KOLAK BUATAN BAPAK

Setelah beberapa kali “besok” akhirnya aku meluncur juga ke Surabaya. Meski dengan kepala pening, badan meriang, hidung buntu, tenggorokan gatal atau dalam bahasa inggris kerennya my body is not delicious, sampai juga di kota tercinta yang panasnya masih sama, bahkan mungkin lebih panas akhir-akhir ini melihat status teman-teman di FB. Karena pingin cepat sampai di kos mau tidak mau naik becak yang mungkin lebih tepat disebut uji nyali. Dengan kecepatan yang tidak pernah dikurangi meski lurus, belok maupun ketika berpapasan dengan kendaraan lain. Belum lagi jalur yang sudah pasti melawan arus.

Sedikit polling untuk ketakutanku atau hal-hal yang kutakuti dan sebisa mungkin kuhindari, naik becak di Surabaya masuk tingkat ketakutan no 2. Setingkat di bawahnya adalah ketakutanku jika dibonceng sepeda motor sama “mamik” (sepurane mik tapi kon ngerti dewe yok opo). Di bawahnya lagi disopiri “mamik” (intine bah numpak sepeda opo mobil aku ancen gak seneng lek awakmu sing nang mburi kemudi). Sedikit sisipan saja karena aku tidak akan cerita tentang ketakutanku pada jalanan, terutama di Surabaya.

Kita kadang baru bisa mensyukuri nikmat kalau sudah kena batunya mungkin itu kenapa kita perlu, jatuh, terluka dan sakit. Aku yang kemarin sempat sombong karena merasa berada dalam kondisi tubuh yang prima akhirnya sakit juga. Cuaca yang panas membuatku tak tahan godaan untuk terus-menerus minum es tanpa peduli dari mana es itu dibuat. Awalnya kupikir biasa karena kecapekan dan terlambat makan ternyata setelah beberapa hari tak kunjung sembuh juga bahkan badan masih saja meriang.

Di rumah aku mungkin bisa seenaknya. Mau makan apa saja tinggal minta, tidak minta pun juga tetap tersedia. Jamu kunir madu buatan sendiri, jeruk nipis hangat, obat, vitamin, ronde hangat, mangga diiris dadu sudah siap di mangkuk tinggal caplok dan satu lagi yang membuatku sedikit miris, kolak buatan bapak. Aku ingat bapakku pernah tanya, “bisa nyalain kompor apa nggak?” Mungkin kalian akan berpikir pertanyaan macam apa tapi aku tahu bapakku tidak sedang bercanda apalagi mengada-ada meski jujur dalam hati aku tertawa. Belum bisa memasak bukan berarti tidak bisa menyalakan kompor pak.

Bapakku mungkin tidak beda dengan bapak kalian. Meski tak merasa pernah beda pendapat tapi tetap saja ada masa dimana aku belum bisa menerima “pilihannya”. Bagi bapakku tidak pernah ada kata tidak.

”Pak aku mau pergi”

“Iya.”

“Pak aku mau ini”

“Iya.”

Mungkin tidak ya jika suatu hari aku bilang, “Pak aku mau bunuh diri” terus bapakku bilang, “asal kamu bahagia, nggak papa.”

Aku tidak bilang bapakku punya segalanya sehingga apapun yang kuminta tidak pernah dijawab tidak olehnya. Aku tahu apa yang kuminta dan bapakku tahu anaknya tidak suka kecewa. Maka kata “tidak” pun hilang dari kamusnya. Aku mungkin suka bicara tapi pada satu laki-laki ini kadang aku hanya bisa diam seribu kata. Masih kusimpan sebuah surat dari bapakku yang kuhapal betul apa isinya. Entah bapak kalian, aku akan menulis uneg-unegku dalam sebuah surat dan bapakku akan membalasnya. Bagi kami tulisan lebih bisa jujur dan berani berkata dari pada lisan yang keburu kelu sebelum bicara.

Dia tidak pernah bilang menyintaiku seperti aku juga tidak pernah bilang padanya. Meski pernah dia kecewa ketika aku bilang dia tidak sayang padaku. Kata-kata mungkin begitu penting bagi sebagian kita tapi ketika tindakan tidak membenarkannya semua jadi tidak berarti apa-apa. Maka ketika aku makan kolak buatannya ada rasa yang campur aduk di hati dan juga kepala. Umur mungkin tidak berarti apa-apa kecuali hanya deretan angka tapi berapa banyak waktuku bersamanya yang kadang membuatku lupa kalau sudah bukan saatnya bapakku meladeni aku tapi sebaliknya.

Jangan tanya rasanya karena bapakku bukan laki-laki biasa. Memasak bukan hal yang istimewa baginya karena dia sudah terbiasa. Semua orang di rumahku pintar masak aku saja yang belum bisa. Karena mereka selalu berlomba dengan waktu sedang aku lebih sering berleha. Tangannya begitu istimewa. Tangan hitam terbakar matahari tak pernah disesalinya. Tangan yang menengadah tiap malam ketika aku bahkan lupa berdoa. Tangan yang begitu keras menggenggam tapi begitu lembut ketika memeluk.

Apa aku bersalah pada bunda kalau aku memujanya? Kurasa tidak karena itu juga yang membuat bundaku terpana. Tidak heran jika bundaku mengaguminya. Meski dengan seribu kelemahannya tuhan telah kirimkan yang sempurna pada kami, sempurna justru dengan segala kekurangannya. Apa aku lebih menyayanginya dibandingkan bunda? Tidak. Bundaku tahu bapakku pantas mendapatkannya. Sedang disana dia hanya bisa menatap saja maka kan kubawa setiap malam jum’at untuk menyapanya. Kupesankan setiap hari agar selalu menyebut namanya.

Dia laki-laki yang mencium keningku ketika aku pura-pura tidur. Laki-laki yang menggendongku ketika aku malas berjalan sepulang melihat pasar malam. Laki-laki yang menyuapiku dengan segumpal nasi yang terlalu penuh ke mulutku setiap aku pulang dan malas makan. Laki-laki yang mau berkeliling desa naik sepeda motor hanya untuk menyenangkan hati anak perempuannya yang sepertinya masih enggan dewasa. Laki-laki yang masih bilang,”nanti kalau sampai depan rumah manggil aja biar bapak sebrangkan.”

Maka kumakan kolak buatan bapak dengan sejuta rasa. Kolak buatan tangan yang sama yang dulu pernah membuatku tak kuasa menahan airmata. Kolak yang entah sampai kapan masih bisa kunikmati karena saat ini aku tidak tahu berapa sisa waktu yang tuhanku berikan padaku, pada bapakku. Dia masih laki-laki yang sama yang tidak pernah bilang betapa dia menyintaiku. Aku masih anak perempuan yang sama yang memujanya yang masih sulit hanya untuk bilang betapa aku menyayanginya. Allah tidak pernah salah meletakkan sesuatu, itu sebaris kalimat dalam suratnya. Maka jika aku disini, jika aku memilih seperti ini aku yakin inilah yang terbaik untukku saat ini karena aku tahu aku tidak akan mampu melawanNya.

Ketika jarak memisahkan dan yang kita punya hanya kenangan maka simpanlah selagi bisa. Betapa dia bisa menerima kita yang tidak sempurna maka seperti itulah kita harus menerimanya. Jika kata-kata begitu penting bagimu maka katakanlah selagi kau bisa. Jangan biarkan dia pergi dan baru menyesalinya. Tak sempat kukatakan pada bundaku kalau aku menyayanginya meski aku masih juga kaku untuk mengatakan pada bapakku aku menyayanginya. Karena sekali lagi waktu terus berjalan dan mungkin sebentar lagi semua hanya tinggal kenangan. Maka tulisan ini adalah perwakilan untuk sebuah rasa yang sulit kuucapkan.

Advertisements

One thought on “KOLAK BUATAN BAPAK

  1. Pingback: ANOTHER LIL ADVENTURE with BAPAK « TULISANKU, PIKIRANKU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s