Ini bukan kali pertama aku jalan-jalan ke candi. Melihat dan mengagumi peninggalan sejarah yang berupa tumpukan batu tanpa semen, yang tak bisa kubayangkan bagaimana dulu dibuatnya, seperti ini sudah sejak kecil sering aku lakukan. Tapi kalau aku sampai merinding melihat sebuah candi itu baru pertama kali aku rasakan dan itu kemarin. Bersama beberapa teman, kemarin aku mengunjungi Candi Cetho yang berada di desa Gumeng, kecamatan Jenawi, Karanganyar.
Disambut kabut tebal, kami yang tiba di lokasi hampir pukul tiga sore merinding karena kedinginan. Kami, kecuali satu teman, tidak menyangka jika akan sedingin ini. Aku sendiri tidak berpikir kalau lokasi candi yang akan kami datangi beradi di lereng gunung, lereng Gunung Lawu tepatnya. Kabut semakin tebal, angin yang berhembus cukup kencang dan rintik air mengiringi langkah kami mendaki undakan demi undakan. Sepi, hening. Tak banyak pengunjung sore itu. Hanya rombongan kami dan dua orang pemuda yang terlihat.
Dibanding beberapa candi yang sering kukunjungi, Candi Cetho ini terlihat lebih terawat dan bersih. Ternyata selain dibuka untuk wisata candi ini masih digunakan untuk beribadah bagi kaum Hindu. Semakin naik hawa semakin dingin. Baju kami mulai basah karena embun. Kabut tebal masih menyelimuti, kian tebal malah. Kami terus naik untuk melihat puncak candi. Di puncak tertinggi ada candi yang tidak boleh dimasuki. Dari samping kulihat bagian atas ditutup kain lebar yang tampak seperti bendera, merah putih.
Di Candi Cetho ini ada beberapa arca berbentuk phallus. Aroma dupa yang dibakar di beberapa sisi candi tercium. Mistis. Pada sebuah ketinggian, kabut tebal, keheningan membuat candi ini terasa mistis. Seorang laki-laki bersama kawannya yang kami temui di puncak candi sempat kami tanyai. Ternyata masih ada candi di bagian belakang Candi Cetho ini. Namanya Candi Kethek. Dari laki-laki itu juga kami tahu ada Puri Dewi Saraswati tidak jauh dari candi, cukup naik beberapa puluh meter dari samping ke belakang.
Masuk area puri tubuhku semakin merinding. Air membasahi hampir sekujur tubuh. Semakin deras karena di area ini banyak pohon. Rasanya seperti gerimis padahal itu adalah air dari embun yang jatuh dari pepohonan. Dewi yang sangat cantik. Patung Dewi Saraswati seolah hidup dan memandang kami yang berdiri terkagum-kagum di hadapannya. Disini tubuhku merinding bukan hanya karena dingin tapi karena aura mistis yang terasa sangat kuat. Bayanganku mulai melayang kemana-mana. Patung Dewi Saraswati ini kemudian kami ketahui didatangkan dari Bali, dua belas tahun yang lalu, menurut cerita bapak penjaga parkir. Sang bapak juga menambahkan hujan dan petir mengiringi proses pemindahan patung ke puri kala itu.
Seorang teman menunjukkan sebuah tempat di samping patung Dewi Saraswati. Ada sebuah bangunan yang menurutku sangat indah. Atapnya ditumbuhi rumput liar tapi tidak terlihat “kumuh” justru sebaliknya, sangat alami dan cantik. Di sebelah bangunan itu, yang aku tidak tahu nama juga fungsinya, terdapat sebuah sendang kecil. Kami masuk. Terlihat ada beberapa gayung disana. Sebelumnya, tepat di belakang pintu masuk terdapat tempat dupa.
Di dalam sendang yang ukurannya kurang lebih hanya 2×1 meter itu terdapat bunga juga uang logam. Sepertinya sendang ini sering digunakan untuk meminta berkah, untuk awet muda mungkin, pikirku. Kami pun tidak menyiakan. Tangan dan kaki langsung mengkerut begitu air menyentuh kulit, dingin. Hari sudah semakin sore. Candi Kethek yang berada 300 meter dari Puri Dewi Saraswati tidak jadi kami kunjungi. Kami harus segera pulang sebelum kemalaman.
Hampir lupa, sebelum pulang kami mampir ke Rumah Teh Ndoro Donker. Disini kami kembali merinding karena angin yang berhembus kencang membuat tubuh kami yang tanpa jaket menggigil. Kare ayam yang dipesan seorang teman membuat yang lain ingin. Sungguh sedap. Bumbu kare yang begitu kental dan disajikan hangat begitu pas dengan hawa dingin yang menusuk.
Tambahan juga, untuk bisa merasakan merindingnya bulu kuduk di candi ini satu mobil dikenakan biaya lima ribu rupiah dan itu dikenakan dua kali. Ini dikenakan sebelum kami memasuki area candi. Di depan pintu masuk candi sendiri setiap pengunjung dikenakan biaya tiket sebesar tiga ribu rupiah untuk wisatawan lokal dan sepuluh ribu untuk wisatawan manca negara. Cukup murah bukan?






Su12in
January 27, 2012
seru kayanya .. berhujan kabut
rinatrilestari
January 27, 2012
iya, serasa di dunia lain. halah hehehe
ranselhitam
January 27, 2012
Aje gile kabutnya cing! keren! Jadi ingat pas surup2 di kompleks candi arjuna, mendadak semua jadi putih tertutup kabut! Tapi cuma beberapa menit, setelah itu perlahan menghilang & pandangan lapang berganti pekat. Jadi pengen ke cetho!
rinatrilestari
January 27, 2012
yang kemarin justru tambah tebel, tambah gelap coz kita datangnya kan sore. ancen keren sash!
Cahya
January 27, 2012
Duh, malah jadi pingin ke sana. Ah, malah sepertinya ndak akan sempat
.
rinatrilestari
January 27, 2012
harus, keren lho Cahya tempatnya. disempet-sempetin dong
Cahya
January 30, 2012
Mau jadi pemandunya?
.
faa
January 27, 2012
kowe ra mandek ng Kebun teh e ta syuuu….???
mantep lho…
iki aku pas ndono..
http://faaituaku.wordpress.com/2012/01/16/dari-candi-hingga-relaksasi/
rinatrilestari
January 27, 2012
gak, wedi dicokot ulo aku. mung memandangi thok ko kejauhan…cieeee
btw aku wes moco syu tp berhubung aku areke anteng dan meneng, aku gak komen
faa
January 27, 2012
pretttt… yo cokot2an karo ulone.. ben romantis… hahahahhaha
Nahdhi
January 29, 2012
Jadi itu sebenarnya yang membuat merinding karena kedinginan atau karena memang “setting” mistik sejarahnya?
rinatrilestari
January 30, 2012
merinding karena dingin hawanya. “merinding” karena mistik suasananya. demikian
fawaizzah
January 30, 2012
melu merindiiing, melu kademen
rinatrilestari
January 30, 2012
gak melu “merinding” serem? hehehe