Sebuah Renungan

Seorang ibu muda tampak tidak bisa menguasai airmatanya. Sang suami yang duduk di depannya tak sedikitpun berani memandang, suaranya lirih dengan mata yang lebih sering menatap lantai. Anak laki-laki mereka yang biasanya tidak bisa diam kali ini begitu berbeda, tenang. Sesekali dipandangi ibunya yang masih berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya agar tidak terus menerus keluar. Pemandangan yang selama ini mungkin hanya kita lihat di film-film atau sinetron tentang sebuah keluarga kecil yang berusaha bertahan dari himpitan ekonomi. Demi tuntutan perut yang harus diisi nasi, demi seorang anak yang masih sangat membutuhkan gizi maka malu adalah musuh yang harus disingkirkan bahkan dibasmi. Tak banyak yang diminta hanya sekian puluh ribu agar perut segera berhenti berbunyi.

Miris sedang kita lebih sering sibuk memikirkan bagaimana agar bisa punya blackberry atau baju-baju yang sudah sebulan belum lagi beli (baru sebulan). Memikirkan hidung yang mekar sedang di rumah-rumah sakit banyak yang sulit bernafas dan harus memakai selang untuk menyambung nyawa. Diet mati-matian dan mubazirkan makanan demi mengurangi timbunan lemak di perut sedang banyak anak dengan perut buncit karena busung lapar yang terabaikan. Ketika sebagian kita lebih sering bicara dan menuntut sampai lupa kalau kita juga harus mau mendengar tanpa melalaikan kewajiban. Memaki hujan dan menyumpahi banjir sedang kemarau telah merusak panenan dan banjir bukan kiriman tuhan tapi akibat sampah yang setiap hari kita jejalkan tanpa merasa ada yang tersakiti.

Terlalu sering mendongak bukan hanya membuat pegal leher kita tapi juga bisa membuat kepala kita pusing. Memikirkan yang belum bisa dicapai sampai lupa pada apa yang telah diterima, tidak sadar jika di sekitar kita masih banyak yang bisa diperhatikan, butuh perhatian. Maka ini adalah renungan untuk kita bersama bahwa langit bisa terlihat indah karena ada bumi di bawahnya. 2009 akan segera berlalu, 2010 sudah siap di depan pintu. Menunggu dan tetap sama seperti yang lalu-lalu atau maju dan berjuang demi masa depan bersama yang terus digerus waktu.

Tuhan, aku terlalu sibuk menghitung rambutku yang rontok,

sampai lupa bahwa jutaan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan

Tuhan, aku selalu kesal dengan perut buncitku,

sedang di luar sana banyak anak yang busung karena kelaparan

Tuhan, aku bingung memikirkan baju,

tanpa pernah berpikir di luar sana banyak yang kedinginan

Tuhan, pikiranku terlalu tersita memikirkan calon suami,

sedang ribuan janda terabaikan

Tuhan, aku terlalu memikirkan blackberry

dan tak sempat memikirkan kalau ada orang yang untuk makan saja harus berhutang

Aku mengeluh dan membuat seisi rumah bingung ketika perutku sakit karena enggan makan,

sedang ribuan bahkan jutaan hanya bisa tergolek tanpa pernah mendapatkan perawatan

Aku menangis ketika hatiku patah karena cinta,

sedang di luar sana banyak bayi tak berdosa yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang

Aku tersedu ketika ayah mengabaikanku,

aku tak berpikir banyak anak yang terpaksa jadi yatim piatu

Aku kecewa ketika teman lupa ulang tahunku,

tanpa tahu kalau umur hanya angka jika kita tidak pernah berbuat apa-apa untuk dunia

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s