KUTUKAN SI KUNTI

Alkisah, di sebuah desa di lereng Gunung Gamping ada seorang gadis yang bernama Kunti. Seorang gadis yang sangat rupawan. Kecantikan alami seorang gadis desa. Matanya teduh, seteduh pohon cemara. Rambutnya hitam, lebat dan selalu terurai. Melihatnya bagai mandi di sungai yang mengalir dari lereng gunung, segar. Tak heran banyak pemuda yang memujanya.

Selalu ada ujian di balik anugerah yang dimiliki seseorang. Kecantikan Kunti telah membuat banyak pemuda gelap mata. Dari yang mulai menggoda sampai berkelahi antar pemuda hanya untuk merebut perhatiannya, hatinya. Tak jarang gara-gara perkelahian mereka warga desa lain jadi korban. Bahkan yang terparah sampai menyebabkan korban jiwa. Untuk menyelamatkan Kunti dan juga warga desa, bapaknya terpaksa mengusir Kunti dari desanya. Tidak ada pilihan lain karena warga desa tidak ingin jatuh korban lagi, mereka memaksa bapak mengusir Kunti dari rumah.

Berbekal dua potong baju, pisang dan keteguhan iman Kunti harus meninggalkan lereng Gunung Gamping, desa kelahirannya. Hatinya sangat pedih sampai-sampai tak terasa air matanya mengalir. Dipandanginya sungai Brantas tempat dia menghabiskan waktu bermain, mencuci, mandi, bercanda dengan teman-temannya. Deretan pohon yang begitu menjulang dimana dia biasa mencari kayu bakar bersama bapaknya. Padi yang mulai menguning. Dia harus meninggalkan semuanya. Hidupnya.

Hatinya semakin tercabik ketika melewati kuburan desa dimana ibunya dikuburkan. Dia berhenti sejenak. Dia tidak masuk hanya pandangannya tertuju pada sebuah nisan tua, nisan ibunya. Sejak kecil dia ditinggal ibunya. Dalam hatinya jika saja ibunya masih ada mungkin hidupnya tidak akan merana seperti ini. Air matanya mengalir lagi. Hanya bapak yang dia punya tapi saat inipun dia tidak bisa menjaganya, dia harus pergi.

Waktu berjalan, tak terasa Kunti sudah sampai di sebuah kota. Kota yang sangat asing baginya. Orang-orang begitu sibuk, lalu-lalang di depan matanya. Ada sebagian yang memandangnya, aneh mungkin bagi mereka melihat gadis secantik itu berjalan sendirian. Sebentar lagi malam dan Kunti tidak tahu harus tidur dimana. Dia mulai berjalan lagi sampai di sebuah pasar. Pasar yang cukup besar bagi gadis desa sepertinya. Dilihat sekelilingnya beberapa orang tampak sibuk menata dagangan, ada penjual soto yang bahkan sudah sibuk dengan para pembeli. Ada anak kecil yang sangat kurus duduk di samping penjual sate sambil memegangi perutnya. Sungguah malang, hatinya sangat miris melihat pemandangan itu.

Tak tersadar dia dikagetkan sebuah tepukan halus di pundaknya.

”Sendirian mbak,” tiba-tiba sudah berdiri di sampinganya seorang laki-laki separuh baya. Si laki-laki itu berkata sambil senyum-senyum dengan tatapan tak lepas pada wajah Kunti. Jelas sekali dia begitu kagum pada kecantikannya.

Dengan sedikit terkejut dia mengangguk tanpa sepatah kata.

”Ayo ikut aku. Sepertinya mbak bukan orang sini ya?” tanyanya lagi.

Dan sekali lagi Kunti hanya mengangguk tapi dia tidak beranjak dari tempatnya sampai-sampai laki-laki itu tidak sabaran dan berusaha menarik tangannya.

”Lepaskan dia!” Tiba-tiba sebuah suara yang cukup keras mengagetkan mereka. Tampak seorang gadis berdiri sambil berkacak pinggang.

”Pergi kamu dasar laki-laki bajingan!” teriaknya.

”Apa urusannya denganmu, jangan ikut campur!” kata laki-laki itu dengan kasar.

”Pergi atau kukatakan pada istrimu,” si gadis tidak mau kalah.

”Jancuk! Dasar lonte!” Sambil terus mengumapt akhirnya laki-laki itu pergi.

”Kamu bukan orang sini ya?” tanyanya. Kunti yang masih syok dengan kejadian tadi tidak menjawab.

”Ayo ikut aku,” ajaknya. Ditariknya tangan Kunti menjauh dari pasar. Si gadis berjalan sambil menarik tangannya dan Kunti hanya mengikuti saja. Dia benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa.

Gadis itu biasa dipanggil Tung. Sejak malam itu Kunti tinggal bersama Tung di sebuah kamar yang sangat kecil di pojok pasar. Kamar yang hanya terbuat dari triplek tipis, satu dari sekitar sepuluh kamar yang ada di pasar. Tung juga cerita kalau dia dulu lari dari rumahnya karena orang tuanya memaksa dia kawin dengan saudagar kaya di desanya. Orang tua Tung sebenarnya kaya tapi karena kelicikan saudagar itu dia sengaja membuat keluarga Tung bangkrut hanya untuk bisa memperistrinya. Tung yang pada saat itu sudah punya kekasih tentu menolak lamaran si saudagar. Dengan akal bulusnya si saudagar yang kecewa lamarannya ditolak telah merusak hasil panen sawah keluarga Tung. Bang Satriawan calon suaminyapun tak luput dari dendam si saudagar. Dengan keji dia membayar pembunuh bayaran untuk menghabisinya. Ketika pulang dari rumah Tung dia ditusuk dari belakang dan tubuhnya diceburkan ke sungai. Sampai saat ini tidak ada sorangpun yang tahu nasibnya.

Tung yang begitu ramah membuat Kunti betah. Kunti tidak lagi kangen desanya seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum tidur mereka selalu berbagi ceritanya tentang masa lalu, desa mereka dan cita-cita. Tapi sampai saat ini Kunti masih belum tahu apa pekerjaan Tung. Tiap habis magrib dia selalu keluar dan selalu berpesan padanya agar tidak keluar dari kamar dan mengunci kamar. Tengah malam baru dia keluar. Tapi Kunti tidak pernah bertanya, baginya apa yang diberikan Tung padanya sudah cukup dan dia tidak ingin bertanya terlalu banyak meski kadang dia juga bosan karena Tung selalu melarangnya keluar. Sampai suatu saat.

”Tung!Tung!” terdengar suara teriakan di luar.

Brak!

Sebuah gebrakan cukup keras akhirnya membuat Tung bangun. Kunti yang sebenarnya sudah bangun tak berani membangunkan Tung karena melihat wajahnya yang tampak begitu lelah ketika tidur.

”Asu!”

”Sapa sih pagi-pagi gini ganggu orang tidur. Gak ngerti apa orang masih ngantuk.” Akhirnya Tung beranjak ke pintu sambil mengumpat-umpat.

”Jangkrik! Suwene seh lek mu mbukak lawang. Matek ta?“ terdengar suara perempuan yang sedari tadi berteriak di luar.

“Matamu nggak tau ya kalo ada orang tidur,“ Tung menjawab tidak kalah sewot.

“Jancuk aku tambah emosi ndelok raimu.“

Mereka berdua terus menerus saling mencaci sampai-sampai mereka tidak sadar bahwa ada aku yang sedari tadi melihat mereka dan merasa ketakutan.

“Weh sopo iki?“ tanya perempuan yang baru datang tadi begitu melihatku.

“Ayu’e.“

“Jangan aneh-aneh dia temenku,“ sahut Tung.

“Lha mbok pikir aku dudu’ kancamu ta?Asu!“ Lagi-lagi dia mengumpat.

Perempuan yang baru datang itu entah siapa nama aslinya tapi Tung selalu memanggilnya dengan sebutan Jalang. Tubuhnya tinggi kurus dan sedikit pucat. Matanya membentuk lingkaran hitam seperti orang yang tidak pernah tidur. Mungkin dia sakit. Ternyata dia juga teman Tung. Tung juga cerita kalau Jalang juga tidak jauh beda nasibnya dengan dia dan aku, sama-sama terusir dari rumah. Bedanya Jalang pergi dari rumah karena dia memang tidak betah di rumah. Dia sudah menikah tapi belum punya anak. Suaminya yang seorang petani karet cukup sukses di desanya. Hanya itu yang Tung tahu tentang Jalang.

“Namanya juga jalang biar sudah hidup enak yang masih nggak trima juga,“ suatu hari Tung pernah bilang begitu padaku, entah apa maksudnya.

Sejak saat itu Jalang sering sekali ke datang ke pasar, ke rumah mereka. Meski hanya kamar yang tidak sempurna tapi bagiku dan Tung saat ini inilah rumah mereka. Kadang dia datang pagi, kadang juga malam tak jarang dia juga tidur disini. Meskipun kata-katanya hampir selalu kasar tapi sebenarnya dia baik. Tiap datang dia selalu membawa makanan untuk mereka bertiga. Tung pun juga sebenarnya sayang padanya, walau dia selalu jadi bulan-bulanan serapahnya tapi dia tak pernah menolak setiap Jalang datang.  Saat ini mereka seperti keluarga. Nasib telah mempertemukan mereka bertiga dan Kunti yakin pasti ada sesuatu dibalik ini semua.ya, dia telah menemukan keluarganya.

”Jangkrik!kamu yang bener aja. Nggak, aku nggak setuju.”

”Jadi kon luweh milih aku mati timbang aku urip.Cuk!”

”Pasti ada jalan lain, kasian dia.” Suara Tung mulai merendah.

”Gak onok cara liyo. Yo iki sing paling tepak. Kon gak pingin aku mati kan? Wingi aku wes nang mantri jare ono obate cuman yo iku mau larang regane. La saiki duwite sopo sing digawe.”

”Tapi…”

”Cuk omong karo awakmu iku angel. Saiki pikiren. De’e nunut nang kene, mangan,turu, ngeseng, gak lapo-lapo. Lha kon, aku? Merek sampek isuk durung mesti lek payu tiwas dicokoti nyamuk. Pikiren iku.”

”Trus gimana caranya? Aku nggak tega.” Tung tertunduk. Jalang meraih bahunya. Dan sebuah kesepakatanpun telah tercapai. Sebuah konspirasi jahat yang akan merusak seorang gadis lugu.

***

”Ini semua gara-gara kamu. Aku kan sudah bilang. Kenapa sih kamu nggak pernah mau denger kata-kataku.”

”Jancuk, meneng gak iso ta? Tok pikir aku saiki gak mikir ta?” Jalang memukul-mukul kepalanya sendiri.

”Ancen asu kabeh wong-wong iki!” masih saja dia mengumpat.

”Trus sekarang kita gimana? Kita pergi saja dari sini.”

”Yo gak ono coro liyo awake dewe kudu lungo.Asu!”

Sebelum pagi Jalang dan Tung telah pergi meninggalkan pasar. Rumah mereka. Mereka tidak tahu harus kemana, yang mereka tahu mereka harus pergi dari kota itu. Kota laknat itu. Tak banyak yang mereka bawa karena mereka memang tidak punya barang berharga. Yang mereka pikirkan adalah pergi secepatnya.

Kesepakatan itu memang jahat. Ternyata selama ini Jalang menderita penyakit kelamin dan mantri bilang harus segera diobati karena kalau tidak bisa menyebar dan bahayanya juga bisa menular. Karena tidak punya cukup uang dia merayu Tung untuk menjual Kunti pada laki-laki hidung belang. Tung yang sebelumnya menolak mentah-mentah tak bisa berbuat banyak karena dia merasa berhutang budi pada Jalang yang dulu juga menolongnya, sama ketika dia menolong Kunti dulu. Tapi apa yang bisa disesali semua sudah terjadi. Kunti yang tidak tahu apa-apa ditinggal di kamar sendirian malam itu sampai tiba-tiba sebuah ketukan di pintu membangunkannya. Dia yang tidak menaruh curiga apa-apa langsung saja membuka pintu tanpa sadar bahaya mengancam dirinya.

Tuhan masih melindunginya, begitu sadar ada yang tidak beres dengan tamu yang datang dia berusaha melawan. Tapi apa dayanya dia hanya seorang gadis desa yang lemah. Sambil terus melawan batinnya menangis tapi dia tidak bisa teriak sampai saat matanya melihat pisau di sudut kamar. Laki-laki itu tewas dengan luka tusukan di perutnya, tidak sekali karena Kunti yang ketakutan terus tanpa sadar terus menghujamkan pisaunya. Dilemparkan pisau dar genggamannya begitu sadar laki-laki di depannya sudah tak bernyawa. Aki-laki itu masih muda, dari cara berpakaiannya terlihat kalau dia cukup berada. Dia juga tampan. Dan sepertinya dia pernah melihatnya. Entah dimana.

Keributan di kamar terdengar juga oleh orang-orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi suara keributan, ingin tahu apa yang terjadi. Dan begitu mereka tahu.

”Astaga inikan Pak Mantri! Apa yang terjadi?”

Orang-orang mulai berteriak, semakin ramai. Kunti yang masih belum bisa menyadari apa yang baru saja terjadi hanya terduduk sambil meneteskan air mata.

”Dasar perek!”

”Pecun!’

”Asu!”

Entah apa saja yang mereka teriakkan. Yang terjadi sekarang Kunti diseret mereka ke tengah-tengah pasar. Mereka mengikatnya pada tiang yang biasanya digunakan untuk mengibarkan bendera.

”Bakar!”

”Bunuh saja, dasar wanita sundal!”

Seorang ibu separuh baya tiba-tiba datang sambil meraung-raung.

”Anakku…cah bagus. Jangan tinggalkan ibu…anakku…”.

Ternyata, ya ternyata laki-laki itu adalah mantri di kota itu. Tentu dia pernah melihatnya karena dia pernah mengantar Jalang berobat padanya suatu kali. Mantri itu tergoda oleh kecantikannya dan jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya tapi dia sudah punya istri sehingga dia hanya memendam dalam hati sampai ada kesempatan. Malam kesepakatan jahanam itu. Ternyata juga mantri itu adalah anak camat kota itu. Dan perempuan tadi adalah ibunya, Bu Camat, yang baru saja kehilangan kebanggaannya, anak satu-satunya.

”Bakar saja Pak Camat. Lonte-lonte ini sudah merusak kota kita dan sekarang malah membunuh anak bapak. Dasar gak tau diri mau diobati malah membunuh!”

”Iya benar..bakar saja…bakar.”

Dan sekali lagi Kunti harus menangisi hidupnya, kemalangannya. Bayangan ibunya tiba-tiba muncul. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Dalam batinnya dia bertanya dimana Tung dan Jalang. Kenapa tidak menolongnya. Api sudah mulai dinyalakan entah oleh siapa, terlalu banyak orang. Hanya air matanya yang terasa dingin saat ini, tubuhnya mulai panas.

”Kalian orang-orang jahat…kalian menghukum orang yang salah. Suatu saat kalian akan menyesal.”

Tapi tidak ada yang peduli padanya, orang-orang yang sudah terbakar emosi tak lagi mau mendengarkannya. Yang dilihatnya saat ini hanyalah api, api di mata orang-orang itu. Api di atas kepala orang-orang itu. Api disekujur tubuhnya. Dan api dihatinya.

”Suatu saat…”

Advertisements

2 thoughts on “KUTUKAN SI KUNTI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s