KEBANGGAAN ATAU KEBAHAGIAAN

Desember dan semua yang kita lalui di tahun ini akan segera ditutup. Satu lembar dari sekian lembar hidup yang belum kita tahu sampai halaman berapa akhirnya. Setahun mungkin bukan waktu yang sebentar tapi ketika Desember sudah mulai kita jalani yang terlewati seperti tak ada artinya. Sebagian kita mungkin bisa berlega ketika resolusi awal tahun lalu telah terpenuhi. Lulus kuliah, dapat kerjaan, dapat pacar, mengakhiri masa lajang atau bahkan dapat momongan. Lalu sebagian yang lain bagaimana? Sudahkah apa yang dicitakan jadi kenyataan? Atau haruskah menunggu dan mulai mencatat resolusi untuk tahun baru yang akan segera datang?

Waktu berlalu tidak lagi berjalan tapi berlari bagi sebagian kita yang merasa angka sudah semakin mengkhawatirkan. Dua puluh lima dan belum berhasil menyelesaikan kuliah, dua puluh enam dan masih penggangguran, dua puluh tujuh dan masih melajang, dua tahun atau bahkan empat tahun menunggu tapi belum juga dapat keturunan. Jika angka telah berubah menjadi begitu kaku dan jadi patokan tentu sulit untuk bisa menerima bahwa waktu memang tidak ditakdirkan untuk berhenti. Waktu tidak akan pernah berhenti apalagi untuk kembali.

Aku baru saja nonton film Happily Never After di salah satu stasiun televisi ketika menulis ini. Seperti juga Ella, tokoh utama di film ini, hampir sebagian kita begitu terpaku pada sosok pangeran, sebuah kesempurnaan. Lulus dengan predikat sangat memuaskan, mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan bonafit dengan posisi yang bisa dibanggakan, dapat suami tampan dan mapan, punya bayi yang lucu yang bisa dipamerkan. Tapi apa semua memang seperti itu? Apa yang seperti itu yang bisa membuat kita benar-benar bahagia? Haruskah cinderela mendapat pangeran dan mengabaikan tukang cuci yang lebih layak dicintai? Mengejar sesuatu yang mungkin bahkan tidak layak dikejar.

Sebuah hasil tanpa proses yang bisa dihayati sekaligus dipelajari hanya angka kaku demi sebuah kebanggaan diri. Bagaimana kita belajar di bangku kuliah dan memperoleh jajaran nilai, bagaimana kita berusaha mendapatkan pekerjaan dan posisi, bagaimana suami tampan atau istri yang elok bukan hanya sebuah kemenangan atau kebanggaan tapi kenyamanan hati, atau bayi lucu yang sebenarnya hanya titipan bukan untuk dimiliki, itu yang sering kita abaikan. Bukan kebanggaan yang ingin kuberi label negatif karena bagiku sebuah kebanggaan itu juga penting tapi apakah sebuah kebanggaan yang akhirnya semu atau kebahagian yang sebenarnya kita cari itu yang perlu dikaji lagi.

Tidak mudah memang untuk benar-benar bangga sekaligus bahagia karena selama ini kita terlalu banyak disuguhi tayangan dan nilai-nilai yang menurutku perlu dipelajari lagi. Bangga karena bisa masuk ke perguruan tinggi idaman dengan jurusan yang jadi incaran banyak orang tentu akan lebih berarti jika kita lakukan karena kita memang menginginkan. Dapat suami atau istri yang membuat iri banyak orang tentu tidak lagi jadi penting jika ternyata pasangan tidak bisa memberikan ketenangan, kenyamanan. Bukan sebuah kemenangan jika kemudian kita hanya bisa mengalah dan akhirnya mengaburkan jati diri kita sendiri sebagai sebuah individu. Bukan untuk hiasan karena bagusnya wajah tak lagi meneduhkan tapi hanya membuat hati ngilu dan merana sepanjang waktu.

Seorang pangeran mungkin sempurna secara kasat mata, kebanggaan mungkin saja membuat bahagia tapi ketika membutakan kita pada esensi dasar sebuah kebahagian apalah artinya. Apakah hidup harus selalu lahir-sekolah-kuliah-kerja-menikah-punya anak- tentu pilihan kita, meski aku yakin pasti akan banyak yang bilang, “aku tidak punya pilihan.” Inilah pilihan kita mengikuti pola yang sedari kecil ditanamkan di kepala kita sebagai sebuah ajang untuk membanggakan diri yang akhirnya membuat kita merasa terus dikejar, dituntut atau menikmati semuanya dan menciptakan kebahagiaan sejati untuk kita sendiri. Bukankah sesuatu yang dipaksakan tidak pernah baik? Setidaknya tidak baik untuk hatimu. Apa kita sudah cukup yakin asal mereka bahagia kita juga bahagia? Sungguh mulia jika kita bisa meski bagiku lebih pada aku bahagia dan mereka akan ikut bahagia atau mungkin mereka tetap tidak bahagia tapi mereka harus bisa menghargai kebahagiaanku.

Desember sudah berjalan dan akan segera berlalu. Pilihan kita yang sedang kuusahakan menjadi pilihanku adalah memantapkan diri pada keyakinan yang sudah kupilih, berusaha terus menjaga mimpi yang sedang kukejar, tidak menyesal dengan keputusan yang sudah kuambil karena aku ingin memperjuangkan kebahagiaanku sendiri kalaupun nantinya membanggakan itu hanyalah sebuah bonus. Kebahagiaanku adalah kebanggaanku karena kuperoleh dengan perjuangan. Tanya hatimu, apa yang benar-benar kamu mau dan mereka hanya akan mengikuti karena mereka tidak benar-benar tahu. Karena kebahagiaan kita yang rasakan maka kebahagiaan kitalah yang harus memperjuangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s