko, Tung lebih memilih warung-warung makanan untuk menawarkan jasanya.

Dia cantik, baginya akan lebih dibutuhkan jika dia bisa membantu pemilik warung menjual dagangannya. Warung yang selalu ramai oleh para pembeli yang kebanyakan adalah para pedagang yang kelelahan dan kelaparan setelah berdagang. Mereka akan mendatangi warung-warung untuk makan atau sekedar istirahat. Tepat. Kali ini mungkin kalian boleh bilang dia lebih beruntung daripada Jalang. Banyak para pemilik warung yang memanggilnya untuk membantu di warung mereka. Bagi mereka pembeli akan berdatangan kalau ada perempuan cantik di warung mereka. Tidak ada yang mencacinya, hampir selalu tatapan kasian ditujukan padanya tiap dia datng menawarkan jasanya. Tapi apa benar dia lebih beruntung?

Pemilik warung hanyalah ular yang memanfaatkan kecantikaanya untuk menarik pembeli. Tak pernah disuruhnya Tung mencuci piring, tak perlu. Cukup melayani pembeli saja, apa saja permintaan mereka. Telinganya mungkin terhindar dari cacian atau serapah tapi penuh dengan rayuan yang mungkin langsung membuatmu mual. Tangannya tak perlu kotor untuk membersihkan piring atau warung karena tangannya akan disibukkan untuk menampik tangan-tangin jahil pembeli.

Kadang dia menangis, meski dia tak bilang apa yang dia tangisi. Mungkin karena dia memang tidak tahu apa yang dia tangisi. Airmatanya mengalir begitu saja. Tak dibendungnya karena ini adalah satu-satunya jalan menghibur hatinya. Menghilangkan sesak yang terus memadati hati dan pikirannya.  Lirih dia sebut sebuah nama. Bang Sat. Entah dimana dia berada saat ini. Laki-laki yang pernah dia cintainya dan masih akan terus dia cintai meski kadang dia merasa dia tak berhak lagi mencintai.

Laki-laki itu direnggut darinya, direnggut oleh orang biadab yang ingin menghancurkannya. Masih hidupkah dia? Matikah dia? Hatinya selalu bilang pasti akan bertemu, entah kapan. Kepalanya akan melarang dan bilang sia-sia saja. Saat ini bertahan hidup lebih penting dari sekedar hati yang luka. Dan disinilah dirinya terhinakan oleh nafsu perut yang selalu menuntut. Apa ini pilihan? Dia lebih suka bilang ini takdir dan dia akan menjalaninya. Apa dia menyumpah? Kadang. Apa dia mengeluh? Kadang. Dia hanya merasa terlalu biasa untuk menerima hal-hal luar biasa di hidupnya. Tapi dia bertahan. Dia tetap berjuang, dengan caranya.

*****

Meskipun hampir tiap pagi mereka tidak pernah bertemu tapi tidak jika malam. Malam adalah waktu bagi mereka berdua untuk sejenak melupakan getirnya hidup. Di lapak sempit itu mereka habiskan malam dengan cerita, meski kadang masih dengan serapah yang sudah menjadi bahasa mereka. Dan percaya atau tidak, mereka tertawa, menertawakan diri mereka, hidup mereka.  Yang seperti ini memang tak pernah bisa dibeli, tidak dengan harta yang dulu pernah mereka miliki. Seperti malam ini.

“Cuk awakku legrek kabeh.”

“Lha lapo?”

“Ancik! Lha lapo opo maksudmu?”

“Tok pikir aku meneng ae ta sedino iki. Turu-turuan tok, ngono?”

“Cuk!”

“Jangkrik! Gak usah emosi lapo seh, aku kan cuma nakok.”

“Ancen asu kabeh kok wong-wong iku. Cuk.”

“Yo ngono iku lek lagi enak uripe, lali karo kere-kere koyok awake dewe. Mosok sek kaget.”

“Gak kaget blas cuk. Tapi …”

“Tapi yo rodo mangkel.”

Tung memutus perkataan Jalang.

“Yo ngene iki urip. Sek untung awake dewe iso mangan, iso turu masio gak luweh apik ko asu.”

“Yo kon iku sing koyok asu.”

“Jangkrik, podo asune ae ngomel.”

Tung menghela nafas panjang.

“Aku pingin duwe toko opo warung. Cilik-cilikan ae, sing penting iso nggo nambal urip gak ngenger utowo ngemis nang uwong.”

“Cilik sak kandange semut ta? Mangan ae sek soro atek aneh-aneh pisan”

“Mejo siji, bangku dowo siji terus dodolan jajanan, koyok goreng-gorengan…”

“Piringe siji, gelase siji, sendoke siji, kursine siji dadi sing ape tuku kudu ngadek gentenan.”

Jalang melanjutkan dengan nada sedikit kesal.

“Engko lek wes laris, digedekno warunge. Tuku perkakas sing akeh. Dodolane diakehi, lek perlu kulakan barang-barang mracangan.”

Mata Tung tiba-tiba bersinar, menerawang menembus atap plastik di lapak mereka. Mimpinya selalu tinggi, tak terbatas. Mungkin karena ini dia mampu bertahan. Sebenarnya bukan karena Jalang tidak ingin seperti itu. Baginya mimpi itu terlalu mahal saat ini. Mimpi hanya akan menambah rasa sakit. Cukup dia jalani yang ada, tak perlu berangan-angan. Dan malampun semakin larut. Dua anak manusia itu mulai terlelap. Hilang sejenak dari dunia yang tak henti menertawakan mereka.

Hari- haripun berlalu dan kehidupan mereka belum berubah. Masih dengan rutinitas yang sama, perlakuan yang sama. Sepertinya mereka sudah mulai mati rasa. Tak ada lagi sakit. Tak ada airmata. Walau masih ada serapah, satu-satunya bahasa yang mereka kenal. Bahasa yang menjadi pelampiasan mereka, bukan jati diri mereka. Mereka memang jalang, mereka tidak merubahnya tidak untuk saat ini. Mereka boleh berkata, mereka boleh mencaci, mereka boleh melakukan apa saja tapi mereka tidak akan pernah bisa membunuhnya. Mereka tidak akan mati, tidak hari in.

****

Di belahan yang lain, di sebuah kota dimana sebuah tragedi yang menimpa anak manusia malang bernama Kunti pernah terjadi, perubahan besar justru sedang terjadi. Perubahan yang mungkin lebih tepat disebut kehancuran. Masyarakat yang sudah cukup ketakutan setelah tragedi pembakaran Si Kunti semakin terpuruk dalam kekalutan, ketakutan. Bukan hanya malam tapi teror sudah tak mengenal waktu lagi. Pagi tak lagi disambut suka cita orang yang mulai beraktifitas karena matahari sepertinya juga tak lagi menerangi mereka. Pagi tak lebih perpanjangan malam bagi mereka. Penduduk kota Bajul benar-benar menuju kepunahan. Mati perlahan-lahan.

Seperti pagi ini, pasar yang biasanya menjadi pusat kehidupan bagi para penduduk saat ini keadaannya tidak lebih ramai dari kuburan. Lapak-lapak pedagang banyak yang sudah reot, tak terawat karena memang sudah tidak pernah digunakan. Anak-anak tidak ada yang mau bermain keluar rumah apalagi sekolah. Para orang tua sendiri tidak berani memaksa karena mereka juga mengalami ketakutan yang sama. Apa benar warga Bajul dikutuk? Mereka merasa sedang dikutuk. Hampir tiap hari ada warga yang mati.

Rumor itu sudah terlanjur berkembang bahwa warga dikutuk arwah Si Kunti. Si Kunti yang dendam karena telah disiksa sebelum akhirnya dibakar hidup-hidup oleh warga telah memenuhi kutukannya. Bahkan Mantri baru yang didatangkan dari kabupaten tidak bisa berbuat apa-apa. Tak kurang dia membujuk warga agar mau diperiksa bahkan mendatangi mereka satu persatu tapi tak pernah berhasil. Bagi mereka yang mereka alami bukan penyakit tapi kutukan. Warga yang tidak merasakan keluhan apa-apa tiba-tiba mengalami demam tinggi dan kemudian  mati. Dalam satu bulan terakhir sudah hampir dua belas warga mati dengan cirri-ciri yang sama demam tinggi. Yang membuat warga semakin yakin karena dalam demam mereka selalu mengigau.

“Tidak! Hentikan! Aku tidak kuat….”

“Akhhhhh…panas…panas…panas.”

Seorang laki-laki paruh baya salah satu warga Bajul yang sudah lima hari ini mengalami demam tinggi tampak berteriak-teriak. Keluarga hanya bisa mengompres keningnya dengan kain yang dibasahi sambil sesekali memijat-mijat kakinya.

“Pak kamu kenapa? Pak…”

Istrinya tak bisa berbuat banyak selain hanya bisa menemaninya. Dipijatinya kaki suaminya sambil terus terisak.

“Kenapa kamu seperti ini Pak? Kenapa kita harus mengalami semua ini Pak?”

“Seharusnya kita tidak ikut-ikut mereka. Sekarang aku harus bagaimana Pak?”

“Mak…Somat takut mak.”

Anak kecil yang memanggil namanya Somat ikut-ikutan menangis. Tubuhnya tampak kurus. Dia hanya menenakan celana pendek, bertelanjang dada sehingga tampak tulang rusuknya menonjol seolah ingin keluar tapi perutnya buncit seakan mau meledak. Somat adalah satu dari sekian anak di kota Bajul yang ikut menjadi korban atas apa yang dialami penduduk. Karena orang tua mereka tidak ada yang berani keluar untuk bekerja sehingga mereka tidak bisa mendapat makanan yang layak.

Akhirnya setelah demam selama sepuluh hari bapak Somat meninggal. Seperti biasa suasana penguburan salah satu warga di kota Bajul sangat hening dan cepat. Setelah dimandikan dan dikafani mayat langsung dikubur. Tidak ada acara selamatan atau acara apapun yang dilakukan keluarga atau warga lain untuk pengormatan terakhir. Bagi mereka saat ini asal sudah dikubur, sudah cukup. Warga takut keluar rumah terlalu lama, lebih takut lagi kalau memikirkan mereka tinggal menunggu giliran saja.

“Sampai kapan seperti ini Nak Mantri?” tanya Pak Camat pada seorang pemuda tampan yang dia sebut Mantri.

“Ini semua bisa dihentikan Pak Camat asal saya diperkenankan memeriksa mereka,” jawab pemuda itu.

Tikno namanya, lengkapnya Sutikno. Dia adalah Mantri baru yang ditugaskan dari kabupaten untuk mengganti mantri sebelumnya yang tewas karena dibunuh Kunti sebelum tragedi itu terjadi. Sudah hampir dua bulan dia bertugas di kota Bajul tapi tak pernah ada warga yang datang menemuinya bahkan meski dia sendiri yang datang menemui warga. Tak jarang dia datang bersama pak Camat dan pak Lurah tapi tetap saja tidak bisa membuat warga mau diperiksa. Umurnya baru 25 tahun. Dia lulus setahun lalu dari sebuah akademi kesehatan di kabupaten. Anaknya sangat santun. Selalu dia berdandan rapi, terlihat sekali kalau dia orang yang berpendidikan. Tapi ternyata semua itu tidak membantu karena sampai saat ini dia belum pernah menanggani satu pasienpun.

“Saya yakin ini bukan kutukan. Ini pasti penyakit bisa juga wabah yang sangat berbahaya dan harus segera dihentikan. Tapi saya harus memeriksa mereka karena jika tidak kita tidak akan tahu apa yang mereka derita.”

“Saya tidak tahu Nak, saya sudah berusaha tapi seperti yang Nak mantri lihat sendiri mereka tidak ada yang mau, saya tidak bisa paksa mereka.”

Pak camat tampak menghela nafas panjang. Raut mukanya tampak lelah. Guratan di wajahnya semakin membuatnya tampak lebih tua. Dia sudah kehilangan putra semata wayangnya, sekarang dia harus kehilangan warganya. Belum lagi istrinya yang mulai kehilangan akal semenjak kematian anaknya. Tampaknya kehilangan anak satu-satunya telah merampas kewarasannya. Setelah penguburan putranya Bu Camat berteriak-teriak seperti orang kesetanan sampai-sampai Pak Camat yang mencoba menenangkannya terpelanting karena tidak kuasa menahan istrinya yang terus berteriak dan meronta-ronta. Sampai akhirnya warga ikut menenangkannya dengan memegangi kedua tangannya. Tak kurang tiga pemuda dikerahkan untuk bisa menahannya. Karena khawatir keadaan istrinya tambah parah dan karena tidak sanggup mengurusnya sendiri atas saran mantri baru Pak Camat membawa istrinya ke sebuah rumah sakit di kabupaten. Seminggu sekali Pak Camat menjenguk istrinya.

“Maaf Pak Camat, Pak Mantri tapi apa yang dikatakan warga memang benar. Kita sedang dikutuk. Mereka selalu mengigau panas dan hentikan ini berarti arwah si Kunti sedang menyiksa mereka, membakar mereka. Dia ingin membalas dendam atas perlakuan warga padanya…”

“Termasuk Pak Lurah,” potong Pak Camat.

Yang dituju tampak tergagap dan takut.

“Iya termasuk saya,” jawabnya lirih.

‘Tapi Pak Camat sendiri juga diam. Bapak tidak menghentikan mereka karena yang dia bunuh adalah an..”

“Tutup mulutmu!”

Pak Camat terpancing emosi.

“Sudah..sudah. kita tidak boleh saling menyalahkan yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana membantu warga. Menghentikan semua ini bukan malah saling menyalahkan.”

Tikno tampak berusaha menhentikan dua pejabat yang mulai saling menyalahkan itu.

“Maafkan saya Pak Camat, Pak Lurah kalau telah bersikap lancang tapi bukan saatnya berdebat seperti ini. Kita harus bersatu untuk mencari pemecahan bukan justru sebaliknya.”

“Bapak-bapak harus membantu saya membujuk warga agar mau saya periksa. Saya akan meminta bantuan teman saya di kabupaten untuk ikut memeriksa.”

Atasan dan bawahan itu hanya terdiam. Mereka malu dengan apa yang telah mereka lakukan. Bukan bersikap dewasa malah mencari kambing hitam.

“Kamu benar Nak mantri, sungguh memalukan apa yang kuperbuat ini.”

“Maaf Pak camat, saya yang salah tidak seharusnya saya berkata seperti itu. Saya…?”

“Sudah jangan diteruskan. Aku juga salah. Aku minta maaf.”

Dan kedua orang tua itupun saling bersalaman dan berpelukan. Tikno tampak tersenyum melihat itu. Perjuangan masih panjang. Tekadnya sudah bulat, warga harus segera ditolong. Keesokan harinya Tikno berangkat ke kabupaten menemui teman untuk mendiskusikan dan mencari pemecahan atas apa yang terjadi pada warga Bajul. Tidak lupa dia berpamitan pada Lurah dan Camat Bajul. Dengan berbekal sepotong pakaian dan roti dia naik kereta pagi. Baginya lebih cepat lebih baik sebelum warga Bajul habis oleh wabah yang belum dia ketahui. Dia tidak pernah percaya kalau yang diderita warga Bajul adalah kutukan. Orang berpendidikan seperti dirinya tidak akan percaya hal-hal mistis seperti ini. Tidak ada kutukan baginya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s