KUTUKAN SI KUNTI seri 2

Cerita ini bukan lagi barang baru di kecamatan Bajul. Hampir sebulan kejadian ini berlalu tapi tiap hari warga masih membicarakannya. Bahkan ceritanya sudah menyebar ke kecamatan lain. Sebuah cerita tragis tentang seorang gadis jelita yang diusir dari desanya yang kemudian tinggal di kota ini, di sebuah kamar kecil di pojok pasar, yang harus mati dengan cara mengenaskan. Dibakar warga kota. Siapa yang salah mungkin sudah tidak penting lagi, toh nyawanya sudah melayang.

Kunti nama gadis itu. Dia dituduh membunuh mantri kota yang juga anak camat Bajul. Tanpa ada kesempatan membela diri, dia harus merelakan tubuhnya hangus dibakar. Airmatanya tidak mampu menyurutkan puluhan warga yang telah terbakar emosi. Malam itu Kunti meregang nyawanya. Tubuhnya yang biasanya putih mulus,melepuh dan menghitam. Menyebarkan aroma daging bakar yang sebenarnya terasa nikmat. Matanya tinggal satu. Rambutnya yang dulu hitam lebat, sudah tidak ada lagi. Tinggal serpihan halus yang lengket pada kepalanya. Sungguh menjijikkan. Bahkan sebagian warga yang melihatnya tak kuasa menahan mual, muntah.

Mayatnya dibiarkan terduduk dengan tangan masih terikat pada tiang. Dia kini tidak lebih dari seonggok daging gosong. Yang lebih miris lagi paginya anjing yang banyak berkeliaran di pasar menarik-narik tubuhnya. Dia digigit, dicabik. Tangannya terpisah dari badan dan jadi rebutan para anjing liar. Orang-orang yang pagi itu mulai banyak berdatangan ke pasar untuk berjualan tidak ada yang memperdulikan mayatnya. Bagi mereka itulah harga yang pantas untuk seorang pembunuh, seorang jalang.

Tapi kalau sampai saat ini orang-orang masih membicarakannya tidak lain karena sebelum kematiannya Kunti sempat mengutuk orang-orang yang telah membakarnya. Tadinya tidak ada yang peduli sampai seorang warga tiba-tiba berteriak histeris seperti orang yang kesurupan ketika malam-malam kencing di tiang dimana Kunti dibakar. Dan sudah tiga hari ini dia masih saja berteriak-teriak tidak jelas. Sudah beberapa dukun didatangkan bahkan mantri baru yang bertugas di kecamatan Bajul tapi tak ada satupun yang membawa hasil.

Warga mulai mengkait-kaitkan hilangnya kesadaran salah satu warga mereka dengan kematian Kunti. Kunti telah mengutuk warga Bajul. Setiap senja menjelang semua warga mengunci pintu, tidak ada yang berani keluar terutama para anak kecil dan wanita. Cerita yang tadinya hanya satu mulai ditambah dengan cerita-cerita baru yang entah siapa yang memulai. Mulai dari cerita anjing-anjing di pasar yang terus menyalak tiap malam dan yang terbaru seorang anak kecil yang jatuh pingsan karena melihat sesosok wanita yang katanya berdiri di depan kamar Kunti yang selama ini ditempatinya di pasar.

“Mak antar ke belakang Somat mau beol,” rengek seorang anak kecil.

“Nggak. Minta bapakmu sana!” jawab si emak.

“Tapi bapak kan sedang keluar ronda Mak. Ayo mak Somat sudah nggak kuat.”

“Bapakmu ini memang aneh-aneh ae, sudah tau keadaan lagi nyeremin gini malah ronda. Kalo ada apa-apa di rumah ini bagaimana?”

“Mak…cepet mak. Sudah mau keluar,” si anak masih merengek.

“Aduh ada-ada aja kamu ini kenapa nggak dari tadi sih. Sorean kan masih terang.”

“Lha kebeletnya baru sekarang.”

Akhirnya karena si emak tetap tidak berani mengatar Somat ke kamar mandi belakang rumah dan Somat yang sudah tidak bisa menahan hajatnya, terpaksa dalam kondisi genting Somat harus rela jongkok di dapur dengan menggunakan kresek untuk membuang hajatnya.

“Lama banget to kamu Mat?” maknya sudah mulai tidak sabar.

“Bentar Mak dikit lagi.”

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi pada Somat dan Emaknya. Warga lain yang terlalu takut terpaksa melakukan hal yang sama. Memang tidak semua warga di kecamatan Bajul ini punya kamar mandi, sebagian warga masih memanfaatkan kamar mandi umum yang ada di pasar bahkan tidak sedikit yang memanfaatkan sungai kecil yang mengaliri kecamatan ini. Itu artinya mereka harus melewati tiang itu, tiang dimana Kunti dibakar.

***

“Gimana kamu berhasil masuk nggak?”

“Cuk nggak ngerti wong kesel ta? Aku tak istirahat disik,” jawab perempuan berambut sebahu itu.

“Iya tapi gimana sudah kamu ambil uangnya?” perempuan satunya masih saja bertanya.

“Asu. Kon iki ancene…” tak dilanjutkan kata-katanya.

“Nih!” katanya sambil melempar bungkusan kresek hitam.

“Syukur masih ada,” diraihnya kresek itu sambil dipeluknya di dada. Sedang perempuan yang satunya hanya menatap sambil merebahkan tubuhnya. Ditariknya nafas agak panjang, kemudian dia mulai menggaruk-garuk selangkangannya.

“Lalu kita pergi kemana? Aku sudah nggak tau lagi harus kemana. Yang jelas aku nggak mau kalau pulang.”

“Jancuk! Sik diterusno ae. Aku ki yo lagi mikir. Kon wes suwe kan urip soro mosok ngene ae sek ngrengik,” perempuan yang baru merebahkan diri tadi mulai emosi lagi.

Kali ini perempuan yang satunya tidak lagi menjawab. Hanya airmatanya mulai menetes. Dia terisak lirih. Melihat temannya menangis perempuan tadi tidak lagi emosi. Dia bangkit dari tidurnya.

“Sepurane aku nggak maksud ngamuk tapi kon ngerti dewe aku tas teko. Aku sek kesel.” Yang diajak bicara hanya diam sambil mengusap airmatanya.

“Tung? Kon nesu yo? Maaf. Aku sayang kon, aku nggak akan ninggalin kamu,” kali ini dipeluknya tubuh perempuan yang dia panggil Tung tadi. Dan merekapun menangis bersama. Perempuan.

Tung dan Jalang yang setelah kejadian malam pembakaran itu pergi diam-diam dari kecamatan Bajul.  Mereka berdua yang seharusnya bertanggung-jawab atas apa yang telah terjadi malam itu malah melarikan diri. Malam itu ketika Kunti diseret warga yang marah atas kematian mantra muda itu sebenarnya Jalang melihat kejadian itu. Dia melihat situasi tidak akan berpihak pada mereka. Dia tahu warga begitu membencinya meski tak jarang mereka juga mencarinya ketika butuh pelampiasan.

Hatinya berteriak ingin menolong tapi melihat warga yang sudah kesetanan, nyalinya jadi ciut. Dengan mengendap-endap dia bergegas mencari Tung yang malam itu sedang mangkal di pinggir jembatan, menunggu pelanggan. Ditariknya tangan Tung begitu mendapati temannya itu sedang berbicara pada seorang pria.

“Kamu nih apa-apaan sih?” Tanya Tung sedikit kaget.

“Eh mau kemana?” pria yang tadi berbicara dengan Tung ikut-ikutan kaget. “Trus gimana ni, jadi nggak?”

Jalang tidak menghiraukan kedua orang itu. Dia tetap saja berjalan menjauh dari jembatan sambil terus mengenggam tangan Tung.

“Berhenti!kamu ni apa-apaan sih?” Tung semakin bingung. Jalang tak peduli.

“Heh kamu mau kemana?Tung!”pria itu mulai berteriak.

Karena tidak mendapat jawaban akhirnya pria itu kesal juga. Dia yang sudah tidak sabar, berteriak dengan lantang sambil berkacak pinggang.

“Awas kamu! Dasar lonte!”

Tung kebingungan. Sejenak dia menoleh pada pria itu tapi apa daya Jalang menariknya lebih kuat. Akhirnya dia ikut juga. Dari kejauhan masih dilihatnya pria itu berserapah.

“Wanita sundal!”

Entah berapa lama mereka berjalan. Tung sudah tidak peduli. Sampai akhirnya, bruk!dia terjerembab. Jalang yang sebelumnya seperti kehilangan kesadaran mulai berhasil mengatasi dirinya. Diraihnya tubuh Tung yang terkulai.

“Mandek disik,” katanya.

“Dari tadi napa?” Tung mulai emosi.

“Sori tapi nggak ono waktu maneh. Wes ra sah nesu.”

Ternyata kaki Tung terantuk batu karena berjalan terlalu cepat dan malam begitu gelap dia tidak melihat ada batu yang cukup besar di depannya. Jempolnya berdarah. Sambil memijat kaki temannya, Jalang mulai cerita atas apa yang baru dilihatnya. Tung langsung menangis begitu mendengar cerita Jalang. Dia bersiap lari kembali ke pasar tapi sebelum sempat beranjak Jalang sudah menarik lagi tangannya.

“Jangkrik!kamu pingin mati juga?”teriaknya.

“Kita nggak bisa membiarkannya…kita harus,” belum selesai dia bicara Jalang sudah memotongnya.

“Kamu pingin nolong dia?nggak mungkin. Orang-orang sudah kalap, mereka nggak akan mau denger kita ngomong. Sing onok yo kene pisan dibakar. Kamu mau. Gelem?”

“Tapi?”

“Sudah aku nggak mau debat. Awake dewe harus pergi secepatnya. Mungkin saiki wong-wong yo wes mburu awake dewe. Gendeng arek iku, cek wanine mateni Pak Mantri.”

“Ini semua salahku, kenapa aku setuju dengan ide gilamu,” Tung masih terisak.

“Nggak ada yang salah. Memang nasibnya aja yang apes.”

“Kunti…maafin aku” Tung benar-benar merasa bersalah.

“Wes ra sah dipikir. Yang jelas awake dewe kudu ndang minggat soko kene.”

Sejak itu Tung dan Jalang terus berjalan menjauh dari kota laknat itu. Mereka takut warga akan mencari mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada Kunti. Kadang mereka tidur di emperan toko milik pedagang Cina yang lantainya disemen sehingga bisa buat alas. Tak jarang mereka juga tidur di lapak-lapak pasar yang paginya untuk berjualan sayur-sayuran. Untuk makan mereka minta-minta ke warung yang mereka singgahi, walau kadang bukan makanan yang diperoleh tetapi cacian. Tubuh merekapun telihat semakin dekil.

Meskipun mereka sudah terbiasa menderita, terhina tapi sedikitnya gurat penyesalan juga menghinggapi pikiran mereka. Seandainya saja mereka tidak menjual Kunti pada mantri muda itu mungkin saat ini mereka masih bisa berkumpul di kamar sempit si pojok pasar. Rumah mereka. Tapi apa lagi yang harus disesali semuanya sudah terjadi. Yang mereka tahu saat ini mereka butuh makanan, tempat tinggal. Maka ketika Tung sadar bahwa dia masih punya simpanan uang di kamar mereka dulu, Jalang dengan terpaksa harus kembali ke kota itu. Beruntung tidak ada orang yang melihatnya mendobrak masuk kamar yang sekarang dikosongkan karena tidak ada yang mau menempati. Hanya waktu itu seorang anak kecil sempat melihatnya berdiri di depan pintu. Tapi sekali lagi dia beruntung karena si anak keburu pingsan sehingga Jalang bisa memanfaatkannya untuk cepat-cepat pergi dari kota itu. Meski dia sendiri juga bingung kenapa anak kecil itu begitu ketakutan melihatnya. Dia tak peduli. Dia harus segera kembali pada Tung yang sudah kelaparan menunggunya.

Dengan sedikit uang simpanan Tung, mereka menyewa sebuah lapak kecil di bawah jembatan kota Nyambik. Mereka membeli beberapa kardus bekas bungkus mie instant untuk dijadikan tembok penyekat membentuk sebuah gubuk. Tidak lebih baik dari kamar mereka dulu. Setidaknya saat ini mereka bisa lebih lega. Tiap malam harus berdesakan dalam gubuk sempit, makan jagung rebus berdua, minum dari air sungai di jembatan harus mereka lakukan untuk bertahan hidup. Kejamnya hidup telah menempa mereka, tidak sekali. Tidak terasa rasa sayang lahir di hati mereka. Entah siapa yang memulai.

Bagi mereka tidak ada lagi yang mereka miliki selain diri mereka sendiri. Dan mereka juga saling membutuhkan. Tiap malam sebelum tidur mereka saling bercerita tentang bintang, tentang surga, tentang cita-cita. Tidak ada lagi masa lalu yang buruk. Entah besok makan apa, mereka sudah tak peduli selama mereka masih saling memiliki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s